
Hingga detik ini, Lexan masih belum berani menyentuh sang istri. Karena lagi-lagi pria itu tak berani memperlihatkan tubuh nya yang di penuhi oleh jejak dosa nya bersama wanita lain. Bagi Noora itu suatu ketenangan batin, dia tak perlu membiarkan tubuh suci nya di nodai oleh jamahan dari tangan kotor suami nya yang brengsek.
Klek
Terlihat Savira masuk dengan raut wajah tak terbaca, wanita itu menghampiri sang atasan lalu berdiri persis di samping meja kerja Noora. Tatapan meminta belas kasih yang sangat Noora benci belakangan ini, di mana hati nya mulai mengeras kayaknya batu karang.
Noora melirik sekilas kemudian melanjutkan pekerjaan nya, dia tau Vira akan mengatakan sesuatu pada nya yang dia sendiri sudah ketahui.
"Aku akan mengirim adik ku ke Surabaya, dan aku harap setelah berada sejauh itu, Savina tak lagi dapat mengganggu ketentraman rumah tangga anda nona. Aku tau kata maaf tak akan mampu menembus rasa sakit yang anda alami akibat perbuatan buruk adikku. Setidak nya, ijinkan aku terus mengabdi padamu hingga batas ku berkahir. Jika saat itu tiba dan Savina masih berulah, lakukan apa yang ingin anda lakukan pada nya. Aku tak akan menghalangi nya lagi. Jika sebuah nasihat dan teguran halus tak dapat menyadarkan nya, maka lakukan teguran dengan cara anda. Aku akan menerima nya dengan lapang dada." Ucap Savira dengan nada putus asa namun terselip harapan yang besar agar sang nona masih berkenan mengampuni sang adik.
Noora menghentikan aktivitas nya lalu menoleh pada sang asisten, tatapan sukar yang tak dapat di jabarkan.
"Apa selama kau menjadi asisten ku, aku pernah berlaku tidak adil padamu, Savira?" Skak! Savira meneguk ludah nya susah payah namun terlihat menggeleng cepat.
__ADS_1
"Apa aku pernah berlaku buruk padamu, juga adik mu sehingga aku pantas untuk di sakiti sedalam ini?" Lagi-lagi Savira hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tatapan datar Noora membuat keberanian yang telah dia kumpul sejak semalam, lenyap seketika. Terhempas hingga dasar samudera tak bertepi.
"Benar sekali! Aku tak pernah berlaku tidak adil, aku tak pernah menyakiti mu dan aku selalu peduli pada mu, memperlakukan mu layak nya seorang kakak perempuan bagi ku. Lihat lah kado pernikahan apa yang adik tercinta mu berikan untuk ku. Adik mu menggores pisau tepat di jantung ku, menebar bara untuk membakar hati ku dan lihatlah, gadis kecil itu bersikap layak nya seorang peri yang polos. Katakan Savira, sebesar apa lagi kesabaran yang kau pinta dari wanita malang ini? Seluas apa lagi aku harus melebar kan hati ku atas pengkhianat adik mu? Beri aku jawaban yang dapat menyentuh dasar hati ku, maka adik mu akan aku ampuni. Sekarang pergilah, melihat wajah seperti bermain dengan dua sisi silet. Keduanya sama-sama melukai."
Sekali berkedip saja, embun bening yang muncul di tengah terik itu akan meluncur bebas. Savira tak mampu berkata apapun, tak ada pembelaan yang pantas untuk dia berikan untuk sang adik tercinta. Dengan langkah gontai, Savira keluar dari ruangan Noora. Satu minggu ini Noora selalu menghindari nya, membiarkan semua urusan pekerjaan di tangani oleh Salma sekretaris nya.
Dia tau betapa Noora pasti akan terluka setiap kali melihat wajah nya. Wajah yang begitu mirip dengan garis yang nyaris sama persis dengan sang adik. Dulu dia akan bangga saat seseorang memuji kemiripan tersebut, sekarang kemiripan itu layak nya malapetaka bagi nya.
