Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Takdir


__ADS_3

Harland terduduk kembali, lalu menoleh ke kiri kanan. Hanya ada diri nya saja. Resy masih mandi, terdengar suara gadis kecil itu bersenandung lagu anak-anak kesukaan nya.


Harland menekan dada nya yang tiba-tiba terasa sesak, entah karena apa. Dia seperti akan kehilangan orang yang paling penting dalam hidup nya. Bukan kah ibu dan adik nya sehat-sehat saja, kemarin pagi dia sempat melihat kedua nya dari kejauhan seperti biasa nya.


Kini pikiran nya tertuju pada Rosy, dia seperti melihat bayangan wajah Rosy dalam penglihatan samar nya tadi. Mengusap pelan pipi nya.


Harland meraih ponsel yang sudah menemani nya selama tiga bulan ini, tertera sebuah nomor tanpa nama. Selama ini dia tak pernah mencoba untuk menghubungi nya, teringat pesan Rosy pada nya. Maka dia mengurungkan niat nya setiap kali membuka kontak tersebut.


Namun kini hati nya tak bisa lagi menahan, seperti ada sesuatu yang memaksa nya untuk menekan nomor tersebut.


Panggilan pertama tak di jawab, Harland mulai gelisah. Panggilan kedua pun sama, hingga di ujung panggilan ketiga Harland mulai putus asa.


Klik


"Hallo..?" suara kecil di ujung telepon, membuat hati Harland berdesir hebat. Itu suara putri nya.


"Hallo sayang, ini papa... Bagaimana kabarmu dan Mylo, apa kalian sehat? mana mama? kenapa tidak mengangkat panggilan papa?" Harland membrondong sang anak dengan pertanyaan beruntun.


"Kenapa papa baru menelpon sekarang ?" suara isakan kecil Mishy membuat dada Harland sesak.


"Maaf sayang, papa hanya takut tak bisa menahan diri untuk tidak mendatangi kalian ke sana. Maaf... bagaimana kabar saudara mu? mama?" ulang Harland.


"Mylo baik...mama..." Mishy meraung di ujung telepon, Harland kebingungan hingga akhirnya suara Mishy di ganti kan oleh seseorang.


"Harland?"


"Ah ya, apa ini kau, Sania?" Harland balik bertanya.


"Ya, aku sania...bisa kah kau kemari?" entah kalimat Sania semacam pertanyaan atau permintaan.


"Apa Rosy tidak masalah, dia pernah bilang jangan menghubungi nya sebelum dia sendiri yang menghubungi ku lebih dulu. Dan sekarang aku melanggar janjiku pada nya, aku yakin dia akan sangat marah." Lirih Harland.


"Kemarilah, dan cari tau sendiri...apa dia akan marah atau tidak?" kalimat ambigu Sania mengusik batin Harland. Kemana wanita itu, kenapa dia tidak membawa ponsel nya.


"Tapi..?" ucap Harland meragu.


"Jika kau masih ingin melihat nya, datanglah Harland... Rosy tak punya banyak waktu, dia hanya bertahan hidup dengan bertopang pada alat bantu kehidupan. Temuilah Rosy sebelum waktunya selesai di dunia ini..." Sania mematikan panggilan nya secara sepihak, karena di ujung sana. Tangis Sania pecah tak terbendung lagi. Sela terus memeluk senior nya dengan air mata yang mengalir sama deras nya.


Rosy kini sedang sekarat, beberapa orang dokter tengah berusaha mengembalikan detak jantung wanita itu. Garis lurus di layar monitor itu sudah terlihat jelas, jika tanda-tanda kehidupan yang Rosy miliki telah tiada. Tumor otak stadium akhir telah menggerogoti tubuh nya selama beberapa tahun terakhir. Rosy koma sejak dua bulan yang lalu, dan itu sungguh mengejutkan bagi Sania. Rosy hanya mengidap bipolar, lalu kenapa pingsan nya bisa sampai mengakibatkan wanita itu kritis.


Rupa nya penyakit Rosy telah di ketahui oleh kedua anak nya. Untuk itu Mishy butuh kehadiran sang ayah, agar ibu nya punya satu lagi penyemangat dalam hidup nya yang kesepian.


