
Menurut orang yang menemukan sang adik, keadaan Livi sangat mengenaskan. Kepala nya berdarah dan ada luka robek cukup panjang di kepala kiri nya. Luka memar di kepala bagian belakang dan samping kanan. Di duga terkena bebatuan sungai saat sang adik hanyut. Atau sengaja di lakukan seseorang sebelum membuang sang adik di sungai tersebut.
Olsen masih menyelidiki nya. Dia masih mencari penculik sang adik yang merupakan mantan pembantu juga sopir keluarga nya. Sepasang suami istri yang juga tiba-tiba menghilang di hari di mana sang adik menghilang.
"Maaf..." Cicit Olsen merasa bersalah. Pria itu menggaruk tengkuk nya salah tingkah, tatapan sang kakak seperti akan menelan nya hidup-hidup.
"Olivia hanya sedikit lemot, bukan berarti dia bodoh. Perhatikan ucapan mu kalau tak ingin lidah mu aku potong." Ucap Odion penuh peringatan.
"Ya maaf, aku kan hanya memastikan. Lagi pula Livi juga adik ku, aku ingin yang terbaik untuk nya. Dulu Livi anak yang ceria dan cerdas. Kau ingat, saat hari pertama masuk TK besar. Livi mampu menghitung hingga 20 dan menuliskan nama nya sendiri dengan lengkap tanpa bantuan guru. Menyebut berbagai warna tanpa kesalahan, juga membantu teman-teman nya menulis kan nama mereka." Ujar Olsen mengenang.
Kedua nya larut dalam nostalgia masa silam, di mana sang adik terkenal sangat cerdas dan itu terlihat sejak Olivia berusia 1 setengah tahun. Adik mereka sudah lancar berbicara, dan usia tiga tahun sudah mampu menghapal ABC hingga tuntas. Kecelakaan yang di alami sang adik, pasti penyebab dari kemunduran kecerdasan tersebut.
"Kau memastikan sesuatu yang membuat ku kesal. Hari ini jangan kemana-mana dulu, aku mau kau juga ikut membuka hasil tes DNA Livi. Aku deg-degan sejak semalam, dan aku bahkan tidak tidur semalaman karena terlalu bersemangat menunggu pagi." Cerita Odion dengan wajah berbinar penuh harapan tinggi.
"Dan kau merahasiakan hal sebesar ini dari ku? Dasar menyebalkan!" Ketus Olsen masih menyimpan kekesalan pada sang kakak.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan pada mu dan papa, tapi aku sendiri malah di landa kecemasan selama seminggu ini. Mylo sudah berjanji, jika terbukti Livi adalah adik kita. Dia akan mengantar sendiri Livi ke ke kediaman kita. Dan dan saat itu tiba, aku tak sabar ingin melihat reaksi papa." Ujar Odion menatap potret keluarga bahagia di dinding ruang kerja nya. Di mana masih ada sang ibu di sana, menggendong Olivia kecil ketika berusia 2 tahun.
"Maaf untuk rahang mu kak, apa masih sakit?" Tanya Olsen merasa bersalah.
"Tidak! Lagi pula aku ini laki-laki. Hanya saja sisa sakit yang di berikan oleh tuan muda Pratama itu masih ada dan kau menambah nya lagi." Ketus Odion mendelik kesal. Olsen cengengesan tak jelas melihat wajah kesal kakak nya.
__ADS_1
"Jika aku di sana, aku pasti akan tertawa paling keras. Bagaimana seorang Odion si ketua mafia, di hajar oleh pria yang bahkan tidak menguasai ilmu bela diri. Apa dia menggunakan jurus seribu bayangan? Atau jurus daster payung melambai-lambai?" Olsen meledek sang kakak sambil membayangkan bagaimana Mylo menghajar kakak nya, hingga meninggal bekas luka sobek di sudut bibir Odion.
