Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Isi hati Wira


__ADS_3

Justin kini tengah duduk di sofa setelah mengobrol ringan dengan Mishy. Wira menelpon asisten nya untuk mengantar kan pakaian ganti untuk Justin. Anak itu menolak pulang ke rumah dengan alasan tak ingin sendirian. Wira tak bisa memaksa, dia tau betapa Justin sangat menyukai Mishy layak nya seorang anak yang merindukan ibu nya. Dan dia butuh Justin untuk tetap membuat nya punya alasan bertahan di sana.


"Kalian tidak pulang?" Tanya Mishy di sela makan nya. Wira tengah menyuapi nya meski sudah dia tolak berkali-kali. Kehadiran Justin membuat nya sukar menolak Wira secara terang-terangan, dan Wira memanfaatkan hal itu untuk mendekati Mishy.


"Kau mengusir kami? Apa kau terganggu dengan kehadiran kami di sini?" Tanya Wira sedikit mengeraskan suara nya, dia berharap Justin mau membantu nya sekali lagi. Ekor mata nya melirik menanti reaksi sang anak, batin nya berdoa komat kamit agar Justin peka.


Mishy melotot lalu mencubit paha pria itu dengan keras. Bisa-bisa nya Wira harus berbicara sekencang itu. Dia tak ingin Justin salah paham.


Justin mendongak ke arah ranjang Mishy. "Apa bibi tidak suka kami di sini?" Tanya anak itu sendu, Justin menutup buku gambar nya.


"Tidak, bukan begitu. Bukan kah kau besok akan bersekolah? Kau butuh istirahat yang cukup sayang, itu maksud ku." Jelas Mishy dengan nada lembut dan bersalah.


"Aku bisa beristirahat di ranjang sebelah itu, tidak apa-apa bukan?" Tunjuk Justin pada ranjang khusus untuk penjaga pasien. Mishy hanya bisa mengangguk pasrah, Wira benar-benar keterlaluan. Pria itu memanfaatkan Justin untuk bisa berdekatan dengan nya lebih lama.


"Daddy dengar? Bibi tak keberatan, kita bisa menginap malam ini. Bibi pasti kesepian di sini seorang diri, kita menemani bibi di sini mulai sekarang." Lagi-lagi Mishy hampir melontarkan kedua bola mata nya keluar. Bagaimana bisa Justin berpikir untuk menemani nya di rumah sakit dalam waktu yang tak tentu.


"Justin sayang, bukan kah kau harus bersekolah? Lagi pula tak baik anak seusia mu berlama-lama tinggal di rumah sakit. Di sini banyak bibit penyakit, tak baik untuk mu. Pulang lah, kau bisa menjenguk bibi kapan hari jika kau sudah libur." Bujuk Mishy tak setuju. Mishy menatap Wira meminta bantuan, agar pria itu mau membantu nya memberikan pengertian pada Justin.


Namun Wira malah memperlihat senyum penuh kemenangan. Mishy benar-benar berada di situasi yang sulit. Wira bahkan merelakan paha nya di cubit keras oleh Mishy hingga berkali-kali. Sakit Jelas saja. Ini paha, bukan telapak kaki. Namun demi bisa menjaga Mishy di sana, sesakit apapun dia akan menahan nya.

__ADS_1


Malam tiba, Justin sudah tidur setelah mengerjakan PR nya. Anak itu begitu manis, dan berhasil mencuri perhatian seorang Mishy yang memang pecinta anak-anak.


Wira? Pria itu hanya beranjak ke kamar mandi dan mengambil sesuatu yang Mishy butuh kan. Selebihnya hanya duduk di kursi di samping ranjang Mishy, tanpa berniat kemana-mana lagi.


"Kasihan Putra mu, pulang lah... Ini rumah sakit, sangat tak di sarankan anak-anak di sini berlama-lama. Aku khawatir dia akan sakit nanti." Ujar Mishy yang kini terlihat bersandar di punggung ranjang. Tubuh nya sedikit kelelahan efek dari muntah yang menguras energi nya.


Dan Wira dengan telaten memijat tengkuk nya juga membersihkan pot muntahan nya tanpa rasa jijik.


"Lalu meninggalkan mu di sini seorang diri? Tidak! Lagipula Justin tak akan suka jika aku membawa nya pulang." Tolak Wira tegas. Pria itu masih memijat pelan kaki kurus Mishy, wanita itu hampir mengalami disfungsi masa otot kaki nya efek kemoterapi tidak dia jalani.


"Ck! Kenapa kau keras kepala sekali. Jelaskan pada nya dengan benar. Rumah sakit bukan tempat tinggal anak-anak yang sehat, di sini dia tak akan konsentrasi belajar dan istirahat nya pasti akan tergganggu." Kesal Mishy menunduk dalam, Mishy berada di tahap tak percaya diri yang luar biasa. Selain kebotakan nya, wajahnya pasti terlihat dua kali lipat lebih tua dari usia nya.