Kenapa harus adik nya? kenapa bukan wanita lain saja? Banyak andai di dalam benak rapuh nya. Dia tau Noora sedang menyiapkan pembalasan atas luka yang adik nya berikan, untuk itu dia lebih dulu menyerahkan diri ke tengah medan perang. Sayang sekali, dia kalah argumentasi, dia kalah persiapan, dia kalah posisi, dia kalah telak dalam segala hal.
Nyata nya mengenal Noora selama lima tahun, tak membuat nya benar-benar memahami kepribadian wanita itu. Noora bisa sangat ceria di waktu tertentu, dan bisa terlihat serius untuk sebuah situasi lain, dan bisa terlihat tak tersentuh meski sudah sangat dekat dengan nya. Sungguh Savira ingin mengikat tambang di leher nya sendiri, menghadapi seorang Noora seperti menghadapi raja neraka. Membuat suasana panas dan mendebarkan, tatapan tajam nya mampu mengguncang mental seseorang.
Di tempat lain, Lexan terlihat begitu serius membaca sebuah berkas laporan keuangan yang baru saja tiba di meja kerja nya. Dari riak wajah nya, Lexan tampak sedang gusar.
__ADS_1
"Kenapa bisa turun sampai sedrastis ini Novry? Dalam satu minggu? Apa ini masuk akal!" Sentak Lexan marah. Nilai saham yang mendadak anjlok membuat kepala nya berdenyut hebat. Kenapa bisa dia kecolongan, minggu lalu semua masih baik-baik saja sebelum pernikahan nya di laksanakan. Kenapa bisa begini, sungguh Lexan nyaris gila memikirkan nya. Seharusnya berita pernikahan nya akan membuat nilai saham naik, dan tentu bisa membuat beberapa investor melirik perusahaan nya dan mulai bergabung menjalin kerjasama. Kini malah sebaliknya. Sungguh Lexan tak habis pikir di buat nya.
"Segera atasi ini Novry, aku ingin melihat laporan baru dengan nilai saham yang sudah stabil ada di mejaku besok pagi." Titah Lexan tak mau tau, pria itu melempar map berkas yang membuat kepala nya nyaris pecah saat membacanya.
Novry tak menjawab, pria itu memungut berkas yang berserakan dengan hati dongkol.
"Saya akan mengusahakan nya tuan, seluruh tim IT akan saya kerahkan untuk mencari sumber masalah ini. Saya permisi tuan." Ujar Novry pamit undur diri, membawa hati kesal berkecamuk di menjadi satu kesatuan.
"Jika anda ingin membuat perusahaan ini berjalan baik, maka jangan pernah bermain-main dengan orang yang salah tuan." Gerutu Novry saat tiba di luar ruangan Lexan. Pria itu menatap sinis daun pintu sang atasan dengan seringai mengejek.
Menghubungi tim IT? Cih! Tidak akan dia lakukan secepat itu Orlando. Berjuang lah dulu jika ingin mendapatkan keuntungan.
"Anda harus merasakan panik nya kelimpungan dalam kecemasan yang anda buat sendiri. Dan nikmati hasil akhir nya nanti dengan lapang dada." Gumam Novry kemudian bersiul santai kembali ke lantai bawah di mana ruangan nya berada.
__ADS_1
Sedangkan di sebuah rumah mewah, seorang wanita tersenyum puas melihat hasil kerja orang kepercayaan nya.
"Nikmati Sedikit hadiah kecil dari ku, Lexan. Kau pantas mendapatkan nya, dan ini masih belum seberapa. Akan ada banyak kejutan lain yang akan menghampiri mu bagai mimpi buruk setiap hari. Karma tak pernah salah alamat, dia tau Kemana harus bertandang tanpa harus di suruh." Seringai puas tercetak di wajah nya.