
Selome terus mengekori sang ibu seperti anak ayam yang takut kehilangan induk nya. Dan itu sukses membuat Satya geram. Bagaimana tidak, Selome selalu ada di sekitar istri nya membuat Satya kesal bukan main.
"Tidak bisa kah kau memberikan ruang gerak untuk istri ku, Selomita? ya ampun! rasa nya aku tak sabar ingin menenggelamkan mu ke dalam mulut singa." Ujar Satya jengkel maksimal.
"Dad!" tegur Silvery tanpa menoleh, wanita itu sibuk menata meja makan tanpa peduli pada kedua pria tercinta nya yang tengah melempar tatapan saling menghunus.
"Lihat lah Selomita ini mom, aku ini suami mu 'kan? bagaimana bisa dia tak menghargai ku sama sekali. Sejak tadi dia terus mengekori mu seperti semut lapar. Bukan kah itu menyebalkan? sungguh niat sekali dia menjadi seorang pebinor" lapor Satya mengeluarkan keluh kesah nya.
Silvery hanya bisa menggelengkan kepala nya mendengar aduan manja sang suami. Untung cinta, jika tidak mungkin wanita itu sudah kabur sejak lama.
"Wanita ini milik bersama dad! jangan serakah. Mom, setelah makan malam bisa kah mendengar kan curhatan hati anak malang ini? aku sial sekali punya ayah yang sangat menyebalkan, andai bisa ku tukar tambah. Aku akan Menukar nya dengan paman Romero, masih muda dan tak kalah tampan dari daddy." Keluh Selome pada sang ibu.
Sedangkan Satya mendelik tak suka saat mendengar nama Romero di sebut-sebut oleh sang anak.
Romero adalah salah seorang kepercayaan keluarga Sanders, yang kini menangani kepemimpinan rumah sakit milik keluarga tersebut. Pria itu cukup sering berkunjung ke rumah nya, dan itu membuat Satya tak suka.
Dia tau tatapan mata Romero penuh makna pada sang istri tercinta. Dan dia benci arti tatapan tersebut.
"Coba saja, akan aku lubangi kepala nya jika berani mendekati istri ku." Tekan Satya menahan marah.
"Ya ampun! ingat umur dad." Potong Sila membawa nampan berisi dessert.
"Daddy memang sudah tua, tapi Daddy tak kalah tampan dan gagah seperti pria berusia 30 tahun." Ujar Satya bangga, pria itu mengerling ke arah sang istri. Membuat gelengan kepala Silvery tak henti-hentinya.
"Bisakah kalian sekali saja tidak berdebat? mommy pusing mendengar nya." Tukas Silvery menengahi.
Satya melipat bibir kesal yang dia alamat kan pada kedua anak nya, sedangkan Selome dan Sila tersenyum puas penuh kemenangan.
πππππππ
Mallika termenung menatap rintik-rintik hujan di hadapan nya. Dia sudah mengirim pesan pada Selome, namun pria itu hanya membaca nya seperti biasa. Mallika tersenyum miris melihat respon Selome yang tak sesuai harapan nya.
"Kenapa kau tak bisa memahami sedikit saja perasaan ku kak? sekali saja, menoleh lah padaku. Sebelum aku pergi jauh selama nya, aku ingin merasakan perhatian mu tanpa paksaan." Lirih Mallika masih terus menatap sang hujan yang sama sekali tak berniat mereda.
"Khemmm..." suara deheman seorang pria membuyarkan lamunan Mallika, gadis itu menoleh lalu tersenyum ramah seperti biasa nya.
"Sedang menunggu angkutan umum juga?" tanya Mallika basa basi. Gadis itu memang selalu seramah itu pada siapa saja yang dia temui.
__ADS_1
"Ya, lalu kau? apa kau sedang menunggu jemputan seseorang?" si pria balik bertanya.
"Hmmm...tidak juga. Aku hanya berharap, seperti nya dia sedang sibuk. Cuaca buruk akan membuat orang-orang enggan untuk bepergian keluar rumah." Jawab Mallika berdalih. Senyum nya masih mengembang sempurna meski hati nya tak baik-baik saja.