Sungguh itu tak perlu, dia tak butuh belas kasihan. Dia hanya ingin menjalani pengobatan nya dengan pikiran yang tenang agar lekas pulang dan berjumpa dengan anak-anak nya.


"Di sini juga nyaman, Justin bisa tidur nyenyak. Coba lihat lah, belajar nya tak ada masalah. Jangan membuat pikiran mu berpikir keras, dengar, kami melakukan ini karena kami ingin. Terutama aku, aku melakukan nya karena hatiku menginginkan nya. Aku senang bisa bertemu dengan mu hari ini, meski tidak dengan apa yang kau alami saat ini. Jika kau berpikir aku disini karena hutang nyawa di masa lalu, kau salah. Aku di sini karena hatiku merindukan mu, sangat." Wira menatap netra sayu di hadapan nya dengan hati sesak menahan perih.


"8 tahun lebih aku pergi dengan harapan bisa melupakan dan merelakan mu, namun nyata nya hatiku tak mampu aku dustai. Kau masih menguasai seluruh relung hatiku hingga tak bersisa secelah pun untuk wanita lain. Bahkan saat masih bersama Resy dulu, diam-diam aku selalu mencuri pandang padamu. Namun karena aku masih dalam kebodohan yang mutlak, aku mengabaikan rasa yang tumbuh saat pertama kali aku melihat mu ketika prosesi lamaran ku dan Resy di restoran waktu itu." Urai Wira menatap Mishy dengan tatapan sendu.


Wira mengurai isi hati nya tanpa peduli pada pandangan Mishy pada nya. Biar lah dia terlihat seperti pria yang menyedihkan di mata Mishy. Nyata nya, hidup nya memang tak pernah baik-baik saja selama ini.

__ADS_1


"Ijinkan aku merawat mu, besok aku akan membujuk Justin agar mau pulang dan kemari saat libur saja. Tapi jangan menolak kehadiran ku, aku mohon." Ujar Wira mengiba dengan nada lirih. Mishy di dera dilema berat. Siapa dia bagi Wira dsn siapa Wira bagi nya. Tak peduli dengan perasaan pria itu, dia benar-benar tak nyaman di perlakukan seperhatian itu oleh pria lain. Apalagi pria yang pernah menorehkan luka di hati nya meski karena kesalahpahaman.


"Istri mu akan salah paham padaku, aku tak ingin jadi perusak rumah tangga siapapun. Pulang lah.." Ujar mulai putus asa meyakinkan Wira untuk pergi.


"Aku sudah bercerai, lagi pula yang ku jalani bukalah pernikahan. Hanya sebuah kesalahan yang di ciptakan oleh mantan istri ku untuk menjebak ku. Nyata nya wanita itu melahirkan anak pria lain." Jelas Wira tak ingin lagi mendengar penolakan Mishy pada nya.


"Aku mengantuk.." ujar Mishy setelah terdiam beberapa saat. Wanita itu memiringkan tubuh nya membelakangi Wira.


Wira hanya bisa menghela nafas berat, dia tau Mishy sedang menolak perhatian nya secara halus. Namun dia tak akan menyerah, cukup di masa lalu dia menjadi pria bodoh yang tak bisa membedakan, perasaan cinta dan sekedar hutang nyawa. Itu pun pada orang yang salah.


Malam semakin larut, namun kedua netra Wira tak dapat di pejamkan. Wira masih betah duduk di kursi meski tak nyaman. Dia tak ingin berjarak dari Mishy, dia khawatir wanita itu butuh sesuatu dan tak mungkin akan memanggil jika jarak nya berjauhan.


Wira berpindah posisi agar lebih leluasa menatap wajah wanita yang sangat dia cintai itu. Sesekali mengelus pipi tirus Mishy dan memberikan kecupan sayang ke kening wanita kesayangan nya.


"Selamat tidur bidadari, mimpi yang indah. Tuhan mengasihi wanita sebaik diri mu, aku yakin Tuhan tak akan tega membuat rasa sakit ini terus menghujam mu. Aku akan mencari donor sum-sum tulang belakang untuk mu, aku juga akan memeriksa kan diriku sebelum itu. Aku harap apa yang kau butuhkan, semua ada pada ku. Aku sedikit tak rela ada bagian dari orang lain di tubuh mu. Apalagi jika orang itu seorang pria, aku cemburu." Sepotong malam, Wira berceloteh tanpa rasa lelah. Kantuk tak kunjung menyapanya hingga subuh tiba.


Rupanya kerinduan Wira benar-benar berada di puncak. Sehingga terlelap pun, dia tak rela.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹

__ADS_1


__ADS_2