
Sang suami menatap wajah puas istri nya dengan senyum miring. "Apa perlu aku turun tangan sayang? Aku tak rela melihat pria brengsek itu melukai permata murni keluarga kita lebih dalam lagi." Sela sang suami duduk di samping istri tercinta nya.
"Tidak perlu sayang, aku bisa mengatasi nya sendiri. Aku khawatir jika kau turut andil, pria itu akan memilih jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan nya. Akan menjadi tidak seru jika Target ku terlalu cepat menghadap sang kuasa, sementara dosa nya belum sempat dia tebus lunas." Balas sang istri tersenyum manis.
Sang suami hanya bisa menghela nafas panjang, jika sudah menyangkut hal seperti ini sang istri adalah master nya. Dia bisa apa selain tetap berdiri kokoh di samping wanita nya, sebagai supporter terbaik bagi wanita kesayangan nya itu.
๐น๐ท๐น๐ท๐น๐ท๐น
Noora baru tiba di rumah pukul 10 malam, terlihat mobil hadiah pemberian nya untuk ulang tahun sang suami bulan lalu sudah terparkir indah di garasi luas nya.
"Apa sebaik nya kau ku sumbangkan saja, dari pada kau di tunggangi oleh pria laknat itu." Monolog Noora mengusap kap mobil nya dengan tatapan miris.
Kaki lelah Noora melangkah malas ke dalam rumah nya melalui pintu penghubung menuju dapur. Bertemu dengan sang suami membuat seluruh rasa lelah nya bertambah berkali-kali lipat.
"Sayang? Kenapa kau pulang selarut ini? Mandi lah, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu." Hampir saja jantung Noora melompat keluar karena terkejut suara sang suami yang tiba-tiba.
Sambil mengusap dada nya, Noora berusaha menetralkan rasa kesal di hati nya.
"Kenapa kau heran? Sejak beberapa hari ini aku selalu pulang malam. Dan ini yang tercepat ku rasa, kau biasa nya tak pernah bertanya apapun." Noora berusaha menjaga intonasi suara nya agar tetap tenang. Hari nya sudah sangat melelahkan, di tambah melihat tampang menyebalkan suami nya, semakin buruk lah mood nya.
"Maaf kan aku sayang, aku hanya ada sedikit masalah di kantor. Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat di bathtub, mungkin sedikit dingin. Kau bisa menambah suhu nya lagi." Ucap Lexan tersenyum kaku. Betapa bodoh nya dia, Noora bahkan sering pulang hingga pukul 11 malam dan dia baru protes hari ini. Lexan merutuki kebodohan nya sendiri sambil bergumam tak jelas.
Sedangkan Noora menuju lantai atas untuk membersihkan diri. Ah tidak, wanita itu ingin berendam cantik lebih lama. Sungguh dia sangat lelah, lelah hati juga pikiran.
__ADS_1
Lexan terus menatap benda melingkar di pergelangan tangan nya. Sudah satu jam dan Noora belum ada tanda-tanda mendatangi nya. Sesekali pria itu melirik ke arah tangga, namun bayangan Noora pun tak terlihat.
"Sedang apa sih wanita itu, kenapa ada orang mandi sampai menghabiskan waktu satu jam." Gerutu Lexan kesal. Sembari menunggu sang istri turun, Lexan menghubungi nomor seseorang.
"Kak, kenapa kau tak membalas semua pesan ku seharian. Jangan memaksa ku datang ke sana lagi dan kita kembali bercinta di dalam rumah itu. Aku akan nekat jika kakak mulai menghindari ku, ingat itu!" Lexan tercengang, baru saja dia akan menyapa gadis pujaan nya dengan nada suara penuh rasa bersalah. Namun lebih dulu di cecar dengan kalimat yang mengerikan dari gadis kecil itu.
"Hei sayang, maafkan aku. Ada masalah di perusahaan hari ini dan itu sangat serius. Kau tidak ingin bukan, kehilangan uang jajan dari ku? Jadi tolong bersikap kooperatif lah kali ini, perusahaan ku sedang goyah. Kau akan tetap menjadi prioritas utama ku meski aku sedang sibuk, hanya saja kali ini berbeda. Ini menyangkut masa depan ku, juga diri mu." Jelas Lexan panjang lebar. Dan ya, bujukan maut nya berhasil, membuat sudut bibir gadis di seberang sana melengkung sempurna.
"Baiklah, lain kali balas lah pesan ku walau hanya sekali. Kabari kau jika kau sedang dalam masalah kak, jadi aku bisa mengerti." Ucap nya luluh. Lexan tersenyum penuh kemenangan mendengar kucing kecil nan liar nya kembali menjadi sosok yang penurut.
"Baiklah sayang, aku hanya ingin tau kabarmu hari ini. Kalau begitu sudah dulu, istri ku sedang di rumah. Lihatlah, aku bertaruh nyawa hanya untuk mengetahui kondisi mu, kau masih meragukan ku hmmm?" Rayu Lexan lagi, membuat jiwa remaja Savina semakin menggebu-gebu.
"Hmmm...aku percaya, ya sudah. Selamat malam kak, aku mencintaimu." Ucap Savina mengakhiri panggilan mereka.
