
Rosy menatap nanar pria yang kini masih belum ada tanda-tanda kehidupan di hadapan nya. Kondisi Harland bukan nya semakin membaik, sudah dua kali pria itu nyaris mengucapkan selamat tinggal dunia. Dua kali pula, Rosy melakukan hal ekstrim untuk membawa Harland kembali pada kehidupan.
Meski kini masih bertopang pada alat bantu kehidupan, namun itu sudah cukup membuat hati nya lega.
"Apa kau benar-benar tak ingin bangun, Harland brengsek?" desis Rosy entah kesal atau bagaimana. Yang jelas wanita itu terlihat begitu dingin saat mengatakan kalimat singkat tak biasa, untuk ukuran seorang istri pada suami nya yang tengah koma.
"Jika kau sungguh tidak ingin membuka kedua mata mu, maka aku sendiri yang akan mengirim mu ke neraka. Aku akan melakukan nya dengan senang hati, mengingat semua dosa mu di masa lalu. Aku yakin bisa melakukan nya dengan sangat mudah tanpa berpikir panjang." Nada datar dan terkesan tak berperasaan meluncur lancar tanpa kendala dari bibir wanita cantik itu.
Hingga tanpa dia sadari, jika sejak tadi, makhluk fana yang sedang dia cecar habis-habisan. Menarik sudut bibir nya perlahan.
"Apa kau yakin akan membunuh ku, sayang?" Rosy tersentak ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinga nya. Posisi nya kini tengah mencium punggung tangan pria yang baru saja dia cerca dengan kata-kata mutiara.
"Kau?" mata Rosy membeliak sempurna. Pipi nya memerah hingga terasa memanas sampai ke bagian cuping telinga nya. Bagaimana tidak, diri nya tertangkap basah tengah mencium punggung tangan pria itu dengan penuh perasaan.
"Kenapa galak sekali, aku bahkan baru saja siuman. Aku haus sayang, tolong berikan suami mu ini minum" Pinta Harland mengiba. Rosy mendengus kasar, wanita itu kesal namun tak tau pada siapa. Yang jelas gengsi nya harus tetap dia pertahanan kan hingga batas akhir.
"Ini," ucap Rosy dengan nada ketus. Harland ingin sekali tertawa keras, sayang nya dia takut wanita itu pergi. Dalam kondisi yang tak sanggup mengejar, Harland lebih memilih jalan aman.
"Sayang... bantu aku duduk.." rengek Harland menatap sang istri penuh permohonan. Rosy memutar bola mata jengah.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat manja, apa perlu aku meminta suster Elsa untuk merawat mu?" tukas Rosy seraya menekan tombol panel pengatur sandaran ranjang Harland. Harland melotot tak senang. Membayangkan wanita itu menggerayangi tubuh nya, membuat Harland ingin memotong kedua tangan lancang yang pernah memeluk nya. Bahkan pernah menyentuh pusaka leluhur nya di bawah sana.
"Jangan macam-macam sayang, akan aku potong kedua tangan nya jika suster binal itu berani menyentuh ku." Sergah Harland dengan nada tegas.
"Bukan kah kau suka wanita-wanita tipe seperti itu. Dari pada di sentuh oleh wanita monoton yang membosankan." Skak! Harland seperti tertelan biji salak.
Helaan nafas panjang pria itu terlihat jelas berusaha mengurai perasaan nya yang campur aduk. Tatapan penuh penyesalan tersirat jelas di wajah sendu nya.
"Maaf kan aku di masa lalu...aku tau aku sangat berdosa padamu, maaf. Jangan ungkit kesalahan ku lagi, aku akan menebus nya padamu setiap hari. Mengganti kan hari-hari suram mu dulu dengan banyak kebahagiaan. Aku tak ingin menebar janji, tapi aku akan membuktikan nya padamu. Pria bajingan ini sudah berubah sejak kita berpisah. Aku sadar perpisahan kita telah menghampakan hidup ku. Aku kehilangan arah sejak kau pergi, aku memutuskan untuk tinggal di apartemen milik seorang teman. Yang berada persis di depan rumah sakit milikmu ini, kau tau apartemen di seberang jalan itu kan? Aku sempat menyewa nya selama beberapa bulan, sebelum aku menjadi seorang gelandangan. Lalu berakhir di sebuah kos-kosan sempit yang menyesak kan." Cerita Harland terkekeh pelan.
