
Bayi Charlotte mengalami perubahan posisi, hingga persalinan begitu sulit untuk di lakukan. Charlotte bahkan hampir menyerah namun Miguel terus menyemangati nya tak henti-henti.
Kini bayi mungil itu sudah di bersihkan, dan di serahkan oleh Resy pada Miguel. Dengan tangan bergetar, Miguel meraih putri nya. Pria itu mencium wajah kecil sang anak dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Maafkan papa sayang, membuat ibu mu kesakitan." Bisik Miguel di telinga sang anak, pria itu terus mendekap sang buah hati dengan perasaan penuh yang membuncah.
Sedangkan Charlotte masih di bersihkan juga di lakukan proses untuk menjahit jalan lahir nya. Putri nya lahir sungsang, dan terpaksa harus di lakukan episiotomi. Wanita muda itu mendapat kan 9 jahitan. Itu karena Resy menambah dua jahitan lagi di kulit kulit luar nya. Dia ingin sang menantu tetap mendapatkan milik nya dalam keadaan sempurna meski sudah pernah melahirkan.
Miguel yang sejak tadi melihat proses tersebut merinding berkali-kali, banyak sesal menghantam hati nya. Tangisan nya masih belum reda, sang ibu menatap iba pada putra sulung nya.
"Kau lihat perjuangan seorang wanita untuk membawa anakmu lahir dengan selamat ke dunia ini? Mereka bahkan rela merusak aset berharga mereka demi membuat mu mendapatkan gelar paling mulia. Yaitu seorang ayah. Kau tak akan bisa membayar setiap tetesan darah, rasa sakit dan banyak pengorbanan istri mu dengan semua yang kau miliki di dunia ini. Kau hanya bisa menebus nya perlahan dengan menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab dan mencintai mereka dengan sepenuh hati mu." Miguel tergugu mendengar nasihat sang ibu.
Lengan kokoh nya semakin erat memeluk sang anak yang terlihat tidur nyenyak di pelukan nya.
"Maaf kan aku mom, aku pria bodoh. Aku sudah menyakiti istri ku begitu dalam." Ucap Miguel terisak di dada sang ibu. Mishy memeluk sang anak yang terduduk di sofa sambil memeluk peri kecil nya.
"Bukan pada mommy, tapi pada istri mu.. wanita yang terlihat kelelahan juga lemah itu lah yang harus kau bahagia kan mulai sekarang. Wanita yang rela menjalani hidup nya dengan mengesampingkan semua ego dalam dirinya, agar putri kalian memiliki status yang jelas. Kau tak akan tau bagaimana cara nya Charlotte yang malang bertahan hidup hingga di temukan oleh mama mu di pulau terkutuk itu. Charlotte di temukan tak sadar dan mengalami morning sickness yang parah seorang diri." Ucap Mishy lagi.
Uraian panjang mengenai banyak fakta kembali menyentil hati nya. Miguel tak kuasa lagi berkata-kata, pria itu menghampiri sang istri yang tergolek lemah setelah di bersihkan oleh seorang perawat juga sang mertua mengingat ibu nya baru saja melahirkan. Resy tak dapat membantu banyak dalam hal mengangkat beban.
"Sayang, lihat peri kecil kita. Dia sangat cantik seperti mu, dia punya pipi bulat dan bibir mungil persis seperti mu." Ucap Miguel terisak lalu meraih tangan dingin istri nya. Charlotte masih sangat lemah, perjuangan nya begitu menguras banyak energi.
__ADS_1
Wanita itu hanya mampu menatap wajah menggemaskan putri nya sembari tersenyum samar.
"Biarkan istri mu beristirahat terlebih dahulu, melahirkan membuat seluruh tubuh nya terasa remuk redam. Apa lagi anak kalian terlahir sungsang. Untuk ukuran anak pertama, itu terasa seperti siksaan luar biasa. Temani istri mu , baringkan putri mu di sisi nya supaya dia bisa merasakan hangat ibu nya." Ucap Resy datar.
Miguel menatap wajah sang ibu dengan hati perih, wajah cantik ibu nya sedikit tertutupi oleh bekas luka bakar di pipi kiri nya. Namun ibu nya masih lah secantik dulu.
"Makasih ma, maaf kan aku yang telah bersikap durhaka oyada mu. Aku sungguh menyesali nya." Ucap Miguel dengan bibir bergetar. Teringat saat sang ibu datang kepada nya untuk meminjam sejumlah uang, yang kala itu langsung di tolak mentah-mentah oleh nya. Bahkan Miguel menghina sang ibu dengan kata-kata yang sangat kasar. Tanpa tau jika Resy sedang memperjuangkan kehidupan Mishy yang sekarat.
Dengan tanpa perasaan Miguel menyuruh security menyeret sang ibu dari ruangan nya, meski wanita itu sampai harus bersimpuh di sana. Itulah kenapa Miguel begitu menyesali tak pernah sempat memberikan kata maaf dan memeluk sang ibu, namun ibu nya sudah pergi selama nya.
