
Kepulangan Mahesa tertunda, sehingga pria itu tiba di rumah pukul 11 malam. Tentu saja semua penghuni rumah sudah tertidur pulas. Saat melewati kamar Odion yang memang paling pertama di jumpai, karena berada persis di ujung tangga. Mahesa menghentikan langkahnya, kamar tengah yang selama ini kosong itu terlihat bersinar dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
Dengan rasa penasaran, Mahesa mendorong handle pintu untuk melihat siapa yang tidur di kamar tersebut. Kamar yang biasa nya hanya akan di tempati oleh kerabat jika berkunjung.
Kening nya mengernyit heran, ada tiga kepala yang terlihat di ujung selimut tebal. Dua di antara nya sangat dia kenali. Namun seseorang yang berada di tengah dalam keadaan di peluk erat oleh kedua putra nya, itu yang membuat dahi Mahesa semakin mengerut dalam.
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran nya. Mungkin kah anak-anak nya memiliki kelainan se*k*sual? oh tidak! Mahesa hampir di buat gila karena terlalu fokus pada kelainan anak-anak nya.
Dengan sekali tarik saja selimut tebal tersebut sudah teronggok di lantai. Memperlihatkan gadis kecil setelah piyama bergambar Doraemon, tengah meringkuk dalam dekapan kedua putra nya.
"Hei! bangun! apa-apaan ini? apa kalian sudah tidak waras hah! sejak kapan menjadi pedofil seperti ini. Ya Tuhan! ampuni hamba mu ini yang telah gagal mendidik anak-anak hamba.." dengan nada lirih Mahesa berucap doa permohonan agar dosa nya di ampuni.
Olsen terduduk sambil mengucek kedua mata nya, begitu pula Odion.
"Papa? kapan sampai? kenapa papa ganggu orang tidur saja sih, iseng banget. Untung princess tidur nya kaya kebo, kalo tidak kan berabe. Livi baru tidur setelah menghabiskan 4 gelas susu.." cerita Odion kesal pada sang ayah, susah payah dia mengajak Olivia tidur karena gadis itu terlalu bersemangat untuk menonton video masa kecil nya.
"Livi? astaga! kenapa kalian sampai senekat ini sih, ini anak siapa yang kalian bawa pulang. Cepat bangun kan, kalian harus mengantar nya pulang. Orang tua nya pasti sibuk mencari anak mereka yang hilang. Papa tidak mau besok ada berita, kedua putra tuan Mahesa Jenar telah menculik gadis di bawah umur dan bla bla..." oceh Mahesa kesal pada kedua anak nya.
"Papa berisik ih.. nanti Livi ba...."
"Euunghhh..." Olivia berbalik dan kini tidur telentang, pipi nya belepotan liur seperti biasa nya. Olsen bergegas meraih tisu sebelum air itu meleleh masuk ke telinga sang adik.
Sedangkan Mahesa mematung di tempat nya. Gadis itu seperti duplikasi diri nya dalam versi seorang wanita. Dengan langkah bergetar, Mahesa berputar ke sisi ranjang.
__ADS_1
Setelah puas menatap wajah bulat Olivia, Mahesa duduk di sisi ranjang. Mata nya berkaca-kaca, tangan nya terulur mengelus pipi chubby gadis kecil itu. Olivia meskipun mungil, namun pipi nya sangat bulat padat.
"Apa dia Olivia nya papa, Dion?" tanya Mahesa dengan suara lirih dan serak.
"Benar pa, dia Olivia kita. Aku sudah melakukan tes DNA pada nya, dan hasil nya 99,9% akurat. Dia seorang Jenar sejati." Ungkap Odion.
Mahesa menitik kan air mata nya, penantian panjang nya telah usai. Putri nya telah kembali pulang.
"Bagaimana kalian bisa menemukan nya? di mana? apa selama ini hidup nya baik?" Mahesa membrondong anak-anak nya dengan pertanyaan beruntun. Dia merasakan kulit telapak tangan sang anak yang kasar, pasti anak nya bekerja keras selama ini.
"Aku menemukan nya bekerja sebagai office girl di perusahaan Roxy Sanders Group. Namun hanya semacam formalitas saja, nyata nya Olivia kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani tuan muda Pratama di ruangan nya. Mereka menjalin hubungan baru-baru ini, namun pria muda itu sudah tergila-gila pada Olivia sejak umur belasan tahun. Olivia pernah menyelamatkan Mylo dari insiden waktu pria itu mengadakan perkemahan di dekat desa di mana Olivia tinggal. Papa pasti mengerti dengan cinta pada pandangan pertama. Mylo menutup diri selama 13 tahun dari para wanita hanya demi Olivia kita."
