
Di tempat lain, seorang wanita terlihat gusar. Resy menatap datar surat cinta berlogokan pengadilan negeri di tangan nya. Tanpa ekspresi, namun jelas itu adalah tatapan tak senang.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat perhatian nya teralihkan.
Mila masuk dengan berkas di tangan nya, wanita itu juga membawa sesuatu yang seperti nya di pesan oleh sang direktur.
"Apakah ini laporan yang aku minta, Mila?" Tanya Resy memastikan.
"Benar bu direktur, dan ini berkas laporan keuangan selama 3 tahun terakhir." Ujar Mila sembari menyerahkan satu map tebal di tangan kirinya ke atas meja kerja Resy. Lalu map laporan keuangan tiga bulan terakhir di letak kan di sisi lain meja.
"Apa pak Markus tidak menanyakan perihal permintaan laporan tahunan yang terbilang mendadak ini?" Tanya Resy meyakinkan, dia tak ingin menciptakan kecurigaan.
"Pak Markus hanya bertanya, siapa yang meminta nya. Setelah mengatakan jika bu direktur yang meminta laporan tersebut, beliau hanya diam lalu menyerahkan map-map tebal ini padaku tanpa bertanya apapun lagi." Terang Mila selancar air mengalir sampai jauh.
Jika Resy bisa berkata-kata penuh dusta, maka diri nya pun bisa. Satu guru satu ilmu harus saling pengertian, begitu lah pikir nya.
"Kerja bagus. Ada lagi yang tau jika kau ku suruh meminta laporan-laporan ini?" Mila menggeleng mantap, sungguh suatu hal yang ternyata tak sesulit teori. Hanya perlu pura-pura tau untuk hal yang tak semua kamu ketahui, cukup berpura-pura mengerti walau kamu masih belum memahami nya.
Dan Mila yang baik hanya menerapkan ilmu pengetahuan yang dia pelajari selama menjadi asisten Resy.
"Baiklah, kau boleh keluar. Jangan kemana-mana, jaga-jaga aku membutuhkan bantuan mu lagi. Stay di meja mu, aku akan menghubungi melalui sambungan interkom." Kenapa interkom? karena lebih efektif dan tak akan ada sambungan lain yang bisa menembus privasi percakapan nya dengan sang asisten.
__ADS_1
Mila keluar dengan degup jantung tak biasa, ternyata menjadi seorang pembohong ulung harus melalui tahap yang cukup menegangkan. Berkaca dari dirinya yang masih amatir, Mila berusaha setegar mungkin agar tak menyerah di hari pertama nya menjadi seorang pembelot.
"Huffzz! Andai bukan karena nilai kemanusiaan, aku tak akan mau terlibat sejauh ini. Mana tuan Wira sudah pernah menangkap basah diriku keluar dari club malam sialan itu. Entah-entah apa yang beliau pikirkan tentang ku. Huhh! Begini amat demi tambahan saldo. Nasibmu Mila.. Mila.." ratap Mila menelungkup kan wajahnya di permukaan meja kerja nya.
Wanita itu lelah fisik juga pikiran. Belakangan dia bekerja sama dengan seseorang yang sudah menjamin keamanan dan keselamatan nya. Pertemuan tak sengaja nya dengan mantan tunangan sang atasan membuat nyalinya ciut hingga tak bersisa. Dia takut akan pandangan buruk seseorang padanya, padahal itu sama sekali tak berpengaruh apapun.
Meninggalkan Mila dengan segala kegalauan nya, Nathan dan Mishy sibuk mengurus banyak hal untuk persiapan pernikahan mereka. Nathan ingin pernikahan yang sempurna untuk di kenang saat dirinya tiada kelak. Entah mengapa dia sedikit pesimis belakang ini, ada perasaan tak biasa saat gelar duda sudah dia sandang. Ketakutan nya akan kehilangan Mishy semakin nyata terasa.
Entah lah, mungkin karena dirinya terlalu banyak pikiran belakangan ini.
"Tatan? Hei? Apa yang sedang kau pikirkan...? Kenapa sejak tadi mengabaikan pertanyaan ku?" Berondong Mishy dengan wajah cemas. Dia takut penyakit Nathan kembali kumat, karena pria itu terlalu banyak berpikir keras akhir-akhir ini.
Nathan terkesiap lalu tersenyum lebar pada sang pujaan hati, dia tak ingin Mishy memikirkan hal lain selain rencana pernikahan mereka.
"Maaf sayang, aku hanya memikirkan konsep pernikahan yang kau impikan. Apa aku terlalu mendominasi dalam segala persiapan pernikahan kita? Katakan saja, aku akan mendengar kan pendapat mu. Jangan merasa sungkan padaku, aku sungguh tidak apa-apa, bukankah kita harus saling terbuka dalam berpendapat sejak awal membentuk sebuah ikatan?" ujar Nathan menatap dalam sang kekasih.
