
Sejatinya Tuhan lah sang maha penentu takdir, manusia hanya bisa menghakimi tanpa sadar jika Tuhan saja maha pemurah.
"Maafkan ego ku dad, aku sudah menyadari nya. Tak masalah bagi ku jika Satya sungguh-sungguh mencintai putri kita. Aku merestui nya dengan ikhlas hati." Paul tersenyum lalu menarik pelan tubuh istri nya, pria itu merengkuh tubuh kecil wanita keras kepala yang telah memberikan tiga orang anak tersebut.
Kini hati ke-dua nya merasa lega, ada ketentraman tersendiri yang mereka rasakan setelah akhir nya berdamai dengan keadaan juga kenyataan yang ada.
🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁
Silvery terlihat gusar, rambut nya yang sudah di tata rapi kini terlihat berantakan. Wajah nya pun sedikit berkeringat meski di dalam ruangan tersebut pendingin berada di suhu abnormal.
"Silvery? Kenapa kau belum bersiap sayang, acara nya akan segera di mulai. Ayo kita turun ke bawah, para wartawan dan beberapa desainer ternama ingin bercengkrama dengan mu. Ayo kita sapa mereka untuk memberikan kesan yang baik sebagai tuan rumah." Ajak sang bibi. Namun Silvery bergeming di tempat nya. Penampilan nya sudah lusuh, hampir setengah jam dia berkutat di antara tumpukan pakaian setengah jadi di sana, untuk mencari sesuatu yang sangat berharga bagi nya.
"Aku di sini saja bi, aku sedikit tak enak badan." Ujar Silvery tanpa melihat pada sang bibi. Gadis itu berbalik menuju ruang istirahat nya. Gauri menatap sendu punggung kecil Silvery yang semakin mengecil. Silvery terlihat semakin kurus. Itu membuat nya sangat cemas.
Gauri keluar dari ruangan tersebut dengan sedikit perasaan tak tenang, seseorang yang mereka tunggu tak kunjung tiba padahal seharus nya sudah sejak tadi. Tak tau saja, Satya sedang berjuang untuk sampai ke sana sambil terus mendorong motor nya yang macet. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh nya, namun pria itu tak peduli. Rasa nyeri di bekas operasi nya pun tak dia hiraukan. Hingga sebuah mobil berhenti tepat di hadapan nya.
"Mas Satya?!" Seru seorang wanita dari balik kaca mobil yang di turunkan sempurna.
"Ya Allah mas, kenapa tidak menghubungi saya saja. Ya ampun lihat kau sudah seperti mandi begini, mau kemana memang nya?" Cecar Berto suami Keke yang kebetulan baru pulang dari undangan kampung sebelah.
"Ke butik teman mas Berto, malah macet pas tidak ada rumah penduduk lagi daerah sini." Ucap Satya mengusap keringat di wajah nya.
"Motor nya tinggal di sini saja, tar orang bengkel ambil. Mas Satya ikut kami saja, katakan di mana alamat nya. Kita meluncur ke sana sekarang." Ucap Berto tulus. Satya mengangguk setuju, pria itu kemudian masuk ke dalam mobil kemudian mengarahkan pendingin mobil ke arah nya. Keke pun mengencangkan suhu AC mobil agar Satya merasa nyaman.
__ADS_1
"Itu dalam plastik apa mas?" Tanya Keke melihat Satya terus memeluk plastik di tangan nya.
"Jas mbak Keke, saya takut kehujanan maka nya taruh plastik begini." Jawab Satya apa adanya. Keke terlihat mencari sesuatu sambil membongkar sebuah paper bag.
"Nih, masih baru. Semoga cocok di badan mas Satya, ganti gih aku tidak bakal ngintip. Wong pawangku ada di sini kok." Ujar wanita itu ngaur sambil tertawa kecil.
Satya sejenak menatap Berto yang ada di depan nya, pria itu mengangguk cepat.
"Pakai saja mas, anggap saja hadiah kecil dari saya. Sudah sering bantu Keke saat saya jauh." Ucap pria itu begitu tulus. Satya mengucapkan terimakasih lalu berganti setelah mengelap sisa keringat nya menggunakan tisu basah milik Keke. Lalu memakai jas yang kebetulan sangat cocok dengan warna kemeja tersebut.
