Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Menolak


__ADS_3

Noora sejenak menatap Savira yang menunduk di hadapan nya, tatapan datar nya mengisyaratkan jika hati nya sudah terluka terlalu dalam.


"Pergilah! Dua hari Savira, hanya dua hari. Jika dalam dua hari itu kau gagal, anggap saja kau sedang menghabiskan waktu singkat mu sebagai salam perpisahan paling berkesan seumur hidup mu." Ucap Noora kejam. Savira mengangguk lemah, karena tak yakin.


Seminggu yang lalu saja dia gagal memindah kan sang adik ke Surabaya. Karena adiknya mengancam akan putus sekolah jika dia di pindahkan. Lagi-lagi Savira kalah telak atas permintaan dan rengekan sang adik. Semoga kali ini Savina bisa di ajak bekerja sama, ibatin Savira berharap. Jika tidak, maka dia lebih memilih menggores jantung nya sendiri, dari pada melihat sang adik mendapatkan hukuman nya.


Noora menatap daun pintu yang baru saja tertutup rapat. Tatapan mata penuh dengan berbagai konflik batin. Savira adalah sahabat nya lima tahun terakhir. Mereka sudah mengenal sejak sekolah hingga kuliah di tempat yang sama. Dan kedua nya sama-sama murid yang cerdas, lulus kuliah di waktu bersamaan lebih cepat dari teman mereka yang lain.


Dengan sedikit pendekatan, Noora mengajak Savira bergabung di perusahaan alat medis milik sang nenek buyut yang kini dia ampu. Bekerja sebagai asisten nya karena Lexan sangat lah pencemburu. Noora memilih jalan aman dengan mencari asisten seorang perempuan, dan kebetulan dia mengenal Savira dengan baik meski tidak dekat.


Mengingat perjalanan lima tahun kebersamaan mereka, Noora tercenung memikirkan sesuatu. Selama bekerja dengan nya, Savira selalu bisa dia andalkan. Meski dalam kondisi tak sehat pun, Savira akan menyelesaikan pekerjaan nya tepat waktu.


Savira baru mengetahui penyakit thalasemia mayor, penyakit kelainan darah bawaan tersebut saat baru bekerja di perusahaan Noora. Wanita itu pingsan setelah lembur selama dua hari berturut-turut.


Sejak saat itu, Savira harus rutin transfusi darah setiap bulan, bahkan kadang dua minggu sekali tergantung kondisi tubuh nya. Dan Noora adalah salah satu pendonor tetap nya. Wanita itu mendonorkan darah nya setiap tiga bulan sekali untuk Savira. Memberikan dua kantung sekaligus bagi Savira.


Savira merasa sangat berhutang segala-gala nya, untuk itu dia begitu kecewa terhadap sang adik yang telah menusuk belati di jantung wanita baik seperti Noora.


Hidup nya entah sampai kapan, Savira juga mengalami gangguan jantung dan liver karena penyakit thalasemia mayor yang di derita nya. Dia sangat berharap sang adik lah yang akan menerus garis keturunan mereka meski terlahir sebagai anak perempuan. Paling tidak, DNA mereka tidak benar-benar putus dan musnah.


Sayangnya, kenyataan tak sesuai harapan nya. Sang adik berburu mangsa yang salah. Terlena oleh kenikmatan dunia hingga lupa, jika setelah mati, masih ada dua pilihan tempat yang akan dia tempati kelak.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Sementara di sebuah kamar khusus tamu, di rumah mewah Noora. Kedua insan sedang beradu peluh, Lexan sedang menikmati apel mengkal sang kekasih gelap.

__ADS_1


"Kakak?" Gumam Savina berusaha mengatur alur nafasnya, sedang kan Lexan masih terus bermain di puncak dada nya tanpa peduli apapun.


"Halo kak.." jawab Savina menahan suara nya.


"Aku akan menjemput ku sekarang, bersiaplah." Klik.


Savina menatap heran pada ponsel nya, kenapa sang kakak terdengar sangat panik.


"Kak hentikan dulu, kakak ku akan menjemput ku." Lexan mengerut dalam, bukankah Savira di luar kota?


"Apa kau lupa, Savira sedang di luar kota." Sahut Lexan santai, kemudian melanjutkan aktivitas nya. Kini pria itu mulai menjelajahi liang surga yang selalu dia puja.


