
"Sembarangan saja! Aku hanya merasakan apa yang tuan Mahesa rasakan. Kehilangan seorang anak seperti kehilangan separuh hidup. Lagi pula aku tak kekurangan uang, istri ku ini sangat kaya raya melebihi kekayaan tuan Mahesa apa lagi kekayaan suamimu ini. Namun jika kau mencurigai suamimu, silahkan saja. Mungkin dia sedang tertekan karena biaya pengeluaran mu yang di luar batas kemampuan nya." Ujar Harland menyeringai sombong.
Brug
Sendok tak berdosa itu kini mendarat sempurna di pangkuan Harland. Kinos melempar nya dengan segala ketulusan hati. Tak lupa tatapan tajam pria itu seperti ingin menguliti Harland hidup-hidup.
Harland pura-pura ketakutan dan mencari pertolongan dari sang istri.
"Sayang lihatlah, suami tampan mu ini di lempari sendok bekas. Apa dia tidak tau jika bakteri selalu berkembang biak dari benda-benda kotor seperti ini." Rengek Harland memeluk tubuh mungil Rosy untuk bersembunyi dari tatapan maut Kinos.
"Dasar bucin brengsek!" Umpat Kinos kesal.
Sania pun tak kalah kesal. Meski memang benar, jika sekali pengeluaran wanita itu bisa menghabiskan hingga ratusan juta untuk memburu beberapa pernak pernik wanita bersama putri bungsu nya. Memiliki satu-satunya anak perempuan membuat Sania sering kalap. Kendati hanya untuk mengenyangkan mata ketika melihat barang baru.
Namun Kinos tak pernah merasa di bebani, uangnya tak akan habis meski setiap hari anak dan istri nya berbelanja hingga miliaran rupiah. Dan yang paling penting sang istri tak pernah lupa pada kewajiban nya terhadap sesama. Wanita itu sama seperti Rosy, memiliki beberapa yayasan bagi mereka yang tak mampu. Membangun panti asuhan dan rumah jompo gratis dengan fasilitas terbaik.
Meninggalkan Harland dan Kinos serta Rosy dan Sania. Di sebuah ruangan, seorang pria tengah menatap potret seorang gadis kecil. Televisi raksasa di ruangan itu tengah memutar potongan video yang sengaja di gabung kan menjadi satu.
__ADS_1
Di dalam nya memperlihatkan seorang gadis kecil yang nampak begitu bahagia dengan sifatnya yang ceria dan terlihat riang. Tengah bermain tembakan balon gelembung bersama dua anak laki-laki di dalam kolam balon.
Beberapa kali si pria mengusap sudut mata nya, rasa nya seperti baru kemarin. Padahal video itu di ambil belasan bahkan ada yang puluhan tahun silam. Di mulai dari video sang anak sejak baru di lahir kan ke dunia fana ini.
"Papa merindukan mu sayang...kenapa sampai sekarang kau tak pernah pulang? Mama telah pergi karena terlalu merindukan mu...pulanglah, papa sudah tak sanggup lagi..." Di balik pintu, dua pasang mata menatap dengan genangan embun yang sama di sudut mata mereka.
"Apa kau masih belum menemukan titik terang dari orang-orang suruhan mu?"
Gelengan lemah sang adik membuat si sulung keluarga itu menghela nafas berat.
"Kita hanya punya papa, dan jika sampai tahun ini kita masih belum menemukan Livi. Kita juga bisa kehilangan papa, Sen. Aku tak bisa, bagaimana pun cara nya. Livi harus di temukan, atau jika tidak...." Tatapan syarat makna membuat Olsen menatap sang kakak dengan tatapan penuh selidik.
Olsen sangat menentang ide-ide sang kakak yang ingin membawa seorang gadis pengganti ke dalam kehidupan mereka sejak lama. Tidak akan ada artinya, papa nya bukan orang bodoh yang akan langsung percaya begitu saja.
