Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Galau nya Satya


__ADS_3

Satu minggu ini Satya bagai kehilangan nyawa, pria itu terlihat lesu saat bekerja. Semangat hidup nya bagai terkikis habis oleh rasa yang merasuki seluruh pikiran nya. Sungguh Satya sangat tersiksa lahir batin.


"Mas Satya terlihat kurang bersemangat belakangan ini, apa ada masalah?" tanya Rena basa-basi, wanita itu duduk di sisi Satya yang tengah memakan bekal makan siang alakadar nya seperti biasa. Hanya ada tumis kangkung dan sepotong ikan kering laut kesukaan nya. Tak ada sambel seperti biasa nya, dia sedang malas bereksperimen di dapur terlalu lama. Bisa-bisa dapur nya terbakar karena diri nya terlalu banyak melamun.


Satya sudah membuat satu panci nya bolong karena terlalu lama di panggang untuk merebus telur. Pria itu terlalu asyik mengkhayal, sehingga lupa pada panci juga telur malang nya.


"Aku lagi kangen pacar, Ren. Sudah seminggu tidak bertemu, jadi agak lesu sedikit. Tidak ada masalah apa-apa. Aku sudah selesai, aku duluan ya..." padahal bekal Satya masih setengah porsi, namun dia enggan berlama-lama duduk di dekat wanita itu. Rena menyebar gosip jika mereka menjalin hubungan beberapa hari yang lalu, hingga diri nya di cecar habis-habisan oleh Narto. Pria itu merasa di tikung oleh nya, dan tak rela. Hingga mengajak Satya adu jotos di gudang penyimpanan alat kebersihan yang sering mereka gunakan.


Satya tak ingin menanggapi nya, pria itu hanya mengatakan jika diri nya sudah memiliki kekasih yang berartus-ratus lebih cantik dari Rena. Untuk apa dia memacari wanita itu.


Sedangkan Rena terlihat kesal, Satya tak kunjung merespon semua kode-kode gaib yang dia pancarkan dari berbagai sudut dan kesempatan.


"Loh? kok makan nya mutasi ke sini? apa di sana angin nya kurang seger apa gimana?" canda Tono melihat Satya kembali membuka kotak bekal nya untuk melanjutkan makan bersama mereka. Satya melirik Narto yang masih menatap nya tak bersahabat. Satya berusaha mengabaikan nya, biar waktu yang membuat pria itu mengerti jika dia tak tertarik pada Rena.


"Di sini lauk nya jadi berasa ayam goreng kang, walau pun suasana nya agak kurang adem." Sahut Satya sedikit menyindir Narto, hingga membuat pria muda itu tersedak orek tempe di dalam mulut nya.

__ADS_1


Satya bergegas menyodorkan minuman dalam kemasan gelas tersebut, yang langsung di sambut oleh Narto.


"Makan pelan-pelan To, saya sama Satya tidak akan meminta nya. Wong lauk nya sama aja, sama-sama bikin liur jengah." Ucap Tono bercanda. Lauk nya sendiri hanya pucuk ubi singkong di oseng dengan bunga kates, juga ikan teri di sambel terasi.


"Kang Tono ada-ada aja, mending ada teri nya. Lah aku cuma bawa bekal lauk orek tempe." Sungut Narto memperlihatkan kotak bekal nya. Satya melirik sekilas, lalu memotong ikan kering milik nya dan menaruh di dalam kotak bekal Narto tanpa berbicara apapun. Tono yang melihat itu pun melakukan hal yang sama, membagi sambel teri milik nya.


"Besok aku bawa sarden di sambel pedes, mau di bawain sekalian tidak kang?" Tanya Satya pada kang Tono, membuat pria itu serba salah. Ekor mata nya melirik Narto yang terlihat merengut kesal, barangkali karena tidak ikut di tawarkan juga.


"Secukup nya aja mas, saya di bawa mau tidak ya tidak apa-apa." Sahut Tono bijak. Meski hati nya menjerit agar Satya sedikit peka, dia sangat ingin. Sudah sangat lama diri nya tidak makan ikan kaleng tersebut. Meski harga nya yang cukup terjangkau, namun saat memiliki uang, selalu tak pernah sampai ke sana. Terpangkas untuk cicilan motor nya juga mesin cuci sang istri. Karena kebutuhan rumah tangga, juga istri nya menerima upah mencuci pakaian para tetangga yang sedikit malas.


"Bansos apa gimana mas?" Tanya Tono penasaran.


"Suami tetangga ku baru pulang melaut, itu sisa ikan kaleng nya banyak. Semalam aku di antar satu dus besar sama kornet dua kaleng. Tar kapan-kapan kornet nya aku sambel buat lauk makan siang kita. Maaf tidak bisa bagi, cuma ada dua kaleng." Cerita Satya seraya menghabiskan suapan terakhir nya. Pria itu meneguk air minum dalam gelas kemasan hingga tandas.


"Puji Tuhan, kenyang..." Ucap Satya berucap syukur. Begitu pun Narto dan Tono yang mengucapkan hal yang sama dengan cara yang berbeda.

__ADS_1


"Habis ini lanjut ke restoran lagi mas? Ada lowongan tidak? Siapa tau butuh kurir atau apa gitu, bersih-bersih juga tidak apa-apa. Lumayan buat tambah-tambah uang dapur di rumah." Ucap Tono penuh nada harapan.


"Kemarin ada, nyari kurir sama bagian pantry. Nyupir gitu kang, alias nyuci piring." Kekeh Satya.


"Lah? Kenapa tidak bilang? Kan aku langsung otw lamaran di sana." Sungut Tono.


"Kang Tono baru nanya loh, mana tau kalo lagi butuh kerjaan tambahan. Kalo bagian waiters masih belum ada lowongan, kemarin aku untung-untungan karena pas lamar ada yang baru resign." Cerita Satya menatap rekan seprofesi nya itu.


"Aku juga mau mas, kalau masih ada. Nyuci piring juga tidak apa-apa, bagian bersih-bersih memang sudah profesi yang sulit untuk di hindari dari hidup ku. Maka nya sulit nemu perempuan yang mau nerima yang apa adanya seperti aku ini." Ucap Narto alamat curhat tanpa dia sadari, Tono dan Satya saling berpandangan satu sama lain. Mereka iba pada nasib cinta Narto yang bertepuk sebelah tangan.


"Wanita akan berdatangan dengan sendiri nya jika kau sudah mapan. Jadi jangan ribet urusan jodoh, jika dia memang memiliki rasa dengan mu tulus. Mau seberapa susah nya hidup mu, dia akan datang tanpa kau minta. Wanita yang tulus kadang harus di uji dahulu mental nya, siap apa tidak dengan hidup yang serba pas-pasan. Meski sebenar nya kau punya lebih, jangan pernah perlihatkan di awal. Biarkan mereka mengejar mu karena kau yang apa ada nya bukan kau yang ada apa nya." Nasihat Satya bijak.


Narto terdiam menimbang kalimat nasehat sang rekan kerja, sebelum sempat menjawab. Satya kembali bersuara.


"Aku akan ke tempat kerja, kalau mau ikut ayuk." Ujar pria itu datar.

__ADS_1


__ADS_2