Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Mishy yang licik


__ADS_3

Seperti biasa, jika Rosy memutuskan keluar tanpa menggunakan jasa sopir atau minimal di temani oleh siapapun. Drama singkat pasti terjadi. Seperti yang terjadi saat ini, Drew terlihat berusaha membujuk sang nyonya agar di ijin kan ikut serta.


"Anda yakin saya tidak perlu ikut nyonya?" Drew nampak khawatir melepaskan majikan nya menyetir seorang diri selama seharian penuh tanpa pengawasan nya. Dia tau perubahan mood Rosy yang kurang baik belakangan ini. Pernah sekali Drew melihat bagaimana bengis nya Rosy, memukul seorang jambret yang berani berurusan dengan sang nyonya. Hampir saja pria muda itu mati jika saja Drew tak segera menolong nya. Bukan soal tas atau segala isi nya, namun pria malang itu hadir di saat yang tak tepat. Rosy sedang berada dalam tekanan psikis yang memuncak. Sehingga kehadiran pria malang itu menjadi bahan pelampiasan nya begitu saja.


Rosy menatap datar pada sang sopir sekaligus ajudan kepercayaan nya. "Kau seperti nya sangat mencemaskan ku Drew? Apa aku melewat kan sesuatu?" Drew menelan ludah nya susah payah.


"Tidak nyonya. Saya hanya tidak ingin anda kelelahan jika seharian harus mengemudi kan mobil sendirian." Dalih Drew menyelamatkan jiwa raga nya dari tatapan penuh selidik sang majikan.


"Aku baik-baik saja, Drew. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit, aku tidak suka!" Setelah mengatakan kalimat yang membuat kinerja jantung Drew berantakan, Rosy berlalu masuk menuju ke arah mobil nya tanpa berbicara apa pun lagi.


Mylo yang baru tiba di halaman menatap punggung kecil ibu nya dengan berbagai pikiran berkecamuk. "Paman, maaf kan mama. Belakangan ini mama sedang banyak pikiran, jangan di ambil hati. Pergilah berlibur hari ini, Yoza dan Yoga pasti akan senang jika paman mengajak mereka jalan-jalan. Ini, aku punya coklat...tolong berikan pada Yoza. Daahhh paman!" Mylo berlari kecil menuju mobil di mana sang adik dan ibu nya telah menunggu.


"Apa yang kau katakan pada paman Drew, Mylo?" Suara lembut Rosy terdengar menusuk di telinga Mylo. Dia tau ibu nya mencurigainya mengatakan sesuatu pada sang paman. Ibu nya bahkan tak menatap nya saat berbicara, dia tau wanita cantik itu sedang menahan sesuatu agar tak terlihat jelas oleh nya.


"Aku hanya menitipkan salam dan coklat untuk Yoza. Mama tau jika Yoza sangat suka coklat, terutama jika itu dari ku. Aku juga bilang akan membeli beberapa donat jika kita kembali nanti. Yoza juga suka itu." Jawab Mylo dengan nada tenang, tercetak senyum manis tanpa kebohongan di sana. Dan ya, kali ini Rosy percaya begitu saja. Mylo sudah belajar banyak dari buku yang dia baca. Buku "Psikologi Kepribadian", yang diam-diam dia beli di Gramedia waktu itu.

__ADS_1


Dia berusaha memahami karakter seseorang, terutama ibu nya. Dia tau penyakit sang ibu yang berhubungan dengan gangguan psikologis. Juga penyakit lain yang sedang ibu nya rahasia kan dari mereka semua. Termasuk dari sang bibi, Sania.


Mylo belajar memahami perubahan mood ibu nya. Dengan begitu, akan mudah bagi nya menghadapi situasi tiba-tiba ketika ibu nya mulai lepas kendali. Penyakit serius sang ibu membutuhkan mood yang stabil, reaksi dari emosi yang berlebihan akan membuat penyakit ibu nya bertambah parah. Apa lagi sang ibu tak melakukan pengobatan apa pun untuk penyakit nya. Hanya bermodalkan anti nyeri yang beberapa kali Mylo lihat di laci lemari sang ibu, yang selalu di kunci rapat oleh wanita itu.


"Berhenti lah memberi kan Yoza coklat dan makanan manis lain nya Mylo. Apa kau tidak lihat? Tubuh Yoza sudah seperti gajah Afrika. Yoza bisa terkena penyakit jantung di usia nya yang baru akan menginjak 5 tahun. Iyuuhhhh, itu mengerikan." Mishy bergidik ngeri dengan bayangan nya sendiri. Membayangkan Yoza sebesar gajah yang terserang penyakit stroke.


