
Noora yang tengah sibuk mengganti popok si bayi terkejut akan kehadiran Paul tepat di depan pintu kamar tersebut. Namun dengan cepat Noora menetralkan raut wajah nya.
"Sekarang kau sudah tau jejak kejahatan ku, siapa aku yang sesungguhnya. Sekarang menjauh lah dari kehidupan wanita jahat ini. Kau tak akan mendapatkan masa depan dengan berhubungan dengan wanita seperti ku. Bisa saja aku mengirim mu ke surga lebih cepat dari takdir mu yang seharusnya." Ucap Noora dengan nada dingin.
"Tolong..bebaskan aku dari wanita gila ini tuan.." mohon si wanita yang terlihat sangat menyedihkan itu. Paul menatap iba namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Noora, ini salah. Kau bisa di penjara jika seseorang mengetahui nya. Aku mohon, hentikan ini. Aku tak akan menjauh dari mu, cinta ku tak sedangkal itu hingga aku dengan mudah berpaling hanya karena tau siapa dirimu. Sungguh aku tak peduli, aku hanya peduli pada mu. Aku mencintaimu, dengan segenap hati ku." Paul melangkah perlahan ke arah Noora yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya.
"Kau boleh melaporkan ku, namun sebelum itu. Aku akan melenyapkan nya terlebih dahulu. Maka sakit hati ku akan terbalas sempurna. Lalu bayi mungil ini, akan ku jadikan pembalasan untuk ayah nya yang tak sempat aku eksekusi." Ucap Noora kejam, tanpa memperdulikan apa yang Paul ucapkan pada nya.
Paul menyentuh bahu Noora, memaksa wanita itu menghadap ke arah nya.
"Kau sungguh ingin membalas kan semua dendam mu? Baiklah, aku kan membantu mu sekarang. Ayo kita akhiri ini, dan setelah ini lupakan semua nya. Lupakan kau pernah bertemu dengan pria brengsek seperti tuan Lexan. Dan jadilah wanita ku satu-satunya, aku mencintaimu terlepas dari semua hal buruk yang kau lakukan. Aku tak peduli. Di mulai dari wanita itu, lakukan lah. Akhiri ini, dan aku akan membantu mu dengan bayi kecil ini. Berikan pada padaku." Paul meraih tubuh kecil yang tengah tertidur pulas dari tangan Noora.
Meletakkan bayi tak berdosa itu di atas sebuah meja. Paul meraih semacam pisau bedah, lalu mulai mengarahkan pisau tersebut untuk menusuk jantung kecil bayi malang tersebut.
Paul mengayun kan tangan nya dengan penuh keyakinan, hingga sesaat akan mengenai kulit merah tersebut. Noora meraih bayi tersebut kemudian mendekap nya sambil menangis keras. Tubuh nya luruh ke atas lantai dingin sembari terus memeluk tubuh kecil yang kini mulai terusik oleh suara tangisan nya.
Paul mengusap sudut mata nya yang mulai basah. Dia tak benar-benar ingin melakukan nya, dia hanya ingin melihat reaksi Noora. Dan ya, dia berhasil menyentuh dasar hati wanita itu.
__ADS_1
Paul berjongkok lalu memeluk tubuh Noora yang masih berguncang.
"Sudah, jangan seperti ini. Kau mungkin akan menganggap ku sedang mengucapkan kalimat omong kosong. Tapi dengarkan aku baik-baik. Melihat mu berada dalam keterpurukan selama satu tahun ini, itu sungguh melukai hati ku. Melihat bagaimana kau menghindari semua orang termasuk keluarga mu sendiri, itu membuat ku sangat sedih. Tak bisa berada di samping mu saat kau butuh sandaran, itu membuat ku seperti pria tak berguna. Tak bisa sekedar menghibur mu, membuat ku semakin merasa bersalah." Paul menjeda kalimat nya dengan tarikan nafas panjang.
Pria itu mengurai pelukan nya, kemudian menatap dalam manik wanita yang sangat dia puja tersebut.
"Aku mencintaimu sejak pertama melihat mu di kampus, ketika kau menjadi seorang dosen praktisi di kelasku. Sejak saat itu aku mencari tau semua mengenai dirimu, hingga aku sedikit kecewa saat aku tau kau sudah bertunangan. Namun demi memenuhi hasrat hati ku yang tak bisa lagi berpaling dari mu, aku memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai seorang security di hotel milik mu. Namun aku malah di terima sebagai teknisi CCTV. Namun itu semakin memudahkan ku untuk memantau aktivitas mu."
