
Satya terlihat menyiapkan kotak bekal nya, seperti biasa telur dadar yang digulung dengan sambal tomat. Juga ada sayur pakis di sekat lain dalam kotak bekal nya.
Tok tok tok
Satya menatap daun pintu lalu menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 7:20 pagi. Siapa yang bertamu tak tau waktu seperti ini. Namun pria itu tetap berjalan ke arah pintu depan dengan perasaan dongkol.
Klek
Terlihat seorang gadis berdiri dengan dress setengah paha sambil menenteng tote bag.
"Tania?" Sapa Satya heran.
"Eh, mas Satya. Tania ganggu tidak?" Ujar gadis itu basa basi.
"Sudah tau masih nanya!" Ketus hati Satya.
"Sedikit, aku mau berangkat kerja. Ada apa ya?" Tanya Satya langsung.
"Oh gitu? Tidak ada apa-apa, sengaja mampir saja mau ngasih ini. Di makan ya mas buat bekal kerja. Ada rendang daging buatan Tania, semoga mas Satya suka. Nih!" Tania menyerahkan tas bekal tersebut pada Satya. Meski tak suka atas perhatian penuh maksud tersebut, namun Satya tetap menyambut nya.
"Terimakasih banyak Tania, harusnya tak perlu repot-repot begini. Saya selalu masak setiap hari untuk bekal." Ujar Satya secara tak langsung mengingat kan agar gadis itu tak perlu lagi memberikan nya makanan.
__ADS_1
Entah mengapa Satya jadi teringat Silvery, membayangkan gadis itu akan cemburu padanya membuat nya bergidik ngeri. Leluhur nya saja bisa seberutal itu pada nya beberapa puluh tahun silam. Entah-entah cicit para lansia itu juga memiliki sifat yang sama. Bisa-bisa dia akan langsung di kebiri jika berhubungan dengan gadis kecil itu jika ketahuan selingkuh.
"Tidak apa-apa mas, Tania senang melakukan nya. Itung-itung belajar jadi istri yang baik buat mas Satya." Ucap gadis itu pelan dengan gaya malu-malu. Oh Tuhan, Satya ingin segera enyah saat itu juga.
"Makasih ya Tania, lain kali tidak usah tidak usah repot-repot lagi. Saya mau pamit Berangkat kerja dulu, ini pintu nya mau saya tutup." Ucap Satya tak sabar.
Tania pamit pulang meski kecewa tak di ajak masuk sekedar mengobrol ringan sebentar.
"Ada-ada saja anak jaman sekarang." Gerutu Satya kesal. Pagi nya sudah di kacaukan oleh anak aroma kencur murni.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Setiba di parkiran khusus karyawan seperti nya, Satya segera menuju pintu belakang. Hari ini dia ingin bekerja cepat agar bisa segera memantau Silvery. Dia takut gadis ceroboh itu akan kabur lagi kali ini. Sungguh Satya sangat mencemaskan gadis polos itu. Apalagi pernah tanpa sengaja dia melihat seorang pria dengan gaya brandal mencoba mencium bibir mungil Silvery di belakang kelas les. Untuk saja ada kucing tak sengaja lewat di sana, Satya melempar kucing tersebut ke arah punggung si pria hingga si pria terkena cakaran maut si kucing korban kegabutan Satya.
"Mas? Mas Satya!" Seru seorang rekan kerjanya menepuk keras bahu Satya. Membuat Satya hampir melempar kan alat pel nya ke wajah si perempuan iseng tersebut.
"Dari tadi geleng-geleng kaya orang lagi ngobat. Sakit kepala apa gimana? Tar di sangka agak miring dua ons loh." Ujar sang rekan mengingat kan, Satya yang terlanjur jengkel tak menghiraukan. Pria itu melanjutkan pekerjaan nya agar cepat selesai.