Sedangkan Harland terpaksa meminjam sejumlah uang untuk membeli tiket pesawat pada Andre. Andre sama sekali tak keberatan.


"Aku harap cukup, pergilah dan jangan lupa hubungi aku jika kau butuh sesuatu. Oh ya, ini milik ku. Mungkin harga nya tak mahal, ibu panti memberikan nya saat aku ke sana sebulan yang lalu, beliau baru menemukan nya dalam kotak dokumen di gudang. Katanya, itu terpakai di leher ku ketika aku di temukan di tepi sungai saat kecil. Jual lah bila kau butuh biaya di sana." Harland menerima kalung tersebut bukan karena senang bisa menjual nya nanti. Namun kalung itu, sama dengan yang di miliki oleh Rosy.


Liontin berbentuk sebelah hati dengan anak kucing di tengah nya, mengingat kan nya pada liontin sebelah hati Milik mantan istri nya yang katanya hilang bersama saudara kembar nya saat mereka berusia lima tahun.

__ADS_1


"Kau...! kau harus ikut dengan ku..bersiaplah, tak perlu bawa pakaian, Resy bisa memakai pakaian sepupu nya di sana." Ujar Harland tiba-tiba menarik tangan Andre menuju taksi.


Andre kebingungan namun tetap mengikuti langkah Harland menuju taksi. Resy pun turut duduk di depan bersama sopir.


"Har, sebenarnya ada apa ini? kenapa aku dan Resy harus ikut, maksud ku...kau tau sendiri, Rosy sangat membenciku. Aku tak ingin melihat putri ku harus mendengarkan kalimat tak enak dari wanita itu. Aku tak sanggup, aku akan mengantar mu hingga bandara saja, lagi pula lihat..aku bahkan masih memakai celemek begini." Seloroh Andre mencoba memecahkan keheningan.


Harland terus memainkan kalung liontin yang Andre berikan. Pikiran nya mulai berkecamuk. Pantas saja wajah Andre tak asing. Rupa nya pria itu adalah bagian dari Rosy.


Setelah perdebatan panjang di bandara, kini mereka telah tiba di rumah sakit, Andre terus mengikuti langkah lebar Harland yang terlihat sangat panik. Resy sampai harus dia gendong agar tidak kelelahan mengejar langkah kaki sang paman.


"Sania?" seru Harland menatap tubuh Sania yang merosot di lantai, wanita itu tengah di peluk oleh sang suami tercinta. Sementara Sela memeluk tubuh mungil Mishy yang terus menangis hingga lemas. Mylo? pria kecil itu bahkan tak mengeluarkan air mata nya. Tatapan nya kosong dan tak berekspresi. Ada beberapa orang terdekat Rosy di sana, Drew dan keluarga nya. Juga yang lain, orang-orang yang loyal pada wanita baik hati itu.


"Sania, mana Rosy? katakan Sania?!" Harland mulai tak sabar. Andre mendudukkan sang anak di kursi lalu menghampiri Harland.


"Har,?" tegur pria itu tak enak, bagaimana bisa Harland berteriak pada Sania saat sedang berada di pelukan suami nya.


"Kau terlambat! Rosy sudah pergi, aku harap kau puas!" Tak terima di teriaki, Sania balas berteriak. Dia butuh pelampiasan, dan Harland berada di jalur tepat untuk nya maki sepuas hati.


"Apa maksudmu? aku kemari hanya butuh satu setengah jam.." ujar Harland tak terima, pria itu tertawa dalam tangis nya.


Klek


"Keluarga nyonya Rosy?" ujar seorang perawat wanita.


"Saya sus, di mana istri ku? katakan!" perawat tersebut salah tingkah mendapatkan pertanyaan mendadak dari Harland.


Hanya kulit membalut tulang, apa yang terjadi?kenapa bisa seperti ini? berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati nya. Langkah kaki nya bergetar hebat, di raih nya tangan kurus itu. Terasa dingin seperti menggenggam es balok. Harland tergugu memeluk tubuh tak bernyawa Rosy dengan tangisan menyayat hati.


