Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Lamaran dadakan


__ADS_3

Sesuai janji nya, Wira hari ini berkunjung ke kediaman mewah keluarga Pratama. Pria itu berkali-kali mengelap keringat di kening juga telapak tangan nya. Padahal sang tuan rumah belum menampakkan diri. Namun rasa gugup dan takut akan di tolak sudah menguasai penuh diri nya.


"Tuan muda Artakusuma?" Wira mendongak mendengar nama klan nya di sebut. Pria itu lekas berdiri kemudian mengulur kan tangan nya untuk menyalimi Harland namun tidak dengan Rosy.


Tatapan mata penuh kewaspadaan membuat nya urung.


"Apa yang membawa seorang Wira Artakusuma bertandang ke rumah ku yang sederhana ini? seperti nya bukan hal biasa, jika tidak kau tidak mungkin akan berkunjung kemari." Ujar Harland membuka obrolan.


Wira sejenak menarik nafas panjang, dia berusaha untuk tetap tenang meski hati nya gelisah.


"Kedatangan ku kemari untuk melamar putri anda, tuan Harland. Aku ingin menikahi Mishy dalam waktu dekat, dan aku meminta restu anda untuk mengijinkan ku menikah dengan Permata keluarga Pratama." Ucap Wira to the poin. Lega rasa nya, Wira meneguk segelas minuman hingga tak bersisa


Harland tercengang, begitu pun Rosy.


"Kenapa kau tiba-tiba datang dan melamar putri ku? terakhir aku dengar kau sudah menikah di luar sana dan memiliki seorang putra. Kau menghilang sangat lama lalu muncul dan meminta restu ku. Apa kau sedang frustasi tuan Wira Artakusuma?" sungguh jawaban yang sangat bertolak belakang dengan harapan Wira.


Apa lagi tatapan sinis Harland seakan mencabik kepercayaan diri nya hingga tak berbentuk.


"Aku sudah bercerai 4 bulan yang lalu. Lagi pula pernikahan ku tak seperti pernikahan normal. Hanya semacam formalitas karena sebuah kejadian yang tak di harapkan. Masalah felik rumah tangga, bisa di katakan begitu." jelas Wira apa ada nya


"Jadi boleh ku simpul kan, jika kau bukan tipe pria bertangungjawab, bagaiman bisa seorang pria mengatakan tentang pernikahan nya dengan begitu gamblang pada orang lain. Aku tak mengijinkan putri ku menikah dengan pria seperti itu, kau ku tolak. Pulang lah, kami akan keluar." Usir Rosy tegas, wanita itu masih menyimpan trauma masa lalu tentang sebuah pernikahan.

__ADS_1


Harland terdiam, sudut hati nya merasa tersentil keras.


Wira mulai frustasi, saat akan menyampaikan pembelaan nya sebuah suara membuat nya terdiam. Rosy dan Harland yang sudah bangun dari duduk nya pun kembali menoleh ke sumber suara.


"Maaf menyela, tuan nyonya...nama ku Justin, aku putra pria yang terlihat menyedihkan itu. Benar, jika daddy sudah menikah dengan ibu ku. Tapi aku bukan putra kandung nya, ibu ku menikah dengan daddy karena menjebak pria baik ini masuk secara terpaksa ke dalam hidup mommy. Itu lah kisah nyata yang ku dengar dari mendiang paman ku, beliau adalah kakak kandung dari ibu ku. Sayang beliau beliau gugur di Medan perang, sehingga mau tak mau aku harus menempeli pria baik ini hingga kemari. Ibu ku tak menginginkan ku, karena tak bisa membuat daddy mencintai nya." Justin menjeda, air mata nya sudah hampir menetes.


Justin melangkah kan kaki kecil nya ke arah sang tuan rumah, menjatuhkan tubuh kecil nya dengan cara berlutut.


Rosy terkesiap begitu pun Wira dan Harland.


"Justin, apa yang kau lakukan nak?" ujar Wira dengan suara bergetar.


Pecah sudah tangis Wira, pria itu berjongkok dan memeluk sang anak.


"Sudah, tidak apa. Ayo kita pulang, kenapa tidak menunggu di mobil saja. Lihat sepatumu kotor..."seloroh Wira berniat menghibur sang anak. Justin tersenyum dengan air yang tak berhenti mengalir di kedua pipi bulat nya.


"Tapi daddy tidak bisa menikah dengan bibi cantik? semua salah ku, maaf dad.." Wira memeluk kembali tubuh kecil Justin. Hati nya perih, Justin melakukan hal besar untuk diri nya sementara selama ini dia tidak pernah melakukan apapun untuk putra nya itu.


"Tidak apa, ayo kita pulang. Kita ke rumah bibi cantik," Wira memelan kan suara nya di ujung kalimat seperti sebuah bisikan.


Justin menatap sekali lagi ke arah tuan rumah secara bergantian, berharap kedua orang yang tengah berdiri menatap nya, berubah pikiran.

__ADS_1


"Ayo..." tegur Wira mengulang ajakan nya.


Kedua nya keluar dari kediaman Pratama dengan setumpuk kekecewaan di hati. Namun Wira tak ingin memperlihatkan nya di hadapan sang anak. Justin sudah mengambil bagian nya begitu besar demi diri nya. Cukup sudah, dia tak ingin Justin terus hidup dalam rasa bersalah. Kesalahan yang bahkan bukan karena kehadiran nya.


Saat akan melangkah keluar dari pintu utama, sebuah suara menghentikan langkah kedua nya.


"Apa begitu cara mu melamar anak perempuan ku? kau bahkan tak berniat mengenal kan putra mu pada kami. Lihat lah pria kecil itu lebih tau etika bertamu dari pada diri mu. Ck!" Wira mencoba mencerna kalimat sang tuan rumah. Otak nya mendadak bleng.


"Bawa putra mu kembali masuk Wira, lihatlah dia pasti lelah sepulang sekolah. Kenapa kau malah mengajaknya pergi tanpa sempat duduk dengan benar." Tegur Rosy. Wanita paruh baya itu menghampiri kedua nya yang tengah berdiri mematung, lalu memegang bahu kecil Justin yang dia tau telah menanggung banyak beban di pundak kecil itu.


"Ayo masuk, apa kau tak ingin berkenalan dengan wanita tua ini hmmm?" Justin menggeleng cepat.


"Anda sangat cantik nyonya, persis seperti bibi baik. Kalian sama-sama cantik." Puji Justin tulus.


Rosy tertawa kecil, dia sangat menyukai cara Justin berbicara. Sangat dewasa dan terlihat begitu teratur untuk anak seusianya.


"Kalau begitu kau juga harus ikut makan siang di sini, aku baru saja memasak makanan yang banyak. Semoga ada yang kau sukai nanti." Ujar Rosy terlihat antusias.


Kini Wira tengah duduk berseberangan dengan Harland dan Rosy. Justin duduk di sofa lain namun tak jauh dari sana. Entah mengapa anak itu seperti meragukan kemampuan Wira dalam menghadapi keluarga Pratama.


Sesekali ekor matanya melirik sang ayah yang terlihat gelisah di tempat duduk nya.

__ADS_1


__ADS_2