Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Cemburu nya Selome


__ADS_3

Hasil dari kekonyolan Selome berhasil membuat nya tiba di rumah sakit lebih cepat. Dengan langkah lebar pria tersebut berjalan tergesa menuju ruang tindakan IGD.


"Sus? pasien atas nama Mallika Ahmad di ruangan sebelah mana?" tanya Selome cepat. Riak wajah nya tak dapat menyembunyikan rasa khawatir, akan kondisi gadis telah membuat nya merasa sangat bersalah tersebut.


"Persis di lorong ujung sana tuan, tirai biru paling pojok." Jelas sang perawat jaga tersenyum ramah dan terkesan malu-malu. Selome tak menanggapi senyum penuh puja tersebut. Pikiran penuh dengan segala kecemasan akan keadaan Mallika.


Dengan kembali melangkah cepat Selome akhir nya sampai di tempat yang dia tuju. Namun sebelum sempat membuka tirai, Selome tak sengaja mendengar obrolan dua orang anak manusia di balik tirai tersebut.


Hati nya mendadak sesak.


"Seharusnya kau tak perlu melakukan hal ekstrim untuk menurunkan berat badan mu, Lika. Tak ada yang perlu kau perbaiki dari tubuh mu selain pikiran mu sendiri. Kau sempurna bahkan melebihi ekspektasi para pria. Termasuk aku. Jadi, berhenti lah melakukan hal konyol agar pria tak peka itu menoleh padamu. Tidak bisa kah kau belajar membuka hati mu untuk ku sedikit saja? aku akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan mu." Selome mengepal kuat namun tak bersuara.


Semua memang salah nya juga yang tak peka terhadap perasaan Mallika selama ini. Namun mendengar kalimat langsung dari mulut pria lain yang merupakan saingan nya. Hati nya tak rela. Dia hanya terlambat menyadari hati nya berlabuh pada siapa, bukan berarti dia tak peduli pada gadis itu.


"Khemmm.." Selome berdehem kecil sembari membuka tirai perlahan. Kedua insan itu pun terkejut. Terlebih Geko. Namun dengan gentle pria itu tersenyum menyapa Selome, seakan tak pernah mengatakan hal yang memojokkan pria itu.


"Bagaimana keadaan mu? maaf aku baru tiba, mom dan dad sudah dalam perjalanan kemari."


"Mallika sudah membaik, untung aku cepat membawa nya kemari. Jika tidak entah bagaimana keadaan nya sekarang." Sahut Geko cepat. Mallika yang baru saja akan menjawab kalah cepat dari pria itu.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lemas. Selera makan ku belum membaik karena asam lambung ku masih tinggi. Terimakasih sudah datang kak, maaf merepotkan mu." Ucap Mallika pelan.


"Ck! merepotkan apa nya. Sudah, jangan banyak berpikir, istirahat saja. Aku akan menemani mu di sini sembari menunggu kau pindah ke ruangan." Sela Selome tak ingin di bantah. Geko terlihat kesal karena Selome terlihat sekali ingin memonopoli gadis itu.


"Biar aku saja, kau pasti banyak pekerjaan di kantor. Aku sedang cuti Beberapa hari ke depan jadi tak masalah jika menjaganya." Sergah Geko berniat mengusir Selome secara halus.

__ADS_1


"Aku tak bekerja hari ini. Lagi pula pekerjaan ku bisa aku bawa ke mana saja tak jadi persoalan." Sahut Selome tak mau kalah.


Kedua pria saling beradu argumen siapa yang akan bertahan untuk menjaga Mallika di sana.


"Tapi kau...." kalimat Geko terhenti kala sebuah nada dering panggilan menyela perdebatan kedua nya. Helaan nafas Geko terlihat berat kala melihat layar ponsel nya. Ada raut tak rela juga kesal bercampur jadi satu di wajah pria tampan tersebut.


"Baiklah, jaga dia. Aku ada urusan mendadak sebentar, aku akan kembali sebelum malam tiba. Aku pamit pergi, makan lah walau sedikit. Kau tak akan pulih hanya dengan cairan infus dan obat-obatan." Ujar Geko penuh perhatian. Selome membuang pandangan ke sekeliling untuk menghalau rasa cemburu di dalam hati nya.


"Ya ya, dasar cerewet. Hati-hati lah, jika tak sempat kembali tak apa kau juga butuh istirahat." Sahut Mallika.


