Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Niat Terselubung


__ADS_3

Dua hari semenjak kejadian malam tak terduga waktu itu, Elsa sudah tak berani lagi menebar pesona pada Harland. Dia tak menyangka jika pria itu masih bisa menahan diri, bahkan di saat dirinya tengah dalam keadaan on sekali pun. Sikap kasar Harland sangat bertolak belakang, saat pria itu sedang berhadapan dengan kedua anak nya juga sang istri tercinta.


"Kids, hari ini papa akan ke Bandung. Mau titip sesuatu?" Sela Harland memecah kan keheningan sarapan pagi mereka.


"Aku mau di belikan makanan khas Bandung, bawa yang banyak, Mishy mau membagi nya pada teman-teman dan guru di sekolah." Sahut gadis kecil itu bersemangat.


"Siap princess!" balas Harland tak kalah bersemangat. Lalu ekor mata melirik ke arah si sulung yang masih bergeming.


"Kakak mau pesan sesuatu sama papa? mungkin ada yang mau di titip barangkali, oleh-oleh apa gitu yang kakak mau papa belikan." Tawar Harland lembut. Dia tau putra nya juga menginginkan sesuatu namun enggan untuk meminta dari nya. Mylo lebih memilih untuk meminta pada sang paman, Roky. Ketimbang ayah nya.


"Kata orang, kalau mengabaikan orang tua yang lagi ngomong. Sama saja seperti saat kita tengah kusuk berdoa, tapi Tuhan mengabaikan doa dan permohonan kita. Pasti rasa nya tuh tidak enak, benar kan pa?" Celetuk Mishy menatap sang ayah dengan tatapan mata mengisyaratkan persetujuan atas opini nya.


Harland hanya tersenyum simpul, dia tak ingin membuat putra nya merasa terpojok.


"Jadi? sudah tau mau pesan apa kak ?" ketimbang memperkeruh suasana, Harland lebih memilih untuk mengulang pertanyaan nya. Mylo terlihat tengah berpikir, entah mengapa begitu sulit hanya sekedar meminta sesuatu pada sang ayah. Mungkin terlalu lama menutup diri dari sentuhan kasih sayang dan perhatian Harland, Mylo merasa canggung.


"Cake Kartika Sari saja, mama juga suka itu... terutama red Velvet cake, sama bolu gulung cream keju." Tukas Mylo akhir nya. Walaupun di ucap kan tanpa melihat pada sang ayah, namun itu membuat hati Harland berbunga-bunga. Itu merupakan permintaan pertama sang anak, juga kalimat pertama yang di ucapkan oleh Mylo khusus pada nya.


"Baiklah, semua akan dapat oleh-oleh nya masing-masing. Papa mungkin tiba malam hari, titip mama ya...,"


🌷🌷🌹🌹🌷🌷🌹


Senyum Harland terus mekar seperti enggan layu, beberapa karyawan terus menatap nya heran. Harland terkenal dingin, apa lagi di depan makhluk bernama perempuan. Pria itu seakan membangun tembok raksasa untuk mencegah para makhluk begender tersebut, mengusik kehidupan nya. Desas desus jika bos perusahaan tersebut sudah menikah menjadi bahan pembicaraan yang hangat selama satu tahun ini. Tak ada yang tau siapa sebenarnya pemilik perusahaan tersebut, hingga akhirnya Harland yang mengambil alih kepemimpinan perusahaan.


Perubahan peralatan medis yang kini di kelola oleh Harland adalah milik Rosy. Wanita itu membangun perusahaan tersebut 10 tahun yang lalu. Namun lagi-lagi tak ada yang tau pemilik yang sesungguhnya. Rosy terlalu misterius dan tak tersentuh oleh media. Wanita itu lebih mempercayakan semua urusan perusahaan nya pada orang kepercayaan nya. Rosy tak suka jadi sorotan, itu lah alasan nya. Sikap introvert itu terbawa hingga wanita itu memiliki dua orang anak.


"Pak hari ini sebelum berangkat ke Bandung, ada satu klien yang sudah ada janji temu dengan bapak dua hari yang lalu." Seorang sekretaris wanita berjilbab berdiri di seberang meja kerja Harland dengan tablet di tangan nya.


"Pukul berapa? aku ingin cepat menyelesaikan segala urusan ku di Bandung dan pulang setelah nya." Tanya Harland menimbang.

__ADS_1


"Pukul 9 pak"


"Majukan, setengah jam lagi aku tunggu. Jika belum ada respon, kau dan Sany saja yang mewakili ku." Putus Harland final.


"Tapi klien kali ini hanya ingin melakukan pertemuan dengan bapak secara langsung. Kami sudah menawarkan solusi tersebut mengingat bapak ada perjalanan ke Bandung hari ini. Namun beliau menolak tegas." Jelas sang sekretaris tak enak hati, seolah mempersulit kondisi bos nya.


"Wanita ?" tebak Harland, Sendy pun hanya mengangguk pelan. Harland tersenyum penuh arti.


"Katakan pada nya jika ingin melakukan pertemuan khusus dengan ku, tunggu aku kembali dari Bandung. Aku tak bisa menunggu, anak-anak dan istri ku lebih penting. Urusan pekerjaan yang memiliki niat Terselubung, itu bukan sesuatu yang mendesak. Aku akan kembali malam ini juga, bisa siap kan penerbangan ke sana untuk ku Sen?" Sendy mengangguk mantap, helikopter sudah nangkring indah di atas gedung tersebut.


"Baik lah, katakan pada Sany untuk menghandle semua pertemuan hari ini."


"Baik pak" jawab Sendy.


