
Setelah bertanya banyak hal mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh si ibu hamil. Tak lupa kedua nya berucap kata terimakasih sebanyak-banyaknya.
"Ini resep vitamin juga penguat kandungan. Harus rutin di minum, jangan sampai lupa lagi. Satu bulan ini aku ingin melakukan terapi melalui vitamin ini. Dan kita lihat perkembangan nya bulan depan. Aku harap ada kemajuan. Susu hamil nya bisa di tebus di apotik luar atau minimarket, itu juga harus rutin. Apapun yang menunjang kesehatan ibu dan bayi, harus di lakukan. Tuan, tolong perhatikan istri anda. Kondisi nya tak baik-baik saja. Nyonya butuh support sistem dari pasangan, dan anda harus selalu mendampingi nya setiap saat."
Maya hendak protes, namun genggaman erat tangan Odion membuatnya nya terdiam.
"Lepaskan..!" ketus Maya setelah mereka keluar dari ruangan dokter. Namun Odion malah merangkul pinggang Maya hingga merapat dengan tubuh nya.
Pria itu berbisik pelan di samping telinga Maya, membuat wanita itu risih karena menjadi tontonan orang-orang yang kebetulan lewat di sana.
"Kau lupa apa kata dokter? aku harus selalu mendampingi mu setiap saat." Ujar Odion tersenyum penuh kemenangan.
"Yang dokter maksud kan adalah suami ku, bukan kau!" hardik Maya mendesis kesal.
Odion tak marah, Pria itu malah tertawa kecil.
"Aku adalah ayah nya, jadi aku adalah suami mu. Belum resmi, tapi akan. Aku sudah mengurus nya. Kelak ketika anak kita lahir, kita hanya perlu melakukan resepsi pernikahan nya saja." Terang Odion penuh percaya diri.
"Cih! siapa juga yang mau menikah dengan pria bejat seperti mu!" balas Maya tak terima. Odion kembali tertawa, meski hatinya perih. Bukan perkara di katakan pria bejat, namun lebih menyesali perbuatannya di waktu lalu.
"Dan hasil kebejatan ku, ada di dalam perutmu. Bayi mungil yang sangat cantik." Maya terdiam, lalu membuang pandangan nya ke samping. Odion tersenyum melihat Maya tak lagi menanggapi nya, langkah mereka terhenti saat tiba di depan apotik.
"Duduk lah, aku akan menebus resep nya dulu.." ujar Odion penuh perhatian. Pria itu membantu Maya duduk meski sebenar nya tak perlu.
__ADS_1
Maya menatap punggung Odion yang tengah mengantri di barisan pengantri lain. Sesekali Odion berganti posisi kaki yang mungkin mulai terasa pegal. 10 menit mengantri, akhirnya tiba giliran Odion. Maya melihat bagaimana Odion mengikuti petunjuk apoteker yang mengarah kan ke sebuah loket administrasi.
Odion begitu sabar mengikuti petunjuk tersebut, belum pernah dia lakukan hal seperti ini sebelumnya. Namun demi Maya dan calon anak nya, pria itu rela kesana-kemari tanpa mengeluh.
"Ayo, kita ke minimarket dulu untuk membelikan susu hamil. Aku juga ingin membelikan buah-buahan juga sayuran. Aku sudah meminta rekomendasi apoteker apa saja yang menunjang bobot janin agar semakin kuat dan sehat." Maya bergeming, ego nya masih di atas rasa hati nya yang mulai tersentuh.
Kini Odion tengah mendorong troli belanja menuju tumpukan buah-buahan. Satu tangan nya menggenggam jemari Maya seakan takut wanita itu tersesat.
"Kau suka buah pir?" Maya hanya mengangguk, namun itu cukup membuat hati Odion berbunga-bunga.
"Lihat sayuran ini sayang, mereka masih sangat segar. Kita harus menyetok nya sebelum kehabisan." Odion begitu bersemangat memasukkan apa saja ke dalam troli. Pria itu memborong cemilan sehat untuk ibu hamil, dia tau usia kandungan Maya sekarang. Pasti wanita itu sudah mulai sering merasa lapar.