"Lalu kau? apa ada seseorang yang akan menjemput mu di sini?"
"Tidak. Aku terbiasa pulang menggunakan angkot atau bus. 10 menit lagi bus ku akan tiba, apa kau berniat untuk ikut menumpang angkutan umum? aku akan mengatakan rute mana saja agar kau mudah untuk menentukan di mana kau harus turun." Tawar di pria menatap Mallika dengan senyum ramah.
Tawaran yang terlihat sangat tulus itu berhasil membuat Mallika tak memiliki alasan untuk menolak nya. Dalam kebimbangan hati, Mallika akhir nya menerima tawaran tersebut meski masih sedikit ragu.
"Ah ya, kenal kan. Namaku Geko, aku bekerja di perusahaan yang di sana itu." Ujar Geko mengulur kan tangan nya, setelah menunjukkan perusahaan tempat nya bekerja.
Mallika menyambut uluran tangan Geko lalu memperkenalkan diri nya.
"Mallika, si kedelai. Kau bisa memanggilku apa saja termasuk kecap manis. Semua orang sering memeleset kan nama ku dan aku sama sekali tak marah. Nama adalah doa harapan setiap orang tua, arti nama ku adalah malaikat pembawa suka cita. Kedua orang tua ku menanti kehadiran ku lebih dari 10 tahun. Kelahiran ku bagai guyuran air hujan saat musim kemarau panjang. Dan aku selalu mensyukuri nikmat hidup yang Tuhan berikan padaku setiap saat. Termasuk nama yang unik ini." Cerita Mallika menjelaskan tanpa di minta.
Geko menatap kagum pada gadis di hadapan nya, sedikit ceriwis namun menyenangkan. Senyum nya mengembang kala melihat wajah polos Mallika.
"Nama mu indah, aku menyukai nya. Aku bisa memanggil mu Lika, apa kau tak keberatan?"
"Tentu saja tidak. Terimakasih karena tak memanggil ku kecap." Kekeh Mallika tertawa kecil, itu berhasil membuat debar tak biasa di dada Geko.
"Tak apa, aku mau mencoba nya. Ayo, tolong bantu aku mengatakan pada sopir nya di mana aku harus turun." Mallika menyebutkan alamat nya yang kebetulan satu komplek dengan pria itu.
Setelah duduk di dalam bus, Mallika masih menatap kagum pada benda besar tersebut. Bagaimana mobil itu mampu membawa banyak sekali penumpang.
"Kenapa aku tak tau jika ada mobil yang bisa menampung banyak sekali penumpang? aku harus membeli nya satu, jadi aku bisa membawa seluruh keluarga ku untuk jalan-jalan tanpa membawa banyak mobil dengan kapasitas tak seberapa." Ujar Mallika antusias.
Geko tersenyum simpul, dia yakin Mallika pasti lah tuan putri di keluarga nya. Mengingat jika gadis itu adalah anak tunggal sesuai cerita nya tadi. Pasti kehidupan gadis itu di limpahi banyak kasih sayang dan perhatian dari seluruh keluarga nya.
"Kau tak harus membeli nya, Lika. Mobil sejenis ini tak sembarangan bisa di bawa di mana saja. Ada rute tersendiri, dan harus memenuhi standar prosedur operasional nya. Jika kau menyukai nya kau bisa menumpang kapan saja, asal jangan lupa bayar." Seloroh Geko.
Siapa sangka perkataan Geko membuat senyum antusias Mallika langsung memudar. Gadis itu menoleh lalu menatap intens pada Geko sembari menelan ludah nya susah payah.
"Ada apa? kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Geko salah tingkah karena terlalu di tatap oleh Mallika. Bukan nya dia tak suka, justru karena hati nya yang berdebar kencang, maka nya dia menghindari bersitatap dengan gadis kecil tersebut.
"Aku tak membawa uang, itu kenapa aku berdiri di sana tadi lebih dari satu jam. Dompet ku tertinggal di tas ku yang satu nya, dan sekarang apa aku akan di buang jika tak membayar ongkos bus ini?" tanya Mallika cemas. Geko tertawa kecil, lalu mengacak gemas rambut Mallika.
