
"Terimakasih untuk semua nya, suami tampan ku. Suami berondong ku yang luar biasa." Ucap Resy tulus dan penuh pujian. Jordan terkekeh kecil, istri nya selalu tau cara membuat nya melayang di angkasa.
"Ini masih terlalu pagi sayang, kau sudah membuat ku ingin masuk kamar dan mulai mencopot semua yang kau kenakan." Resy mendelik kemudian berlalu menuju teras yang di susul oleh sang suami dari belakang.
"Dasar kau suami paling mesum di dunia ini. Apa kau tak bosan menggarap lahan kisut wanita tua ini?" Sungut Resy terus berjalan.
"Hei sayang, perhatikan ucapan mu. Itu benda keramat kesukaan ku, dan dia tidak kisut. Dia milikku, mau bagaimana pun bentuk nya dia akan tetap menjadi favorit ku selama nya. Jangan mengatai nya lagi oke, atau kobra jantan ini akan mematuk dan mengeluarkan cairan bisa yang mematikan. Di jamin kau akan langsung kejang-kejang keenakan." Terjadilah percakapan ngalur ngidul ala Jordan jika sudah membahas area lembab tersebut.
Jordan selalu mampu membuat kepercayaan diri sang istri meningkat drastis. Pria itu tak pernah bosan memuji apa pun yang ada pada tubuh sang istri. Dan terlihat begitu tulus setiap kali melontarkan kalimat tersebut. Resy tersenyum manis, dia beruntung mendapatkan suami yang meski jauh lebih muda dari nya. Namun Jordan bisa mengimbangi nya dalam hal apapun dengan santai.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Miguel yang baru akan berangkat ke kantor terkejut dengan kehadiran kedua orang tua nya di meja makan.
"Mom, dad kapan pulang? Kok tidak ada yang membangun kan ku sejak semalam?" Ujar Miguel dengan wajah protes. Pria itu yang tadi nya berniat akan langsung berangkat bekerja, kini memutar haluan menuju meja makan.
"Tumben ikut sarapan kak, kemarin kata nya malas sarapan." Sela Mercy acuh.
"Kan calon pengantin dek, jadi mau jaga body. Takut tiba-tiba melar pas hari H." Sambung Mima kemudian mengatup bibir nya menahan tawa.
Mima yang pendiam kini mulia sedikit bisa bercanda meski hanya sebatas dengan keluarga nya saja.
"Pengantin konon, tapi galau mulu selama di tinggal mommy sama daddy." Timpal Kael ambil bagian. Entah mengapa para adik-adik Miguel tersebut kompak menyudutkan nya pagi ini.
"Eh? Mau jadi manten? Kok aura nya kaya lagi berdukacita. Pahit banget tu ekspresi muka kaya pare nya mang Ucup." Sambung Selo dengan raut wajah yang seolah terkejut. Sungguh Miguel ingin menyuapi adik-adik nya dengan satu centong cabe, satu persatu.
"Udah-udah, habiskan sarapan kalian." Tegur Wira menengahi, melihat sang istri tak kunjung bereaksi membuat nya harus ambil alih.
"Perusahaan gimana kak? Lancar?" Tanya Wira mengalihkan arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Lancar dad, aku hanya kewalahan saja. Aku juga kangen si kembar, jadi sedikit tidak fokus. Kemarin meeting ku sedikit kacau, kepala ku mendadak sakit luar biasa. Jadi aku hentikan di tengah jalan. Hasil laporan audit internal sama laporan keuangan tiga bulan terakhir aku pending. Aku titip pada paman Josua dan mbak Yuni semua nya." Lapor Miguel tak enak hati.
Ini kali pertama sang ayah meminta tolong pada nya dan dia langsung mengacaukan nya begitu saja.
"Sudah, tidak apa-apa. Kau sudah memeriksa kepala mu?" Tanya Wira penuh perhatian.
"Udah, katanya hanya vertigo akut. Ada penyempitan pembuluh darah juga, jadi rentan pecah saat aku mulai banyak berpikir berat." Terang Miguel melirik sang ibu berharap wanita itu akan langsung terlihat cemas dan panik. Namun di luar harapan nya, sang ibu masih sibuk menghabiskan sarapan nya.
"Terus? Bahaya tidak? Bisa di sembuhkan apa gimana? Lebih baik lakukan pemeriksaan menyeluruh saja, jika memang perlu tindakan operasi atau apapun. Kau harus mengambil cuti dan biar daddy atau paman Mylo saja yang menghandle perusahaan. Jangan di biarkan terus seperti ini, daddy khawatir akan ada efeknya di kemudian hari." cerocos Wira terlihat sangat khawatir. Pria itu trauma mengingat penyakit sang istri dahulu.
"Nanti saja dad, aku sibuk dengan persiapan pernikahan ku. Clara ingin pernikahan yang megah dan berkesan." Sahut Miguel sesekali merotasi bola mata nya ke arah sang ibu, namun Mishy masih bergeming.
"Mom?" ucap Miguel ragu-ragu.
"Hmmmm?" sungguh jawaban yang membuat jantung Miguel berdebar tak karuan.
"Itu_Clara belum beres dengan gaun pengantin nya, bisa kah mommy membantu membuat kan Clara satu gaun saja untuk pemberkatan nanti. Untuk resepsi nya kami akan memilih gaun yang sudah jadi saja di butik mommy." Ucap Miguel hati-hati.