"Akhirnya..." Ujar Satya lega, dia ingin lekas kabur dari sana untuk menjadi pengawal ninja bagi Silvery. Seperti biasa, berlindung di bawah pohon mangga sambil duduk di atas motor Scoopy butut milik nya. Menikmati isi kotak bekalnya dengan penuh rasa syukur.
"Mas Satya, aku numpang pulang ya? Bolehkan?" Satya menggeleng cepat.
__ADS_1
"Tidak bisa, maaf. Aku ada kencan jadi tidak bisa mengantarmu Rena, naik ojek aja nih aku kasih ongkosnya." Satya merogoh saku nya mengeluarkan uang sisa beli pertalite tadi lagi sebesar 17 rb.
"Cukup kan? Aku duluan ya, kasian pacarku kalau nunggu terlalu lama." Seru Satya dari balik helm nya. Bukannya Satya tega, dai tau Rena selalu mencari kesempatan agar bisa berduaan dengan nya dengan berlama-lama mengajaknya berkeliling mencari sesuatu yang tak kunjung ketemu.
"Pacar dari Hongkong.." gumam Satya tertawa lucu. Pacarnya adalah si kucing kecil yang pernah dia lempar dengan sadis, ke arah pria brengsek yang hampir mencuri ciuman pertama milik Silvery.
Setiba di tempat les, Satya langsung parkir indah di bawah pohon mangga. Di sana sudah ada sang kekasih menanti nya, kucing liar yang dia beri nama jablay.
"Halo jablay, apa Silvery sudah datang?" Tanya Satya pada kucing yang terlihat gabut tersebut, dan di jawab dengan kata meaww yang hanya Satya saja yang paham.
"Sudah ya, baiklah. Sembari menunggu Silvery selesai belajar, kita makan siang dulu. Hari ini aku ada bawa rendang daging untuk mu, kau terlihat kurus. Apa kau diet? Kau mana cantik lagi kalau terlalu kurus. Ini makan lah yang banyak, agar kau semok." Celoteh Satya pada si kucing yang mulai terlihat bersemangat setelah mencium aroma rendang.
Kedua nya makan berdampingan, Satya makan dengan lauk miliknya sendiri. Sedangkan jablay makan dengan lauk rendang pemberian Tania. Satya tak ingin terbiasa makan masakan orang lain, terlebih jika dari seseorang yang jelas menaruh harapan besar pada nya.
"Enak tidak? Pasti enak dong, kau bahkan tak menawariku sama sekali." Seloroh Satya pada kucing tersebut.
Seseorang sejak tadi berdiri di belakang Satya, melihat dan mendengar celotehan pria itu. Pria yang kini begitu berubah. Berbalut dalam kesederhanaan dan terlihat begitu percaya diri dengan seragam kerja nya.
"Kira-kira Silvery hari ini bolos lagi tidak? Ayo kita bertaruh, tak banyak, 2 rb rupiah saja. Lumayan untuk mu jika menang. Untuk jajan cilok di depan sana." Satya kembali berceloteh riang dengan si jablay yang hanya menanggapi nya dengan kata meaww.
"Jika aku terlambat datang, kau harus menjaga Silvery oke? Jangan biarkan anak-anak berandal itu mendekati nya lagi, dan berusaha melakukan hal tak senonoh pada gadis polos itu. Cakar mereka tepat di area masa depan nya. Kau paham? Tugas kita adalah menjaga nya dari orang-orang yang berniat memanfaatkan kepolosan nya, sampai nanti dia bertemu dengan pasangan yang baik dan bisa menjaganya lebih dari pada kita berdua. Anak itu begitu manis, sangat mudah menyukai nya. Tapi aku sudah terlalu tua jika menyukai nya, jadi kita doakan saja agar Tuhan segera mengirimkan pangeran tampan untuk selalu menjaganya di manapun dia berada."
__ADS_1
Celotehan Satya masih berlanjut, hingga mereka selesai makan. Satya dengan setia duduk diatas motor nya, yang joknya sudah memiliki tambalan panjang menggunakan lakban hitam.