Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Meluap kan Amarah


__ADS_3

Kembali ke dokter Sela yang terlihat ketakutan, wanita itu mencoba menghubungi dokter Bambang. Setelah tersambung dengan cepat Sela memaparkan apa yang terjadi. Tak berselang lama, dokter Bambang tiba di ruangan tersebut. Susana mulai mencekam kala Mishy mulai mengalami kejang. Tubuh Rosy bergetar ketakutan, kedua tangan nya berusaha memberikan pelukan hangat pada putri nya.


"Rosy, biar aku memeriksa anak mu..." ujar dokter Bambang berusaha menenangkan ibu dari pasien nya. Rosy adalah rekan sejawat nya dulu, mereka adalah teman satu perjuangan.


Rosy menggeser sedikit tubuh nya, dokter Bambang mulai memeriksa. Detak jantung Mishy berdetak melebihi batas normal. Namun denyut nadi nya justru melemah.


"Anak mu harus di pindah kan ke ICU segera. Entah bagaimana ini bisa terjadi, semua sudah sesuai standar pelayanan maksimal kami. Tenang lah, suster tolong bawa pasien ke ruang ICU sekarang." Titah sang dokter dengan wajah panik yang nyaris tak terlihat. Mereka ahli dalam hal menyamarkan ekspresi wajah, itu sudah suatu keharusan bagi seorang tenaga medis profesional.


Rosy hanya bisa pasrah, mau bagaimana lagi keadaan putri nya terlihat kritis. Sebagai seorang dokter bedah terbaik di masa nya, Rosy masih memiliki insting kuat seorang dokter.


Sania terlihat berjalan gontai menuju parkiran, wanita itu bersenandung kecil sambil memainkan kunci mobil nya. Dia tidak ada jadwal praktek hari ini, namun rencana dadakan sang keponakan membuat nya terpaksa harus turun ke rumah sakit.


Karena saking asyik nya bersenandung, Sania tidak memperhatikan langkah nya.


Brug


"Auww.. perhatikan langkah anda tuan.." Hardik Sania kesal, bahu kiri nya seperti habis di seruduk banteng. Ngilu, begitu lah yang dia rasa kan.


"Sania?" Sania terkesiap, kemudian menatap objek dengan suara yang begitu familiar di telinga nya.


"Harland? kau di kota ini juga?" tanya Sania basa basi, sungguh dia ingin terbang atau menghilang saja dari sana. Berkali-kali pria itu bertanya tentang Rosy pada nya, berkali-kali pula mulut manis nya berucap kebohongan.


"Ya. Aku ada sedikit urusan pekerjaan. Lalu kau?" Sania berusaha menetralkan degup jantung nya. Tatapan menyelidik Harland seperti akan menguliti nya hidup-hidup.


"Aku...." kalimat nya terpotong oleh suara getar ponsel Sania. Sungguh Sania merasa terselamatkan kali ini.


Drrttt drrttt drrttt

__ADS_1


Suara getaran ponsel nya mengalihkan perhatian nya tertuju ke dalam tas nya. Setelah berhasil merogoh ponselnya, Sania mengernyit heran. Kenapa dokter Bambang menelpon nya? Bukan kah misi mereka sudah selesai.


Tak ingin pulang di balut rasa penasaran, Sania segera mengangkat panggilan tersebut.


"Ya dok?"


"Kembali lah dan perbaiki kecerobohan mu..! gadis kecil itu sekarat!" Singkat, padat dan sangat jelas tak enak di dengar.


Sania menatap miris ponsel nya yang di mati secara sepihak. Kemudian dia segera tersadar.


"Tidak mungkin, apa yang salah? Mishy hanya di beri antibiotik dan pereda nyeri. Mylo? tidak! anak itu sudah di tangani sesuai prosedur pembedahan yang seharusnya." Sania terus bergumam tak jelas. Ada riak kecemasan di wajah nya. Dan Harland menangkap itu dengan jelas.


"Sania, ada apa? jangan bilang kau yang menangani anak-anak ku." Sania mendelik tak suka.