"Aku menyukai semua konsep pernikahan yang kau rancang bersama WO nya. Kita hanya perlu mempersiapkan diri saja, juga perasaan yang utuh." Nathan tersenyum bahagia mendengar kalimat tulus dari kekasih nya.
"Terimakasih sayang. Fisik maupun mental ku sudah siap sejak aku mengenal mu." Seloroh Nathan namun dengan nada serius.
"Ayo kita memilih beberapa perhiasan untuk souvernir. Aku sudah memesan beberapa model kau hanya perlu memilih mana yang kau sukai." Ujar Nathan penuh semangat, Mishy hanya mengangguk setuju. Apa pun yang menjadi pilihan Nathan dia akan menyukai nya. Mishy tidak terlalu riweh untuk urusan apa pun, bukan nya dia tidak antusias. hanya saja Mishy memang menyukai semua konsep dan rancangan Nathan dalam proses menuju pernikahan mereka.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1
Setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh sang kakak, Olsen tampak begitu tak sabar untuk segera menjemput adik nya.
"Aku akan menjemput nya sekarang kak.." ujar Olsen menggebu-gebu, pria itu sempat memberikan Bogeman cantik ke pipi sang kakak karena merahasiakan keberadaan sang adik dari nya.
"Tidak bisa Sen, kakak sudah berjanji untuk mendekati Livi dengan cara tak menyentuh nya secara langsung. Tunggu lah sebentar lagi, tes DNA Livi akan kita dapat kan hari ini. Mungkin sore ini, jangan merusak kepercayaan Mylo. Pria muda itu terlihat sungguh-sungguh dengan ucapan nya. Jangan sampai kita kehilangan Livi karena melanggar janji."
Ucap Odion menenangkan adik nya, dia sengaja merahasiakan keberadaan Olivia selama satu minggu ini. Odion sedang melakukan tes DNA melalui sampel rambut yang di berikan oleh Mylo kepada nya, lambat memang ketimbang melakukan nya melalui sampel darah. Namun apa daya, Mylo tak mengijinkan siapapun menyentuh Olivia selain diri nya.
"Kenapa kita harus menuruti nya, memang nya siapa dia. Livi adik kita kak, sekali melihat wajah nya saja aku langsung tau. Aku lebih rela kehilangan proyek itu, jadi kakak tidak perlu takut jika tuan muda Pratama itu mengancam lagi." Ujar Olsen masih menggebu-gebu. Dia tak terima Mylo menguasai Olivia yang sudah dia klaim sebagai adik nya.
Odion hanya bisa menggelengkan kepala nya. Olsen dan Mylo sama-sama keras kepala, rela kehilangan proyek besar demi mempertahankan Olivia.
"Kau pikir Mylo akan langsung menyerahkan Livi pada kita? Pria itu bahkan lebih dulu ingin membatalkan kerja sama dengan perusahaan mu. Artinya Livi memiliki arti yang sangat penting untuk nya." Terang Odion agar adik nya tak gegabah.
"Perusahaan Olivia kak, aku hanya mengelola nya saja selama Livi belum kembali." Ralat Olsen tak suka dengan perkataan sang kakak. Dia punya perusahaan sendiri, perusahaan yang dia pimpin sekarang adalah milik sang adik.
"Ya, ya..milik Livi. Hanya saja aku ragu jika menyerahkan kepemimpinan perusahaan pada nya. Besok nya perusahaan itu akan masuk berita internasional." Kekeh Odion penuh maksud. Membuat dahi Olsen mengerut penuh tanya.
"Jangan menatap ku begitu. Adik kita itu unik, kau akan di buat terkejut berkali-kali saat sudah mengenal nya nanti." Ujar Odion tanpa mau menjelaskan makna ucapan nya.
"Apa adik ku sebodoh itu..?" Odion melempar kotak tisu hingga membuat pergelangan tangan Olsen memerah.
"Jaga ucapan mu!" Seru Odion tak terima. Mata nya melotot tajam, dia tak suka seseorang mengatai adiknya. Bahkan jika itu Olsen sekalipun.
__ADS_1
"Kak? Sakit sekali. Kenapa kau melempar ku, hah?!" Balas Olsen tak terima. Pria itu mengusap lengan nya yang sudah bisa di pastikan rasanya cenat cenut tak karuan.
"Jangan pernah mengatai adik ku bodoh, brengsek! Aku tak suka!" Olsen terdiam. Ah, dia hanya bertanya karena penasaran. Apa benar akibat tenggelam adik nya yang cerdas mengalami sedikit penurunan kecerdasan?