Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Menyerah


__ADS_3

"Baik nona, kalau begitu saya permisi melanjutkan pekerjaan saya." Pamit si pria menunduk sopan. Naura hanya berdehem datar, lalu melanjutkan langkah kaki nya menuju ruangan sang adik.


Si pria rupa nya tak benar-benar pergi, melihat punggung kecil Naura menghilang di balik belokan lorong. Langkah lebar nya berusaha untuk mencari tau, kemana gadis itu akan pergi. Hingga berhenti di depan pintu sebuah ruangan para konglomerat. Dari balik kaca persegi panjang kecil, si pria mengintip ke dalam.


Terlihat seorang pasien wanita terbaring dengan banyak alat yang menempel di tubuh nya. Hati nya berdesir hebat kala melihat pemandangan tersebut. Di tatap nya wajah tirus dari balik kaca, ada debaran tak biasa menerobos relung hati nya. Wajah yang pertama kali dia ingat kala diri nya kembali menyapa dunia.


Wajah yang selama tiga bulan lalu sangat ingin dia lihat lagi melebihi rasa apapun di hati nya. Kini dia telah melihat nya, namun dalam kondisi yang sangat mengiris hati. Sungguh dirinya tak tega, ada perasaan tak rela kala melihat sebuah selang di masukkan ke dalam tubuh gadis itu melalui tenggorokan yang sengaja di lubangi.


Dengan langkah lesu, si pria berbalik meninggalkan lorong para jutawan tersebut. Membawa hati yang memupuk janji, akan melakukan yang terbaik untuk gadis itu. Meski tak tau kenapa dia begitu ingin melakukan nya, namun yang pasti dia akan tetap berjuang demi gadis Malang tersebut.


"Sat? Melamun aja dari tadi. Kesambet setan kamar mayat?" Tegur sang rekan kerja.


"Eh, mas Ucup. Lagi kesambet cewek cantik mas. Sampe lupa sama usia yang udah setengah abad lebih." Kekeh Arga Satya tertawa kecil.


"Setengah abad apaan, kalau mau menyindir ku bilang saja. Ck!" Dengus Ucup yang merasa Satya tengah menyindir nya.

__ADS_1


"Astaga, mas. Tidak baik asal nuduh, usiaku memang sudah segitu mau gimana lagi." Terang Satya dengan wajah serius.


Ucap memicingkan kedua mata nya dengan tatapan menelisik garis wajah sang rekan kerja.


"Ah masa, kok saya kaya tidak percaya ini." Ujar pria paruh baya itu lagi dengan raut wajah masih tak percaya. Struktur wajah Satya masih terlihat seperti pria berusia 30 an tahun di mata nya.


"Benar mas" ucap Satya tersenyum simpul. Membuat Ucup semakin tak yakin.


"Udah ah, dari pada bahas soal usiamu lebih baik kita lanjut bersih kan lantai atas. Sudah bisa make alat nya belum?" Satya hanya mengangguk paham. Ke-dua nya lekas menuju elevator khusus untuk karyawan seperti mereka yanga ada di sudut lorong.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


"Jika memang sudah tak ada jalan lain lagi, kami akan mengikhlaskan nya dokter Jaya. Sudah terlalu lama putri ku harus membiarkan tubuh nya di gerogoti oleh rasa sakit yang hanya dia yang merasakan nya. Mungkin sudah saat nya kami melepaskan nya, agar penderitaan Silvery selesai. Jujur saja ini keputusan yang berat, tak ada orang tua yang tega mengirim anak mereka ke liang lahat. Namun kasus putri ku berbeda, Silvery hanya bertahan pada alat bantu pernapasan selama tiga tahun ini. Semua keputusan kami serahkan pada anda dokter Jaya, kami tak sanggup melakukan nya." Ucap Paul panjang lebar.


Pria itu mengepal kuat hingga telapak tangan nya berdarah terkena kuku nya sendiri. Dia hanyalah seorang ayah yang ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Namun jika harapan hidup sang anak hanya ada 0,2 persen, apalagi yang bisa dia lakukan. Tiga bulan belakangan ini, Silvery mengalami mati batang otak. Otomatis gadis itu benar-benar menumpu semua kehidupan nya hanya pada selang oksigen yang setia menempel di lubang hidung nya.

__ADS_1


Diam-diam lelehan hangat membasahi pipi Noora, wanita itu mulai terisak pelan di dada bidang sang istri.


Dibalik pintu dokter Jaya, ada seorang pria yang sejak tadi menguping pembicaraan tersebut. Sungguh dia tak rela. Entah mengapa, Silvery begitu saja menelusup masuk dalam hati nya dan mengusai seluruh kinerja jantung nya.


Tiga hari pasca pembicaraan serius antara Paul dengan sang dokter, hari ini adalah hari yang paling mendebarkan sekaligus hari paling kelam bagi keluarga tersebut.


Di mana mereka akan menyaksikan secara langsung, bagaimana sang dokter akan melepaskan seluruh alat topang kehidupan Silvery di hadapan seluruh keluarga besar gadis itu.


Sejak semalam, Naura tak berbicara dengan siapapun. Keputusan itu adalah hal yang paling dia tentang, namun hanya satu suara dia pun kalah telak, setelah tiga tahun mempertahankan sang adik dalam derita nya.


Naura berdiri paling pojok, gadis itu tak mampu untuk melihat langsung, bagaimana dokter Jaya mengantar sang adik ke alam baka. Sementara Noora dan Paul berdiri di samping ranjang dengan hati nurani yang nyaris mati. Kedua adik gadis itu duduk di sofa di pelukan nenek dan kakek mereka. Kedua pemuda 19 tahun itu hanya bisa pasrah mengikuti keputusan para orang dewasa tanpa bisa berbuat apa-apa.


Charlotte terus melangit kan doa, dengan harapan di detik-detik terakhir sang cucu di berikan sedikit keajaiban. Miguel merangkul bahu Julio yang berguncang menahan tangis di pelukan sang kakek. Begitu pula Junior, pria muda itu memeluk sang nenek yang terlihat begitu rapuh di usianya yang tak lagi muda. Namun harus menyaksikan sang cucu tercinta berpulang mendahului nya. Sungguh hal yang paling menyakitkan bagi nya.


Paul dan Noora baru saja membisikkan kata maaf yang tak terhingga, karena telah begitu tega melakukan hal itu. Dengan berurai air mata, seluruh keluarga membisikkan kata maaf masing-masing. Kecuali seorang gadis di pojok ruangan tersebut. Dengan tatapan nyalang, Naura menatap penuh permusuhan pada kedua orang tua nya.

__ADS_1


Dokter Jaya menjadi orang terakhir yang mengumandangkan kata maaf di telinga Silvery. Sejak bayi, dialah yang menjadi dokter gadis itu hingga hari ini tiba. Kedua tangan yang selama 22 tahun ini berusaha keras meracik keajaiban melalui berbagai jenis obat dari hasil penelitian nya. Kini kedua tangan itu pula yang akan mengantar kan sang pasien istimewa kembali pulang memenuhi takdir nya.


Semua kabel yang menempel di tubuh Silvery telah terlepas semua, kini dokter Jaya di bantu seorang perawat tengah melepaskan selang dari tenggorokan gadis itu. Terakhir, yang membuat dokter Jaya sejenak mengehentikan gerak tangan nya. Sebuah selang yang selama ini menopang denyut nadi Silvery. Rasa nya begitu berat melakukan nya andai dia punya pilihan lain.


__ADS_2