Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Mencicil


__ADS_3

Setelah Resy pergi, seorang wanita menggeleng kan kepalanya berdecak kagum pada rekan kerja nya.


"Gila lo...sumpah, keren..keren.." puji seorang teman memperlihatkan dua jempol nya.


"Anya gitu lo.." sahut nya bangga, sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya angkuh. Sontak mereka tertawa renyah, Anya terkenal genit namun wanita itu bukan tipe-tipe pelakor seperti kebanyakan wanita yang selalu terlihat centil dan berpakaian seksi. Anya hanya akan menggoda rekan sesama jomblower, untuk sekedar menghibur kejomblowan nya.


"Kebayang tidak, gimana reaksi pak bos saat tau narasi karangan bebas mu tadi? Pasti beliau bakal guling-guling kasur di lantai atas..." Kekeh Sonya menimpali.


"Benar, aku hampir saja meledakkan tawa waktu mendengar kalimat ngarut versi Anya tadi. Ngebayangin tangan kekar pak CEO meluk kita-kita yang cuma remahan ikan peda begini. Kok aku rasanya mau jungkat-jungkit di halaman depan ya.." Devi pun ikut nimbrung pembicaraan ngalor ngidul tersebut.


Mereka kembali tertawa renyah, karena telah berhasil menjalankan amanah resmi dari sang atasan. Bayangan notifikasi M_Banking di ponsel masing-masing, membuat mereka rela menerjang badai prahara rumah tangga sang atasan dan nyonya yang tak di harapkan.


Sedangkan di lantai atas, Mishy terus menatap kaca makeup nya.


Mishy merenggut kesal melihat bibir nya yang terlihat membengkak akibat ulah sang kekasih. Nathan melirik melalui ekor mata nya, bibir nya melengkung kan senyuman indah. Hampir saja dia kebablasan. Bayangan benda kenyal di balik blouse sang kekasih telah merusak kinerja otak nya. Saking gemas nya Nathan agar tak melahap benda tersebut, dia menyesap kuat bibir mungil kekasih nya hingga membengkak.


Lumayan untuk menyalurkan perasaan nya yang mulai warna-warni, merah kuning hijau di langit yang biru.

__ADS_1


"Sudah, jangan di kacain mulu. Masih mau nambah? Boleh, duduk sini yuk. Aku mau tambah stempel nya biar banyak, jadi makin resmi. Kalau Mishy Pratama hanya milik Nathan seorang." Kekeh pria itu membuat lipatan bibir semakin mengkerut.


"Ya ampun, Tatan! Ini kenapa banyak banget sih, kelihatan banget ini pasti. Ishhh... Tatan.." rengek Mishy kesal, namun Nathan menyukai nya. Mishy terlalu mandiri, dia ingin wanita itu menggantung kan harapan pada nya agar dia merasa di butuhkan.


"Maaf sayang, sini aku hapus..." Nathan beranjak dari kursi kebesaran nya, melangkah lebar menuju sang kekasih yang tengah mengoles foundation di leher nya.


"Jauh-jauh ih, masih kesal tau.." usir Mishy dengan ujung siku nya.


"Jangan ditutup, biarkan saja. Supaya orang tau, kalau kita baru saja saling memcecap enak..." Ujar Nathan asal, pria itu mengambil botol foundation dari atas meja. Kemudian melempar nya ke tempat sampah. Mata Mishy terbelalak lebar, benda kecil itu harga nya tak main-main, dan kini teronggok dalam tempat sampah.


"Tatan, itu mahal tau... limited pula, ih ngeselin deh lama-lama..." Saat akan beranjak Nathan menarik pelan pergelangan Mishy hingga wanita itu kini terduduk di atas pangkuan Nathan. Sungguh posisi yang mendebarkan.


Mishy menatap wajah tampan Nathan yang terlihat serius menatap leher jejang nya. Nathan dengan telaten menghapus hasil karya Mishy untuk menutupi bercak merah di leher nya.


"Udah bersih. Jangan di apa-apa kan lagi, biar gini aja. Lebih cantik dan seksi." Bisik Nathan pelan. Wajah nya sudah maju beberapa senti ke arah leher mulus Mishy, dia melihat begitu banyak celah yang masih kosong. Hingga berniat untuk menambah nya lagi.