"Mama sudah memaafkan mu, lagi pula kau tak bersalah apapun. Itu sudah berlalu lama, perbaiki semua nya dengan menyayangi menantu juga cucu mama sepenuh hati mu." Balas Resy bergegas meninggalkan kamar Charlotte. Dia tak ingin menangis di sana dan membuat putra nya semakin merasa bersalah.
Kini hanya tinggal Miguel dan istri juga putri nya. Pria itu meletakkan sang anak di samping Charlotte yang tengah tertidur. Dia pun ikut berbaring, tak henti-hentinya Miguel menatap kedua wanita beda generasi tersebut secara bergantian.
Air mata nya kembali mengalir deras, teringat akan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Tentang pernikahan nya, tentang kehidupan Charlotte selama di pulau juga delama tinggal bersama sang ibu di villa. Charlotte nya mengalami trauma psikologis yang mendalam hingga terbawa ke dalam tidurnya. Sedang kan dia malah tidur nyenyak dam merencanakan pernikahan nya bersama wanita lain.
Sungguh Miguel mengutuk kebodohan nya selama ini, merencanakan hal jahat pada wanita sebaik istri nya. Wanita yang sebenarnya telah mencuri hati nya sejak menjadi mahasiswi baru di kampus nya. Namun tak ingin membuat diri nya di jauhi seperti kebanyakan pria lain yang usai menyatakan perasaannya, langsung di jauhi oleh gadis itu. Miguel lebih memilih jalan aman dengan bersembunyi dalam kedok persahabatan.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Hari, minggu, bulan kini tahun berganti. Miguel telah menjadi seorang ayah yang sempurna dengan tiga orang anak. Saat peri kecil nya berusia 3 tahun, Charlotte kembali mengandung anak kembar. Dan kini berusia satu setengah tahun, sedangkan si sulung kini berusia 5 tahun dan sudah bersekolah.
__ADS_1
Rutinitas nya selalu sama, menjadi sopir pribadi sang anak juga istri tercinta kemana pun para kesayangan nya akan pergi.
"Sayang, ayo makan dengan benar. Biar si kembar bersama ku saja." Ujar Miguel yang baru saja tiba di rumah. Pria itu terlihat masih menggunakan setelan kerja nya tadi pagi. Charlotte tengah menyuapi kedua anak yang terus berlari menghindari suapan sang ibu. Dan itu membawa Charlotte sedikit kewalahan.
Sedangkan baby sitter kedua anak nya masih cuti pulang kampung.
"Mandi saja dulu, aku masih bisa menangani nya." Sahut Charlotte menatap sang suami yang tersenyum hangat pada nya.
"Sebentar lagi, nanti aku akan kembali kotor jika mandi terlebih dahulu. Sekarang ambil makanan dan makan lah di sini sembari memantau Suami mu ini." Charlotte tersenyum manis, dia tau pasti Miguel melihat nya melalui sambungan CCTV di rumah mereka. Dia melewatkan makan siang nya karena kedua anak nya yang sedikit rewel. Hanya sempat memakan sepotong cake juga puding buatan sang pelayan.
"Baiklah, apa kau ingin ku suapi juga sayang?" Miguel mengangguk cepat, dia sedikit lapar. Melihat sang istri tak sempat mengisi perut nya kala makan siang tiba, membuat selera makan nya pun ikut menghilang.
Tak lama Charlotte kembali datang, membawa nampan yang berisi piring juga beberapa mangkuk lauk. Wanita itu tau kebiasaan sang suami, tak akan mengenyangkan perut nya jika dia belum makan.
Mereka duduk di gazebo sambil bercerita tentang aktivitas mereka hari itu, meski Miguel sudah mengetahui kegiatan sang istri namun dia lebih suka jika Charlotte bercerita langsung kepada nya. Meski kadang cerita itu hanya berisi hal-hal yang mudah dan menyenangkan, Charlotte tak pernah mau bercerita kesulitan nya di rumah yang akan membuat sang suami merasa semakin bersalah.
Miguel berubah menjadi sosok baru yang sentimentil. Pria itu gampang menangis saat melihat istri nya sakit dan kelelahan. Namun tetap dingin dan tak tersentuh jika berada di luar rumah.
Rasa bersalah masa lalu membuat psikologis Miguel terjebak begitu dalam. Pria itu begitu mudah menangis jika menyangkut sang istri. Hanya melihat Charlotte duduk diam dan tak terlalu ceria seperti baisa nya, diam-diam Miguel akan mengurung diri nya di dalam ruang kerja nya dan menangis hingga tertidur.
Berkali-kali Charlotte membujuk nya untuk mendatangi psikiater, begitu pun keluarga besar mereka. Namun Miguel menolak keras, dia tak masalah dengan apa yang dia alami. Mungkin lebih baik seperti itu, agar dia selalu teringat akan perjuangan mereka ketika godaan menghampiri. Dia tak ingin terjebak dalam kesalahan yang sama, Miguel lebih suka diri nya yang baru. Dengan begitu dia akan selalu mengingat, akan perjuangan mereka hingga sampai pada saat ini.
__ADS_1
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