Paul terkekeh geli mengingat bagaimana diri nya lebih banyak menghabiskan waktu dengan memantau kegiatan Noora. Dari pada memantau pergerakan kejahatan yang bisa saja terjadi, kala dia tengah sibuk menguntit Noora di balik layar pemantau.
"Ayo, bawa bayi mungil ini ke atas. Tempat ini tak baik untuk pertumbuhan nya." Bujuk Paul akhir nya. Noora terdiam sejenak, tangis seorang bayi pasti akan mencuri perhatian tetangga. Meski di sisi kiri rumah nya ada sebuah jalan, namun tak menutup kemungkinan seseorang mendengar saat melintas di jalan itu.
Noora menggeleng pelan, lalu menatap bayi malang yang bahkan belum bernama itu.
"Kalau begitu, berikan anak ja la ng itu padaku!" Teriak wanita yang terikat tersebut dengan tatapan mata penuh kebencian terhadap Noora.
Sejak bayi nya lahir, dia bahkan tak tau jenis kelamin sang anak. Noora memisahkan diri nya dengan cara tetap membuat jangkauan nya berada di sekitar sang anak, namun tak dapat menyentuh nya. Sungguh sikap dendam yang cukup kejam. Noora merawat bayi itu seolah memperlihatkan, jika bayi tersebut adalah milik nya.
Noora sungguh pandai mempermainkan emosional seseorang dengan cara yang begitu sempurna.
__ADS_1
Noora menatap datar pada wanita yang terus mengklaim bayi tersebut.
"Dia milikku, sebagai tebusan hutang dosa mu pada ku. Jadi jauhkan mimpi mu untuk bisa sekedar menatap nya. Jika boleh memilih, bayi ini pun enggan terlahir dari rahim wanita hina seperti mu." Setelah mengatakan kalimat menyakitkan tersebut, Noora membawa bayi merah tersebut ke lantai atas.
Sudah saat nya di harus mulai berdamai dengan keadaan.
Bayi tujuh bulan tersebut kembali tertidur pulas setelah selesai mandi dan makan bubur yang Noora berikan pada nya. Noora menatap bayi mungil yang kini tengah terlelap di atas ranjang nya dengan tatapan tak terbaca.
Paul masuk ke dalam kamar membawa sebuah boks bayi ukuran cukup besar.
"Aku kan menaruh nya di sini untuk sementara, jika kamar sebelah sudah selesai di renovasi, aku akan memindahkan nya." Ucap Paul meletakkan boks bayi yang terlihat setengah rakitan tersebut. Karena jika memasukkan nya dalam keadaan sempurna, akan susah melewati pintu kamar Noora.
"Biarkan di sini saja." Balas Noora mulai kembali ke mode semula. Paul hanya bisa mendesah pasrah. Sikap Noora benar-benar seperti bunglon. Susah untuk di tebak.
"Terserah kau saja, itu juga lebih baik. Mengingat seorang bayi memang harus selalu di pantau. Kau sudah berpikir untuk memberi nya nama? Setidak nya nama panggilan untuk sementara waktu." Ujar Paul hati-hati.
Noora masih bergeming, entah apa yang sedang wanita itu pikirkan.
"Mungkin...Naura atau Maura. Entah lah, aku tak berniat untuk memberi nya nama. Aku akan menitipkan nya di panti asuhan milik nenek buyut ku, dia akan mendapatkan kasih sayang yang tulus di sana. Semua orang akan menyayangi dan menjaga nya dengan baik. Aku tak bisa terus merawat nya di sini bersama ku, melihat nya seperti mengorek luka lama. Aku tak bisa." Tegas Noora kemudian berbalik pergi begitu saja.
__ADS_1
Paul menatap punggung kecil Noora dengan tatapan sulit. Wanita itu memiliki hati sekeras batu karang. Sangat sulit untuk melunakkan nya.
"Kau tenang saja, aku akan berusaha sebisa ku untuk mempertahankan mu tetap di sini. Wanita keras kepala itu sebenarnya menyayangi mu, hanya saja sangat sulit untuk menunjukkan bagaimana cara nya dengan cara manusiawi. Kau boleh memanggil ku Daddy, daddy Paul yang tampan. Ya begitu, dan aku akan memanggil mu Naura princess kecil daddy Paul yang tampan dan keren. Apa kau setuju dengan ku, anggukkan kepala mu. Ya, seperti itu. Rupa nya kau sangat pengertian dan tau menilai sebuah mahakarya sang pencipta." Celoteh paul pada bayi yang tengah terlelap itu.