Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kenyataan


__ADS_3

Savira bangun lalu berjalan perlahan menuju sofa, wanita itu duduk sembari menahan lelah di tubuh nya. Reaksi dari penyakit nya mulai terlihat saat dia mengalami stress berat.


Di sisa kelelahan batin nya, Savira angkat bicara. "Kau tau Savina, aku sedikit menyesal tak membiarkan bibi membuangmu ke panti asuhan saat kau masih kecil." Savina tercengang mendengar kalimat sang kakak yang begitu kejam, begitu pula Lexan.


"Apa maksudmu kak!" Desis Savina mulai tersulut emosi. Gadis itu berbalik menghadap Savira yang duduk memunggungi nya.


"Kau masih ingat wanita murah hati yang selalu kau panggil ibu? Ah aku lupa, usiamu baru lima tahun lebih saat ibu meninggal kan kita untuk selama nya." Ucap Savira tenang, tak sama sekali terpancing oleh situasi yang terjadi.


"Aku ingat kak, sangat mengingat nya dengan jelas. Dia ibuku, bagaimana bisa kau berpikir aku melupakan nya dengan mudah." Nada suara Savina naik satu oktaf, Savira masih duduk tenang tak bereaksi apapun. Membiarkan emosi sang adik naik turun bagai rollercoaster. Dengan begitu akan mudah membuat Savina yang keras kepala, sedikit mengerti siapa diri nya.


"Sungguh? Ah ya, tentu saja kau sangat mengingat nya. Ibu ku adalah wanita baik, untuk itu dia sangat sulit untuk di lupakan. Meski itu tak berlaku bagi ayah. Pria bajingan itu dengan tega berselingkuh di belakang ibu dengan seorang wanita *** *** hingga menghasilkan benih haram." Dada Savira terasa sesak, kala mengingat luka lama tersebut. Usia nya 8 tahun saat sang ayah membawa seorang wanita juga balita satu tahun ke rumah mereka.


Dengan tanpa perasaan, sang ayah meminta sang istri merawat anak nya. Karena ibu kandung nya tak bisa meninggalkan pekerjaan nya berdagang daging segar. Dan keberadaan bayi itu, sungguh mengganggu intensitas pekerjaan nya.

__ADS_1


Ibu nya yang baik dan tabah menerima bayi satu tahun itu dengan kasih dan kesabaran tak terbatas. Merawat nya dengan penuh kasih sayang. Setelah menitipkan bayi malang itu, sang ayah tak pernah lagi pulang. Begitu pula wanita yang kata nya hanya sekedar menitipkan sang anak selama dia bekerja, membuka lahan basah nya. Kedua nya tak pernah kembali, hingga bertahun-tahun lama nya.


Savina kecil tumbuh dalam asuhan dan cinta yang tulus dari sang ibu tiri.


Hingga saat Savina berusia 5 setengah tahun, sang ibu berpulang karena penyakit yang sama dengan nya saat ini. Savina kecil ingin di antar oleh sang bibi, sepupu sang ayah ke panti asuhan. Namun Savira menolak nya, teringat pesan ibu nya agar merawat Savina dengan baik jika diri di panggil pulang. Savina, nama pemberian sang ibu. Karena bayi malang itu, bahkan tak memiliki nama hingga berusia satu tahun.


"Katakan dengan jelas kemana arah pembicaraan mu kak. Jangan membuat ku bingung." Desak Savina mulai merasakan hawa-hawa tak baik dari kalimat sang kakak.


"Ibu ku tak pernah melahirkan mu Savina, kau adalah anak haram ayah ku bersama wanita tuna susila. Yang dengan enteng di serahkan seperti barang kepada ibu ku yang malang. Lihatlah, bagaimana ibu ku begitu menyayangi mu. Tak membiarkan ku makan dengan kenyang agar kau bisa makan sepuas nya. Tanpa peduli jika diri nya sendiri belum memakan apapun. Sekarang kau membalas kasih sayang ibu ku dengan cara yang luar biasa. Menjelaskan siapa dirimu yang sebenar nya, berasal dari mana kau sesungguh nya. Aku hampir tak percaya, telah membesarkan seekor ular, yang kini tengah mematuk ku dengan bisa yang mematikan."