"Pasti kan kali ini informasi nya akurat, aku juga akan mencari dengan cara ku. Hari ini aku akan mewakili mu melakukan pertemuan dengan perusahaan Roxy Sanders Group. Katakan pada sekretaris mu untuk menyiapkan semua berkas nya, aku akan pergi sendiri. Dan ya, kenapa kau belum mengganti wanita genit itu. Aku tak suka cara nya berpakaian, aku tak mau otak mu rusak karena terus di suguhkan dada yang hampir meledek di balik baju kerja nya yang ketat." Ujar Odion tak suka.
"Ck! Aku bahkan tak pernah memperhatikan dada wanita selama ini. Apa lagi dada si Maya. Pekerjaan nya bagus, dan juga sangat cekatan. Aku tak peduli meski dia hanya mengenakan bikini sekalipun, asal kan pekerjaan nya selalu selesai dengan baik. Maya bisa ku andalkan dalam berbagai hal, dan lagi Maya tidak pernah menggunakan kesekian nya untuk menggoda ku. Hubungan kami murni antara atasan dan sekretaris saja. Kenapa kakak yang gerah, padahal kakak hanya sesekali mampir ke kantor ku?" Kini giliran Olsen yang menelisik wajah sangar kakak nya.
__ADS_1
Odion membuang pandangan nya ke sudut lain. Membuat Olsen menatap sang kakak semakin curiga, mengingat Maya berasal dari universitas yang sama dengan sang kakak. Hanya berbeda dua tahun arti nya mereka sempat saling mengenal paling tidak.
"Pergilah segera ke desa itu, jangan membuang waktu tak penting seperti ini. Cari lah bunga desa di sana, di jamin mereka adalah gadis baik-baik." Odion beranjak meninggalkan sang adik dalam rasa penasaran yang besar.
"Ck! Aku tau kau sedang merahasiakan sesuatu dari ku kak. Awas saja jika aku mengetahui sesuatu." Gerutu olsen kesal. Semakin kesal karena sang kakak masih melanjutkan hubungan dengan wanita yang Olsen tidak sukai. Wanita yang hanya mengincar harta sang kakak, namun pria bodoh itu bahkan tidak menyadari nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Di perusahaan Roxy Sanders Group, seperti biasa Olivia selalu menjadi sasaran empuk kejahilan Mylo.
"Apa kau tidak lihat kalau aku sedang sibuk, harus nya kau itu peka sedikit. Tawari aku makan atau minum. Malah kau yang sibuk makan seorang diri, kekasih apa-apaan kau ini." Ketus Mylo merasa tidak di perhatikan.
Olivia sibuk memakan camilan di atas meja sofa sambil menonton film kartun kesukaan nya. Wanita itu memanfaatkan WiFi dari ponsel Mylo. Dan Mylo sengaja tak membelikan paket internet untuk Olivia agar gadis itu bergantung pada nya. Dan Olivia tidak boleh mengisi kuota internet nya, padahal tidak menggunakan uang pribadi pria itu. Aneh memang, namun ini adalah Mylo. Jadi semua hal yang aneh pun akan terasa wajar.
Olivia yang malang hanya menuruti nya saja tanpa protes. Di kos pun dia jarang menggunakan ponsel nya selain bermain game dan menerima panggilan tak penting dari Mylo hingga berjam-jam sampai dirinya tertidur.
Dua minggu yang lalu, Mylo tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai kekasih pria gila itu. Dan memberikan berbagai aturan pada gadis itu untuk di turuti. Tak boleh bertegur sapa dengan makhluk fana yang bernama laki-laki, Desnan pengecualian. Namun tak boleh melebihi 50 kata dalam sehari.
__ADS_1
Dan desnan pun mulai ikut-ikutan dungu, pria itu selalu menghitung jumlah kata terucap dari mulut nya ketika berbicara dengan Olivia. Bos seperti Mylo benar-benar membodoh kan semua karyawan nya. Karena tak ada yang mampu melawan aturan mutlak yang sudah di keluarkan oleh bos songong tersebut.