
Sementara di tempat lain, seorang pria tengah gelisah menanti kabar dari sang tunangan. Beberapa kali ponsel nya di lempar kemudian dia pungut kembali.
"Resy sayang, kenapa kau mengabaikan panggilan ku? ck, apa pekerjaan mu lebih penting dari pada aku?" Wira kembali melempar ponsel nya, kali ini ke arah pintu masuk. Alhasil Nurma yang baru masuk hampir saja di cium sayang oleh ponsel melayang tersebut.
"Upz! hampir saja..." Nurma mengusap dada nya yang berdebar bukan karena sedang jatuh cinta.
"Duh! sayang banget, padahal ponsel mehong ckckck..." Nurma menatap miris pada ponsel dengan logo buah tergigit itu. "Malang bener nasibmu Pel.." gumam gadis itu menyayangkan nasib dari ponsel tak berdosa tersebut.
"Kau! kenapa terus menatap ponselku? pungut dan buang lah, pesankan ponsel baru untuk ku beserta kartu nya." Titah Wira terlihat frustasi di kursi kebesaran nya.
"Bapak mau pesan ponsel? boleh sih, tapi kalau kartu kayanya tidak perlu deh. Kan, kartunya tidak ikut rusak di dalam?" ujar Nurma memberikan solusi pada bos sultan nya tersebut.
"Terserah kau saja, sekarang letakkan berkas sumbangan yang kau bawa itu lalu kemarikan ponsel murah mu. Aku ingin menghubungi kekasih ku seperti biasa. Jadi blokir semua panggilan tak penting di handphone mu, aku tak mau mendapatkan gangguan." Nurma menuruti perintah sang atasan.
"Ini berkas dari bagian keuangan, dan dari divisi pemasaran produk. Bukan berkas sumbangan pak." Ujar Nurma sedikit kesal. Bukan perkara berkas, namun ini perkara ponsel nya. Alamat Nurma harus memblokir nomor sang kekasih juga, jika handphone tersebut harus berpindah tangan pada bos nya.
"Kau terlihat kesal? apa kau sedang memendam kemarahan padaku Nurmala?" selidik Wira menatap tajam sang sekretaris.
"Oh, tentu saja tidak pak. Ini silahkan di pakai sepuas nya, ponsel ku meskipun murah masih mulus dan kuotanya banyak. Pakailah pak, jangan sungkan-sungkan tidak perlu malu-malu." Nurma tersenyum semanis karamel. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menghadapi sang atasan.
"Ck! jangan menyindir ku, kartu prabayar saja kau banggakan. Paling-paling kuota internet nya lemot, dan tidak ada seperempat nya dari kuota milik ku." Ketus Wira merasa tersinggung.
"Kartu pascabayar juga kalau sering minjem ponsel orang sama aja bo'ong.." gumam gadis itu berlalu meninggalkan ruangan sang atasan tanpa menoleh lagi.
"Kau mau ku lempar ke bagian mana Nurmala?!" seru Wira meninggikan suaranya, namun Nurma seolah tak mendengar apa-apa. Jalan nya fokus menuju pintu tanpa meladeni kalimat tanya yang tak perlu di jawabnya itu.
"Apa dia minta pindah ke bagian resepsionis di bawah? selalu saja menyebalkan!" Gerutu Wira tak sadar diri. Pria itu mulai berselancar menggunkan ponsel murah milik Nurma untuk menghubungi kekasih nya. Ponsel itu bisa di pastikan aman, karena Nurma akan membuat hidup nya bagai berenang di kubangan api, jika berani melempar handphone murah tersebut. Gadis itu akan membuat pekerjaan Wira dalam satu hari seperti pekerjaan untuk satu bulan, dan Wira jera melakukan hal konyol dengan merusak ponsel Nurma.
__ADS_1
Wira tipikal yang nyaris sama dengan Mylo, sama-sama suka menindas bawahan. Namun Wira memiliki ketakutan tersendiri pada sang sekretaris dan pria itu tidak perhitungan. Berbeda dengan Mylo, pria itu menanam kan metode, simbiosis mutualisme. Atau kata lain, ada uang ada barang, dan harus sesuai keinginan nya.
Keduanya sama-sama tipe bos yang menyebalkan.
Ketika dering ke sekian tersambung dan baru diangkat, Wira baru saja akan buka suara. Namun kalimat sapaan sang kekasih membuat nya bungkam seketika. "Hallo Nurma, katakan pada Wira jika aku sedang sibuk sekarang...nanti aku akan menghubungi nya, oke..ihss yang, jangan mengganggu ku dulu.. tunggu lah di mobil, aku mau menyimpan stetoskop ku di ruangan sebentar."
"Cium aku, aku masih merindukan mu..."
Deg!
Jantung Wira seperti di tumbuk alu, siapa yang kekasihnya panggil yang dengan begitu mesra di ujung telepon. Mendadak dada nya bergemuruh hebat, apa kah Resy mengkhianati nya? jika benar, akan dia cari tau siapa pria yang sudah merampas milik nya.
Wira mematikan ponsel nya sepihak, sudah bisa di pastikan apa yang terjadi di seberang sana. Kekasih nya mencium pria lain. Sungguh Wira ingin langsung menghilang kan diri dan mencecar sang tunangan dengan berbagai pertanyaan.
"Maaf Nurma, kali ini aku akan membuat mu kembali marah padaku." Gumam Wira menatap ponsel sekretaris. Tak lama terdengar suara indah hingga keluar ruangan, Nurma yang kebetulan melintas di depan pintu sang atasan hanya bisa menghela nafas panjang. Ponsel malang nya pasti berakhir menyedih kan sekarang.
