
Rosy termenung menatap gulungan ombak di hadapan nya dengan tatapan tak terbaca. Ada perasaan sakit yang masih dia rasa kan. Rupa nya luka itu masih sama, belum sembuh sempurna.
"Di sini sangat dingin nona...angin laut tidak terlalu baik di cuaca seekstrim ini." Tegur seorang pria yang sejak tadi hanya bisa menatap sang nona muda dengan tatapan sulit.
Rosy menoleh kemudian tersenyum simpul. Dia bersyukur memiliki orang-orang yang mengasihi nya dengan tulus.
"Aku baik-baik saja Drew..tapi terimakasih untuk mantel nya." Sahut Rosy pada sopir sekaligus asisten pribadi nya tersebut. Pria berkebangsaan Jerman tersebut sudah bekerja pada nya sejak lima tahun lalu. Pria yang dia tolong saat sedang di pukuli dan di todong senjata oleh sekelompok orang jahat.
Pria itu memutuskan untuk mengabadikan diri nya pada Rosy sebagai bentuk balasan hutang nyawa nya. Meski pun Rosy tidak pernah meminta nya.
Rosy Sanders yang tenang dan terlihat begitu sederhana. Siapa sangka, memiliki dunia bawah tanah yang tidak di ketahui oleh dunia luar bahkan keluarga nya sendiri. Wanita itu sudah begitu fasih menggunkan berbagai macam jenis senjata dan semacam nya. Drew sempat tercengang, saat melihat seorang gadis yang menolong diri nya. Terlihat begitu memukau ketika menghadapi lebih dari lima orang preman. yang hampir saja mengantar nya ke gerbang akhirat.
Hanya Drew dan Robin yang mengetahui dunia gelap seorang Rosy Sanders. Dunia gelap yang dia bangun justru untuk memberikan cahaya, bagi para wanita tak beruntung seperti nya. Motto nya adalah, hidup bukan untuk di ratapi, namun untuk diperjuangkan hingga titik akhir nadi.
"Apa kita akan langsung pulang hari ini, nona..?" Rosy masih bergeming, diam nya membuat Drew merasa tak enak hati. Diri nya seolah tengah mendesak sang nona sesuai kehendak nya.
"Besok setelah aku mengunjungi makam seseorang, hari ini seperti nya aku masih belum beruntung." Rosy tertawa kecil. Drew kembali menatap dalam manik sang majikan dengan perasaan tak menentu.
Rosy terlalu misterius bagi nya dan semua orang yang mengenal nya. Lima tahun tak berarti apa-apa. Dia masih belum bisa menyelami kedalaman hidup seorang Rosy.
"Pesan kan aku makan siang dari restoran biasa.. Sekarang ayo kita kembali, aku sedikit lelah." Drew bergegas menuju mobil untuk membukakan pintu mobil selebar-lebarnya. Ada kecemasan di hati nya saat mendengar tiga kata terakhir.
"kota ini semakin sibuk saja sejak terakhir kali aku meninggalkan nya... apa semua orang masih sama? Menjalani hidup sesuai keinginan hati mereka sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain..." Drew terdiam tanpa bisa berkomentar. Dia tau kemana arah pembicaraan sang nona.
"Apa orang tua mu betah tinggal di rumah lama itu, Drew?"
"Betah nona. Ibu ku sangat ingin berjumpa dengan pemilik rumah yang sudah berbaik hati memberikan nya secara cuma-cuma." Jawab Drew tersenyum sumringah.
"Besok sebelum kembali, aku akan berkunjung sebentar." Drew tersenyum senang, di kunjungi oleh seorang Rosy Sanders. Adalah sesuatu hal yang terasa sangat istimewa.
Keluarga nya termasuk salah satu yang beruntung, karena di berikan tempat tinggal secara percuma oleh nona muda nya. Ibu beserta kedua adik nya, di jemput dari Jerman, beberapa bulan yang lalu.