"Wah, ganteng mas." Puji Berto dari depan. Keke sontak menoleh.
"Benar mas, kewes-kewes pasti langsung pangling nih liat mas udah kaya artis gini." Timpal wanita itu tak kalah memuji.
Setelah setengah jam berkendara, akhir nya mereka tiba di tempat yang seharus nya Satya tiba satu setengah jam yang lalu.
"Mas? Tidak mau turun? Sudah sampai loh." Tegur Keke heran.
"Saya malu mbak, di sana pasti orang-orang berkelas semua, sedang kan saya, hanya seorang cleaning servis juga waiters. Balik aja mbak, maaf udah merepotkan. Nanti ongkos bensin nya saya ganti." Ucap Satya tersenyum kecut.
Dia kini semakin sadar, menjauh adalah pilihan terbaik untuk nya.
"Yakin mas?" Tanya Keke memastikan, dapat dia lihat gurat kesedihan di wajah tetanga tampan nya itu.
__ADS_1
"Ya mbak, sekali lagi maaf udah buat bolak-balik tidak jelas begini." Ucap Satya tak enak hati.
Berto menatap sang istri yang hanya mengangguk pasrah. Pria itu mulai mengemudi kan mobil nya perlahan, berharap Satya berubah pikiran.
Sesaat akan memutar arah, netra Satya tak sengaja melihat sosok yang tengah dia rindukan dengan amat sangat.
Silvery tengah duduk di kursi di samping taman dekat pintu masuk belakang butik tersebut. Gadis itu tengah menangis sesenggukan seorang diri. Satya tak tahan melihat nya hingga memutuskan untuk keluar juga.
"Mas Berto, aku turun di sini." Seru Satya lalu keluar dari mobil yang bahkan belum berhenti sempurna. Posisi nya ada di seberang jalan persis di hadapan taman tersebut. Tanpa peduli pada kendaraan yang lalu lalang, Satya berteriak memanggil nama Silvery. Membuat gadis itu terkejut juga heran.
Namun netranya membelalak kala melihat pria yang kini tengah menggunakan jas buatan nya ada di seberang jalan.
"Satya..." Gumam Silvery lirih.
Satya akhir nya berhasil menyebrang, dan kini tengah berdiri di hadapan Silvery dengan nafas tersengal-sengal.
"Maaf, aku terlambat. Apa acara nya sudah selesai?" Tanya Satya basa-basi, pria itu mendadak gugup tak karuan.
"Telat banget, lebih baik pulang saja lagi. Tidak ada makanan yang tersisa dan kembali kan jas yang anda curi itu. Itu milik seseorang yang berarti untuk ku." Ucap Silvery tanpa menatap Satya. Mata nya berpendar liar untuk menghindari tatapan Satya.
Satya tersenyum simpul, jas itu untuk nya. Silvery merajut bordiran tangan di bagian dalam jas tersebut. Ada nama nya tersemat di sisi kantong jas itu.
"Sungguh? Sayang sekali aku sangat menyukai nya. Seseorang memberikan nya pada ku sebagai hadiah, kadi aku tak bisa mengembalikan nya. Maaf, jas ini resmi menjadi milik ku, berikut sang penjahit nya." Silvery sontak menatap manik Satya tanpa sadar.
__ADS_1
Satya terkekeh kecil, melihat reaksi terkejut di wajah Silvery yang sangat menggemaskan.
"Jadi makanan nya sudah habis ya? Sayang sekali, padahal aku sengaja tak makan sejak siang agar bisa makan sepuas nya di sini. Aku juga kelelahan akibat mendorong motorku hampir setengah jam saat menuju kemari. Lihatlah, aku terpaksa memakai kemeja tetangga ku karena kemeja ku basah kuyup oleh keringat. Dan mereka juga yang mengantar pria malang ini kemari. Itu, mobil merah di seberang jalan sana." Tunjuk Satya pada mobil Keke yang masih terparkir di depan sebuah ruko di seberang jalan.