Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Pergi membawa semua harapan semua orang


__ADS_3

Setelah mulai mengemudi, Wira memerintahkan Justin merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel nya di dalam sana. "Justin, cepat cari nomor paman Jordan, hubungi sekarang!" titah Wira dengan wajah panik.


Justin si anak penurut pun mulai mencari nomor yang di maksud oleh sang ayah. Tak lama panggilan pun sambung, namun tak di jawab


Hingga berkali-kali, Justin menggeleng pelan. Raut waja Wira semakin frustasi, dia akhir nya memutuskan untuk ke rumah sakit awal Mishy di rawat.


"Bertahan lah sayang, kau tak boleh meninggalkan ku. Tidak boleh, atau aku akan menyusul mu dengan caraku sendiri." Gumam Wira sesekali memukul kemudi mobil nya gusar.


Justin tak berani bertanya apapun, melihat betapa panik nya sang ayah. Dia tau sesuatu yang buruk telah terjadi.


Setiba di rumah sakit, pria itu berlari meninggalkan Justin yang masih berada di dalam mobil yang masih menyala.


Langkah lebar kaki nya berlari menuju IGD, terlihat Jordan duduk sambil mengusap kasar wajah nya. Dan darah yang yang mengering di pakaian pria itu semakin membuat Wira ketakutan.


"Jordan! bagaimana dengan Mishy? apa yang terjadi, bagaimana bisa dia pingsan? kenapa kau tak menjaga nya dengan baik hah?!" Wira mencengkeram kerah baju Jordan dengan perasaan berkecamuk.

__ADS_1


"Nona pingsan di depan ruang tahanan nona Resy." Wira tercengang. Resy? Menjadi tahanan Mishy? berbagai pertanyaan bergelayut di pikiran nya.


"Sejak tuan Nathan tewas di tembak oleh nona Resy, beberapa bulan kemudian nona Mishy menyekap nona Resy di ruang rahasia di rumah sakit. Namun di pindahkan setelah nona pindah ke rumah nya yang sekarang. Nona Resy masih berada dalam tahanan di ruang bawah tanah. Namun tetap di perlakukan dengan manusiawi, hanya saja ego nona Resy yang tak pernah mensyukuri hidup yang telah nona kami berikan dengan ketulusan hati." Cerita Jordan menjelaskan. Dia tak ingin seseorang berpikiran buruk pada nona nya. Sungguh dia tak rela. Mishy adalah malaikat nyata di dunia bagi nya dan keluarga.


"Lalu kenapa kau biar kan Mishy ke sana, bisa saja Resy melukai nya. Astaga!" Wira meraup wajah nya frustasi.


Klek


Dokter Regyta menatap wira dan Jordan bergantian.


"Hubungi keluarga nya sekarang, mereka masih punya beberapa menit untuk menyentuh tubuh nya selagi masih hangat." Kaki Wira melemas, pria itu menerobos masuk hingga membuat tubuh Regy terhempas ke daun pintu.


Setelah berhasil menghubungi semua orang, Jordan kembali duduk kemudian bersandar di sebuah pilar.


"Kenapa jadi seperti ini nona, kau berusaha keras demi kehidupan banyak orang. Tapi kenapa Tuhan tak sama sekali mempertimbangkan sedikit saja pengorbanan mu. Kenapa bukan orang jahat saja yang menanggung penyakit mematikan ini, kenapa harus anda nona. Ini sungguh tak adil, ibu ku bahkan menghabis kan setiap solat nya hanya dengan menyebutkan nama mu dalam doa nya. Ibu ku sangat menyayangi mu nona, kau membuat hidup kami layak dan mengangkat derajat hidup seorang mantan wanita malam serta putra nya yang hina. Kenapa Tuhan begitu sulit mengabul kan doa seorang pendosa seperti kami." Jordan tergugu dalam tangis nya.

__ADS_1


Dia dan ibu nya bertemu Mishy belasan tahun silam, ibu nya adalah mantan wanita malam. Hidup mereka selalu penuh dengan hinaan, dan diri nya hampir keluar dari sekolah padahal ujian akhir tinggal menghitung hari. Semua hanya karena ibu nya dulu seorang ja la ng. Namun Mishy yang bahkan tak mengenal nya, membantu kehidupan nya tanpa meminta syarat apapun. Satu-satu nya yang wanita minta adalah, jadi lah orang yang lebih baik. Itu lah yang selalu dia ingat. Sekolah perawat meski bukan lah cita-cita nya, namun agar bisa bekerja di rumah sakit Keluarga Sanders sebagai bentuk pengabdian nya, atas segala kebaikan Mishy pada nya dan sang ibu.


"Kau Jordan bukan? mana putri ku Jordan? di mana dia!" Rosy muncul dengan hanya menggunakan daster rumahan. Setelah makan siang bersama Wira dan Justin, wanita itu mengganti pakaian nya menggunkan seragam rutin nya di rumah.


"Nyonya..." Lirih Jordan tak mampu berkata-kata. Rosy menggeleng cepat lalu menerobos masuk di susul oleh sang suami juga Mylo.


Tubuh kurus sang anak kini berada dalam dekapan Wira. Pria itu masih betah memeluk tubuh Mishy yang mulai terasa dingin.


"Mishy, jangan bergurau nak...kau tau mama tak pernah suka leluncon mu, kau tak pandai membuat hal lucu. Bangun lah, lihat kami semua meninggalkan istirahat dan kegiatan kami karena mu." Rosy mengguncang tubuh sang anak dengan perasaan sakit. Mishy nya terlihat sangat kurus, tanpa rambut indah nya seperti biasa. Sungguh pemandangan yang mengiris hati nya.


Harland memeluk tubuh dingin putri nya dengan hati remuk. Kenapa dia bisa tak mengetahui apapun. Ayah macam apa diri nya.


"Bangun lah sayang, kenapa kau membuat papa menangisimu. Ini tak benar, bukan begini alur nya. Harus nya seorang anak yang mengantar kepergian orang tua nya, bukan sebalik nya. Papa tak sanggup nak, bangun lah papa mohon..." lirih Harland. Mylo masih terus memeluk tubuh lemah ibu nya sedang kan Wira berdiri sambil terus menatap netra tertutup Mishy. Wanita yang beberapa minggu ini telah menyiram bunga di hati nya yang layu. Kini wanita itu telah pergi dengan membawa semua cinta nya hingga ke akar-akar nya.


Justin menatap semua orang dari depan pintu, anak itu menangis tanpa suara. Wanita yang dia harapkan akan menjadi ibu nya, kini telah meninggal kan dalam harapan yang tak pernah sampai.

__ADS_1


"Mommy!" seru Miguel yang baru saja tiba, pria itu menarik paksa tubuh sang ibu dari dekapan sang kakek.


"Kenapa seperti ini mom...aku tidak mengijinkan mu pergi.. bangun lah, adik-adik ku masih membutuhkan mu mom, kenapa kau tega sekali pada kami. Apa kami terlalu merepotkan mu selama ini, sehingga kau lebih memilih untuk pergi. Maaf belum bisa menjadi putra kebanggaan mu, aku menyesal tak terlahir dari rahim mu saja mom. Kenapa aku harus terlahir dari seorang wanita ja la ng." Miguel menangis terisak sambil memeluk tubuh kurus ibu nya.


__ADS_2