Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Penyakit memalukan


__ADS_3

"Bagaimana dengan suster yang baru, apa pekerjaan memuaskan? tak ku dengar keluhan mu tentang suster Elsa, arti nya semua berjalan sesuai harapan." Goda Evan berhasil mendapatkan lemparan potongan tomat gratis dari Harland.


"Jika bukan karena masalah kelegalan, aku pasti akan langsung menendang nya tepat di hari pertama. Wanita itu tipikal wanita binal yang mengerikan. Kau tau, setiap berpapasan dengan ku, lirikan mata nya selalu tertuju ke arah selan*g*kangan ku. Itu benar-benar membuat ku ketakutan." Harland bergidik ngeri, dulu dia memang brengsek. Namun tidak hanya perkara urusan ranjang saja, ada hati yang dia bawa dalam kebejatan nya.


Tawa para pria menggelegar mengalahkan suara jangkrik malam.


"Aku khawatir kau akan tergoda dengan belahan melon jumbo itu. Bayang kan bagaimana Elsa selalu mengenakan baju yang ketat hingga hampir membuat benda tersebut meledak di depan wajah mu." Evan kembali tergelak renyah.


"Istri ku jauh lebih menarik meski dengan tubuh mungil nya. Jangan kau kira aku tak tau, jika diam-diam kau sering mengamati Rosy sejak kita SMA." Cibir Harland kesal sendiri. Dulu diam-diam dia menahan rasa cemburu pada setiap pria yang menatap penuh damba pada Rosy. Namun keberadaan Sindy lagi-lagi mengalihkan perhatian nya dari wanita itu


Sedangkan wajah Evan memucat, apa lagi saat melihat riak wajah Mita yang mulai tak bersahabat.


"Itu dulu sayang, sebelum aku mengenal mu. Maklum lah, masa-masa remaja yang serba ingin bereksplorasi mencari kecocokan." Ujar evan membela diri seraya menampilkan senyum menawan guna mengusir perasaan was-was di hati nya.


"Dasar Playboy cap badak corong merah!" sergah Mita kesal. Dia tak sedang cemburu, hanya saja ada perasaan tak nyaman saat tau, jika wanita yang pernah di sukai sang tunangan, ternyata sesempurna seorang Rosy Sanders. Siapa yang tak tau dengan kecantikan hakiki wanita itu sejak remaja hingga memiliki dua orang anak.


"Kau tau Mit, Evan bahkan rela bolos agar bisa ikut di hukum bersama Rosy. Ckckck! senekat itu, kekasih mu dulu. Sayang Rosy tak pernah menanggapi nya, bahkan Rosy sering bertanya "siapa namamu" ketika Evan menyapa nya saat berpapasan." Kini giliran Harland, Roky, Johan dan Kinos yang terbahak-bahak laknat. Wajah Evan memerah malu, dulu Rosy terlalu misterius. Setiap hari bertemu, namun tak satu pun nama anak laki-laki di sekolah yang di ingat nya meski sudah berkenalan berkali-kali. Sungguh wanita yang unik. Kecantikan nya tak membuat nya menebar pesona di mana-mana. Sikap dingin nya seolah sengaja di bangun oleh nya, untuk menghalau siapa saja yang berusaha untuk mendekati nya.


Dan kini Evan mengerti, semua itu karena Harland sahabat sialan nya. Rosy menyimpan perasaan nya sejak kecil hingga mereka tumbuh dewasa.


"Dulu adik ku itu memang sangat di puja di sekolah. Aku ingat beberapa kakak kelas kita bahkan terang-terangan menyukai nya, ada yang memberikan nya coklat hampir setiap hari. Dan coklat itu selalu berakhir di ambil oleh Sindy. Rupa nya wanita itu memang sudah gemar merampas milik orang lain sejak masih remaja. Dan bodoh nya, aku dan Harland bisa-bisa nya terjebak oleh wanita yang sama." Roky tertawa hambar mengingat masa lalu nya. Pria itu menerawang jauh untuk mengingat dosa-dosa nya. Saat diri nya tak bisa melindungi sang adik ketika di sakiti oleh seseorang, justru malah menambah luka itu semakin dalam.


"Masa lalu tak dapat di putar balik, kalian hanya perlu memperbaiki diri dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Itu akan membuat Rosy tenang." Sela Sania menasehati.

__ADS_1


"Kau benar, Ibu dokter!" celetuk Evan cengengesan, sontak diri nya mendapatkan lebih banyak lemparan potongan makanan termasuk dari sang kekasih.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sindy menggigil kedinginan, wanita itu demam namun tubuh nya malah merasakan dingin yang amat sangat. Berkali-kali Sindy mencoba menghubungi Andre yang belakangan baru dia tau adalah Roky Sanders. Meski terkejut jika pria itu adalah kakak kandung dari wanita yang dulu dia rebut segala-galanya, namun keinginan Sindy tetap kuat untuk merebut hati Roky kembali.


Dia akan memanfaatkan sang anak. Dengan begitu Roky akan menerima nya kembali.


"Brengsek! kenapa tidak di angkat sih! apa dia sedang sibuk dengan ja*l*ang sekarang?!" kesal Sindy melempar pelan ponsel mya di atas kasur.


Saat akan beranjak menuju kamar mandi, Sindy terkesiap melihat ceceran darah di sprei. Padahal bukan periode nya, bagaimana bisa ada darah sebanyak itu keluar tanpa dia sadari.