Rosy terdiam, dia tau semua kisah Harland. Karena semua itu juga berkat campur tangan nya.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Harland fokus pada wajah yang selalu membuat hari-hari nya bersemangat selama satu tahun ini. Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka, Harland tak ingin membuat situasi mereka menjadi tak nyaman.
"Besok pas tiga minggu. Kenapa tidak sebulan saja, jadi aku punya alasan untuk meminta semua penghasilan mu untuk menggajiku selama satu bulan penuh." Ketus Rosy membuang pandangan ke sembarang arah. Di tatap sedemikian rupa membuatnya gugup dan salah tingkah.
"Jangan kan sampai satu bulan, belum genap tiga minggu saja ada yang berniat untuk mengirim ku ke alam lain." Dengus Harland mencubit pelan hidung mancung sang istri.
"Lagi pula apapun yang aku miliki, semua adalah milik mu dan anak-anak. Aku ini hanya bertugas mencari nafkah, kau lah Bank tempat ku menabung. Jadi jangan lupa memberikan sangu untuk suamimu ini jika berangkat bekerja. Atau suami tampan mu ini bisa-bisa berakhir dengan mendorong mobil hingga kekantor karena tak memiliki uang untuk membelikan bahan bakar." Seloroh Harland namun terdengar serius.
__ADS_1
Rosy mencebik, mendengar kalimat merendah sang suami meski terdengar sungguh-sungguh. Wanita itu mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Mishy merindukan mu, setiap hari dia akan meneror ku dengan panggilan video hanya untuk melihat mu. Sungguh mengganggu." Raut wajah Harland terlihat kecewa. Dia pikir istri nya merindukan nya juga dan berharap dia lekas sadar.
Rosy melirik melalui ekor mata nya, dia tau arti wajah sendu itu. Harland pasti menganggap serius perkataan nya. Tidak tau saja, jika Rosy sedang meredam buncahan perasaan di dalam benak nya.
"Aku akan memanggil dokter dulu..."
Harland hanya mengangguk pelan, di tatapnya punggung kecil sang istri yang berjalan pelan keluar dengan menggunakan tongkat bantu. Rosy hanya takut jatuh jika tidak menggunakan tongkat, kaki nya masih belum mampu menopang beban tubuh nya terlalu lama.
🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷
Selesai pemeriksaan fisik, sang dokter menatap Harland sembari tersenyum hangat. Wanita cantik itu terlihat begitu mengagumi sosok itu sejak menjadi pasien nya di hari pertama. Dia sangat berharap Harland masih single. Nyatanya pria itu telah menikah dan memiliki dua orang anak yang sudah mulai beranjak remaja.
"Semua nya baik, nanti perawat akan mengambil sampel darah anda. Hanya untuk memastikan bahwa semua nya baik. Bekas operasi nya juga sudah mulai mengering sempurna di bagian luar. Hanya saja harus tetap berhati-hati, mengingat luka dalam tidak terlihat. Akan sulit untuk menentukan jika luka nya dalam keadaan baik atau tidak. Namun jika terjadi infeksi, akan terlihat di permukaan luka luar nya. Biasa nya di tandai gejala nyeri hebat dan luka terlihat memerah bahkan mengeluarkan bercak darah bercampur nanah. Usahakan pergerakan kepala jangan terlalu di porsir, menoleh pelan-pelan saja. Dan jangan berpikir terlalu berat." Papar sang dokter panjang lebar.
Terlihat begitu profesional meski di balut rasa kagum pada sosok tampan di hadapan nya.
**Maaf untuk update yang sedikit terkendala, othor sedang mempertimbangkan alur cerita ini bakal di pangkas atau tidak. Penolakan kontrak novel ini membuat othor sedikit kurang bersemangat 😥 Namun mengingat masih ada pembaca yang menunggu dengan setia, othor lanjut kan meski dengan memotong banyak bab yang seharusnya.
Menjadi penulis itu gampang-gampang susah. Pikiran harus fokus pada alur, namun ada tugas lain yang sama sekali tak bisa di kompromi kan. Waktu terbatas, bahkan terasa begitu cepat padahal pagi baru saja terlewati. Begitu lah kehidupan nyata, rupa nya lebih berat. Akhirnya kita sadar jika hidup butuh balance.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian soyongkuh 😘😘**