"Ah ya, Sendy..apa kau tau oleh-oleh untuk anak laki-laki yang bagus dan memiliki kesan perhatian serta kasih sayang di dalam nya. Aku ingin membeli kan putra ku sesuatu." Harland menatap sekretaris nya penuh harap. Sendy bingung sendiri, dia bahkan belum menikah bagaimana dia bisa tau hadiah yang di maksud oleh bos nya.


"Untuk tuan muda Mylo?" Sendy ingin memastikan. Karena dia tau jika sang tuan muda tersebut memiliki hubungan yang tak harmonis dengan sang ayah.


"Eh? bukan pak, bukan begitu..." sanggah Sendy serba salah.


"Apa yang tuan Mylo sukai?


mungkin bisa di mulai dari sana. Membaca buku, atau bermain game. Anda bisa membeli kan PlayStation versi terbaru. Atau buku kesukaan tuan muda, bisa juga kedua nya." Saran Sendy akhirnya.


"Lebih baik beli keduanya saja, paling tidak semoga ada yang tuan muda sukai." Entah kenapa Sendy ingin tertawa keras sekarang. Raut wajah Harland seketika berubah masam saat mendengar kalimat meremehkan dari mulut sekretaris nya.


"Kau dan Sany lama-lama semakin kompak dalam memojok kan ku!" ketus Harland kesal.


"Eh si bapak. Baperan amat deh.." gumam Sendy masih terdengar jelas oleh Harland.

__ADS_1


"Sudah, sudah! kau keluar sekarang, siap kan berkas yang akan aku bawa. Jangan sampai tertinggal, kalau salah berkas. Siap-siap saja kalian berdua tidak akan mendapatkan cuti kawin dari ku." Tukas Harland masih dalam mode kesal.


"Cuti menikah kali pak, kawin..kawin.." omel Sendy berlalu keluar dari ruangan sang bos.


Sendy gadis berhijab berusia 25 tahun tersebut berpacaran dengan Sany sang asisten. Kedua nya akan menikah dua bulan ke depan. Dan Harland sudah mewanti-wanti agar Sendy tetap bekerja sebagai sekretaris nya. Sangat sulit mencari sekretaris yang bisa bekerja tanpa terus mengganggu kenyamanan kerja nya di kantor.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


"Saya harap kerja sama kita berjalan lancar, ya pak Harland. Setelah ini, semua yang berurusan dengan kinerja proyek ini nanti, akan di tangani langsung oleh putri saya. Saya harap pak Harland bisa membimbing anak saya, dia masih baru terjun ke dunia bisnis seperti ini. Maklum, dari model kini mulai belajar mengelola perusahaan. pasti sedikit kesulitan." Ucap pak Prabowo tersenyum penuh makna. Ada maksud terselubung di balik kalimat panjang nya, Harland sudah hapal mati dengan segala bentuk kerjasama yang memiliki niat lain di ujung kerja sama yang mereka sepakati.


"Tidak masalah pak Bowo, saya punya dua orang yang lebih dari mampu untuk membimbing Natasha dalam memimpin berjalan nya proyek ini." Ujar Harland tersenyum simpul. Natasha benar-benar terpesona dari pertama melihat Harland keluar dari mobil nya di depan parkiran restoran.


"Terimakasih pak Harland, saya hanya ingin di bimbing langsung oleh bapak. Pasti akan lebih mudah untuk memahami segala prosedur dan seluk beluk kerja sama kita tanpa Kendala." Sela Natasha penuh maksud, senyuman penuh racun pesona telah dia tebar untuk menjerat pria itu. Namun sayang, Harland hanya menampilkan wajah datar dan senyum simpul yang terkesan sekedar saja.


"Lihat saja nanti, kau akan ku buat bertekuk lutut memuja ku Harland. Belum pernah ada yang mampu menolak pesona ku, terlebih jika sudah ku takluk kan di atas ranjang." Monolog Natasha jumawa.


Selesai pertemuan menyebalkan tadi, Harland berkeliling dengan seorang sopir kepercayaan perusahaan nya. Dia ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk anak-anak nya. Tak lupa untuk para pekerja di rumah nya. Semua pekerja sang istri di kastil, ikut pindah ke Jakarta, termasuk pak Bonar dan sang istri.


"Daerah sini yang paling terkenal sama jajanan khas nya pak, rasa nya pun enak-enak. Saya biasa membawa beberapa karyawan kalau sedang ada perjalanan dinas kemari." Jelas sang sopir bersemangat. Harland hanya mengikuti instruksi dari sang sopir, termasuk toko mainan terbaik untuk anak-anak. Tak lupa Harland membelikan beberapa daster midi untuk sang istri, kain tersebut sangat nyaman dan cocok bagi Rosy yang menghabiskan seluruh hidup nya hanya dengan berbaring.


βˆ†Curhat dikit ya readers πŸ€—


Sebenarnya othor sedang dalam kondisi yang tak begitu baik, jadi jika alur ini terasa sedikit kurang nyaman di baca. Mohon maafkan othor ya, jantung othor sedang tidak dalam keadaan yang bias di ajak bekerja sama. Tapi demi kalian yang othor sayangi, othor usahakan update.


Jangan lupa tinggalkan jejak, semoga hasil rekam jantung othor baik-baik saja hari ini. Doa kan ya othor ya pembaca yang baik hati πŸ™πŸ˜‡


**Luv yu kalian semua 🀍🀍πŸ₯°πŸ₯°


...----------------...

__ADS_1


Rekomendasi author ; jangan lupa mampir yaa, ke novel teman nya othor πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™**



__ADS_2