"Kids, apa sarapan kalian masih lama?" tanya Wira mengalihkan perhatian anak-anak nya yang lain, dia tak ingin kelima anak nya itu mendengar kan perdebatan kecil antara sang istri dan putra sulung nya.
"Nasi goreng ku masih banyak, dad." Sahut Mercu dengan akal bulus nya.
"Aku juga, dad." Ujar Mima menimpali, sambil memperlihatkan isi piring nya yang bahkan belum setengah.
"Milik ku juga masih banyak..." sambung Selo di lanjut oleh Kael juga Justin yang tak mau kalah.
Wira hanya bisa menghela nafas panjang, anak-anak nya begitu kompak bersikap menyebalkan pagi ini.
"Habiskan dalam 5 menit, atau sisa nya daddy suruh masukkan ke kotak bekal." Ancam Wira berhasil membuat anak-anak nya melebarkan sudut bibir masing-masing dengan perasaan kesal. Mereka ingin menjadi penonton adegan sengit pagi itu, malah di kacaukan oleh sang ayah.
__ADS_1
Lima menit berlalu dan sarapan di piring masing-masing sudah tandas tak bersisa. Wira tersenyum penuh kemenangan.
Setelah kelima anak nya berangkat bersama sopir, kini mereka tengah duduk di ruang keluarga untuk melanjutkan pembahasan soal gaun pengantin sang calon mempelai wanita yang tidak di harapkan itu.
"Kenapa kau ingin mommy yang membuat nya? bukan kah Clara sudah menolak tawaran mommy tempo hari, kau tau itu membuat mommy sedih." Ucap Mishy memperlihatkan raut kesedihan di wajah nya.
Sungguh Wira ingin tertawa lepas, perut nya seperti tergelitik melihat ratu drama tersebut mulai berlakon.
Miguel salah tingkah dan juga tak enak hati. Clara menolak tawaran sang ibu dan memilih butik lain yang ujung-ujungnya juga milik sang ibu.
"Maafkan Clara mom, dia hanya tak ingin merepotkan mommy." Bela Miguel sebisa mungkin membuat kesan baik untuk sang kekasih.
"Dan sekarang? pernikahan mu hanya tinggal satu mingguan lagi, dan gaun pemberkatan pun kalian tak memiliki nya. Apa kalian bersungguh-sungguh ingin menikah?" Tanya Mishy dengan intonasi suara yang mulai naik satu oktaf.
Usapan lembut telapak tangan sang suami membuat Mishy berusaha mengendalikan emosi nya.
"Maaf mom, gaun yang seharusnya Clara pakai tidak muat. Sebenarnya sudah jadi, dan Clara ingin gaun dengan model yang sama untuk pemberkatan kami. Namun pegawai di butik mommy tak sanggup dengan deadline yang di berikan oleh Clara." Terang Miguel semakin pesimis akan bantuan sang ibu.
"Sudah tau akan menikah, kenapa dia tak menjaga bentuk badan nya. Kalian niat tidak sih? lagi pula dia pikir membuat gaun semuda menjahit baju sobek, bisa langsung jadi secepat kilat." kesal Mishy meski sejak tadi dia berusaha untuk menahan tawa nya yang akan meledak. Tak sia-sia sang ibu memberikan nya vitamin nutrisi super penambah berat badan tersebut.
Di jamin saat pernikahan tiba, tubuh Clara akan semakin melebar. Karena bubuk yang beberapa kali Clara minum dalam minuman nya mengandung hormon Ghrelin, yang merangsang rasa lapar sepanjang waktu meski sudah kenyang.
Miguel masih menunduk sembari memainkan jemarinya selayaknya anak kecil yang sedang di marahi oleh sang ibu.
"Baiklah, mommy akan mempersiapkan semua nya, kalian hanya perlu mempersiapkan diri saja. Terutama diri mu, kau akan menjadi kepala keluarga juga seorang ayah kelak. Tanggung jawab mu akan semakin besar, jadi belajar lah dari hal terkecil. Masalah butik, mom sudah menyiapkan berkas nya. Akan mom berikan tepat di saat pernikahan mu nanti, dan ada banyak kado lain yang sudah mom dan dad persiapkan. Termasuk salah satu perusahaan keluarga kita, akan mommy alihkan kepemilikan kan nya atas nama istri mu. Mommy tak ingin kalian hidup dalam kekurangan kelak, terutama jika anak kalian sudah lahir." Ujar Mishy penuh keyakinan.
Miguel tertegun, kalimat ajaib yang di ucapkan oleh sang ibu sungguh membuat nya speechless. Sungguh mulia hati ibu nya, sehingga memberikan hal sebesar itu pada istri nya sebagai kado pernikahan. Bahkan sang ibu sudah berpikir jauh tentang masa depan anak mereka yang entah kapan akan tiba.
Dengan mata berkaca-kaca Miguel bersimpuh di kaki sang ibu.
__ADS_1
"Terimakasih mom, aku tau kau sangat menyayangi ku melebihi apapun. Aku hanya tak menyangka mommy akan memberikan sebuah perusahaan untuk istri ku kelak, itu sungguh hal yang sangat besar. Clara pasti akan sangat senang mendengar nya. Sekali lagi terimakasih banyak mom, sudah memberikan segalanya untuk ku sejak aku mengenal dunia ini." Miguel mencium kedua telapak tangan wanita yang telah membesarkan nya dengan susah payah seorang diri.