
Harland merogoh dompet nya, mengeluarkan kartu identitas nya juga dua lembar uang dari dalam sana. Kemudian memberikan dompet tersebut ke telapak tangan Rosy.
"Aku tau di banding kan dengan apa yang kau miliki, ini tidak lah seberapa. Tapi aku ingin kau percaya pada ketulusan ku, aku masuk kembali ke dalam hidup mu bukan untuk mencurangi mu. Aku kembali untuk meraih semua cinta di hati mu hanya tertuju pada ku. Sekarang semua yang ku miliki adalah milik mu dan anak-anak. Selama ini aku menyimpan semua penghasilan ku di satu rekening yang sama. Semua itu memang ku khusus kan untuk kau kelola suatu saat nanti. Dan ku harap saat itu adalah hari ini dan seterusnya. Semua aset ku ku pakai kan namamu, semua sudah di urus oleh seorang pengacara. Ijin kan aku menebus waktu tersulit dalam hidup mu, dari semenjak pernikahan kita dulu hingga sekarang dan selama-lamanya." Rosy bergeming, menatap manik coklat di hadapan nya dengan perasaan tak karuan.
"Aku tidak butuh aset mu yang tidak seberapa itu Harland, kau tau aku memiliki segala nya. Aku bahkan mampu mengakuisisi semua bisnis mu jika aku mau. Ambil lah, berikan pada wanita yang menggilai harta semacam ini." Sungguh kata-kata yang menyakitkan untuk di dengar. Namun Harland tak menyerah. Akan dia tebal kan wajah nya di hadapan Rosy demi memperjuangkan perasaan nya.
"Aku tau, ini tak seberapa untuk mu. Aku sadari itu. Tapi ijinkan pria kere ini belajar memberimu nafkah dengan penghasilan yang ku hasilkan melakui perjuangan dan perasan keringat ku sendiri. Aku tau, selama menikah, aku tak pernah memberi mu nafkah. Kali ini, biar kan pria miskin ini belajar menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Aku ingin memulai nya bersama mu, bukan wanita lain. Hanya kau, itu lah alasan nya kenapa aku berjuang sekeras ini. Agar aku sedikit di pandang layak bersanding dengan mu..." suara Harland tercekat. Tangan nya bergetar di pundak Rosy.
Bukan perkara sakit hati karena perkataan Rosy. Namun lebih ke perasaan malu, karena rupa nya dia masih jauh dari kata pantas. Wanita itu tetap saja berada jauh dari jangkauan nya. Sekuat apa pun dia bekerja hingga mencekik leher nya berkali-kali, untuk menahan rasa lapar demi mengumpulkan pundi-pundi. Tetap saja tak bisa sekedar menyamai rekor kesuksesan wanita itu. Dia merasa sangat malu, berharap terlalu tinggi tanpa melihat jika pijakan nya masih sangat rendah.
"Berikan kartu identitas mu, berikut uang yang kau ambil tadi..." Rosy menengadah telapak tangan nya. Harland terkesiap, namun lekas memberikan nya. Senyum nya terbit.
"Setelah ini, akan ada orang yang akan membawa mu kembali ke Jakarta. Sampai di sana, lakukan semua perintah nya tanpa membantah atau bertanya apapun. Aku akan menilai kelayakan mu dari sana, sekarang berpamitan lah pada Mishy. Katakan jika kau ada pekerjaan mendadak dan tidak dapat di tinggal kan. Dan ya, ponsel mu, kemari kan. Kau akan mendapatkan ponsel yang baru, tapi jangan sekali-kali mencoba untuk menghubungi ku atau anak-anak ku." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Rosy meninggalkan Harland dalam kebingungan nya.
Harland berjalan gontai menuju parkiran, dia baru saja berpamitan pada putri nya. Meski mendapat kan penolakan gadis kecil itu, namun Harland tak bisa membantah perintah Rosy.
__ADS_1
"Tuan Harland, mari ikut dengan kami."
"Tapi barang-barang ku ada di hotel..." tolak Harland.
"Semua sudah di urus, mari tuan jangan membuat pekerjaan kami sulit." Harland akhir nya masuk ke dalam mobil SUV berwarna hitam tersebut dengan pikiran berkecamuk.
Setiba di Jakarta, Harland di bawa menuju sebuah rumah petak sederhana. Di dalam nya hanya ada kasur lipat, dan beberapa peralatan masak seada nya. Kipas angin kecil yang terlihat sudah usang, dan lemari kayu tanpa pintu. Rumah itu pun hanya beralaskan karpet yang sedikit robek. Bukan keramik apalagi granit.
