
"Andai aku bisa menukar takdir, maka akan aku lakukan dengan ikhlas hati. Sungguh aku menyayangimu mom, hingga tak sedikit pun tersisa cinta untuk wanita yang telah melahirkan kan anak haram ini ke dunia. Aku tak bisa melihat mu larut dalam luka lama, tapi aku juga tak mampu untuk menyembuhkan luka mu. Ya Tuhan, tarik lah roh anak haram ini, sungguh aku tak sanggup melihat wanita kesayangan ku masih menyimpan dendam nya seorang diri. Aku mencintai nya dengan seluruh nafas hidup yang aku punya, tolong berikan keluarga baik hati ini kebahagiaan tanpa batas. Terutama dia yang selalu ku panggil ibu dengan hati berbunga-bunga." Naura menelungkup kan wajah nya ke permukaan meja dapur.
Wanita itu mendadak sangat mellow dan rapuh, ketidakrelaan nya melihat kesedihan di wajah sang ibu. Sungguh menggerogoti jiwa nya yang belakangan sering berubah mood tak jelas.
Seorang wanita mengusap air mata yang mengalir deras di pipi nya. Tak dia sangka, jika Naura sudah mengetahui semua nya. Entah bagaimana bisa anak itu mengetahui nya, yang jelas kini ada sesal menubruk relung hati nya. Dendamnya telah membuat hati sang anak ikut terluka sangat dalam. Entah sejak kapan Naura mengetahui nya, yang jelas terlihat Naura begitu tertekan dengan kondisi saat ini.
Dengan langkah pelan Noora menuju ke arah sang anak berada.
"Sayang..." Lirih Noora dengan bibir bergetar. Naura lekas menghapus air mata nya sebelum mengangkat kepalanya. Wanita hamil itu tersenyum manis melihat sang ibu berdiri persis di samping kursi nya.
"Aku sedikit lapar, jadi aku sedang mencari Ilham, makanan apa yang ingin aku buat untuk si mungil ini." Cerita Naura berseloroh ringan. Namun Noora justru semakin menangis keras.
Dia tau kebiasaan Naura jika datang ke sana, putri nya itu pasti ingin di buatkan sesuatu oleh nya. Namun kini terpaksa mengabaikan keinginan nya karena tak enak hati merepotkan nya lagi. Sungguh hati Noora seperti tercubit keras.
__ADS_1
"Mom? Kenapa kau menangis, apa kau sebegitu terharu nya melihat kemalasan putri mu ini hmmm?" Goda Naura dalam pelukan Noora.
"Maafkan keegoisan mommy sayang, mom tak sadar telah melukai hati mu juga dengan sikap keras kepala mommy." Ucap Noora terisak. Paul mengintip dari balik lemari pembatas dengan ruang makan. Pria itu mengusap air matanya yang mengalir tanpa permisi, dia sudah akan menghampiri Naura saat mendengar curahan hati sang anak. Namun rupanya langkah nya kalah cepat, sang istri sudah lebih dulu menghampiri putri sulung nya.
"Mommy tak egois, keras kepala itu perlu jika kita memiliki suami yang sedikit mengesalkan." Canda Naura mencair kan suasana. Dia tak ingin sang ibu semakin larut dalam kesedihan nya.
"Sejak kapan?" Naura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sungguh dia tak berminat untuk membahas kenyataan yang telah lama dia ketahui. Dia merasa malu, aib seperti nya di besar kan oleh orang yang hati nya di lukai sangat parah, oleh kedua orang tua kandung nya.
"Sayang?" Noora menangkup wajah bulat sang anak dengan sayang, hingga akhirnya air mata Naura mengalir deras.
"Maafkan mommy sayang, tolong jangan benci mommy. Mom sangat menyayangi mu, sama seperti rasa sayang mommy pada adik-adik mu. Tetap lah menjadi putri mommy sampai kapanpun, mom mohon." Lirih Noora dalam ketakutan yang mulia menjalar dalam hati nya. Sungguh dia takut kehilangan putri nya itu, demi apapun, Naura adalah pelita hidup nya kala kegelapan meliputi seluruh kehidupan nya di masa lalu.
"Bagaimana bisa aku membenci mu mom, aku bahkan sangat menyayangi mu. Kau adalah ibuku satu-satunya, dan hanya kau yang aku tau begitu mencintai ku melebihi rasa sakit hatimu. Aku lah yang takut mommy akan membenci ku, namun berusaha menutupi nya dalam diam." Balas Noora tak kalah lirih.
__ADS_1
"Tidak sayang, mom tak pernah membenci mu. Kau permata hati mommy, putri sulung yang mengajarkan mommy arti menjadi seorang ibu yang sempurna. Jadi, mari kita lupakan kisah lalu. Mommy akan belajar melupakan nya, dan berdamai dengan kenyataan yang ada. Apa kau sudah mengetahui siapa yang mendonorkan organ tubuh nya untuk Silvery?" Tanya Noora penuh selidik.
Naura mengangguk pelan, membenarkan praduga sang ibu.
"Aku bahkan berniat menusukkan pisau bedah ku hingga menembus jantung nya, kala baru saja menyelesaikan operasi terakhir." Mata Noora membelalak sempurna, saat mendengar kalimat yang meluncur tanpa beban dari mulut sang anak.
"Hushhh! Kau sedang hamil sayang, tak baik berbicara buruk apalagi dia adalah ayah kandung mu. Mommy tak ingin kau menjadi anak durhaka. Apa kau pernah mengunjungi ibu mu selama ini?" Tanya Noora tersenyum hangat. Tak ada kemarahan di wajah wanita paruh baya itu, rupanya Noora benar-benar berusaha konsisten pada tekadnya untuk berdamai dengan keadaan.
"Tidak. Aku tak ingin melihat nya, ibu ku ada di dalam rumah ini. Wanita itu hanya seseorang yang di takdir kan untuk melahirkan ku saja. Sungguh aku tak berniat untuk bertemu apalagi bertegur sapa dengan nya." Sahut Naura terlihat kilat kebencian di kedua matanya. Noora mengernyit heran.
"Kau harus bertemu dengan nya suatu saat nanti, itu saat kau sudah siap mommy tak akan melarang mu. Apa kau ingin mommy melepaskan nya, maksud mom, jika saja kau berniat untuk merawat nya di rumah kalian. Mommy tak akan keberatan, kau berhak untuk melakukan nya bagaimana pun beliau adalah ibu kandung mu." Nasihat Noora bijak.
"Tidak sekarang mom, mungkin saat hati ku siap." Jawab Naura seraya tersenyum, namun hati nya berkata lain. "Tak akan ada lain kali, dan hati ku tak akan pernah siap sampai kapan pun. Seseorang yang telah melukai hatimu namun tak pernah merasa bersalah hingga detik ini, juga orang yang telah membuat bibiku mengakhiri hidup nya sia-sia. Wanita seperti itu tak akan pernah aku maafkan, hingga akhir hidup ku." Batin Naura berbisik jahat.
__ADS_1
"Terserah kau saja sayang, mom akan menuruti apa yang baik menurut mu." Putus Noora, dia tak ingin memaksakan sang anak. Terlebih kondisi Naura tengah hamil besar, dia tak ingin putri nya merasa tertekan.