Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
di balik pintu


__ADS_3

"Pagi kang, aku Paul warga baru komplek sini. Tetangga kesayangan nya neng Noora yang cantik nya pake banget walau iler nya melilit kaya pulau Kalimantan baru di garap." Mata Noora membelalak sempurna. Bergegas wanita itu menuju kaca spion kang Jumri.


Terlihat jejak putih di kedua sudut bibir nya, sungguh membuat Noora ingin memiliki ilmu gaib. Agar bisa menghilangkan diri nya dari sana. Benar-benar memalukan batin nya mengumpat kesal.


Dengan jurus andalan, tutup lubang gali lubang. Begitu lah yang Noora lakukan, menggunkan liur nya sendiri untuk menghapus jejak liur kering di sudut kedua bibir nya.


Paul mengatup mulut mya menahan tawa. Bisa-bisa wanita itu akan keluar tanduk rusa jika diri nya melepaskan tawa laknat, di depan para ibu-ibu ceriwis yang kini juga tengah berbelanja ria.


"Neng Mora baru bangun? Semalam pasti asyik ngobrol sama nak Paul sampe larut malam ya?" Canda seorang wanita bertubuh tambun, rupa nya wanita itu melihat Paul ikut masuk ke dalam pagar rumah Noora. Namun tak melihat lagi pria itu keluar, itu karena Paul menggunakan jurus lompat kodok andalan nya.


"Ah, itu...." Ucap Noora gugup, seolah diri nya tengah tertangkap basah mencuri sayur kang Jumri.


"Aku hanya mampir sebentar bu Andini, lampu dapur Mora putus. Jadi aku menawarkan diri untuk mengganti nya." Sela Paul saat melihat Noora mulai gugup dan tak nyaman dengan pertanyaan tetangga seberang rumah mereka itu.


"Oh begitu, baguslah nak Paul. Sebagai tetangga yang baik memang harus saling tolong menolong. Saya saja sering minta tolong mas Yudi di sebelah kalau mau masang tabung. Soal nya takut meledak kalau pasang sendiri." Ujar wanita itu tersenyum tanpa beban.


"Hah?" Paul tampak cengo. Apa jika pak Yudi yang memasang nya di jamin tak akan meledak, atau ibu Andini sengaja mengorbankan pria malang itu. Atau sengaja ingin menjanda kan istri pria paruh baya itu. Sungguh Paul berdecak kagum. Tetangga nya ternyata memiliki cerita yang super unik untuk di telaah lebih lanjut.


"Ini neng, total semua nya 72rb. Wade nya tidak sekalian? Ada kue lapis, donat kentang, risoles mayonaise." Ujar kang Jumri mempromosikan dagangan nya yang lain.


"Tambah kan risoles dua sama lapis nya juga dua." Bukan Noora yang menyahut melainkan Paul.


Noora mendelik tak suka, kesal karena pria itu sangat tau jajanan kesukaan nya. Gengsi? Jelas saja.

__ADS_1


"Tidak kang, aku takut diabet kalau makan yang manis-manis. Aku udah terlalu manis sih soalnya." Tolak Noora dengan sebuah candaan. Padahal ludah nya sudah hampir meleleh melihat bungkusan jajanan yang menggantung indah meminta untuk di beli segera.


"Bungkus kang, aku mau yang tadi aku sebut." Ujar Paul tak peduli pada kalimat Noora. Dia tau Noora susah payah menahan godaan dari manis nya kue lapis, juga asin manis risoles tersebut.


Setelah selesai berbelanja, Paul masuk ke dalam pelataran rumah nya. Setelah menutup pagar, pria itu kembali melakukan jurus lompat kodok menuju halaman samping rumah Noora.


Terlihat wanita itu tengah mengiris sesuai di atas meja dapur. Paul bersorak kala melihat pintu dapur yang sedikit terbuka.


"Khemmm..." Hampir saja Noora mengucapkan selamat tinggal pada jari telunjuk nya. Wanita itu terlihat mengepal menahan emosi.


Noora berbalik sambil mengacungkan pisau dapur nya ke arah Paul, sontak membuat pria itu melompat reflek ke atas kursi hingga jatuh terpeleset. Kening Paul membentur ujung meja hingga membuat luka sobek cukup lebar di sana.


Noora mencoba bersikap santai, meski hati nya ketar ketir. Dengan menahan tubuh bergetar, Noora membantu Paul duduk di kursi.


Paul terdiam menahan rasa sakit yang amat sangat, terlebih rasa malu yang lebih mendominasi. Bisa-bisa nya di terjatuh dengan cara yang tak keren sama sekali.


"Aku ingin membagi jajanan tadi untuk mu, aku tau kau sangat menyukai nya. Lihatlah, makanan nya tergencet tubuh ku. Semoga masih ada beberapa yang utuh." Balas Paul pelan. Noora melirik kue lapis kesukaan nya yang terlihat menyedihkan di lantai dalam keadaan gepeng.


Mendadak hati nya kesal luar biasa.


"Kau kan bisa mengetuk dulu sebelum masuk. Lihat lah, karena ulah mu kue nya jadi hancur." Tuding Noora menyalah kan Paul.


"Heh?" Paul sedikit bengong. Noora marah pada nya karena membuat kue kesukaan nya gepeng tak berbentuk.

__ADS_1


"Ck, itu salah mu sendiri karena membuat ku terjatuh." Gerutu Paul tak terima.


"Sudah selesai." Noora menekan sedikit perban di kening Paul hingga membuat pria itu kembali meringis.


"Pulanglah, aku sibuk!" Usir Noora ketus.


"Kepala ku pusing, boleh aku menumpang istirahat sebentar saja." Pinta Paul memohon dengan wajah memelas.


"Ck, hanya luka kecil saja kau manja seperti bayi." Noora terdiam sejenak kala mengucapkan kata bayi, seperti sedang teringat akan sesuatu. Wanita itu berlalu dari hadapan Paul setengah berlari kecil menuju sebuah pintu ruangan di bawah tangga.


Paul menatap punggung kecil Noora yang terlihat begitu panik saat membuka pintu ruangan tersebut.


Dengan langkah pelan, Paul mengikuti arah menuju pintu di mana Noora mulai menghilang di balik kegelapan di dalam sana. Paul tercengang, melihat sebuah lorong tangga menuju semacam basement bawah tanah.


Dengan perlahan Paul mengikuti anak tangga menuju ke bawah. Tangga berbelok itu mengarah kan ke sebuah lorong kecil menuju ke sebuah pintu ruangan lain nya.


Pintu yang sedikit terbuka itu membuat Paul tak repot harus membuka nya. Namun saat akan mendorong handle pintu, terdengar suara seorang wanita berteriak penuh amarah.


"Kemari kan bayi ku wanita brengsek! Kau sudah membunuh ayah nya, apa lagi yang kau ingin kan dari kami. Berikan dia pada ku!" Paul tertegun melihat sebuah pemandangan yang cukup membuat hati nya ngilu, di mana ada seorang wanita muda tengah terikat di sebuah ranjang. Dengan kedua tangan terikat rantai di masing-masing sisi kepala ranjang besi tersebut.


Keadaan yang sungguh memperihatinkan, wanita itu terlihat berantakan dengan rambut kusut tak terurus. Ada sebuah ranjang bayi tak jauh dari sana, dan beberapa peralatan medis juga kebutuhan bayi tersebut.


Paul menelan ludah nya susah payah. Sungguh tak dia sangka, wanita yang dia kenal murah hati seperti Noora, sanggup melakukan hal sekejam ini.

__ADS_1


"Noora.." lirih Paul.


__ADS_2