
Dalam perjalanan yang macet, mengingat jika itu adalah waktu nya orang-orang memburu makan siang. Satya semakin gusar, bertepatan sang istri menelpon nya Satya meminta Silvery untuk datang ke hotel terdekat dari tempat mobil nya terjebak macet.
Pria itu meninggal kan mobil nya begitu saja di bahu jalan tanpa peduli akan di tilang. Toh hanya mobil pikirnya, ada yang lebih darurat yang harus di utamakan saat ini. Silvery bergegas pergi setelah sang sopir bersiap. Wanita itu bahkan hanya mengenakan daster rumahan kebanggaan nya. Karena sang suami meminta nya tak perlu berganti pakaian.
Silvery tau apa yang telah terjadi, hingga tak banyak protes. Setiba di lobby hotel, Silvery sudah di sambut oleh seorang karyawan hotel. Wanita itu menyambut Silvery dengan begitu ramah, bagaimana tidak, hotel sederhana tersebut di datangi oleh seorang keturunan Sultan. Wanita yang di ketahui memiliki hotel berbintang itu terdampar menginap di hotel kelas menengah tersebut. Siapa yang tak bangga melayani nya.
"Maaf jika fasilitas kamar kami memiliki banyak kekurangan nyonya, kamar yang di pesan oleh tuan Satya adalah tipe terbaik yang kami punya. Ada beberapa fasilitas tambahan sudah kami antar tadi, semoga anda merasa nyaman. Ini kamar nya. Wanita itu berbicara dengan nada terengah-engah, menjelaskan semua kekurangan dan kelebihan hotel tersebut membuat nafas nya hampir habis. Hanya ada tangga untuk mencapai kamar pesanan Satya, hotel itu tak memiliki fasilitas elevator.
Mengingat hotel tersebut hanya hotel 4 lantai saja, dan sangat jarang bahkan hampir tak pernah di kunjungi oleh para orang sekelas Silvery. Silvery tersenyum ramah dan mengucapkan terimakasih dengan mengusap lembut bahu gadis itu.
Setelah Silvery masuk, si karyawati masih terpaku di tempat nya berdiri. Tak menyangka orang kaya ada yang seramah itu. Dengan mengusap ulang bekas sapuan lembut tangan mulus Silvery, gadis itu tersenyum senang. Seolah baru saja mendapatkan tips besar.
Gadis itu kembali turun ke lantai dasar untuk melanjutkan pekerjaan nya.
"Astaga! orang kaya ternyata ada juga yang ramah dan baik." Gumam gadis itu terus memekarkan senyum indah di bibir nya. Membuat rekan kerja nya menatap heran.
"Kau kenapa? dapat tips gede?" tanya sang rekan kepo.
"Ini lebih dari tips ratusan ribu, Yono. Tau tidak kamar 220 tadi yang mesen nya horang kaya di kota ini. Yang punya hotel paling besar itu loh. Orang nya ramah banget, tadi punggung aku di usap seperti ini. Gimana aku tidak kegirangan. Semoga kaya nya nular ya." Ucap Rere kembali tersenyum.
Yono sang rekan mencebik tingkah teman nya itu. "Cuman di usap doang mah udah sesenang itu, kirain abis dapat tips gede. Kan mayan buat beli makan siang." Gerutu Yono kesal.
"Kok sewot sih! ini nih kalo otak nya cuan mulu. Mana ngerti arti kebajikan dan nilai ramah tamah. Orang biasa ramah itu sudah biasa, nah kalo sekelas sultan ramah itu wuarbiasahh!" seru Rere ikut kesal akan reaksi sang rekan kerja.
"Tetap aja ramah tidak bisa buat beli nasi uduk. Abis di senyumin orang kaya tetap laper kan? tidak ada beda nya buat aku." Oceh Yono tetap pada pendirian nya.
"Coba kalau ramah, tips nya ada. kan enak, ini mah ramah doang tapi pelit. Orang kaya mah suka gitu, menyamarkan keadaan supaya kau lupa meminta tips." Terang Yono berpendapat. Sebagai senior di sana, Yono sudah berpengalaman dalam menghadapi tamu hotel.
Rere mencibir sikap materialis sang rekan.
__ADS_1
"Terserah deh, di kasih tips itu bonus. Jadi jangan terlalu berharap, toh tugas kita kan melayani bukan meminta imbalan pada yang menginap. Syukur-syukur ada yang menginap, sudah hampir sebulan ini pengunjung hotel sepi. Fasilitas banyak yang tidak karuan. Pendingin ruangan dan toilet sering macet. Itu yang seharusnya kau pikir kan. bukan nya soal cuan doang." Omel Rere kesal lalu meninggalkan teman nya yang menjengkelkan.
Mood nya baru saja membaik, malah sudah di rusak oleh Yono perkara tips.
"Padahal yang nganter tamu naik kan aku, kenapa dia yang sewot sih. Efek THR tidak turun- turun, kerja jadi kendor, tips mulu yang di pikirin." Gerutu Rere berjalan menuju pantry.
Dia ingin membuat menu makan siang sederhana ala restoran bintang lima, meski dengan resep ala kampung halaman. Mengingat jika itu adalah waktu nya makan siang meski sedikit terlambat.
"Semoga tamu nya suka, ini resep ibu dari kampung. Tinggal di tata aja, di hias dikit. Taraaa, jadi deh. Udah kaya menu hotel tidak sih? Googling dulu ah, cara menata makanan yang bener." Gumam gadis itu penuh semangat.