Sedangkan Lexan terpekur seolah tak percaya. Namun kenyataan baru saja menampar nya. Kata-kata Savira telah membuat nya sadar akan sesuatu. Darah lebih kental dari air. Hubungan apapun yang di bangun meski dengan penuh kasih, jika darah itu mulai mengaliri seluruh tubuh mu. Tetap saja, kau membawa gen yang tak jauh berbeda.


"Itu tidak mungkin kak, ibu selalu bilang aku adalah putri kesayangan nya. Ibu lebih menyayangi ku melebihi dirimu. Kau pembohong! Kenapa kau mengatakan hal yang tidak-tidak untuk menekan mental ku hah!. Apa sebenarnya niatmu, kenapa kau begitu ingin aku enyah dari kota ini? Apa kau sudah lelah menjadi tumpuan ku? Katakan saja! Aku sudah bisa menghidupi diri ku sendiri, bahkan lebih baik dari apa yang bisa kau berikan untuk ku!" Teriak Savina lantang.

__ADS_1


Savira tertawa hambar, sungguh hati nya sangat sakit mendengar kalimat pongah sang adik.


"Tentu saja kau lebih mampu, adikku. Tuan Lexan tentu tak memakai mu secara gratis, bukan?" Lexan hampir terjengkang mendengar kalimat Savira. Apa wanita itu sudah tau tentang hubungan nya dengan Savina. Oh, Tuhan! Jiwa Lexan ketar ketir tak karuan. Keringat dingin mulia mengucur dari kepala nya, ketakutan nya semakin bertambah saat mendengar kalimat Savira berikut nya.


"Berapa pria bajingan itu membayar harga selang ka ngan mu Savina? Ku harap kau memiliki tabungan yang cukup mengingat sudah setahun kau menjadi penghangat ranjang nya. Karena setelah ini, aku tak yakin tuan Lexan bisa memberikan mu kemewahan meski hanya berupa uang recehan." Deg!


Jantung Harland semakin berdegup sangat kencang, tubuh nya sudah basah oleh keringat ketakutan. Sudah selama itu Savira mengetahui perselingkuhan nya. Apa sang istri juga mengetahui nya? Benak Lexan benar-benar penuh dengan segala praduga, pikiran nya bagai terlilit benang kusut.


Kedua lutut nya hampir tak mampu menopang beban tubuh dan pikiran nya, namun mengingat jika diri nya sedang terkurung di dalam kamar mandi. Lexan berusaha menguatkan kedua kaki nya agar tetap kokoh.


Dengan bibir bergetar, Savina menatap sang kakak.


"Kakak sudah mengetahui nya? Sejak kapan? Ini kah alasan kakak ingin mengajak ku pergi jauh dari kota ini? Tidak kak! Aku tidak mau! Bagus jika kakak sudah mengetahui nya, aku tak perlu lagi berpura-pura polos di hadapan mu kak. Dan ya, aku siap menanggung segala resiko nya. Selama aku masih bisa bersama kak Lexan, aku tak akan menyingkir begitu saja. Aku lah yang membuat kak Lexan bahagia, bukan bos mu yang sok suci itu!" Teriak Savina di ujung kalimat nya. Lexan mematung, Savina benar-benar di luar dugaan nya.

__ADS_1


Kini masalah nya akan semakin runyam oleh gadis labil itu.


"Ini terakhir kali aku meminta mu Savina, hentikan kegilaan ini sebelum kau menyesal. Kau belum tau sepak terjang keluarga Sanders Pratama. Jika hanya untuk memastikan mu musnah bagai abu, itu hanya bagian kecil yang sangat mudah untuk di lakukan. Jadi saran ku, sudahi perjalanan kalian yang telah keluar jalur ini. Dan tuan Lexan, keluar lah dari kamar mandi itu. Aku yakin anda pasti sangat lelah berdiri dan menguping pembicaraan kami." Lexan tersentak hingga terinjak kaki nya sendiri.


__ADS_2