__ADS_1
"Tak akan ada yang membuang mu Mallika...aku akan membayar nya sekalian, kau tenang saja. Lagi pula kita satu arah, nanti aku akan membayar taksi untuk mu juga." Ujar Geko memenangkan, Mallika tersenyum lega. Sungguh memalukan, dia sama sekali tak memiliki uang sepeser pun.
Sang ibu sedang keluar kota menyusul ayah nya, tadi ibu nya meminta dia menghubungi Selome untuk menjemput nya. Namun sayang pria itu sama sekali tak merespon pesan juga telepon nya.
"Terimakasih Geko, kau baik sekali. Apa kau punya bengkel?" Geko mengernyit bingung dengan pertanyaan Mallika, pria itu menggeleng pelan.
"O..ku pikir kau punya bengkel, aku ingin berkenalan dengan mekanik mu. Mekanik hijau, kuning dan yang lainnya." Ujar Mallika membuat Geko tercengang. Jadi gadis itu pecinta kartun bengkel Geko yang juga kesukaan adik nya? sungguh Geko ingin tertawa lepas, namun mengingat di mana mereka berada dan tak ingin membuat Mallika tersinggung. Geko hanya bisa menghela nafas panjang. Sungguh gadis yang unik.
Diam-diam sepanjang jalan, Geko mengambil gambar mereka berdua dari arah samping yang tak terlihat oleh Mallika. Pria itu tersenyum saat melirik hasil jepretan kamera nya.
"Sangat manis.." gumam Geko tanpa sadar.
"Ya?"
"Eh? tidak, ini, aku melihat postingan seorang teman. Dia memposting cake coklat manis, ya pasti manis. Nama nya juga coklat kan ya.." Ujar Geko ngaur, pria itu salah tingkah sendiri.
Lagi-lagi Mallika hanyalah ber O ria, gadis itu percaya begitu saja tanpa bertanya lebih lanjut.
Geko sedikit lega, tak bisa dia bayangkan jika Mallika meminta untuk melihat postingan yang dia sebut tadi. Bisa habis pikir nya kacau. Namun sepertinya Mallika bukan tipe gadis yang kepo.
Setelah menempuh perjalanan 40 menit kurang lebih, mereka tiba di pemberhentian bus. Geko memesan taksi online untuk mereka berdua, pria itu meraih jemari Mallika untuk membawanya menyebrang jalan.
Mallika terkesiap lalu menoleh ke arah tangan nya yang sedang di genggam oleh Geko. Hati nya menghangat, andai itu adalah Selome. Hati nya pasti akan sangat senang. Namun sayang pria itu sudah menolak nya tegas dengan segala sikap acuh nya selama ini.
Mallika hanya berpura-pura tak mengerti, itu agar hati nya tak terlalu sakit dan kecewa.
Seseorang menatap interaksi Mallika dan Geko dari balik kaca mobil. Tadi nya setelah berpikir panjang, dia berniat menjemput gadis itu. Dia lupa jika kedua orang tua gadis manja itu sedang keluar kota, dan Mallika tak bisa menyetir sendiri. Sedangkan gadis itu tak pernah menumpang kendaraan umum.
Namun melihat bagaimana dengan santai nya Mallika turun dari bus, mematahkan argumen Selome. Jika Mallika tak semanja yang dia kira. Tak ingin terus menyaksikan interaksi kedua insan beda gender tersebut, Selome memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Entah mengapa hati nya sedikit tak rela, saat melihat seorang pria menggenggam erat jemari Mallika. padahal seharusnya dia senang, mungkin saja Mallika sudah move on dari nya. Namun hatinya malah resah tak karuan. Sungguh menyebalkan. Selome memukul kemudi nya untuk menyingkirkan pikiran konyol nya.
"Da*mn it!" umpat Selome kesal.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Gimana guys, masih mau di lanjutkan gak sih kisah Selomita dan si kedelai alias kecap manis alias Mallika?
__ADS_1
lope lope yang banyak baut readers terkasihπ₯°π₯°π₯°