Seperginya Geko, suasana di balik tirai itu mendadak hening. Hanya ada suara langkah kaki dan obrolan ringan para perawat, dan keluarga pasien lain tak jauh dari mereka.


"Harus nya kau katakan jika kau sedang sakit. Biasa nya kau menghubungi ku untuk hal-hal kecil. Kenapa sekarang kau terkesan menjauhi ku? apa karena pria tadi?" cecar Selome meminta pencerahan. Pikiran nya kacau memikirkan keadaan Mallika, di tambah lagi dengan kehadiran Geko di antara mereka.


"Biasanya juga kau akan mengabaikan panggilan ku." Gumam Mallika menatap langit-langit ruangan tersebut. Hati Selome mencelos sakit saat mendengar nya.


Dia sungguh menyesal.


"Maaf..." ujar Selome merasa bersalah.


"Tapi belakangan ini aku selalu menunggu pesan dan panggilan dari mu. Aku juga selalu membuka pesan yang pernah kau kirim pada ku. Aku tak pernah menghapus nya." aku Selome jujur. Mallika tercengang mendengar nya.


Gadis itu seolah tak percaya. Dia pikir selama ini Selome pasti akan langsung menghapus semua pesan nya.


Melihat ekspresi tak percaya terbaca jelas di wajah Mallika, Selome merogoh ponsel nya lalu membuka aplikasi chat. Kemudian memperlihatkan pada gadis itu semua pesan nya.

__ADS_1


Mata Mallika berkaca-kaca, gadis itu menatap tak percaya sederet pesan nya masih utuh di ponsel pria itu.


"Sekarang kau percaya padaku? aku memang jahat karena tak pernah abai pada pesan mu. Tapi aku tak pernah menghapus nya dari sana. Kadang aku membuka nya kala sedang penat akan segala tekanan pekerjaan. Pesan-pesan mu ku jadikan hiburan tersendiri bagi hari ku yang sibuk dan melelahkan. Aku masih muda Mallika, tekanan pekerjaan membuat ku sering melupakan segala hal. Termasuk mengabaikan mu. Maaf jika itu membuat mu kesal." terang Selome menatap manik sayu Mallika.


Mallika menghela nafas panjang, dia tak berpikir hingga sejauh itu. Dia tak bekerja, jadi tak memahami beban pekerjaan yang menumpuk, dan menuntut untuk di selesai kan dengan cepat dan sempurna. Semua butuh konsentrasi penuh dan waktu yang tak sedikit.


Selome pasti tertekan dengan segala tuntutan tersebut. Di samping harus fokus pada materi kuliah, dia juga berkutat pada urusan pekerjaan yang sudah terjadwal untuk di selesaikan dengan deadline tertentu.


"Tak apa kak, maaf juga karena selalu merengek untuk hal-hal kecil selama ini. Ke depan nya aku akan bersikap lebih dewasa lagi dan tak menyusahkan banyak orang karena masalah ku." Balas Mallika tersenyum penuh pengertian.


Selome menggeleng pelan kemudian meraih tangan pucat Mallika.


"Tidak. Ke depan nya kau harus lebih sering merecoki hari-hari ku. Aku tak akan lagi mengabaikan pesan dan panggilan mu. Menjauhlah dari Geko. Ini perintah bukan permintaan." Mallika terdiam. Sulit menjauhi orang yang sudah sering menolong kita.


"Aku tak bisa kak, maaf. Geko selalu baik padaku." Sahut Mallika tak enak hati.


Selome menarik nafas dalam-dalam, kemudian tersenyum simpul.


"Tak apa, tapi jangan terlalu sering bepergian bersama seorang pria terutama saat kau belum mengenal nya dengan baik. Untuk berjaga-jaga saja. Pria tetap lah seorang pria. Keadaan dan kesempatan bisa menjadi pemicu sesuatu hal buruk terjadi. Aku menyayangimu, maaf baru mengatakan nya sekarang. Aku harap aku belum terlambat."


Mallika sudah hampir menangis mendengar pernyataan dadakan tersebut. Sebelum akhir nya tirai terbuka lebar. Kedua orang tua Selome baru tiba di sana dengan wajah penuh kecemasan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Yah gagal deh mendengar jawaban Mallika 🤭😁

__ADS_1


__ADS_2