
Sungguh Charlotte ingin menangis keras sekarang. Dia tak menyangka jika keluarga yang menyelamatkan nya adalah keluarga dari pria yang telah menorehkan luka terdalam dalam hati nya. Pantas saja Resy begitu geram saat tau nama pria yang telah merusak masa depan nya. Dan berjanji akan menjaga nya dengan segala curahan kasih sayang serta perhatian tak terbatas. Kini dia tau alasan nya.
"Terimakasih.." ucap Charlotte terisak pelan di pelukan Mishy.
"Jangan mengucapkan kata itu, kami yang harusnya berterimakasih padamu. Kau sudah berjuang untuk bertahan hidup di pulau kecil itu seorang diri. Terimakasih juga sudah bersedia mempertahankan cucu ku di dalam sini, aku tau pasti berat untuk mu menerima nya. Kelak dia kan menjadi alasan mu tetap bernafas dan tersenyum lebar menyambut dunia. Meski kau di perlakukan tak adil sekalipun. Dia akan menjadi segala nya dalam hidup mu." Ucap Mishy tersenyum tulus.
Resy tersentil sekaligus tersentuh begitu dalam. Kalimat sang adik mengingat kan akan diri nya di masa lalu. Juga mengingat kan akan perjuangan adik nya itu dalam membesarkan putra yang nyaris mati tenggelam di danau. Yang kini justru menikam belati tepat di jantung wanita sebaik adik nya itu.
Sungguh Resy menyesali, gen nya lebih mendominasi dalam darah sang anak.
Wira dan Jordan hanya menjadi penguping di balik sekat pembatas. Kedua nya hendak masuk dan mendapati suasana haru sedang terjadi di dalam ruang keluarga tersebut.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Klek
__ADS_1
Terlihat wajah gusar Clara saat mamasuki ruang kerja Miguel. Dapat dipastikan, jika wanita itu kembali menuntut soal butik itu lagi.
Miguel menghempas nafas berat. Kepala nya sudah pusing dengan tanggapan sang ibu yang ambigu, di tambah kehadiran sang kekasih yang membuat perut nya tiba-tiba bergejolak tak kuruan.
"Sayang, kenapa kau masih belum membeli butik itu untuk ku. Kau bahkan memblokir kartu kredit yang kau berikan padaku tempo hari. Aku malu karena tak bisa membayar belanjaan ku. Kau sungguh mengesalkan, semakin dekat dengan hari pernikahan kita kau semakin perhitungan pada ku." Ujar Clara terisak keras di depan meja kerja Miguel.
Miguel mengusap wajah nya kasar. Apa lagi ini? Dia bahkan tak pernah melakukan apa yang di tuduh kan oleh Clara pada nya.
"Duduk lah Cla, kepala ku sedang pusing sekarang. Aku harus menghandle perusahaan daddy selama mereka pergi. Aku lelah, tolong mengertilah. Dan ya, aku tak pernah memblokir kartu mu. Kau yakin limit nya masih ada? Bukankah aku sudah dua kali membayar tagihan kartu mu dalam bulan ini? Mungkin saja limit nya sudah mencapai batas maksimal pengeluaran mu." Gluk!
Susah payah Clara menelan ludah nya yang terasa seperti duri tajam.
"Mom bahkan menghadiri acara penting beberapa kali, dengan menggunakan pakaian yang sama. Tak pernah ku lihat mommy sibuk mencari gaun baru meski mom memiliki beberapa butik. Kartu kredit yang ada pada mu, laporan nya masuk ke ponsel mommy. Aku bahkan tak punya kartu kredit atas nama ku sendiri, Clara. Coba lah untuk mengerti dan mengatur keuangan dengan seimbang. Aku malu pada mommy." Ujar Miguel terlihat frustasi.
Leher Clara mendadak kering kerontang bagai di gurun pasir. Jadi selama ini laporan belanjaan nya masuk ke ponsel sang calon mertua? Astaga! Clara ingin menenggelamkan kepala nya ke dalam tempayan saking malu nya. Arti nya Mishy sudah tau akan sikap boros nya yang suka berfoya-foya membeli barang tak penting. Juga pengeluaran nya untuk hal yang tak seharus nya Mishy ketahui. Pil Kontrasepsi juga benda karet pengamanan.
__ADS_1
"Maaf kan aku sayang, lain kali tidak lagi. Ini kartu nya aku kembali kan pada mu, sampai kan pada mommy apa yang aku beli bukan semua untuk ku. Tapi untuk mu juga, aku mohon bantu aku kali ini saja. Aku berjanji akan mulai memanage keuangan ku mulai sekarang." Ujar Clara mengiba. Bisa gawat jika sang calon mertua mencurigai nya melakukan perbuatan serong di luar sana.
"Baiklah, sekarang pulang lah. Mommy akan pulang besok. Biar aku yang menghadapi mommy dan menjelaskan nya." Clara mengangguk cepat. Untuk sementara dia akan patuh pada perkataan Miguel, jika ingin impian nya menjadi nyonya Sanders Pratama tercapai.
Sepergi nya Clara, Miguel merasa kepala nya semakin berdenyut hebat. Di bukanya lagi meja nya dan mengambil sekeping obat sakit kepala pemberian Gita. Ralat, titipan Charlotte untuk diri nya.
"Terimakasih Chalot, kau lagi-lagi menyelamatkan ku kali ini dari rasa sakit. Ya ampun, aku sangat merindukan mu. Maafkan aku..aku sungguh menyesal melakukan hal buruk pada mu. Hati ku tak pernah damai setelah nya, aku tersiksa. Kembali lah Chalot, kepala ku sering sakit belakangan ini. Obatmu sudah tak mempan lagi, aku membutuhkan pelukan hangat kedua tangan kecil mu." Miguel terisak sambil menunduk kan kepala nya di permukaan meja.
Selain memang kepala nya yang sangat sakit, pria itu juga merindukan Charlotte sangat dalam. Perasaan sayang dalam rupa persahabatan mereka selama ini, rupa nya menyadarkan Miguel akan perasaan nya pada gadis itu. Clara hanya memberikan nya rasa nyaman karena wanita itu terlalu intens menghubungi nya. Menyambangi nya ke kantor dan bersikap selalu membutuhkan nya. Miguel merasa menjadi seorang pria sejati saat sedang di butuh kan.
Charlotte selalu menangani masalah nya seorang diri, bahkan gadis itu selalu membantu nya dalam menyelesaikan masalah nya di kantor. Kadang diri nya merasa di remehkan, namun kini Miguel begitu membutuhkan Charlotte dengan segala kebiasaan nya.
Charlotte yang selalu ada untuk nya tanpa dia minta.
Diam-diam, seseorang kembali merekam adegan dramatis di dalam ruangan Miguel. Lalu mengirim kan nya pada seseorang.
__ADS_1
"Air mata mu ini belum ada apa-apa nya, tuan muda sombong. Kau akan lebih banyak mengeluarkan air mata untuk bisa meraih kembali berlian yang sudah kau buang ke tengah lautan." Melangkah meninggalkan pintu ruangan Miguel menuju tangga, namun terhenti saat tanpa sengaja mata nya menangkap pemandangan syur secara live. Sampah yang baru saja di usir halus oleh sang tuan, tengah bercumbu mesra dan saling meraba di sudut tangga darurat.
Ide brilian muncul di kepala kecil nya.