
Noora memacu mobil nya dengan membawa perasaan tak menentu. Entah mengapa bayangan wajah Savira begitu mendominasi pikiran nya, hingga akhir nya Noora memutuskan untuk memutar kemudi nya menuju ke rumah sang asisten.
Setiba di sana, terlihat ada bendera yang menandakan jika di rumah itu sedang mengalami kedukaan. Dengan perasaan berkecamuk, Noora bergegas turun dari mobil nya. Menyibak kerumunan, Noora akhir nya mencapai daun pintu rumah sang sahabat.
Dengan lutut bergetar, Noora berjalan menuju ke arah jenazah seorang wanita yang sangat dia kenali. Itu adalah Savira sahabat nya, wanita baik yang selalu ada untuk nya selama lima tahun terakhir. Dan terakhir menjadi satu-satu nya orang yang menemani nya hingga pagi menyapa, kala Lexan tak kunjung tiba di hari ulang tahun nya. Yang ternyata pria itu lebih memilih bercinta dengan Savina, dari pada menemani sang kekasih merayakan ulang tahun nya.
Noora bersimpuh, lalu menatap wajah pucat itu dengan hati sakit. Tak ada air mata, untuk ukuran seseorang yang tengah berduka cita. Hanya ada tatapan dingin tak terbaca dari wajah datar Noora saat ini.
Sebelum jenazah di antar ke peristirahatan terakhir, Noora memeluk tubuh dingin dan kaku sang sahabat. Mencium kening Noora sebagai permintaan maaf, wanita itu pasti tertekan karena nya dan dia sangat menyesali nya.
"Aku akan tetap melanjutkan misi ku, Savira. Maaf telah membuat mu berakhir seperti ini, sungguh aku tak berniat sedikit pun. Aku menyayangimu layak nya seorang kakak perempuan, tapi perbuatan adik mu sungguh tak termaafkan. Pergi lah dalam damai, maafkan aku. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tau. Kau sahabat terbaik yang pernah aku miliki, semoga Tuhan mengampuni jalan pintas yang telah kau pilih." Bisik Noora di telinga sang sahabat.
Para pelayat menatap haru adegan tersebut. Sebagian dari mereka sudah mengetahui siapa Noora karena sering berkunjung ke rumah sederhana sang sahabat dan menginap di sana. Sungguh terlihat ketulusan wanita itu pada Savira hingga akhir.
"Nak Noora, sudah waktu nya." Ucap ibu RT yang sudah mengenal baik Noora.
Noora hanya mengangguk pelan, lalu membaringkan kembali tubuh kurus Savira. Sejenak Noora menatap netra tertutup sang sahabat, hati nya kembali berdenyut sakit. Dua jam perjalanan nya ternyata hanya untuk mengantar sang sahabat menuju kediaman abadi nya. Sungguh dia tak menyangka, Savira lebih memilih jalan itu daripada melihat adik nya mendapatkan hukuman dari nya.
Suasana pemakaman terasa hening, tak ada sanak keluarga yang menghadiri nya. Bahkan adik yang telah Savira bela hingga menukar dengan Nyawa nya, tak kunjung tiba meski telah di hubungi oleh para tetangga.
Noora menatap miris makam yang baru saja di timbun tanah merah tersebut. Rencana nya kini semakin kuat, dia akan membalas serta pengorbanan Savira yang telah sia-sia. Nyata nya Savina tetap tak peduli pada sang kakak.
"Kau akan membayar atas nyawa sahabat ku Savina, nyawa yang telah dia sia-sia kan untuk anak *** *** seperti mu." Desis Noora memeluk pigura foto sahabat nya dengan hati perih.
Setiba di rumah, seorang wanita paruh baya menghampiri Noora yang tengah duduk di karpet di mana tadi jasad Savira di baringkan.
__ADS_1
"Non Noora, ini ada titipan dari non Savira. Mbok nemuin di atas meja waktu berkemas tadi." Noora menatap sejenak wanita paruh baya yang bekerja sebagai pembantu harian di rumah Savira selama 4 tahun terakhir.
"Makasih mbok" ucap Noora pelan kemudian meraih kotak dengan warna yang sama seperti yang dia temukan di lemari hotel nya tadi pagi.
"Si mbok tidak menyangka, non Savira pergi dengan cara seperti ini. Non Savira bahkan menyiapkan kain kafan nya sendiri juga memesan makanan ini agar tak merepotkan orang lain." Ujar wanita itu terisak pelan di samping Noora. Bahu rapuh nya berguncang hebat, kesedihan wanita itu begitu mendalam. Diri nya tak memiliki keluarga, karena sang anak dan suami telah berpulang karena kecelakaan motor 7 tahun silam.
Savira sudah seperti anak nya sendiri, itu kenapa wanita itu begitu bersedih.
Noora merangkul bahu mbok Ijah tanpa keragaman, tak ada batasan bagi nya.
"Aku juga mbok," lirih Noora nyaris berbisik. Wanita itu menyandarkan kepala nya di bahu mbok Ijah untuk menutupi kesedihan hati nya. Beberapa tetangga yang masih sibuk membantu membersihkan rumah, menatap penuh haru pada dua wanita beda generasi itu. Ketulusan kedua nya terpancar jelas meski tak di ungkapkan.
Sedangkan Lexan rupa nya memilih menginap di hotel selama dua hari ini. Keberadaan Savina di rumah membuat nya tak ingin pulang.