Senyum Lexan mengembang mendengar kalimat penuh damba Savina pada nya. Dia merasa menjadi pria paling beruntung, karena bisa menghisap madu dari gadis belia itu sejak usia Savina baru 17 tahun.
๐จJangan lupa video mu sayang, aku merindukan lekuk tubuh mu yang selalu membuat ku tergila-gila.
Lexan tersenyum puas saat pesan nya berhasil terkirim.
Beberapa menit kemudian getar ponsel nya membuat nya sedikit tersentak, dia pikir sang istri lah yang datang.
Rupa nya pesan video yang di kirim oleh Savina. Memperlihatkan bagaimana gadis 18 tahun itu begitu liar melepaskan lingerie transparan milik nya dengan gaya menggoda. Kemudian bermain-main di area lembab nya menggunakan jari nya sendiri. Sungguh tak ada yang mengira gadis kecil itu begitu liar.
__ADS_1
Lexan terlihat gelisah, milik nya sudah mengeras sempurna di balik celana boxer nya. Melihat belum ada tanda-tanda Noora akan turun, Lexan menuju kamar mandi di bawah tangga. Pria itu berniat bermain solo dengan melakukan video call dengan sang kekasih.
Tak berapa lama, terlihat seorang gadis tengah berbaring dengan pose menantang. Membuka kedua paha nya selebar mungkin sesuai instruksi Lexan. Dua jari nya di masukkan perlahan untuk membuat pria nya semakin menegang. Lexan mengeram penuh semangat, memainkan batangan nya semakin cepat. Sudah tiga hari pria itu tak mendapat jatah nikmat dari Savina. Gadis itu baru saja selesai masa periode nya kemarin.
"Masukkan empat jari mu sayang, buat dia memuntahkan cairan nikmat mu...akh.. seperti itu.. lakukan lebih cepat..aku akan sampai..." Racau Lexan semakin cepat bermain dengan milik nya.
Di seberang sana Savina pun berusaha mencapai puncak nya, dengan tempo cepat akhir nya kedua insan jahanam itu mengerang panjang dengan nafas memburu. Cairan milik Lexan bahkan muncrat hingga mengenai ponsel nya. Sedangkan Savina terlihat lemas di atas ranjang nya, ini adalah pelepasan kedua nya, jelas saja dia terlihat lemas. Meski tak bermain secara langsung tetap saja membuat energi nya terkuras melalui keluar nya cairan nikmat nya.
"Terimakasih sayang, kau selalu tau cara membuat ku bahagia." Ucap Lexan setelah membersihkan milik nya. Pria itu kembali keluar dengan wajah berseri, permasalahan nya seolah terlupakan sejenak.
Saat kembali ke ruang keluarga, betapa terkejut Lexan kala melihat sang istri sedang duduk manis di sana. Wanita itu menikmati secangkir seduhan teh melati kesukaan nya.
"Sa_yang, sejak kapan kau di sini? Maksud ku..."
"Aku baru duduk di sini jika itu yang kau maksud, aku langsung menuju dapur untuk membuat teh kesukaanku." Jelas Noora memotong cepat kalimat Lexan, riak wajah Lexan terlihat lega. Namun apa istri nya tak mendengar suara desa han nya tadi di toilet yang ada persis di bawah tangga. Pria itu kembali gugup, meski Noora tak memperlihatkan ekspresi apa pun di wajah cantik nya.
"Duduk lah, kenapa kau malah berdiri bengong di sana." Tegur Noora membuat Lexan semakin salah tingkah.
"Ah ya, maaf sayang. Aku baru saja terserang diare, jadi aku memutuskan menggunakan kamar mandi di bawah tangga." Ujar Lexan memancing reaksi istri nya, namun Noora tak memperlihatkan ekspresi apapun. Membuat nya sedikit bernafas lega.
"Eh? Lalu sekarang? Apa perut mu masih sakit? Kenapa tak bilang padaku, tunggu sebentar." Noora bergegas menuju kotak penyimpanan obat, mengeluarkan dua butir obat lalu mengambil segelas air putih. Lexan tersentuh melihat kepanikan sang istri. Andai dia bisa menahan hasrat nya, mungkin sekarang dia sudah bisa menyentuh sang istri tanpa takut memperlihatkan tubuh nya yang menyembunyikan banyak jejak dosa nya.
"Minum lah.." Noora memberikan dua tablet yang sudah dia buka dari bungkus nya, juga segelas air pada sang suami.
__ADS_1
Meski tak sakit, Lexan tetap meminum nya. Hati pria itu berbunga saat melihat perhatian tulus sang istri yang tak akan mungkin dia dapat kan dari seorang bocah seperti Savina. Terbersit sesal, namun selalu menjadi sesal setelah perbuatan bejat nya terlaksana. Sulit bagi nya menolak lahan basah milik Savina, kala gadis itu dengan suka rela memberikan nya kapanpun dia ingin kan.
Biarlah sebentar lagi, setelah dia puas dengan gadis itu. Maka dia akan kembali menjadi sosok Lexan yang setia seperti dulu. Begitu lah pikir nya berencana, tanpa tau jika rencana tersebut, kelak akan berubah menjadi bencana untuk nya.