Hotel tersebut mulai sepi karena terlalu banyak keluhan pelanggan melalui website, dan itu pasti di baca oleh banyak orang. Sehingga sekarang pengunjung semakin berkurang. Rere paling semangat kala ada tamu yang menginap, karena bermodalkan ijazah SMA sangat sulit untuk mencari pekerjaan di tempat lain.
Tanpa skill apapun, Rere bertekad untuk mempertahankan diri bekerja di hotel tersebut. Meski gaji nya tidak sebanding dengan jam kerja nya di sana.
Setelah selesai menata makanan dan minuman, juga ada dua botol air mineral kemasan tanggung. Rere mulai menyusun di atas nampan. Namun mengingat jika sang tamu berada di lantai 4, membuat Rere sedikit bergidik. Alamat betis nya akan cenat cenut saat naik ke sana.
"Semangat Rere, dan jangan mengharapkan apapun dari kebaikan mu. Semua agar tamu mu betah." Ujar gadis itu menyemangati diri nya sendiri. Di antara semua karyawan, hanya Rere lah yang paling rajin. Selain melayani tamu, Rere juga bertugas membersihkan kamar yang akan di tempati juga setelah di gunakan oleh tamu.
Setelah hampir satu menit menunggu dengan lelah, akhir nya pintu terbuka. Terlihat Silvery dengan kimono di tubuh nya menyambut Rere dengan senyum manis.
"Siapa sayang?!" seru Satya dari kamar mandi yang terbuka.
"Layanan kamar dad, kita mendapatkan makan siang. Aroma nya sangat lezat. Terimakasih nona, siapa koki nya?" Rere tersenyum salah tingkah. Apakah itu sindiran atau bagaimana.
"Itu saya buat sendiri nyonya, maaf jika rasa nya sedikit kurang cocok di lidah anda. Ini hanya menu kampung yang coba saya sulap seperti menu restoran." Ujar Rere jujur. Gadis itu menunduk dengan kedua kaki saling menginjak gelisah.
Silvery tersenyum hangat, dia menyukai kejujuran dan kepolosan gadis itu.
"Terimakasih....Rere, benar?" Rere mengangguk sembari mengelus nametag nya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi nyonya, anda bisa mengajukan keluhan atas makanan ini nanti melalui sambungan telepon di dalam kamar. Ada buku petunjuk nya kemana anda bisa melayang kan komplen." Silvery mengangguk paham. Setelah nya Rere berlalu pergi.
"Pria atau wanita?" Silvery tersenyum geli.
"Seorang gadis, ku rasa dia yang mengantar mu ke kamar ini tadi dad. Nama nya Rere, dan gadis baik itu membuat kan kita makan siang. Lihatlah, ini menu kesukaan kita, bukan? kita sudah lama tak makan menu makanan ini." Ujar Silvery meletakkan nampan di atas meja.
Satya duduk di sofa sambil menatap menu yang di hias sedemikian rupa tersebut.
"Niat banget seperti nya," kekeh Satya melihat tampilan makan siang mereka yang di hias seperti kue ulang tahun. Sangat detail dari berbagai sisi.
"Benar sayang, kata nya resep dari kampung halaman. Pasti rasa nya enak. Ayo kita coba," ajak Silvery tak sabar. Kedua nya makan dengan lahap, makan siang buatan Rere ternyata sangat cocok di lidah pasangan mesum halal tersebut.
Sementara di pantry, Rere gelisah. Karena kini sang bos pemilik hotel kembali memarahi nya. Sikap Rere yang terlalu baik pada tamu kadang membuat gadis itu terjebak masalah.
Ada saja komplen dari tamu mengenai rasa masakan nya yang tidak karuan. Dan berujung tamu tersebut meminta ganti rugi dan tak membayar biaya menginap. Dan semua akan di potong dari gaji gadis malang itu.
"Kau benar-benar keras kepala! kenapa selalu bertindak sendiri tanpa meminta pendapat senior mu hah!? sekarang kemasi barang-barang, kau ku pecat dan jangan berharap pesangon. Aku yakin kali ini tamu itu pasti sedang merencanakan untuk tak membayar tagihan hotel lagi seperti yang sudah-sudah." Rere menangis sesenggukan. Niat hati ingin menarik empati pelanggan agar betah dan kembali lagi ke sana, malah berakhir di pecat tak hormat.
Dengan langkah gontai, Rere mengemasi barang nya yang tak seberapa. Lalu berpamitan pada rekan kerja nya.
"Kau sih, keras kepala banget. Udah sering di kasih tau juga, tamu tak perlu kau baik-baiki. Jika mereka berniat kembali mereka akan datang dengan sendirinya. Di pecat kan jadi nya." Gemas sang rekan menatap iba pada Rere.
"Tak apa, yang penting kan udah usaha. Semoga masih bisa di terima bekerja di tempat lain. Nyuci piring di restoran juga tidak masalah. Aku pamit ya, semoga hotel ini kembali ramai seperti semula." Setelah berpamitan Rere berjalan keluar dari lobby hotel. Gadis itu memilih berjalan kaki menuju kost murah nya. Dia berencana akan langsung mencari kerja setelah mengganti pakaian nya.
"Tak apa Rere, tetap semangat. Orang baik jalan nya tak akan terlalu sulit. Amin" Ucap gadis itu penuh nada harapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hayooo mana semangat nya, Rere aja semangat walau di pecat 😁
__ADS_1
Lope lope para kesayangan buna Qaya 🥰🤍🤍🤍