Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
BonCap


__ADS_3

"Kenapa lama sekali?" hardik seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor. Pertanyaan tak terdengar menyenangkan tersebut sontak membuat raut wajah Mona masam. Dia terlambat karena sibuk memandangi wajah tampan Satya di toko roti tadi, dan kini sang bibi malah menghujami nya dengan pertanyaan menohok.


Tak ingin membuat mood nya semakin memburuk, Mona hanya beralasan sekena nya.


"Aku terjebak macet, lagi pula acara nya juga belum di mulai. Kenapa bibi semakin cerewet saja, pantas paman berselingkuh. Bibi rupa nya sangat menyebalkan." Balas Mona tak kalah menohok. Sang bibi melotot kan ke-dua mata nya saat mendengar kalimat kurang ajar, yang terlontar tanpa beban dari bibir sang keponakan.


Plak


Suara nyaring tersebut mencuri perhatian beberapa keluarga lain termasuk Miranda. Ibu dari Mona. Wanita itu meninggal kan pekerjaan nya lalu bergegas menghampiri sang anak, yang sampai terhuyung akibat tamparan keras sang bibi.


"Kenapa mbak memukul putri ku?!" teriak Miranda marah. Wanita itu tak terima anak kesayangan nya di sakiti meski tak sengaja sekalipun.


"Kau lihat betapa lancang nya putri mu ini, mengatai bibi nya sendiri seperti sedang membahas gosip selebritis. Tolong ajar kan etika berbicara yang baik dan benar pada nya, putri mu semakin di luar kendali semenjak memegang perusahaan keluarga. Jangan sombong, kau lupa putra ku akan segera kembali dari Jerman. Aaron Yang akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan setelah dia tiba di tanah air. Ingat itu, dan ingat posisi mu!" Kecam sang bibi dengan hati berkobar marah. Telunjuk nya masih menuding ke arah wajah Mona dengan mata berkilat penuh amarah.


Melihat ketegangan terjadi, Armas lekas menghampiri.


"Sudahlah mbak, putri ku pasti tak bermaksud untuk mengatakan hal buruk tentang mu. Jangan di besar-besarkan, keluarga yang lain akan segera tiba. Kejadian ini akan membuat citra putri ku buruk. Kami tak lupa posisi Mona hanya sementara, jadi tak perlu sampai mengecam nya sekejam itu." Tegur Armas pada sang kakak dengan nada kesal.


Pria itu sekelas dengan istri nya, tak rela jika sang putri tunggal di sakiti oleh siapapun walau itu adalah keluarga nya sendiri.

__ADS_1


"Lihatlah, akibat terlalu di manja putri mu tumbuh tanpa attitude yang baik. Sungguh menyesal aku datang kemari, hanya membuang-buang waktu ku saja." Ujar Felisha kemudian berbalik meraih tas mahal nya di atas meja dapur. Wanita itu benar-benar pergi dari kediaman Mona tanpa bisa di cegah lagi. Hati nya kesal pada adik juga adik ipar nya, yang selalu membela anak mereka meski tau jika Mona berbuat salah sekalipun.


"Lihat saja, kalian tak akan bisa mengambil keputusan tanpa suara dari ku." Ujar Felisha tersesatnya miring. Keluarga nya akan melakukan pertemuan guna membahas tentang perusahaan keluarga, yang kini sedang di pimpin oleh Mona. Beberapa orang bersaudara itu masing-masing ingin anak mereka yang mengelola perusahaan tersebut.


🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁


Satya yang baru saja tiba di kediaman nya langsung kalang kabut mencari sang istri. Silvery rupa nya tengah berada di gazebo belakang rumah mereka. Wanita itu menikmati secangkir teh hangat sambil menikmati pemandangan kolam ikan milik nya.


Satya terus memanggil nama sang istri hingga seorang pelayan menghampiri nya, dan mengatakan jika istri tercinta nya berada di taman belakang.


Tanpa menunggu lagi, Satya bergegas menuju taman belakang dengan langkah lebar.


"Sayang?" ujar Satya dengan suara lemah yang masih ngos-ngosan. Silvery menatap heran ke arah sang suami.


