
Dua minggu sejak di mana Harland mendatangi rumah nya, pria itu tak pernah terlihat lagi. Bahkan untuk urusan pekerjaan, Harland sering tidak ada di tempat tanpa alasan yang jelas. Seorang kepercayaan nya yang selama ini bertugas untuk memantau aktivitas sang suami. Selalu melaporkan apa saja yang di lakukan oleh pria itu, hingga memantau hubungan Sindy dan suami nya selama menjadi sekretaris satu tahun ini.
Rosy bukan wanita bodoh, namun diam nya ternyata membuat Harland merasa besar kepala. Berpikir jika sang istri selalu mempercayai alasan lembur nya, adalah sebuah kebodohan hakiki.
"Apa paman sudah mengurus semua nya?"
"Sudah nona, sesuai perintah anda." Jawab Robin singkat.
"Bagaimana reaksi nya saat menerima surat cinta dari ku, apa pria itu langsung bersujud syukur dengan burai air mata kebahagiaan..." Robin terdiam, dia tak tau harus menjelaskan situasi yang terjadi saat Harland menerima surat perceraian dari nya.
"Katakan, paman. Aku penasaran bagaimana reaksi pria bodoh itu saat membuka lembar demi lembar berkas perceraian kami. Aku yakin Harland pasti langsung memeluk erat kekasih gelap nya dengan perasaan penuh keharuan." Robin masih bergeming. Netra nya menatap nanar Ke arah nona muda nya. Hati nya perih mendengar kalimat lirih penuh nada ketegaran dari sang nona kesayangan nya itu.
"Tuan Harland hanya mengucapkan terimakasih, nona. Setelah nya hanya ada keheningan, saat tuan Harland mulai menandatangani setiap lembar berkas perceraian yang saya berikan." Untuk pertama kali nya, selama masa pengabdian nya, Robin mengatur sebuah kalimat penuh kebohongan pada sang nona muda. Lebih baik dari pada harus melihat nona nya terluka untuk kesekian kali nya.
Ada segumpal awan mendung menghiasi manik bening Rosy. Senyum miris terlihat jelas di bibir nya. Ternyata semudah itu Harland menghempas nya bagai sampah. Apa yang dia harapkan dari pria brengsek itu? Rosy merasa bodoh telah memupuk sedikit harapan pada Harland yang jelas-jelas seorang bajingan.
"Terimakasih paman. Sudah membantu ku mengurus semua nya. Apakah pria itu sudah bersiap angkat kaki dari perusahaan ku?" Rosy bertanya sekali lagi untuk memastikan. Pandangan mata nya menatap kosong ke arah jendela kaca besar di hadapan nya. Bangunan rumah sakit setinggi 12 lantai tersebut, menjadi saksi bisu separuh hidupnya.
"Sudah nona, bahkan tuan Harland sudah akan bersiap pergi saat aku tiba di sana." Terang Robin kembali berbohong dengan nada tanpa keraguan. Masalah Harland akan dia serah kan pada anak buah nya. Pergi secara suka rela, atau pergi dalam keadaan terluka. Pria brengsek itu hanya punya dua pilihan, dan dia yakin Harland lebih memilih pilihan yang pertama.
Senyum kecut sang nona, mengiris hati Robin semakin dalam. Puluhan tahun mengabdi pada keluarga Sanders, tentu dia tau banyak lika-liku perjalanan keluarga itu. Termasuk juga perselingkuhan tuan besar nya, dengan seorang wanita muda yang tak lain adalah sahabat putri tuan nya sendiri. Namun nyonya Rosa yang baik hati, selalu berusaha mempertahankan pernikahan tak sehat itu sedemikian rupa. Sehingga kejadian naas itu merenggut nyawa sang nyonya tepat di hadapan nya tanpa bisa dia cegah.
__ADS_1
Robin menyimpan rasa bersalah di hati nya, seperti segumpal daging yang terus berkembang biak di sana. Rasa nya sangat tidak nyaman dan itu menyakiti nya seperti sebuah hukuman.
"Baik lah paman. Sekarang paman bisa pergi. Siang ini aku ada sedikit pekerjaan. Tolong bantu aku dalam menangani peralihan kepemimpinan perusahaan. Aku berencana ke luar kota untuk beberapa hari, atau mungkin untuk waktu yang tak tentu pasti. Mungkin ponsel ku akan sedikit sulit untuk di hubungi. Jangan mencemaskan ku, aku tidak pergi seorang diri. Bukan kah paman selalu mengirimkan banyak ninja untuk menjagaku?" Seloroh Rosy tertawa kecil.
Robin tersenyum lalu mengangguk pelan, membenarkan ucapan sang nona. Dia mengirim beberapa orang dengan keahlian khusus untuk menjaga nona muda nya dengan jurus ninja. Agar nona nya tak mengetahui, namun dia lupa jika Rosy kecil nya telah tumbuh dewasa dan semakin cerdas.
Setelah Robin keluar dari ruangan nya, Rosy memejamkan kedua matanya. Berusaha mengalihkan pikiran nya dari segala konflik yang ada. Seharusnya dia lega, karena sebentar lagi dia akan mengirim wanita iblis itu ke jalur cepat menuju pintu karma. Namun hati nya malah merasakan sebuah kekosongan. Apakah luka itu sudah terlalu dalam untuk di obati?