Mishy yang terlalu fokus menatap sang kekasih reflek memejamkan kedua matanya, saat melihat wajah Nathan semakin mendekat. Nathan tersenyum samar, kemudian melanjutkan aktivitas nya. Menyesap leher putih mulus itu dengan bersemangat. Mishy meremat rambut pria nya dengan sedikit kuat.

__ADS_1


Selama hidupnya, hanya Nathan yang pernah menyentuh nya seintim itu. Sungguh sensasi yang tak mampu untuk di tolak. Mishy wanita dewasa usianya sudah 26 tahun lebih. Tentu dia pun punya kebutuhan tersendiri bagi dirinya. Namun dia tak ceroboh, meski banyak para buaya yang mendadak berubah kalem ketika mendekati nya. Dia bukan Resy yang mudah menyerahkan diri nya sedari usia dini.


Setelah puas memenuhi setiap inci leher Mishy dengan stempel kepemilikan. Sesapan Nathan mulai menjalar turun, entah sejak kapan, kancing blouse Mishy terbuka. Namun kini wanita itu masih belum sadar, jika Nathan tengah mengincar melon segar nya. Segar, sehat dan original, karena belum pernah terkontaminasi oleh bakteri berkaki tegap.


"Nat..." Pekik Mishy saat merasakan sensasi aneh menjalar di dada nya. Rupa nya Nathan tengah berusaha untuk mencari puncak dada wanita nya, yang masih tenggelam sempurna. Nathan tersenyum senang, dia yakin dia lah yang pertama. Bukan berniat membandingkan. Namun jelas perbedaan nya dengan milik Resy, dia melihat dengan jelas puncak dada wanita itu ketika Resy berjalan di depan nya tanpa busana.


Kini dia mengerti, jika dada wanita itu sudah terlalu sering di jamah oleh pria. Selain sudah tidak proporsional dari segi bentuk yang terlihat lebih turun. Resy memiliki puncak dada yang sangat menonjol seperti wanita yang sudah pernah menjadi seorang ibu.


Sedangkan Mishy, terlihat ranum dan terjaga. Itu pembelajaran otodidak nya, bukan soal pengalaman. Resy adalah pengalaman pertama nya meski tak dia ingin kan.


Kembali pada aktivitas Nathan, Mishy mendorong pelan kepala sang kekasih. Ke-dua nya bertatapan dengan mata sayu.


"Maaf sayang, aku kelewatan. Tapi aku tak menyesali nya, aku menyukai nya. Ini bentuk yang sempurna, semoga kelak bisa di isi oleh air kehidupan untuk anak-anak kita. Aku berharap kau lah yang menjadi ibu dari anak-anakku, bukan wanita iblis itu." Nathan memasang kembali penutup dada sang kekasih yang kebetulan memiliki pengait di bagian depan.


"Maaf kan aku, jangan marah. Aku hanya mencicil nya...aku butuh nutrisi untuk menghadapi wanita siluman itu nanti ketika pulang bekerja. Sungguh melelahkan melihat nya berjam-jam." Keluh Nathan dengan wajah frustasi. Mishy merasa iba, dia tak marah lebih pada rasa malu. Ini pertama kalinya seorang pria melihat dadanya secara terbuka. Dia memang seorang model internasional. Namun Mishy akan memilih sendiri, gaun apa yang akan dia pakai untuk tema fashion show nya.


"Bersabar lah sedikit lagi. Semoga saja Resy tak mengandung anak mu. Jika benar pun, aku akan menunggu mu hingga anak itu lahir. Aku hanya khawatir, kau akan sulit untuk melepaskan nya nanti. Bagaimana pun anak tetap lah anak. Tak ada kata mantan bagi seorang anak. Dan aku pun tak akan tega memisahkan mu dari anak mu jika kau harus memilih, itu egois nama nya. Jadi pikir kan lagi hubungan kita ke depan nya. Aku memiliki batas kesabaran seperti manusia lainnya. Tapi jika kau mau berjuang bersama ku, aku akan dengan sabar menanti takdir ku kembali."

__ADS_1


Nathan tersenyum penuh rasa haru. Orang tua mana yang rela berpisah dari anak mereka. Namun jika kondisi tidak memungkinkan, maka apa boleh buat. Toh dia akan tetap bertanggung jawab atas anak nya kelak. Seperti Mishy yang rela membuang masa remaja nya demi membesar kan anak orang lain, dia pun sama. Jika kelak anak itu ada, maka dia akan tetap menyayangi nya dengan caranya sendiri.


__ADS_2