"Ck! kenapa harus keluar sekarang darah sialan ini sih!" Gerutu Sindy kesal. Meski tak jarang, ada saja pelanggan nya yang masih mau menggunakan jasa mya meski sedang dalam masa tersebut. Namun tetap saja dia risih sendiri, apa lagi jika si pria bermain dalam jangka yang lumayan. Diri nya bukan hanya bermandi kan peluh namun juga berlumuran darah.


"Kenapa gatal begini sih? padahal biasa nya juga tidak." Tak henti-hentinya Sindy menggerutu, saat mendapati jika area inti nya terasa gatal yang menusuk-nusuk. Dengan geram Sindy menyiram menggunakan shower air hangat, dengan satu tangan yang terus menggaruk pelan di bawah sana.


"Ya ampun, kenapa malah bentol-bentol merah sih ini.." Sindy berdiri di depan sebuah cermin besar, menatap malang milik nya yang terlihat memerah juga terasa perih akibat garukan jari tangan nya.


Di sinilah Sindy, duduk di dalam ruangan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Dari cara duduk nya yang terlihat tak tenang, membuat dokter sedikit memahami, jika rasa gatal yang di sebut kan oleh Sindy tadi barangkali sudah parah.


"Berbaring lah bu, dokter akan memeriksa nya..." titah seorang perawat asisten sang dokter. Sindy hanya menuruti nya saja, dia ingin segera terbebas dari penyakit mengerikan itu.


Sang dokter mulai memasang handscoon, setelah melakukan keamanan standar medis. Dokter mulai memeriksa area yang menjadi keluhan Sindy. Dokter mengambil sampel dan di masuk kan ke dalam botol vial, guna di lakukan pemeriksaan laboratorium.

__ADS_1


Dokter menggeleng pelan, saat melihat ada cairan semacam nanah ikut keluar bersama darah tersebut. Tanpa di lakukan tes laboratorium pun, dia sudah tau penyakit apa yang di derita sang pasien. Namun demi memenuhi standarisasi medis, maka tetap dilakukan tes agar dapat menentukan jenis penyakit ke*l*amin apa yang di derita oleh pasien nya itu.


Selesai pemeriksaan, Sindy kembali merapikan pakaian nya. Dokter mulai menjelaskan sedikit diagnosa awal nya. Suster sudah mengantar sampel Sindy ke laboratorium, hanya tinggal menunggu hasil nya 1 jam ke depan.


"Apa ibu sudah pernah melahirkan sebelum nya?" tanya sang dokter sambil menulis sesuatu di buku rahasia pasien.


"Sudah, belum... maksud ku, aku pernah hamil dan anak meninggal di dalam perut. Ada apa dok?" Sindy balik bertanya karena rasa penasaran.


Dokter sedikit terkejut, lalu bekas jahitan episiotomi yang dia lihat tadi? dokter sedikit menggeleng kan kepalanya.


"Ada apa dok?" rupa nya Sindy masih di landa rasa penasaran.


Sang Dokter menghela nafas panjang, bingung harus mulai menjelaskan dari mana. Pasien kali ini benar-benar tak biasa.


"Begini bu, saya melihat ada bekas jahitan episiotomi di jalan lahir ibu. Itu kenapa saya bertanya demikian. Tidak ada yang salah sebenarnya, karena jika dugaan saya tidak meleset. Ibu mengalami gejala awal penyakit kel*a*min. Saya khawatir itu di tular kan oleh suami ibu, jadi sebaik nya suami ibu juga ikut di periksa untuk mengetahui nya dengan jelas. Jika hanya ibu yang melakukan pengobatan, itu akan percuma saja. Tidak akan ada hasil nya nanti, karena sumber penyakit nya tidak di obati." Jelas sang Dokter.


Tubuh Sindy bagai tersengat listrik jutaan Watt, tubuh nya bergetar ketakutan, keringat dingin mulai membasahi tubuh walau di dalam ruangan tersebut sangat lah dingin.


"Tidak dok...ini tidak benar bukan? dokter pasti salah, lagi pula dokter hanya memeriksa nya saja. Hasil lab saja belum keluar, bagaimana bisa dokter langsung memberikan diagnosa asal seperti ini, hah?!" seru Sindy marah. Perasaan nya kacau memikirkan penyakit memalukan sekaligus mematikan tersebut. Teringat seorang pria yang pernah berhubungan dengan nya beberapa waktu lalu, pria yang ketika mengalami eja*kulasi tapi seperti orang kesakitan di saat bersamaan. Terlihat dari raut wajah nya yang memerah, dan meringis saat selesai bermain dengan nya.


Setelah itu dia sering merasakan area inti nya gatal tanpa sebab, meski diri nya sudah mandi dan membersihkan milik nya dengan benar.


"Tapi itu lah yang saya lihat bu, ada nanah yang keluar bersama darah tersebut. Darah nya pun berwarna tak seperti orang mengalami menstruasi biasa. Lebih pekat dan berwarna kehitaman. Rasa gatal yang ibu alami berakibat dari nanah tersebut, arti nya di dalam area sensitif ibu sudah mengalami infeksi bakteri yang parah. Untuk lebih memastikan kita tunggu saja hasil laboratorium nya, dengan begitu saya bisa meresepkan obat apa yang cocok untuk jenis penyakit ibu." Pungkas sang dokter menerangkan sedetail mungkin.

__ADS_1


Reaksi Sindy sama dengan reaksi pasien nya yang lain, siapa yang bisa menerima jika diri mereka menderita penyakit paling memalukan tersebut. Dia memahami sikap protes Sindy, dan berusaha tetap bersikap profesional. Karena tuntutan pekerjaan di bidang nya memang sedikit banyak bisa mengguncang mental pasien nya.


__ADS_2