Mylo mendelik tak suka, Yoza bagi nya sangat menggemaskan. Mau sebesar apa pun gadis kecil itu.


"Yoza itu lucu! Dia masih kecil, wajar saja jika dia masih belum bisa menjaga pola makan nya. Kenapa kau yang sewot!" Sergah Mylo tak suka. Yoza menggemaskan bagi nya, tak ada yang aneh dengan bentuk badan nya yang bulat. Yoza baru akan berumur lima tahun 3 bulan lagi, wajar jika gadis kecil nya itu makan banyak. Yoza sedang dalam masa pertumbuhan nya, jadi tidak masalah bagi nya.


Mishy menatap hamparan pasir putih yang kini baru saja dia pijak dengan hati berbunga-bunga. Bukan itu yang membuat nya senang, tapi informasi tentang seseorang yang membuat nya bersemangat.


"Huuuu... Aku suka ini. Lihat gulungan ombak di sebelah sana Mylo, aku yakin kau akan langsung seperti semut yang terombang-ambing di dalam gelas susu. Kan, kau tidak bisa berenang..." Ledek Mishy tertawa jahil. Ide brilian muncul begitu saja, hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Tidak masalah mengambil sedikit resiko, jika bisa menyatukan potongan kain yang robek.


Senyum licik tercetak di wajah nya yang terlihat begitu polos dan menggemaskan. Tak ada yang akan menyangka, gadis berusia 7 tahun 4 bulan itu memiliki pemikiran yang benar-benar picik.

__ADS_1


"Apa hebat nya bisa berenang. Kau pun hanya bisa berenang di kolam, di pantai? Aku ragu, bisa-bisa kau yang lebih dulu di beri pertolongan nafas buatan." Dengus Mylo tak mau kalah. Dia memang tidak suka air yang dalam. Untuk itu di rumah nya ada bagian kolam renang yang di buat khusus untuk diri nya. Meski harus selalu menerima ledekan dari sang adik.


"Kau lihat penjaga pantai itu? bayang kan jika pria dewasa itu memberi mu nafas buatan, maka kau akan memilih untuk langsung mati saja." Balas Mylo tersenyum mengejek. Mishy tak pernah suka sentuhan dari orang asing, atau tangan dan kakinya akan ikut bekerja sama melakukan kudeta.


"Enak saja! Mari kita masuk ke sana, lima meter dari bibir pantai. Kita lihat, bagaimana kau akan langsung berlari terbirit-birit seperti sedang di kejar Megalodon." Tantang Mishy berkecak pinggang. Gadis kecil itu suka tantangan, meski tak jarang diri nya sering terkena masalah karena sikap bar-bar nya itu.


"Aku tidak mau. Lagi pula apa untung nya bagi ku, jika mama tau dia pasti akan langsung memarahi kita. Ingat Mishy, kita kemari untuk menikmati hari libur. Jadi jangan membuat ulah sekali ini saja!" Ucap Mylo penuh nada peringatan.


Mishy mencibir mendengar kalimat sok bijak sang kakak yang menurut nya terlalu berlebih-lebihan.


"Kita ini anak-anak Mylo, kakak ku tersayang. Jadi, mari kita bersikap selayak nya anak-anak. Apa kau tak bisa, setiap hari tak meracuni pikiran mu dengan berbagai macam mata pelajaran yang membosankan? Aku melihat mu belajar saja sudah hampir muntah, asam lambung ku langsung naik drastis. Ayolah..! Mama sedang tak memperhatikan kita sekarang, jadi ayo kita berbuat nakal sesekali...!" Tanpa menunggu persetujuan, Mishy menarik pergelangan tangan sang kakak mendekati air.


Mylo mulai terlihat pucat karena ketakutan,apa lagi melihat ombak yang di mata nya sudah setinggi gedung empire state setinggi ratusan lantai.


"Mishy..! Berhenti bermain-main atau aku akan berteriak agar mama melihat kemari dan memarahi mu." Kalimat penuh peringatan sang kakak seolah tak berarti apa-apa bagi Mishy. Telinga nya seolah tuli. Kali ini dia siap menghadapi amarah sang ibu. Jika Mylo mengetahui kondisi ibu mereka yang sebenarnya karena tanpa sengaja. Berbeda dengan Mishy yang memang selalu mencari tau. Gadis itu bahkan bisa meretas informasi dari komputer rumah sakit, di mana sang ibu melakukan pemeriksaan terhadap gejala sakit kepala menahun yang di derita nya.

__ADS_1


Gadis kecil itu sungguh berbahaya. Rosy bahkan tak mampu berpikir hingga sejauh itu. Namun pemikiran Mishy melampaui bayangan nya.


__ADS_2