Savina pun tak dapat menolak nya, hingga sentakan keras terasa menubruk milik nya. Gadis itu melenguh panjang, pergulatan penuh peluh pun berlangsung selama setengah jam lebih. Lexan terkapar di samping tubuh Savina, dengan nafas memburu. Kenikmatan yang selalu sulit untuk di tolak, kebutuhan batin yang pernah bisa dia cegah untuk tak terjadi. Meski akan ada sesal setelah nya, namun seperti biasa nya. Sesal Lexan hanyalah janji hati dan omong kosong belaka.


Pria itu akan mengulangi nya lagi dan lagi. Selama sang pemberi kenikmatan masih bersedia membuka lebar kedua paha nya.


Savina segera mengangkat nya.


"Yak kak, apa lagi?" Jawab gadis itu dengan nada malas, dia baru saja bergulat hebat dan sang kakak malah mengajak nya mengobrol di telepon.


"Buka pintu kamar mu, sekarang!" Perintah Savira seraya menggedor pintu kamar tamu di mana Savina menginap.


Kedua mata Savina melotot, begitu pun Lexan.


"Siapa? Kakakmu?" Tanya pria itu panik. Dengan gerak cepat Lexan meraih pakaian nya di lantai, memakai nya asal lalu bersembunyi di kamar mandi.

__ADS_1


Savina merapi kan tempat tidur nya yang seperti kapal pecah. Membuang tisu bekas kemaksiatan nya ke dalam rong sampah.


Klek


Savira masuk lalu menuju lemari, mengemas pakaian Savina dengan menumpuk asal ke dalam koper kecil.


"Kak! Ada apa dengan mu?!" Seru gadis itu marah. Merebut pakaian nya namun Savira memeluk nya erat. Wanita itu berlutut di hadapan sang adik dengan putus asa.


Lexan yang penasaran mendengar suara teriakan Savina, membuka sedikit daun pintu secara perlahan. Terlihat Savira yang tengah berlutut di hadapan adiknya membuat Lexan heran. Bahu Savira terlihat berguncang hebat. Dia yakin wanita itu pasti tengah menangis.


"Aku mohon Savina, ikut lah bersama ku. Kali ini saja, tolong turuti permintaan ku tanpa protes. Semua demi kebaikan mu.." pinta Savira begitu lirih layak nya orang yang sedang kehilangan semua harapan hidup nya.


"Jika kakak tetap memindahkan ku ke Surabaya, aku akan berhenti sekolah. Dan lihat saja, aku akan pergi meninggalkan kakak selama nya. Jadi tolong kak, jangan memaksa ku lagi. Aku tak akan kemana-mana." Seru Savina ngotot, lalu merebut pakaian nya dari pelukan Savira dengan kasar. Mengeluarkan sebagian yang sudah masuk ke dalam koper, dan mengembalikan nya ke dalam lemari.


Lexan semakin heran, dia tau pasal Savira ingin memindahkan Savina ke Surabaya. Namun apa alasan nya dia tak mengetahui apapun. Tak mungkin dia bertanya pada istri nya, sama saja bunuh diri.


Pria itu terus menyimak adegan kakak beradik itu dari balik pintu kamar mandi.


"Jika kau berkeras hati, maka bersiap lah kehilangan nyawa kakakmu ini Savina." Savina menghentikan gerak tangan nya yang tengah merapikan pakaian nya di lemari.


Tanpa menoleh, Savina mengucapkan kalimat yang melukai hati sang kakak. "Lakukan lah kak, terserah apa yang ingin kau lakukan pada tubuh mu sendiri. Aku punya kehidupan ku sendiri, dan aku bukan anak kecil lagi yang bisa kakak setir sesuai keinginan kakak." Ucap Savina tanpa perasaan. Lexan sampai tercengang, tak menyangka Savina setega itu mengucapkan kalimat tersebut terhadap kakak nya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Maaf readers, semalam othor menjadi guru di malam yang seharus nya untuk rehat sejenak. Namun tugas anak-anak sekolah ternyata tak bisa menunggu besokπŸ™πŸ™...

__ADS_1


...Semakin ke sini pembaca othor semakin berkurang πŸ₯ΊπŸ˜’ thanks bagi yang masih setia bertahan, menjadi pembaca novel receh ngalor ngidul iniπŸ™πŸ™πŸ˜šπŸ˜š...


__ADS_2