"Pak Budi, apa laporan dari divisi utama sudah siap?"
"..."
"Baiklah terimakasih, pesan pak bos jika semua laporan sudah selesai jadi kan satu saja dan antar kemari. Beliau ingin meninjau kembali semua hasil laporan triwulan dari semua divisi. Ingat pak Budi, semua nya. Artinya dari lantai 2 hingga lantai 26."
Klik
Senyum devil tercetak jelas di wajah cantik Nurma.
"Aku tau anda sedang dalam mood yang tidak baik sekarang, pak Wira Artakusuma. Tapi akan lebih bijak jika anda menghabiskan waktu berkualitas dengan bekerja dari pada memupuk rasa penasaran yang berujung pada sakit hati yang semakin dalam." Gumam Nurma seolah mengetahui sesuatu yang tak di Ketahui oleh sang atasan.
__ADS_1
"Siapa yang menelepon mu? Pria itu?"
"Hmmm.." Resy bergumam sebagai jawaban meski terdengar tidak memuaskan bagi Nathan.
"Aku sudah kembali, kenapa kau masih melanjutkan pertunangan kalian. Apa kau sudah tak mencintai ku lagi? lalu kenapa kau menyambut segala perhatian ku selama ini, aku merasa di permainan Sy." Lirih Nathan menatap lurus ke jalanan di depan nya. Hati nya perih saat mengetahui sang kekasih telah memiliki kekasih lain selama dirinya pergi.
"Aku tak ingin membuat keluarga ku malu, pahamilah Nat. Aku pun tak menginginkan pertunangan ini di lanjutkan. Aku masih sangat mencintai mu, dan itu tak pernah berubah." Balas Resy tak kalah lirih. Gadis itu bahkan terisak pelan menatap sisi jalan.
"Kau menerima nya dalam hidup mu, artinya kau juga memiliki hati yang kosong untuk menampung segala perhatian dan cinta pria itu. Kenapa kau lakukan ini padaku, harus nya bilang pada ku ketika aku kembali. Agar aku tak lagi mengharapkan mu. Kau tau kepergian ku bukan untuk melakukan liburan panjang. Aku sedang bertaruh nyawa, harus nya kau pahami itu Sy. Kau seorang dokter, hal semacam itu sudah berada di luar kepala mu." Nathan mencengkeram erat kemudi mobil nya hingga buku jari nya memutih.
"Aku tau, aku salah. Maaf! Tapi aku kesepian Nat, dua tahun, dua tahun Nat! apa kau sadar, keluarga ku butuh kepastian dan aku butuh kau di samping ku. Aku ingin ada yang memperhatikan ku, menjadikan ku pusat dunianya. Aku tau terdengar egois, tapi kau juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti ku. dua tahun aku tak mendengar kabar mu, bagaimana aku bisa bertahan menunggu seseorang yang entah masih hidup atau sudah tiada!" Pecah sudah tangis Resy. Gadis lembut itu kini tengah mengurai segala keresahan hatinya selama tiga tahun ini, tanpa kehadiran Nathan di samping nya.
Sebagai wanita normal, di butuh seseorang yang bisa di jadikan sandaran, bukan hanya memberinya harapan kosong.
"Aku sekarat Sy, ibu ku merelakan jantung nya untuk ku. Aku meraih kehidupan meski masih koma, tapi di detik yang sama, aku kehilangan tumpuan terbesar dalam hidup ku...ibu ku pergi untuk selamanya untuk mempertahankan kehidupan putranya yang malang. Ayahku menahan sesak nya seorang diri, istrinya meninggal dan putranya koma. Apa menurutmu ayahku punya banyak waktu santai untuk sekedar bertukar kabar dengan mu? astaga Resy! kau benar-benar wanita egois! Resy yang ku kenal sudah tidak ada lagi, kau orang asing bagiku sekarang." Nathan berucap dengan nada menggebu meski terdengar putus asa.
Tak pernah dia berpikir hingga sejauh itu, demi sebuah perhatian dan merasa di cintai. Resy menukar kesetiaan nya untuk hal semu tersebut. Nathan tertawa perih, air matanya mengalir tanpa bisa dia cegah. Hati nya benar-benar hancur dan sakit, di saat dirinya berjuang antara hidup dan mati. Kekasih nya justru menikam nya dari belakang dengan begitu kejam
"Maaf...maafkan aku..ijinkan aku memperbaiki ini, jangan pergi lagi. Aku mohon...aku tau aku telah membuat kesalahan fatal padamu, aku tak akan mengelak lagi. Aku salah, aku tidak setia itu benar. Tapi tolong Nat, jangan tinggalkan aku..." Resy menggenggam tangan Nathan yang terkepal erat. Hatinya ketar ketir membayangkan Nathan akan meninggalkan nya.
"Selesai masalah mu dengan pria itu, aku tak ingin membuat keluarga mu malu. Jangan menghubungi ku dulu, aku butuh waktu untuk menenangkan diriku." Suara Nathan mulai melunak, percuma saling beradu argument di saat seperti ini. Hanya akan membuat situasi mereka semakin memanas.
Meski berat, Resy akhirnya setuju.
Kita mulai memasuki ranah konflik ya guys, gas dukungan kalian. Othor mulai semangat lagi setelah membaca semua komentar kalian. Maaf tidak semua di balas tapi dari sekian banyak yang masuk, semua nya othor terima dengan baik. Terimakasih banyak atas atensi kalian pada novel remahan ini. Tanpa kalian novel ini bukanlah apa-apa.
Luv yuu kalian semua, pembaca yang setia dan luar biasa 🤍🤍🥰🥰
__ADS_1