POV Rosy
Aku merasa kan kegetiran, saat ku tau reaksi biasa mantan suami ku saat menerima surat putusan perceraian dari pengadilan. Apa yang aku harapkan? Pria itu iba dan memilih mempertahankan pernikahan kami? Meminta maaf dan berlutut menyembah ku penuh puja? Ya Tuhan! terlalu lama terkurung dalam kegelapan tanpa cahaya bersama pria brengsek itu, membuat otak cerdas ku mendadak lemot tak berdaya.
Keputusan sidang perceraian ku memang terbilang cepat, melalui bantuan paman Robin semuanya teratasi dengan mudah dan kilat. Entah bagaimana pria tua datar itu bisa membuat segala nya semudah membeli permen coklat di pedagang kaki lima.
Kini aku punya alasan untuk pergi, alasan yang selama ini aku pendam demi mempertahankan pernikahan ku yang sedari awal sudah cacat. Harus nya aku sadar diri, Harland berkali-kali salah menyebut nama Sindy saat kami tengah memadu kasih. Namun ego ku menjadi tak berarti, saat aku di perlakukan manis di esok hari nya. Anggap saja aku wanita leman dan bodoh, namun jika keadaan di balik. Aku yakin, wanita yang berada di posisi ku pun pasti merasakan hal yang aku rasakan. Di depan di perlakukan semanis madu, di belakang di tikam dengan sembilu. Begitu lah Harland memperlakukan ku.
Aku hanya wanita biasa, naluri ku bekerja sesuai dengan situasi yang ada. Kini aku benar-benar mengerti, jika perasaan tidak bisa di paksakan. Aku menyerah, semoga pilihan mu tidak akan kau sesali di kemudian hari. Karena aku tak yakin, mampu menerima sampah yang sudah ku sepah.
π·π·π·π·π·π·π·
POV author
__ADS_1
Di sini lah Rosy, duduk di ruang tunggu sebuah bandara. Kepergian nya kali ini adalah untuk memulihkan hati nya yang telah terluka parah. Anggap saja diri nya bodoh, karena telah menaruh harapan pada pria yang sama sekali tak pernah menoleh pada nya sedikit pun.
"Nona, tiket anda...semua sudah saya persiapkan, di sana akan ada orang yang menjemput anda dan mengurus segala nya. Saya akan menyusul jika semua urusan di sini sudah selesai." Ujar Robin menunduk sopan setelah memberikan tiket penerbangan Rosy yang sudah dirinya urus kelengkapan nya termasuk check-in.
"Terimakasih banyak paman. Jangan terlalu di porsir, kerja kan saja sesuai porsi nya masing-masing. Sisa nya biarkan saja dulu. Nikmati beberapa waktu untuk bersantai sebelum menyusul ku, aku akan mengurus segala keperluan ku di sana. Lagi pula ada bibi Marta, aku akan sangat terbantu oleh nya." Marta adalah asisten rumah tangga, wanita paruh baya itu sudah mengabdi selama 33 tahun di keluarga Sanders.
"Nona tidak perlu memikirkan saya, fokus saja pada kehidupan baru yang nona jalani ke depan nya nanti. Maaf tidak bisa mengantar anda pergi, semoga perjalanan nona lancar dan selamat sampai tujuan." Balas Robin tersenyum tulus. Senyum pertama yang Rosy lihat, karena biasanya orang kepercayaan nya itu selalu menampilkan wajah datar dan serius.
"Seperti nya penebangan ku akan segera take off, aku harus masuk." Ujar Rosy mengalihkan topik. Hati nya mendadak mellow. Robin hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tau seberapa besar luka menganga di hati sang nona muda.
Robin menatap dalam punggung kecil yang tengah menanggung banyak beban tersebut dengan pikiran berkecamuk. Tuan besar nya telah melakukan banyak kesalahan, yang tanpa di sadari. Rosy lah yang memperbaiki segala masalah masa lalu kedua orang tua nya. Wanita muda itu pantas untuk bahagia, setelah terlalu banyak mengalah.
"Semoga kehidupan baru akan membawa anda pada puncak kebahagiaan yang tak terbatas, nona." Terucap doa tulus dari bibir tebal Robin untuk nona muda nya. Pria itu berbalik menuju mobil untuk kembali ke perusahaan. Banyak kecurangan yang telah di lakukan oleh mantan suami sang nona, namun wanita baik hati itu mencegah nya untuk melakukan serangan balik.
Entah apa yang tengah di rencanakan oleh Rosy, namun Robin percaya. Semua keputusan nona nya, tak pernah salah. Terbukti wanita muda itu mampu memulihkan keadaan perusahaan yang kacau balau akibat ulah sang ayah. Dalam diam nya, otak cerdas Rosy selalu bekerja tepat sasaran.
π·π·π·π·π·π·π·
βSepi banget, othor agak sedih sih... B'd way, it's okay lah... Menulis adalah hobby terpendam di sela kesibukan pokok dan lain nya. Terimakasih sudah ada yang bersedia mampir, dan jadiin novel receh ini sebagai favorit di rak baca kalianπ€ππ₯°
βUpdate nya sedikit slowly, but tetap akan terus update tiap hari. Jadi, thinkyuu atas kesediaan nya masih stay di sini. Love yuuh epribadeeehhh π€π€π₯°π₯°
__ADS_1