"Aku bukan pria lemah, hanya saja melihat cara tuan muda itu memukul ku. Bisa ku pasti kan jika pria itu tak memahami seni bela diri dengan benar. Aku jadi cemas Livi bisa dia lindungi dengan baik." Odion terlihat merenung.
"Tenang saja, justru pria seperti Mylo lah yang tepat untuk menjaga Livi. Pria dengan kegilaan cinta yang tak terhingga, pasti akan berjuang hingga titik akhir untuk menjaga orang yang dia sayangi." Ujar Olsen optimis sembari menenangkan sang kakak yang terlihat khawatir akan nasib Olivia.
"Kau benar, aku ha....."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat kalimat Odion terhenti.
klek
Kedua nya bertatapan dengan tatapan yang entah. Degup jantung Odion tak kalah kencang dari sang adik. Seperti orang yang tengah melakukan lomba maraton.
"Suruh langsung masuk saja ke ruang kerja ku, bi. Sen, tolong isi kan gelas air minum ku." Titah Odion setelah Pelayan tersebut segera berlalu untuk mempersilahkan sang tamu untuk naik ke lantai dua.
Suasana ruang kerja Odion terasa seperti pemakaman. Sunyi! Olsen beberapa kali mengambil tissue untuk mengeringkan telapak tangan nya yang mendadak berkeringat berlebihan.
"Apa sudah bisa di buka sekarang tuan Odion?" Tanya seorang pengacara keluarga s Jenar sambil menatap tuan nya yang terlihat gusar.
__ADS_1
Olsen pun langsung mengikuti arah pandangan sang pengacara. Tatapan yang mematik suara decakan lidah dari mulut Odion.
"Kenapa kau yang jadi tidak sabar? Kemarikan, aku akan membuka nya sendiri." Ketus Odion sewot. Sang pengacara menyerahkan amplop coklat tersebut pada sang tuan dengan senyum simpul.
"Kak..cepat sedikit..." Desak Olsen memancing singa di hadapan nya mengeluarkan taring.
Delikan mata sebal sang kakak membuat Olsen langsung kicep.
Odion kembali fokus pada amplop di tangan nya, membukanya dengan sangat perlahan seakan takut membuat isi dari amplop tersebut rusak.
Setelah menarik keluar secarik kertas berlogo sebuah rumah sakit ternama di kota itu. Odion diam sejenak, berusaha mengatur alur nafas nya yang serasa mencekik leher nya.
Dengan begitu cermat, Odion membaca setiap kata yang tertera di dalam surat tersebut. Olsen menanti dengan perasaan tak karuan. Melihat mata sang kakak berembun, Olsen berusaha menebak, apa yang tertera di dalam surat tersebut.
"Dia Olivia kita, kan? Jawab aku kak..,!" Sungguh Olsen sudah tak sabar lagi, apa lagi Odion sama sekali tak menjawab nya. Di rampas nya surat tersebut dari tangan kakak nya, kemudian membaca langsung pada hasil nya.
Pria jangkung itu terdiam dengan perasaan membuncah penuh. Tak lama pria tampan itu berlutut sembari mencium hasil tes DNA sang adik.
"Ya Tuhan... Kau baik sekali, terimakasih sudah mengembalikan Olivia pada kami.." pria itu menangis haru tanpa peduli pada sang kakak yang rupa nya juga tengah menangis.
Burhanuddin, sang pengacara pun ikut meneteskan air mata. Dia adalah saksi di mana keluarga itu begitu kehilangan sang nona muda keluarga Jenar belasan tahun silam. Menyaksikan sang nyonya mengakhiri hidup nya di tali tambang di dalam kamar sang anak kesayangan nya. Kerinduan telah merenggut akal sehat sang nyonya hingga tak bersisa.
__ADS_1
Satu tahun kehilangan tak mampu membuat nyonya Jenar melupakan sang anak. Namun semakin membuat nya terpuruk dan putus asa.