"Kenapa kau meninggalkan ku? kenapa kau menjauhkan ku di akhir hidup mu? apa aku tak pantas untuk sekedar menemani hari-hari mu sebelum kau pergi, hah?" suara Harland begitu lemah. Andre masuk ke sana meski bingung, kenapa dia harus ikut masuk.


Ekor mata nya menangkap pemandangan lain di sana, di atas meja di samping ranjang Rosy. Pria itu melihat ada beberapa perhiasan yang mungkin saja di lepas ketika Rosy koma, dan di taruh di sana sementara menunggu wanita itu sadar. Namun wanita itu telah pergi, barangkali barang-barang tersebut akan dikembalikan pada keluarga nya. Namun ada satu perhiasan yang mencuri perhatian nya.


Sebuah kalung yang nyaris sama dengan milik nya. Di raih nya kalung tersebut lalu menghampiri Harland.


"Har, mana kalung ku?" namun Harland bergeming, pria itu masih larut dalam kesedihannya.


Tak mendapat kan jawaban, Andre memutuskan untuk merogoh saku celana Harland. Setelah mendapat kan apa yang dia cari, Andre bergegas mencocokkan kedua kalung tersebut. Dan ya, kalung itu membentuk hati dengan kunci kecil di tengah nya. Lalu terlihat Kilauan tulisan timbul dari masing-masing sisi hati tersebut.


"Roky&Rosy"


Andre tergugu, Rosy adalah saudara nya. Perlahan kaki Andre melangkah menelisik wajah kurus itu dengan seksama. Sekelebat bayangan seorang gadis kecil di wajah tirus itu. Andre menyingkirkan Harland dengan sedikit kasar. Lalu memeluk erat tubuh Rosy dengan tangisan tak terbendung lagi. Lebih 20 tahun berpisah, mereka bahkan dipertemukan beberapa kali. Diri nya bahkan sempat menyakiti hati Rosy begitu dalam. Rupanya wanita itu adalah adik nya sendiri. Harland menatap kedua adik kakak itu dengan hati yang luka. Andre sungguh tak beruntung, saat mengetahui kenyataan. Takdir sudah memisahkan mereka dengan cara yang luar biasa.


"Kenapa kau meninggalkan ku lagi dek, apa aku tak layak untuk menjadi kakak mu lagi hmmm? sekarang aku tau, kenapa setiap melihat wajah mu, hati ku selalu merasa tak tega. Kau adik ku, itulah jawaban nya. Bangunlah sayang, maafkan kakak mu yang jahat ini...tolong kembalilah, beri kakak kesempatan untuk menjadi orang yang bisa kau andal kan. Bahu ku masih kokoh untuk mu bersandar, tolong lah...jangan pergi..." Tangis Andre membuat hati Harland semakin sakit.


"Permisi pak, jenazah nyonya Rosy akan kami bawa ke ruang jenazah untuk di mandikan." Ujar seorang perawat yang sejak tadi hanya diam menyaksikan apa yang terjadi di depan nya.


"Tidak! adik ku tidak akan kemana-mana, jangan coba-coba membawa nya pergi!" teriak Andre marah. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Rosy agar tak di ambil dari nya.

__ADS_1


"Dre, kau menyakiti nya.." tegur Harland di sela tangis nya. Harland tak di beri sedikit pun celah untuk menyentuh tubuh Rosy. Kini tubuh kurus itu berada sepenuh nya di dalam dekapan Andre. Tubuh kekar itu seolah membentengi tubuh sang adik dari serangan orang jahat.


"Dia adik ku apa kau mengerti!" Andre semakin tak terkendali, kemarahan nya di luapkan pada siapapun yang membuat nya kesal. Tak terkecuali Harland.


"Ada apa ini?" Sania masuk bermaksud mengusir Harland. Namun pemandangan di dalam membuat nya tercengang, bukan Harland yang tengah memeluk tubuh Rosy melain Andre. Apa yang sudah dia lewatkan.


Harland lekas menghampiri Sania sebelum mulut tajam wanita itu kembali mengolah vocal.


"Andrew dan Rosy saudara kembar." Ujar pria itu cepat. Sania di buat ternganga mendengar pengakuan tersebut.


"Bagaimana bisa? bukan kah Roky sudah meninggal dalam kecelakaan mobil waktu kecil?" Wanita itu masih tak percaya. Pria yang paling Rosy benci, ternyata kakak kandung nya sendiri.