Selama ini sang ibu tinggal bersama suami kedua nya, yang baru belakangan di ketahui oleh Drew. Ternyata pria Mexico tersebut berperilaku sangat buruk. Hampir saja kedua adik tiri nya yang adalah anak kandung nya sendiri. Di jual ke sebuah rumah bordil. Beruntung orang-orang sang nona yang bekerja di organisasi sang nona di sana, melaporkan hal tersebut kepada Rosy. Rosy rupa nya tak tinggal diam, semua keluarga dari orang yang bekerja padanya. Tak luput dari perhatian dan pantauan nya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Permisi mbak...saya mau antar pesanan kateringan dari restoran Tulip. Saya antar sampai di sini saja atau ke bagian mana?" Harland menyapa seorang resepsionis wanita untuk memastikan pesanan tersebut di anta kemana. Dia tak ingin membuat kesalahan, mengingat ongkos dari kiriman itu lumayan untuk menambah isi celengan nya.
"Mbak? Hallo..?" Harland mengimbas kan telapak tangan nya di hadapan wajah di wanita yang terus menatap nya hingga tak berkedip.
__ADS_1
"Heh? ya mas...? aduh maaf, saya pikir artis Korea Lee min ho. Ternyata mas kurir to.." Ujar nya cengengesan tidak jelas.
"Taruh di sini saja, begitu informasi yang saya terima tadi. Mana mas, biar sama bantu bawa masuk." Ucap nya seramah mungkin, tak lupa senyum jutaan Watt tercetak jelas di wajah genit nya.
"Eh? tidak usah mbak, itu pekerjaan saya. Mbak nya di sini saja, lagi pula isi plastik nya berat." Harland bergegas keluar agar tak diikuti oleh si wanita yang terlihat menatap nya penuh maksud.
Harland kembali masuk dengan dua plastik sekaligus dikedua tangan nya.
"Saya taruh di sini ya mbak..silah kan mbak nya tanda tangan di sini, untuk tanda terima nya." Dengan cekatan si wanita mengambil pena nya, Harland mengernyit heran. Wanita itu hanya tinggal tanda tangan saja kenapa lama sekali.
"Ini mas, di baca di resapi lalu di pahami maksud tulisan nya di buat." Kerlingan mata nya membuat Harland bergidik ngeri. Setelah menerima tanda bukti tersebut Harland lekas pergi. Terlalu lama berhadapan dengan wanita sejenis Sindy, membuat nya jadi malu. Teringat akan dosa-dosa nya di masa lalu.
Drrttt drrttt drrttt
Harland menurunkan sejenak helm nya melihat siapa yang menghubungi nya.
"Alya? kenapa dia menghubungi ku, bukan kah pekerjaan ku sudah usai..." Gumam Harland merasa heran. Namun tetap mengangkat nya meski sedikit terpaksa.
"Ya mbak, apa yang bisa saya bantu?" tanya Harland to the poin.
"Mas nya udah selesai antaran belum?" suara lembut nan ramah Alya membuat Harland mulai berpikir jauh. Jangan-jangan wanita itu minta di jemput lalu di antar pulang. Oh tidak! dia harus membuat alasan untuk menolak nya.
"Ini ada orderan makanan, tapi kurir lain pada sibuk. Apa kau bisa? lumayan ongkir nya, perumahan xxxx. Mau tidak?" Mata Harland langsung berbinar sejuta dolar.
"Bisa mbak, bisa...aku otw sekarang.." setelah memutuskan panggilan, Harland lekas memasang helm nya. Senyum nya tak luput dari bibir nya. Dia akan minta jam kerja nya di tambah saja seperti biasa nya jika dia terlambat. Untung saja pemilik minimarket tersebut adalah kerabat sahabat nya Evan. Jadi bisa sedikit bernegosiasi soal waktu dan shift kerja.
Sesampai di restoran, Alya sudah menunggu di pintu masuk. Ada dua paper bag besar di kedua tangan nya.
"Loh? kok mbak Alya yang bawa kemari, kan ini berat?" Alya tersenyum senang, rupa nya kalimat Harland di arti kan sebagai sebuah perhatian bagi Alya.
"Cuma isi makanan mah, masih kuatlah. Mas nya pasti capek kan, bolak-balik antaran. Jadi aku berinisiatif untuk meringankan beban mas walau hanya membawa ini saja." Harland tersenyum kaku mendengar kalimat ganjil tersebut.
"Ya udah mbak, aku langsung otw ya...kasian yang nunggu kalo kelamaan, alamat nya yang tadi mbak kirim ke wa aku, kan?" Tanya Harland memastikan.
