
Dengan gugup, Sela memberikan pembelaan pada kedua putri kesayangan nya. "Jihan dan Indri masih terlalu muda, lagi pula mereka punya banyak kegiatan lain selain belajar. Gisel sangat tertutup dan tak suka bergaul, jadi waktu belajar nya lebih banyak." Bela Sela tak suka jika kedua putri nya di banding-banding kan dengan Gisel.
"Ku lihat piagam, medali dan piala milik Gisel tertera tanggal yang menunjukkan usia nya dari sejak usia 8 tahun. Kenapa kedua adik nya tak berusaha untuk mengikuti jejak Gisel. Ku lihat nilai-nilai di raport kedua nya tak pernah melebihi angka 7. Seperti ada yang berbeda dengan gen kecerdasan Jihan dan Indri."
Sela sontak membelalakkan kedua matanya, saat mendengar kata gen yang berbeda dari mulut suami nya. Jelas saja berbeda, Jihan dan Indri benih dari pria lain. Yang kemampuan berpikir nya hanya sebatas selang*k*angan nya saja.
"Kenapa kau malah membandingkan anak-anak kita seperti itu, jika Jihan dan Indri mendengar nya. Mereka pasti akan sangat sedih." Tukas Sela dengan wajah yang sendu.
"Ah, maaf. Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat, apa kau tak pernah memeriksa raport kedua nya? Jelas mereka sering membolos di jam pelajaran, ku lihat mereka sering tidak hadir tanpa keterangan. Dalam satu semester lebih dari 12 kali. Apa kau tak mendapat kan laporan dari pihak sekolah? Aku berencana akan menemui wali kelas nya nanti jika sudah ada waktu senggang. Aku ingin tau kebenaran nya sendiri." Tutur Roky tenang.
Sela meremat ujung dress nya, bukan nya dia tak tau. Namun dia berusaha menutup mata dan telinga nya. Dia tak ingin kedua anak nya terlihat buruk di mata sang suami, terlebih kedua nya bukan lah benih pria itu.
Susah payah dia membuang nurani nya untuk menyingkirkan Gisel dari perhatian Roky selama ini. Agar hanya jihan dan Indri lah yang di pandang penuh cinta dan perhatian oleh suami nya. Namun sekarang terancam hanya perkara hal sepele seperti ini. Tidak! Dia tak rela.
__ADS_1
"Biar aku saja pa, mungkin mereka punya alasan untuk bolos. Mungkin sedang sakit dadakan, kau kan tau sendiri siklus perempuan. Barangkali mereka malu untuk melaporkan hal semacam itu pada guru. Jihan baru 13 tahun lebih sayang, pikiran nya masih labil. Dan Indri, kau tau anak bungsu kita itu sangat manja. Usia nya juga baru 12 tahun. Dia pasti tak akan berpikir jauh jika membolos adalah hal yang tak baik." Lagi-lagi Sela membela kedua anak nya.
Astaga! Roky sungguh ingin tertawa sambil berguling-guling di lantai mendengar sederet kalimat pembelaan sang istri. 12 tahun? Dan masih belum memahami arti bolos itu tak baik? Ya Tuhan, Roky mulai meragukan gelar dokter yang dulu di sandang oleh sang istri.
13 tahun dan masih labil, mungkin masih bisa di maklumi. Namun apapun itu, tak ada pembenaran dari sikap semena-mena kedua nya. Yayasan tersebut milik sang adik, akan sangat memalukan jika sampai Rosy mengetahui nya. Atau adik nya memang sudah mengetahui nya, namun tetap diam seperti biasa nya.
"Baiklah, hanya saja aku akan tetap menemui wali kelas nya nanti. Kau boleh ikut bersamaku jika mau. Aku penasaran, prestasi apa yang sudah di torehkan oleh kedua putri mu itu selama ini." Ucap Roky final dan tak ingin di bantah lagi.
Sela semakin tak karuan, ruangan yang sejati nya dingin itu. Kini terasa panas seperti membakar kulit wajah nya.
"Tidak masalah sekali-kali seorang ayah harus tau mengenai anak-anak nya meski hanya hal sepele. Ah, aku menelepon mu tadi karena ingin menyampaikan beberapa hal mengenai Gisel."
Lagi-lagi jantung Sela seperti di pacu dengan voltase tertinggi. Telapak tangan nya semakin basah karena terus mengeluarkan keringat.
__ADS_1
Roky menatap manik gelisah sang istri dengan hati puas. Ini yang dia ingin kan. Membuat mental Sela seperti di obrak abrik.
"Memang nya masalah apa lagi yang di lakukan anak itu? Gisel benar-benar susah sekali di atur." Ujar Sela berusaha meredam kegelisahan nya. Entah-entah sang anak sudah bercerita segala perbuatannya pada sang suami. Namun melihat reaksi Roky yang biasa saja, pasti sang anak belum bercerita apapun. Dan dia harus bertemu dengan anak itu untuk mengancam nya, Gisel akan patuh karena anak itu takut pada nya.
"Kenapa kau langsung menebak masalah yang di lakukan Gisel, apa selama ini putri ku itu sering membuat ulah, Sela?" Tanya Roky dengan tatapan menyelidik. Dia tau dan berusaha menekan emosi nya agar tak meledak. Itu adalah kesepakatan nya dengan Andin sebelum menemui istri nya.
Sela terlihat salah tingkah, Gisel tak pernah membuat masalah. Masalah itu terletak pada diri nya yang tak menerima Gisel terlahir sebagai anak perempuan. Gisel membuat garis keturunan keluarga Sanders terputus, dan dia sangat membenci anak itu hingga tak Sudi bersikap baik pada anak nya sendiri.
"Maksudku, mungkin saja Gisel sedang membuat masalah besar sampai kau harus membahasnya. Ini seperti bukan diri mu, kau selalu menyerah kan segala hal tentang anak-anak pada ku. Jadi sedikit mengherankan saja, jika kau sampai turun tangan sendiri pada masalah yang merupakan bagian ku sebagai seorang istri dan ibu." Elak Sela tersenyum manis untuk menutupi kegelisahan hati nya.
Roky menghela nafas berat, dia baru tau sekarang istri nya memiliki seribu satu macam alasan untuk menutupi alasan lain. Sungguh trik yang luar biasa.
Belasan tahun hidup bersama, ternyata tak membuat nya benar-benar mengenal sosok wanita di hadapan nya itu. Saat tahu jika Sela sudah tak lagi bersegel di malam pertama mereka, Roky tak terlalu kecewa.
__ADS_1
Apa lagi alasan yang di utarakan oleh sang istri waktu itu sungguh menyentuh hati nya. Sela di perkosa oleh sepupu dari keluarga angkat nya saat berusia 16 tahun.
Namun kini dia mulai tak yakin, mengingat Sela sudah menghasilkan dua benih dari Bram. Pria yang dia kenal sebagai sepupu sang istri dari kota S. Bisa jadi pria itu pula yang sudah mendahului nya menjamah tubuh wanita itu.