Dia memilih menunggu kepulangan sang istri meski tak tau sampai kapan. Savira pun tak bisa di hubungi, meski baru saja ponsel wanita itu aktif beberapa jam yang lalu. Tak tau jika ponsel Savira kini telah berada di tangan Noora.
Sudah satu jam, Noora duduk di kamar Savira. Kamar yang sering dia tempati bersama sang sahabat kala menginap di sana. Di dalam kamar itu begitu banyak potret kebersamaan mereka di berbagai momen dan tempat.
Setelah puas membaca surat panjang Savira yang berisi sederet kalimat permohonan maaf atas nama sang adik, Noora terdiam untuk waktu yang lama.
Dia tak bisa memaafkan gadis kecil itu, terlebih kini dia telah kehilangan sahabat nya karena Savina.
"Maafkan aku Vira, aku tak bisa memenuhi permintaan mu. Semoga kau tak terlalu marah padaku kelak. Adik mu pantas untuk mendapatkan hukuman nya. Dia bahkan mengabai kan mu meski tau kau telah pergi untuk selama nya." Gumam Noora lirih.
Tak lama wanita itu pamit pada mbok Ijah, meminta wanita itu menempati rumah tersebut karena ke depan nya tak akan ada penghuni nya lagi. Meski bingung, mbok Ijah tetap menuruti nya. Rumah mya sendiri hanya lah sebuah rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu.
__ADS_1
Noora berkendara menuju perusahaan nya, membagi kan berita duka yang tengah menyelimuti perusahaan tersebut. Semua karyawan tak ada yang menyangka, mereka kehilangan orang nomor dua di perusahaan itu.
Savira adalah wanita baik dan ramah, itu kenapa kepergian nya meninggal duka mendalam bagi semua yang mengenal nya. Noora juga membagikan berita itu melalui berita website perusahaan nya.
Hingga semua rekan bisnis perusahaan Noora pun mengucapkan turut berbelasungkawa atas kepergian wanita hebat itu. Lexan yang melihat berita terkini dari website perusahaan sang istri di buat tercengang. Baru dua hari yang lalu dia bertemu dengan wanita itu, namun kini Savira telah pergi untuk selama nya.
Teringat akan perkataan Savira tentang nyawa nya yang akan dia pertaruhkan untuk sang adik. Rasa bersalah di hati Lexan kian menjadi-jadi. Savira tak dekat dengan nya meski sudah mengenal wanita selama bertahun-tahun. Savira seperti membangun tembok pembatas, agar tak terlalu dekat dengan dirinya. Sungguh wanita yang kompeten dan jujur dalam bekerja, kini sang istri pasti sangat sedih kehilangan sahabat nya.
Lexan meraih dompet juga barang lain nya, pria itu ingin pulang untuk menghibur kedukaan istri nya.
Noora ternyata telah tiba lebih dulu di rumah, terlihat Savina baru saja turun dari lantai atas dan tengah menggunakan pakaian milik nya. Tak lupa tas mahal serta aksesoris lain nya.Gadis itu menghentikan langkah nya saat melihat sang pemilik rumah telah tiba. Dengan senyum tanpa rasa bersalah, Savina melanjutkan langkah nya turun menuju ruang keluarga.
Suara langkah lebar memasuki ruangan tersebut. Lexan terlihat terburu-buru menuju sang istri, namun mata nya melotot tajam kala melihat Savina turun dari lantai atas menggunakan barang-barang milik Noora.
"Savina! apa-apaan kau ini! kenapa kau memakai barang milik istri ku?" teriak Lexan marah.
Dengan senyum santai Savina memilih duduk sebelum menjawabnya.
"Kak Noora harus belajar berbagi pada ku mulai sekarang, bukankah aku akan menjadi istri kedua mu kak?" ucap gadis itu enteng. Rahang Lexan mengeras mendengar kalimat ngawur Savina. Sedangkan Noora lebih memilih diam dan menyimak.
"Jangan bermimpi Savina, tak akan ada pernikahan di antara kita!" tegas Lexan lantang.
"Aku sedang hamil kak, anak kita. Aku tak meminum pil ku selama satu bulan, dan aku berbohong soal periode ku seminggu yang lalu. Agar kakak tak marah padaku. Jadi kakak harus menikahi ku apapun alasannya. Dan ya, karena kakak ku sudah mati, jadi aku harap kak Noora bisa menggantikan nya untuk menjadi perwakilan sebagai keluarga yang aku miliki. Aku juga ingin pernikahan yang sama mewah nya seperti yang kalian gelar kemarin." Ucap Savina menatap nyalang pada Lexan tanpa perasaan duka sedikit pun. Padahal sang kakak baru saja di kebumikan kurang dua jam yang lalu.
Tak ada lagi wajah polos seperti yang biasa mereka lihat. Hanya wajah dengan jutaan ambisi yang kini terlihat jelas.
__ADS_1
Lexan benar-benar di buat murka oleh keinginan tak tau diri kekasih gelap nya. Dia benar-benar terjebak oleh sikap polos gadis itu selama ini. Nyatanya Savina juga sama seperti wanita lainnya, mengincar tahta juga harta nya.
Pernikahan megah? semua biaya pernikahan nya bahkan di tanggung penuh oleh Noora. Wanita itu menyiapkan segala nya dengan uang nya sendiri, dengan harapan pernikahan tersebut akan sesuai dengan impian nya.