Cerita Odion tentang awal pertemuan hingga perjalanan cinta sang adik. Mahesa berdiri lalu mengusap kasar air mata nya.
"Papa akan membersihkan diri, malam ini papa akan tidur bersama Livi. Kalian kembali lah ke kamar kalian masing-masing. Ini malam nya ayah dan putri nya. Jaga dia sebentar saja, jangan membuat nya terbangun." Setelah mengucapkan kalimat yang membuat kesal hati, Mahesa melangkah keluar kamar menuju kamar nya.
Mahesa kembali masuk, namun pria itu terlihat kesal. Kedua putra nya malah tidur sambil memeluk erat princess nya. Mahesa menjewer telinga kedua nya hingga memerah, akhir nya Olsen dan Odion menyerah kalah. Dengan langkah penuh hentakan, kedua nya keluar dari kamar Olivia.
Mahesa tersenyum penuh kemenangan, kini dia yang akan menguasai sang anak sepenuh nya.
"Lihat gaya tidur mu tak berubah sayang, kau masih suka ileran seperti saat kau kecil. Apa tuan muda Pratama itu tidak akan ilfil pada mu nanti hmmm?" Sepotong malam, Mahesa tidak tidur. Pria paruh baya itu sibuk bercerita meski tau Olivia tak akan mendengar nya. Dia hanya terlalu merindukan sang anak.
Pagi menyapa, suara kicauan burung menjadi pembuka pagi hari yang indah di kediaman Mahesa Jenar. Olivia bangun terlambat, padahal dia tidur sangat pulas semalam. Mahesa sudah mandi, dia pun menyempat kan meminta koki memasak sarapan sehat untuk sang anak yang terlihat begitu mungil di mata nya. Anak nya pasti selalu makan dalam porsi pas-pasan selama ini.
__ADS_1
"Semalam perasaan tidur bertiga, kok tau-tau udah pada ngilang semua..." Olivia menggaruk sudut bibir nya yang terasa kaku.
Klek
Mahesa masuk dengan beberapa paper bag di kedua tangan nya. Olivia menatap kagum pria tampan yang dia tau adalah ayah nya.
"Papa ternyata lebih tampan dari yang ku lihat di foto..." gumam Olivia terdengar jelas oleh Mahesa. Pria itu tersenyum senang melihat reaksi sang anak kala pertama kali melihat nya.
"Papa memang tampan, kedua kakak mu itu tak ada apa-apa nya dari papa." Ujar Mahesa berbangga diri.
Mahesa duduk di sisi ranjang lalu merapikan rambut Olivia yang terlihat sangat kusut.
"Papa juga wangi..." Olivia mengendus aroma tubuh nya sendiri dengan pipi bersemu merah. Dia malu sendiri karena belum mandi dan tentu nya masih aroma Iler yang menyengat.
"Anak papa juga wangi, sini papa cium." Belum sempat Olivia menghindar, sang ayah sudah mengecup pipi nya.
"Papa ..aku bau..." cicit Olivia semakin malu. Tak tau saja, sejak semalam Mahesa terus mencium wajah sang anak tanpa peduli aroma tak sedap di pipi putri nya. Rasa sayang nya lebih besar dari segala macam aroma tersebut.
"Dari semalam papa sudah puas menciumi seluruh wajah mu, kau tidur seperti putri tidur. Kedua kakak mu papa usir ke kamar mereka, sekarang ayo mandi. Papa ada pesan kan beberapa dress untuk mu, kita akan jalan-jalan hari ini ke mall. Papa ingin menghabiskan waktu bersama mu mulai sekarang." Mahesa sudah memutuskan keputusan sepihak sejak semalam.
Pria itu berniat untuk mengambil pensiun, lalu menyerahkan semua urusan perusahaan kepada kedua putra nya tanpa peduli akan di tolak atau tidak.
"Papa tidak bekerja? terus kakak-kakak ikut tidak?" tanya Olivia bingung sendiri.
__ADS_1
"Ti..."
"Tentu saja ikut!" seru kedua makhluk tak di undang di muka pintu kamar Olivia. Mahesa menatap sengit namun kedua nya tak peduli.