"Kalung liontin milik Andre, adalah pasangan kalung milik Rosy yang hilang selama ini. Kau lihat wajah mereka dengan seksama, aku bahkan tak menyadari selama ini." Sania terus menatap bagaimana Andre terus berusaha membangun adik nya.


Berceloteh tentang masa kecil mereka yang masih dia ingat walau tak banyak.


"Andre, Rosy harus segera di pindah kan. Drew sudah menelpon orang untuk mengurus pemakaman Rosy."


"Diam! apa kau bisa diam! keluar lah kalau tak suka melihat adik ku masih di sini! Tidak ada yang boleh membawa nya pergi, tidak ada pemakaman untuk siapapun. Adik ku hanya sedang tertidur! Pergilah dari sini sebelum aku berbuat kasar padamu!" Usir Andre semakin marah. Rupa nya tempramen Rosy dan Andre kurang lebih sama. Tidak bisa terpancing emosi, maka akan meluap-luap.


"Land?" Sania menatap putus asa pada Harland. Harland menghapus jejak air mata nya kemudian menghampiri Andre.


"Dre, ikhlas kan..Rosy sudah tak sakit lagi..aku pun berat, tapi Tuhan lebih menyayangi nya. Kita tak bisa menolak takdir..." sekeras mungkin Harland menahan sesak di dada nya saat mengatakan kalimat omong kosong tersebut. Nyatanya dirinya pun masih belum ikhlas.


"Aku bilang diamlah, Harland! kau senang bukan? adik ku pergi dan kau bebas berkencan dengan wanita manapun tanpa beban rasa bersalah lagi!" tuduh Andre mulai keluar jalur. Harland mengepalkan tinju nya saking kesal.


"Sayang hei..lihat Sania! Rosy bernafas.." Seru Andre kegirangan. Sania meringis miris melihat Andre yang dia anggap sudah kehilangan kewarasan nya. Sudah setengah jam berlalu sejak Rosy di nyatakan tiada, rasanya mustahil jika seseorang tak menganggap Andre sedang sedikit depresi sekarang.


Pria itu sedang terguncang, menyadari jika Rosy adalah adik nya. Namun kini wanita itu justru pergi meninggalkan nya dan tak akan pernah kembali.


"Sania! Harland! Lihat lah...adik ku menghela nafas nya, suster! tolong periksa kan adikku sekarang...!" sedu Andre mulai membaringkan Rosy dengan baik, di cium nya berkali-kali wajah tirus itu dengan sayang.


"Terimakasih sudah kembali.." ucap nya lirih.


Sania bergerak maju, dia harus segera membuat Andre tersadar dari halusinasi nya. Kehilangan memang berat, tapi tak ada yang bisa mengelak jika waktu nya sudah tiba.


Spuit 20 cc berisi obat tidur telah berada di tangan wanita itu, cara yang sama yang akan dia lakukan pada Andre. Pria itu harus di tangani, jika tidak tubuh Rosy akan kaku di sana.


∆Jika ada yang merasa alur cerita ini tidak sesuai ekspektasi, mohon jangan di rate ya🙏🙏 cukup tinggal kan komentar aja, othor gak akan marah apa lagi sakit kepala🤭😁


∆Ceritanya sengaja gak di buat bertele-tele, mengingat alur belibet bisa membuat pembaca kesal sendiri, termasuk othor😆😆(karena sebelum di update, otor baca ulang) part sedih othor juga ikut nangis, part lucu othor juga ketawa. Makanya kalo lagi ngedit novel, othor usahakan gak ada yang lihat. (takutnya disangka orang gila😂🤣)


∆Tabur jejak jika masih berkenan melanjutkan perjalanan novel receh ini ya kak, kalian oembaca hebat. Silahkan tinggalkan komentar apapun itu, othor akan berusaha menyaring nya dengan cermat. Beri masukan dan kritikan kalian, agar otak othor makin canggih lagi dalam mencerna, mencermati dan menelaah kisah Rosy 🤗🤗🙏🙏😘😘😘


2127 kata buat kalian yang othor sayang🤍🤍🤍


Luv Yu sekebon kopi buat kalian🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2