Panggilan sayang nya pada Maya sudah tak terhitung, apa pun kalimat nya selalu di semat kan dengan kata sayang. Dan itu membuat Maya dilema untuk terus membenci.
"Tapi ini semua bagus untuk mu dan bayi kita sayang, kau harus makan yang banyak. Lihat lah, berat badanmu bahkan hanya naik setengah kilo semenjak hamil." Balas Odion menahan tangan Maya yang hendak mengeluarkan belanjaan mereka.
Maya tertegun, mendengar penuturan Odion lalu menatap pria itu dengan tatapan menyelidik. Membuat Odion salah tingkah.
"Itu, aku melihat laporan medis mu tadi.." dusta Odion mencari aman. Tak mungkin dia mengatakan jika setiap Maya melakukan pemeriksaan terhadap bayi mereka, dia pun ada di sana sebagai penguntit.
"Nanti aku gemuk, tak ada pria yang mau menikah dengan ku kalau aku jadi jelek." Ketus Maya sekenanya. Mata Odion melotot sempurna.
"Aku! Aku yang akan menikahi mu, dan aku tak peduli tubuh mu mau sebesar apa. Kau akan tetap cantik di mata ku, jangan berpikir untuk mencari pria lain. Atau dia akan berakhir tanpa nyawa di tangan ku." Geram Odion terpancing rasa cemburu.
__ADS_1
Maya memutar bola mata jengah, belum apa-apa saja Odion sudah membuat nya ketakutan.
Wanita melangkah menuju rak lain meninggalkan Odion dengan kecemburuan nya. Odion dengan sigap mendorong troli nya mengejar wanita hamil itu.
"Sayang, maaf kan aku. Aku tak suka kau berbicara seolah kau akan menikah dengan pria lain. Aku cemburu, mengerti lah." Mohon Odion mengiba. Jika Olsen ada di sana, di jamin adik nya itu akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah nya sekarang.
"Dan ucapan mu juga membuat ku ketakutan, aku tak suka ancaman." Odion menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf...tidak akan lagi, sekarang ayo kita mencari makan. Aku lapar, kau pasti lapar juga kan?" Odion mengalihkan topik pembicaraan, Maya hanya menuruti saja, benar dia memang mudah lapar belakangan ini.
Setiba di restoran, Odion lebih banyak memperhatikan makanan untuk Maya. Pria itu bahkan hampir lupa memesan untuk dirinya sendiri, jika bukan Maya yang mengingatkan nya.
Odion sengaja memilih meja dengan sofa sebagai tempat duduk nya, dengan begitu dia bisa duduk bersisian dengan ibu calon anak nya. Posisi Maya yang berada di pojok membuat nya sulit bergerak bebas.
"Apa kau ingin memesan sesuatu lagi sayang?" tanya Odion lembut, tangan nya terulur merapikan anak rambut Maya. Membuat Maya dan sedikit risih. Entah apa hubungan mereka, namun Odion bersikap mereka adalah sepasang kekasih.
"Aku ingin pisang keju, kentang goreng dan nugget ayam." Cicit Maya, wanita itu sampai menutup mulut nya sendiri. Entah kenapa dia begitu ringan meminta hal-hal tersebut pada Odion meski bukan hal besar. Namun dia merasa sangat malu, karena akan terlihat rakus.
Odion terkekeh pelan kemudian mencium pipi Maya saking gemas nya. Pipi wanita hamil itu merona karena diperlakukan seintim itu.
"Jangan mencium orang sembarangan, kau tidak takut mencium wanita mura..."
"Hepmmm..." Odion membungkam bibir Maya agar tak mengucapkan kalimat yang membuat hati nya sesak. Maya yang awal nya menolak mulai terbuai, wanita itu mencengkeram erat kemeja putih Odion.
__ADS_1
Suara deheman sang waitress membuat ciuman hangat itu terlepas. Nafas Maya memburu, pipi nya terasa memanas karena di pergoki tengah berciuman di tempat umum.