"Ya mas, hati-hati ya...kalau sudah selesai antaran, kabarin Alya biar tidak kepikiran..." Ujar nya mesen-mesem. Harland semakin yakin untuk segera enyah dari sana secepatnya. Andai dia tak butuh pekerjaan itu, sudah lama dia berhenti menjadi kurir dari restoran tersebut. Namun ongkos kurir di restoran tersebut lah yang paling lumayan dari pada yang lain. Itulah kenapa dia harus betah meski tak nyaman dengan situasi nya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Brakk
__ADS_1
Suara dobrakan pintu membuat atensi kedua insan yang tengah bergelut di atas ranjang tersebut teralihkan.
Wanita bertubuh gempal dengan dua orang lain nya masuk lalu tanpa aba-aba, menyeret tubuh polos Sindy dari atas ranjang.
"Auuwww!! dasar wanita gila! apa yang kau lakukan pada ku hah!" teriak Sindy marah, malu dan entah apa lagi yang dia rasa kan saat ini. Sementara seorang remaja perempuan merekam adegan tersebut sambil berkata-kata buruk tentang nya.
"Hay guys..! lihat nih, pelakor rumah tangga orang tua gue. Ini lagi di grebek sama nyokap di sebuah hotel xxxx bilangan Bandung barat." Dan masih banyak kata-kata nya yang mempermalukan Sindy. Rupanya gadis itu sedang melakukan siaran langsung.
"Dasar ja*l*ang! apa kau puas bermain dengan suami ku hah? bagaimana rasa nya, benda pendek berlemak itu menghujamkan milik mu ini..." Wanita tersebut terlihat sangat marah, sekuat tenaga dia menekan ujung sepatu nya di daerah inti Sindy hingga wanita itu meringis kesakitan.
Ingin melawan namun tak berdaya, anak sulung wanita itu mengunci pergerakan kedua tangan nya. Sindy hanya bisa pasrah saat merasakan ujung tumit high heels itu menerobos masuk ke lubang surgawi nya. Darah segar mengucur deras dari sana. Terang saja, tumit sepanjang 7 cm tersebut telah bersemayam indah di dalam sana tanpa ampun. Rintihan kesakitan terdengar memekik telinga, si pria mulai panik.
Sebagai seorang pejabat daerah, tentu saja dia ketakutan memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi dari perbuatan sang istri.
"Ma, sudah! Mama bisa membunuhnya jika begini. Lepas kan dia, papa janji ini tidak akan terulang lagi. Dan Rena, hentikan rekaman bodoh mu itu! Apa kau mau papa mu masuk berita dan di permalukan hah!"
"Jangan meneriaki adik, pria sialan!" seru sang anak sulung marah. Dia tak terima adik nya di bentak oleh ayah nya sendiri.
"Saakiitt...to_long..le_paskan.." suara Sindy mulai melemah, seiring dengan kesadaran nya yang mulai menghilang.
"Lihat ma! lihat! jika wanita ini sampai mati, kita semua bisa mauk bui! apa kalian mau dipenjara seumur hidup, hah!" si pria mulai terlihat panik. Begitu juga istri dan kedua anak nya.
"Telpon ajudan papa, suruh antar ke rumah sakit. Rena, hapus rekaman mu tadi, itu bisa di jadi kan barang bukti." Setelah bersepakat, akhirnya Sindy di antar ke rumah sakit. Tentu saja setelah memakai kan pakaian pada wanita malang tersebut. Sang ajudan bertugas mengantar dan mengarang cerita. Di mana dia menemukan wanita itu di jalanan dalam keadaan tak sadar kan diri dan mengalami pendarahan hebat.
Lalu tugas berikutnya, adalah membersihkan TKP. Sesimpel itu rencana mereka di buat. Meski akhirnya tak berjalan sesuai harapan.
Kini Sindy mulai merasakan, apa yang di sebut dengan karma. Karma tidak selalu menunggu di neraka, itu benar. Dan kini Sindy akan mulai menikmati karma nya satu persatu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
∆1600 lebih kata, lumayan bikin jari keriting.
Minta dukungan nya lebih banyak lagi dong, jeeahhhh.. Othor nya ngelunjak yaa🤭🤭😁😁
Luv yuuu epribadeeehhh 🤍🤍🥰🥰
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
mampir ke sini juga yuk! Ramein lapak nya Sky Belluwig sama Cloey Velasquez 🤗🤗🥰🥰
__ADS_1