
Sania menatap nanar wajah sahabat nya dengan tatapan entah. Teringat tiga tahun yang lalu, saat tanpa sengaja mereka bertemu di sebuah mall di kota di mana Rosy tinggal. Wanita itu berusaha keras menghindari nya, bahkan berpura-pura tak mengenal nya jika saja Sania tak berpura-pura mengalami kontraksi.
Beruntung bagi nya, karena saat itu sedang dalam kondisi hamil tua. Sedikit memanfaatkan calon bayi nya, seperti nya tidak masalah.
"Sampai kapan kau akan terus bersembunyi dari dunia luar? Apa kau tidak berniat mempertemukan kedua anak mu dengan ayah mereka? 8 tahun Rosy! Astaga! Bagaimana bisa kau terus menciptakan kebohongan demi kebohongan lain pada anak-anak mu. Mereka berhak tau siapa ayah kandung mereka. Terlepas kau membenci nya atau apapun itu, Mishy dan Mylo punya hak untuk mengenal ayah mereka, Rosy." Sania berucap sangat lirih namun penuh penekanan di ujung kalimat nya.
Seperti biasa, wajah tanpa ekspresi itu masih sama seperti yang dia lihat di pertemuan-pertemuan mereka sebelum nya. Datar dan tak terselami.
"Apa kau tau? Kenapa Mylo menjadi lebih pendiam dan penurut dari pada adik nya? Itu karena Mylo sering melihat mu menangis diam-diam di ujung malam, saat kau mengira jika anak-anak mu sudah terlelap dalam mimpi indah. Dia mendengar semua keluh kesah hati mu yang tercurah pada sang malam tentang Harland, tentang bagaimana setiap pria itu sama Brengsek nya. Mylo mulai berpikir kau akan membenci nya juga, karena dia adalah anak laki-laki. Dan dia berasal dari seorang pria yang paling kau benci. Secara tak langsung, kau menanam kan traumatis pada mental Mylo sedini mungkin. Pahami lah arti diam nya anak mu, Ros!" Sungguh Sania sudah sangat geram pada sahabat nya itu.
Sifat keras kepala Rosy tak ada tandingan nya.
Rosy terpekur dalam diam. Benar kah? pikiran nya mulai berkecamuk. Mylo mulai berubah menjadi tak seceria sang adik sejak usia 4 tahun. Anak itu jauh lebih mudah di atur, Mylo selalu menolak bantuan kecil dari nya. Terlihat jelas jika Mylo selalu ingin terlihat mandiri di hadapan sang ibu.
Apa kah diri nya egois? apa kah hukuman bagi Harland sudah cukup. Mengingat jika pria itu selalu mentransfer dana ke rekening perusahaan setiap bulan tanpa absen. Hutang-hutang itu bahkan sudah lunas dua tahun yang lalu, namun Harland tak berniat untuk menghentikan nya. Seolah pria itu sengaja melakukan nya, meski entah untuk apa.
"Pikir kan lah kata-kata ku. Kau seorang dokter meski kini profesi mu sudah beralih. Tapi kau pasti mengerti, jika mentalitas anak-anak mu tergantung bagaimana keadaan membentuk kepribadian mereka. Mylo akan tumbuh menjadi pria yang kelak sulit menerima kehadiran ayah kandung nya sendiri. Dan dia akan tumbuh menjadi pribadi yang tak tersentuh. Kau tau rasa nya jika berhadapan dengan seseorang yang memiliki sifat seperti itu. Rasa nya seperti menegak sebotol racun, namun rupa nya hanya mampu membuat mu sekarat dan menderita untuk jangka yang tak tentu." Cerocos Sania melampiaskan kekesalan nya yang sudah bertumpuk pada sang sahabat.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Sania mengetahui semua itu. Tanpa sengaja, sania pernah membaca buku kecil milik Mylo. Yang di beri judul "my story life" . Awal nya hanya sebuah keisengan, namun siapa sangkan malah mengantar Sania pada fakta lain. Mylo memendam ketakutan akan di benci oleh sang ibu jika dia berulah, merengek dan meminta sesuatu.
Mylo mulai menjadi kutu buku agar sang ibu bangga pada nya, menyayangi nya tanpa batas. Sania menetes kan air mata nya saat membaca lembar demi lembar tersebut. Anak sekecil Mylo, rupa nya menyimpan beban pikiran seberat itu seorang diri di usia yang tidak seharusnya.
"Akan aku pikir kan. Bisa kah kita tidak selalu membahas nya? kenapa kau selalu memaksa ku untuk mempertemukan anak-anak dengan pria bajingan itu? Apa kau bersimpati pada nya? Kau iba melihat bagaimana seorang Harland yang menawan, dan berwibawa layak nya seorang pemimpin. Ku buat hancur tak bersisa..." Sania bergeming, dia tau arah pembicaraan mereka tidak akan berakhir baik jika dia semakin meladeni nya.