"Cih! anak-anak mu! Sejak kapan kau punya anak! Mishy dan Mylo hanya anak sahabat ku, bukan kau!" Hardik Sania melimpah kan kekesalan nya pada Harland, langkah kaki nya di ikuti oleh Harland meski belum tau akan kemana wanita itu pergi.


Sania menghentikan langkahnya lalu menatap nyalang pada Harland.


"Kau dan Rosy adalah beban pertumbuhan mental kedua anak malang itu. Sebegitu ingin nya Mishy bertemu dan mempersatukan kedua orang tua nya, gadis kecil itu nekat melakukan hal konyol dan gila. Membahayakan nyawa nya berikut kakak nya. Apa kau sadar! Kalian adalah orang tua paling egois yang pernah aku kenal!" Teriak Sania meluap kan emosi nya.


Sania berlalu dari hadapan Harland yang masih mematung di tempat nya. Pikiran pria itu kacau seketika. Sang anak mengetahui tentang diri nya, bagaimana bisa? Sania kah yang bercerita tentang nya? Rosy? Itu mustahil! tersadar jika Sania sudah mulai menjauh, Harland segera menyusul langkah lebar wanita itu dengan berlari kecil.


"Bagaimana kondisi Mishy sekarang Sania?" terdengar suara gusar penuh nada kecemasan dari mulut Harland. Sania mengabaikan nya begitu saja. Tangan nya sibuk mencari nomor seseorang.


"Ha.."


"Periksa sisa spuit antibiotik dan anti nyeri di ruangan team 2, sekarang!" tanpa menunggu jawaban dari sang penerima telpon, Sania mematikan panggilan nya sepihak.

__ADS_1


"Dasar bedebah kecil licik! Awas saja jika perkiraan ku benar, kau benar-benar berniat mengantar bibi mu ini ke alam baka lebih cepat Mishy sayang." Sania terus menggerutu menahan kesal pada keponakan bar-bar nya itu. Sementara Harland terus mengekori Sania dengan pikiran berkecamuk.


Setiba di depan ruang ICU, Sania dapat melihat bagaimana cara Rosy menatap nya. Tamat sudah riwayat nya kali ini. Singa betina ini pasti akan langsung menerkam nya hidup-hidup.


Rosy bangkit dari duduk nya. Tanpa aba-aba, telapak tangan mulus itu menyapu bersih pipi mulus Sania. Harland terbelalak melihat kejadian mengejutkan di hadapan nya yang begitu mendadak.


Belum puas, Rosy mulai membabi buta menyerang Sania dengan kepalan tangan nya. Wanita itu hanya bisa menangkis sebisanya, bela diri bukan lah keahlian nya. Namun sekedar memberi sedikit perlindungan pada bagian penting tubuh nya, dia masih bisa. Melihat kebrutalan Rosy, tak ada yang berani melerai nya. Mengingat jika wanita itu sudah seperti pemilik rumah sakit tersebut. Harland yang tersadar melempar asal plastik berisi nasi bungkus di dalam nya.


Pria itu memeluk erat tubuh mungil Rosy dari arah belakang, mengunci pergerakan kedua tangan wanita itu agar menghentikan tindakan nya. Tangis Rosy pecah seketika, sudah sangat lama dia menahan tangis. Dia ingin menangis kencang nya sekarang, tak peduli pada siapa pun yang melihatnya di titik paling rendah.


Sania pun terduduk di lantai, wanita itu menyesali kecerobohan nya sehingga membuat sang keponakan mempunyai celah untuk menyakiti diri nya sendiri. Sungguh dia hanya ingin menyatukan dua insan yang masih saling mencintai tersebut. Terlebih ada anak-anak yang membutuhkan kedua orang tua mereka bersatu. Tangis Sania dan Rosy bersahutan memecah ruang sunyi di depan pintu ruang ICU. Beberapa orang menatap iba, meski belum tau siapa dari kedua nya yang merupakan ibu kandung pasien. Persepsi beberapa orang mengira, jika Sania adalah seorang pelakor. Mengingat jika Sania dan Harland tiba di saat bersamaan.