"Aku mencari mu di semua sudut rumah, jangan sering-sering seperti ini sayang. Aku bisa mati terkena serangan jantung jika kau terlalu sering menghilang. Bukan kah aku selalu mengatakan untuk menghubungi ku di manapun kau berada. Bahkan di rumah sekalipun. Kau tau, pondok cinta kita ini cukup membuat ku kelelahan jika harus berkeliling untuk mencari mu? Peluk aku, cium aku, beri upah karena lelah mencari mu. Dan ya, kau berhutang satu putaran lagi malam ini, jadi total nya menjadi tiga putaran." Ujar Satya tersenyum puas, dia punya alasan untuk menambah makan malam penuh peluh nya malam ini.


Sementara Silvery mencebik tak terima, suami nya selalu saja memiliki cara untuk bisa mengambil jatah gila-gilaan, tanpa sadar jika diri nya sudah tak semuda dulu.


"Aku sudah tua dad, apa kau tak melihat kerutan di wajah ku ini? satu putaran saja aku langsung encok dan berjalan ngesot. Apa kabar jika sampai dua tiga kali putaran, besok aku akan piknik di ruang rawat inap." Sungut Silvery membuat Satya tertawa renyah.

__ADS_1


"Siapa suruh kau senikmat ini, aku selalu ketagihan lagi dan lagi. Rasa nya tak pernah ada puas nya jika sudah menyangkut yang satu ini. Aku bisa gila jika tak melakukan nya sehari saja." Balas Satya enteng. Pria itu meremat bokong indah istri nya dengan tatapan nakal.


Silvery hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah sang suami yang semakin mesum saja.


Sedangkan tak jauh dari sana, Selome menatap jengah pemandangan indah tersebut. Hati nya selalu saja iri pada sang ayah, karena sang ibu selalu mengutamakan ayah nya setiap waktu.


"Khemmm.." Selome berdehem saat langkah kaki nya semakin mendekat. Satya yang baru saja akan mendarat kan ciuman di bibir sang istri, sontak menoleh dengan tatapan tak bersahabat.


"Kenapa kau kemari? bukan nya langsung mandi malah berkeliaran. Pantas saja jodoh mu jauh, kau malas mandi. Dasar jorok!" ketus Satya menatap kesal pada sang anak.


"Hellouw! anda sudah mandi tuan bucin? seperti aku mencium aroma-aroma keringat bercampur matahari. Apa ada seseorang yang juga belum mandi di sini? lihatlah setelan baju kerja itu, sungguh mencerminkan suami teladan. Baru pulang bekerja langsung menebar kuman pada istri tercinta nya, apa anda lupa penyakit bisa dengan mudah tertular melalui pertukaran cairan? Ckckckck... pemahaman anda ternyata tidak sampai ke sana." Sarkas Selome berdecak prihatin pada sang ayah.


Satya melempar setangkai bunga mawar yang dia petik diam-diam, kala mulut lincah sang anak mulai terbuka.


"Astaga! itu bunga kesayangan ku dad!" geram Silvery menatap horor pada suami nya. Satya meringis mendengar kalimat penuh penekanan sang istri. Sedangkan Selome tersenyum lebar melihat kekalahan sang ayah.


"Maaf sayang, besok aku akan mengganti nya lebih banyak. Apa saja yang kau minta, asal jangan keluar sendiri untuk membeli nya. Kau tau aku tak suka kau berkeliaran tanpa pengawasan dari ku." Ujar pria itu merasa bersalah, namun tetap dengan nada posesif yang menjengkelkan.


"Terserah. Kalian berdua mandi lah, mommy akan menyiapkan makan malam bersama bibi." Tukas Silvery menengahi situasi kedua pria labil tersebut, kemudian berjalan melangkah keluar dari gazebo. Satya tak mau ketinggalan mengekori sang istri bagai anak ayam, Selome pun sama. Pria itu ikut mengekori sang ibu, karena memang dia memiliki kepentingan dengan wanita cantik itu.

__ADS_1


"Dasar pebinor tak tau malu." Gerutu Satya kesal.


"Dad! mulut mu ..." tekan Silvery mengingat kan. Satya semakin bergumam tak jelas, sedangkan Selome berusaha tak menanggapi agar rencana nya berjalan mulus. Semulus pipi sang ibu yang selalu ibu nya katakan banyak kerutan tersebut. Padahal di mata Selome, ibu nya adalah wanita paling cantik selain kedua adik nya yang menyebalkan.


__ADS_2