"Apa kau tau penderitaan ku selama satu tahun terakhir pernikahan sialan itu? Apa kau mengerti rasa nya menjadi diri ku, saat melihat suami mu bercumbu mesra bahkan bercinta dengan kekasih gelap tepat di depan kedua mata mu? Aku pernah begitu baik sampai-sampai aku menjadi bodoh tak tertolong lagi. Aku di manfaatkan sedemikian rupa oleh orang-orang yang ku kasihi. Aku memendam, mengobati dan membalut luka ku seorang diri. Aku melewati masa tersulit dalam hidup ku hanya berteman dengan kesepian dan luka yang nyaris membuat ku menyerah untuk hidup lebih lama. Ayah ku mengkhianati ibu ku yang baik hati, lalu suami ku memungut sampah ayah ku dan kembali menorehkan banyak sayatan di hati ku. Katakan! Rasa sakit mana lagi yang belum pernah aku rasakan, Sania!" Seru Rosy dengan tubuh berguncang hebat.
"Aku sudah berkorban agar keluarga nya tak kehilangan seorang penerus. Lihatlah apa yang dia lakukan pada ku? aku berusaha keras seorang diri, tapi pria bajingan itu mati-matian menghancurkan seluruh hidup ku hingga tak berbentuk." Rosy terisak dalam dengan suara yang begitu mengiris hati.
Sania menyeka sudut mata nya lalu beranjak memeluk sang sahabat. Dia tau luka yang di torehkan Harland seperti bayangan mimpi buruk bagi Rosy. Sejak kecil Rosy sudah begitu banyak berkorban untuk pria itu. Pria yang selalu Rosy sebut sebagai pangeran kecil nya. Wanita baik hati ini bahkan rela kehilangan penglihatan nya, demi menyelamatkan Harland dari tabrakan maut di depan rumah sakit milik orang tua nya.
Bahkan hingga remaja, Rosy mengikuti jejak Harland, namun sayang pria itu lebih memilih sepah dari pada tebu menguyah yang belum tersentuh.
Hingga tawaran pernikahan terjadi, Rosy seperti mendapatkan angin segar. Meski awal nya sempat menolak, karena dia tidak yakin, Harland bisa mencintai nya. Namun fakta lain membuat pernikahan tersebut berubah menjadi sebuah misi lain. Rosy menerima nya dengan tujuan tertentu. Itu lah salah nya, mencampur adukkan perasaan pribadi dengan dendam atas pengkhianat sang ayah. Dan yang paling menyakitkan adalah, pria yang akan dia nikahi sangat mengagung kan ja*l*ang itu lebih dari pada apa pun.
"Maaf kan aku...Aku tak bermaksud untuk melukai perasaan mu. Maaf jika kata-kata ku tak mencerminkan sosok seorang sahabat yang bisa kau andal kan. Aku memang tak mengerti bagaimana rasa nya menjadi diri mu. Dan aku tidak ingin mengerti, karena aku cukup memahami, rasa nya pasti teramat sangat sakit. Kau tak perlu melakukan sesuatu yang tidak kau ingin kan, Mylo akan memahami perasaan mu meski tak kau sampai kan secara gamblang. Anak-anak mu adalah titisan para dewa, lihat lah, mereka sudah memborong banyak penghargaan meski baru berusia 7 tahun. Anak-anak ku baru punya beberapa, itu pun hasil belajar berkat di temani oleh gagang sapu dan ibu yang galak seperti ku."
__ADS_1
Rosy terkekeh hambar dipeluk kan sang sahabat, kedua nya berusaha mencair kan setitik gunung es di hati masing-masing. Terutama di hati Rosy yang telah membeku sempurna.
Sania menyesali sikap nya, namun Rosy perlu menangis untuk melepaskan beban batin nya. Rosy perlu sedikit meninggi kan suara nya pada seseorang, setelah sekian tahun hanya mampu mencurahkan isi hati nya dengan berbisik lirih pada sang malam.
Kedua nya larut dalam gejolak hati masing-masing. Merenungi dan berusaha menyelami kedalaman hati yang tak terlihat oleh mata tela*njang.
Sementara di balik pintu kaca yang tertutup tirai pembatas, seorang pria tengah menekan dada nya yang terasa sangat sesak. Air mata nya mengalir deras tanpa bisa terbendung. Sesakit ini rasa nya, mendengar kan curahan hati seseorang yang amat sangat di cintai nya. Curahan yang mampu mengoyak habis dinding pertahanan nya sebagai seorang laki-laki.
Anak-anak? Bagaimana bisa? Apakah ini ada hubungannya dengan sampel sp*er*ma nya waktu itu Rosy ambil? Itu lah tujuan Rosy yang sesungguhnya, berusaha membuat keluarga tetap memiliki garis keturunan dengan mengupayakan berbagai cara tersembunyi. Oh Tuhan! Sungguh Harland ingin menenggelamkan kepalanya ke dasar samudera mendengar fakta ini. Rosy benar, dia adalah definisi pria bajingan yang sesungguhnya. Pria brengsek yang tak punya perasaan.
"Permisi...anda menghalangi jalan kami tuan." Harland tersentak lalu bergeser sedikit.
"Kau?!" ucap kedua nya serentak dengan mata melotot sempurna.
**∆Maaf untuk typo yang bertebaran, silahkan meninggalkan koreksi nya di paragraf typo untuk di perbaiki ya kak🙏😚
∆Jangan lupa tinggalkan jejak nya, Luv yuu kalian semua😘😘🤍🤍🥰🥰**
__ADS_1