"Kenapa kau lakukan ini pada ku, Sania...? apa kurang semua penderitaan ku selama ini? kenapa kau menambah nya lagi? kenapa?!" Rosy berteriak melupakan emosi nya yang selama ini tertahan. Harland merasa hati nya hancur tak bersisa. Sebegitu dalam rasa sakit yang dia toreh kan di masa lalu pada wanita baik ini. Bisa terlihat bagaimana Rosy begitu berambisi melampiaskan kemarahannya pada Sania. Wanita itu seperti sudah menyimpan banyak beban pikiran yang tak pernah di dengar selama ini. Atau lebih tepat nya, Rosy tak pernah mau berbagi kesakitan nya pada siapapun.


"Maaf...maaf kan kebodohan ku..aku salah, aku..." suara Sania tercekat, wanita itu tak mampu lagi melanjutkan kalimat nya. Melihat Rosy yang begitu terpuruk di pelukan Harland, sungguh membuat dada nya semakin sesak. Dokter Sela datang dengan satu spuit 10cc di tangan nya. Wanita itu berjalan perlahan menuju ke arah Harland yang kini terduduk di lantai memeluk tubuh lemah Rosy. Tak lama, ujung tajam jarum tersebut sudah bersemayam indah di lengan Rosy. Sempat terkejut namun Rosy tak melawan. Tenaga nya sudah tak mampu melakukan perlawanan lagi.


Selang 30 detik menuju satu menit, kedus mata nya mulai sayup. Rosy tertidur di pelukan sang mantan. Harland mengangkat tubuh Rosy menuju sebuah ruangan yang di arah kan oleh dokter Sela. Setelah membaringkan tubuh Rosy di ranjang, Harland menatap manik tertutup itu dengan hati perih.


"Maaf atas luka yang ku toreh kan, aku sungguh sangat menyesali nya. Aku pria paling bodoh di muka bumi ini, karena telah menyia-nyiakan berlian lalu memungut kerikil yang ku sangka permata..." Harland terisak di samping ranjang Rosy, menelungkup kan wajah nya di telapak tangan wanita tercinta nya itu.


Harland meluap kan semua isi hati nya tanpa terlewatkan. Tanpa tau jika wanita yang dia sangka tengah tertidur pulas itu mendengar nya. Tubuh dan pikiran Rosy hanya lah kelelahan, tubuh Rosy tidak mempan dengan dosis rendah obat apapun. Terbiasa mengkonsumsi obat dengan dosis tinggi kadang melebihi takaran yang seharusnya, membuat tubuh nya menolak obat-obatan dengan dosis rendah.


Sekuat mungkin Rosy menahan agar air matanya tak keluar. Sementara Harland terus bercerita tanpa henti. Pria itu menceritakan bagaimana kehidupan nya jungkir balik selama tiga tahun pertama perjuangan nya. Di fitnah melecehkan manajer di restoran tempat nya mengais rezeki, di tuduh mencuri dan menukar pesanan makanan. Dan masih banyak lagi. Tak lupa Harland menceritakan sedikit kisah lambung nya, yang harus rela di isi lebih sering oleh mie instan dan telur ceplok sebagai lauk nya. Agar dirinya bisa berhemat. Tak mandi hingga tiga hari karena lupa membayar kost, saking sibuk nya bekerja mulai subuh hingga tengah malam.


Dari kisah terpilu hingga kisah hidup yang paling lucu. Harland sudah seperti orang gila, berbicara sendiri tanpa ada yang menanggapi. Sania yang berniat masuk mengantar plastik makanan yang di beli oleh Harland mengurung kan niat nya. Pemandangan yang menyayat hati itu semakin membuat nya merasa bersalah.


**βˆ†Jangan lupa Jejak-jejak cinta nya ya kakak readers ku yang baik hatiπŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ₯°

__ADS_1


βˆ†Luv yuuu sekebon mawar buat kalian 🀍🀍🀍🀍**


__ADS_2