
Merasa obrolan mereka mulai tak nyambung, Satya memilih untuk mengajak Silvery pulang. "Ayo kita pulang saja, kepala ku sedikit pusing. Aku khawatir tak akan konsen mengemudi kan motor jika kepala ku sakit." Alih Satya ingin lekas kabur dari Silvery.
"Padahal kita kan baru jadian, kenapa kau seperti nya tidak senang." Ujar Silvery memberengut kesal. Satya mengusap wajah nya kasar, mimpi apa dia semalam tiba-tiba siang ini menjadi kekasih seorang gadis polos seperti Silvery.
"Kita bisa jalan kapan-kapan, lagi pula aku bukan kekasih mu. Kita hanya teman, ya teman. Aku lupa satu proses alamiah ini.. hubungan di mulai dari sebuah pertemanan, dan kita baru saling mengenal. Jadi masih sangat jauh proses nya menuju sebuah hubungan pacaran. Apa kau paham? Ah, tidak usah di jawab. Kau pasti tak akan paham, ayo kita pulang saja." Putus Satya akhirnya.
Berlama-lama berbicara dengan Silvery dan berakhir tak nyambung, malah akan membuat nya terkena tekanan darah tinggi.
Akhir nya meski tak senang, Silvery setuju untuk di antar pulang. Sepanjang jalan, gadis itu memeluk erat pinggang Satya hingga membuat pria itu hampir mati rasa.
"Silvery, kita sudah sampai." Silvery menoleh dan melihat rumah nya sudah terpampang di depan mata.
"Haiisss, kenapa cepat sekali sampai nya." Gerutu gadis itu mendumel jengkel.
"Sampai jumpa teman, calon pacar, calon suami dan calon ayah bayi-bayi ku." Seru Silvery membuat Satya menarik gas motor Scoopy lebih dalam. Pria itu bergidik ngeri mendengar kalimat frontal dari gadis polos itu.
"Selamat, selamat...astaga! Seharusnya mereka menambahkan pengawasan pada gadis itu. Bisa-bisa seseorang akan manfaat kepolosan nya dengan mudah." Gumam Satya dari balik helm nya.
Pria itu tengah menunggu si lampu hijau menyala, dan tanpa dia sadari seseorang dari balik pintu mobil mewah di samping nya menatap nya dengan tatapan tak terbaca ke arah nya.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
__ADS_1
"Ini laporan yang anda minta nyonya." Ujar seorang pria membawa beberapa berkas yang berhasil dia kumpulkan.
"Terimakasih Nas, kau boleh pergi. Ah ya, tolong jangan sampai kecolongan lagi. Tugas mu adalah menjaga putri ku, dan kejadian hari ini adalah peringatan terakhir untuk mu. Jika terulang kembali, kau tau harus mengantar surat pengunduran diri mu kemana." Nas mencelos, ini ada kesalahan pertama nya sejak 10 tahun terakhir, dan sang nyonya langsung memberikan peringatan terakhir tanpa pertimbangan.
Namun demi kenyamanan pekerjaan nya, Nas hanya bisa mengangguk patuh lalu pamit pergi. Bukan salah nya hingga diri nya kehilangan jejak Silvery, gadis itu kabur melalui pintu belakang ruangan les nya. Sementara diri nya berjaga di pintu depan.
Meninggalkan Nas dengan kegundahan hati nya. Noora sedang memeriksa beberapa catatan yang berhasil orang kepercayaan temukan di kediaman sang nenek.
Beberapa catatan membuat kepala nya mendadak pusing, tangan nya berkeringat dingin juga mengalami sedikit gejala Tremor.
"Apa-apaan ini!" Desis Noora marah.
Wanita itu meraih gagang telepon untuk menghubungi seseorang.
Noora selalu tak suka basa-basi, dan setiap orang yang bekerja di bawah naungan nya akan langsung mencerna cepat apa yang wanita itu katakan.
"Kalian benar-benar keterlaluan! Jika saja aku tau jika orang yang menjadi pendonor putri adalah pria brengsek itu. Aku akan lebih memilih untuk kehilangan Silvery dari pada membiarkan ada bagian orang yang paling ku benci bersemayam abadi di dalam tubuh nya." Geram Noora menahan gejolak amarahnya. Rupa nya sikap keras wanita itu kembali muncul.
Seseorang di balik pintu menghentikan niatnya untuk bertemu dengan wanita itu. Ada perasaan was-was mendera hati nya.
"Halo paman? apa kau masih menyimpan semua hasil riset di laboratorium nenek buyut ku?"
__ADS_1
"......"
"Bagus. Kirim semua pada ku dan musnah kan sisa bukti yang ada. Kirim beberapa orang yang pernah terlibat ke kota lain dengan identitas baru, aku yakin paman sudah mengetahui prosedur nya bukan?" titah Naura pada seseorang yang dia panggil Paman.
"Sikap mu ini akan membuat kita semua kembali kehilangan Silvery mom. Melunak lah aku mohon, tak perlu memaafkan nya, cukup jalani saja hidup mu tanpa menyimpan dendam atas luka masa lalu itu. Sadarlah jika sikapmu ini akan melukai hati daddy juga. Mom secara tak langsung menunjukkan jika perasaan itu masih ada dengan terus berkutat menyimpan dendam." Naura mengelus perut buncitnya, tadi nya dia ingin menjumpai sang ibu meminta di buat kan makanan kesukaan nya.
Namun kini urung, Naura tak berniat memakan apapun lagi.
flashback
Seorang pria mengerjab, dia merasa tubuh nya kaku dan dingin namun cahaya terang yang membuat nya terbangun memaksa untuk membuka lebar kedua matanya.
Setelah berjuang keras untuk bangun, akhirnya dia berhasil mendudukkan dirinya dari dalam sebuah tabung.
"Apa aku belum mati? kenapa? bukankah kemarin aku di berikan suntik mati? dimana aku sebenarnya?" Monolog nya mencecar sisi kesadaran nya sendiri. Sungguh dia merasa heran, terbangun di dalam sebuah tabung yang hanya cukup menampung tubuh nya. Ada beberapa alat di dalam nya yang seperti untuk mendeteksi fungsi organ nya agar tetap bekerja dengan baik.
Pria itu berjalan dengan langkah kaki menuju sebuah komputer besar tak jauh dari tabung nya. Tertera tulisan, klik tombol panel hijau. Pria itu pun melakukan nya meski dengan perasaan was-was.
Tak lama muncul video seorang wanita lansia yang sangat dia kenali, wanita yang kemarin begitu bersemangat menghajar nya hingga babak belur.
"Halo Lex, apa kabarmu? aku harap kau baik-baik saja itu kenapa kau bisa melihat video wanita tua menyebalkan ini." Mishy terkekeh kecil, terlihat wajah nya jauh lebih tua dari yang kemarin Lexan lihat. Apa yang terjadi, apa wanita itu sedang sakit parah? berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran nya.
__ADS_1
"Saat kau melihat rekaman video ini, arti nya kau sudah menjalani 19 tahun kehidupan dalam tabung crayo itu. Selamat, kau adalah objek penelitian pertama kami dan kau kelinci percobaan yang sukses besar. Kau pasti bertanya-tanya bukan? rasanya seperti baru kemarin. Saat video ini ku rekam, ini sudah tahun ke lima kau menjalankan hidup mu di dalam sana. Apa kau lihat penampakan ku sekarang? aku semakin menua, itu benar. Dan dari sekian lansia yang dulu pernah menghukum mu, hanya aku yang tersisa." Mishy terlihat menghela nafas panjang, ada awan mendung menggantung di manik nya.