"Ini titipan dari nyonya, pergunakan sebaik mungkin. Besok mulai kerja pukul 7 pagi. Arti nya anda harus turun lebih cepat dari jam yang di tentukan. Saran ku, bekerja lah dengan giat. Gaji anda akan langsung masuk ke rekening pribadi nyonya. Artinya anda bekerja tanpa di gaji, dan uang di dalam amplop ini di harapkan cukup untuk tiga bulan ke depan. Coba lah untuk tidak boros apa lagi mencoba-coba mentraktir perempuan ja*l*ang." Sungguh Harland merasa terhina oleh kalimat terakhir pria besar tersebut. Image buruk itu ternyata masih terus membayangi nya, tak peduli seberapa keras dia berubah menjadi pria yang lebih baik.
"Anggap saja kau sedang mencicil dosa mu pada ku. Tiga tahun pernikahan, tiga bulan hukuman. Ku harap kau tidak protes. Jangan sekali-kali mencoba untuk mencari bantuan siapapun. Hasil restoran juga usaha mu yang lain, akan masuk ke rekening pribadi ku mulai sekarang. Jadi, bersenang-senang lah dengan uang yang ku berikan. Semoga cukup untuk mu menikmati hidup tiga bulan ke depan." Harland tersenyum membaca surat tersebut, seolah mendapat kan surat cinta dari kekasih nya.
Sepanjang malam, Harland tertidur dengan memeluk surat dari Rosy. Dia berencana akan melaminating surat tersebut agar tak rusak. Ponsel yang di berikan oleh orang suruhan Rosy hanya lah ponsel jadul, poliponik. Dan sudah di lengkapi fitur kamera dan musik serta radio. Lumayan untuk menghibur diri kala hati nya merindu.
Hari pertama Harland tak terlalu sulit, walau awal nya dia sempat terkejut mendapati seragam cleaning servis di lemari pakaian nya. Namun dia tak marah. Dia malah tersenyum lucu mendapati Rosy menghukum nya dengan cara yang unik.
__ADS_1
"Mas, anak baru ya.." Harland hanya mengangguk dan tersenyum samar. Dia baru selesai makan siang, nasi campur yang dia beli seharga 12 rb di warung dekat kontrakan nya tadi pagi. Sementara pagi nya dia hanya sarapan mie gelas saja.
"Kenalin, aku Syfa. Kita satu team. Semoga betah ya mas, kalau ada yang masih belum mas pahami cara make peralatan pembersih nya, tanya kan saja sama aku." Syfa tersenyum sangat manis sambil mengulurkan tangannya.
Harland menyambutnya karena tak enak.
"Harland, sudah menikah dan punya dua anak." Ucap nya memperkenalkan diri. Wajah Syfa berubah masam, namun segera memperlihat kan senyum manis walau di paksakan.
"Istri nya bekerja juga mas?" tanya Syfa basa basi. Dia seperti penasaran dengan pria tampan itu. Wajah dan kulit mulus Harland membuat nya tertarik untuk mengulik lebih dalam tentang kehidupan Harland.
"Ya, dia seorang desainer di kota S." Ucap Harland tersenyum bangga, nyali Syfa langsung ciut seketika.
"Kok, mas nya jadi cleaning servis di sini. Maksud aku, kenapa tidak bekerja bersama istri mas saja. Mengelola butik mungkin, istri mas kejam banget sih." Harland tak menanggapi, pria itu kemudian pamit untuk lanjut membersihkan lantai atas.
"Padahal ganteng, mulus kaya artis. Kok mau-maunya ya, jadi cleaning servis. Sayang kere, kalau tidak kan lumayan bisa di pamerin sama teman-teman. Mana udah married lagi, istri nya kaya laki nya kere. Pasti tidak mendapatkan restu dari orang tua nya si perempuan, maka nya sulit nyari kerjaan bagus. Huuffzzz! tapi ganteng ih, aku jadi penasaran. Lumayan kan ya, sapa tau dia juga tertarik sama aku. Kalo yang model nya gini mah, main tidak di bayar pun aku mau deh.." ujar nya bermonolog tak jelas. Syfa selain bekerja sebagai cleaning servis, gadis itu juga membuka lahan basah nya sebagai usaha sampingan. Tentu saja yang menyewa lahan tersebut para bandot-bandot tua yang berduit, meski kadang juga dia mendapatkan pelanggan yang muda.
__ADS_1
Sementara Harland tengah berjuang memantas kan diri melalui hukuman nya, Rosy berjuang tetap bertahan dengan penyakit nya..Kedua nya sama-sama berjuang keras, namun perjuangan Harland untuk membawa kehidupan baru. Namun perjuangan Rosy, masih abu-abu.