Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Gita menang banyak


__ADS_3

Sekira nya situasi sudah aman, Miguel mengendus aroma tubuh nya sendiri dan pamit ke toilet. Meninggalkan Gita dan Yoga yang masih terdiam di tempat masing-masing.


Gita mengeluarkan parfum mahal nya yang dia beli dengan cara mencicil selama 3 bulan. Wanita itu terlihat menyemprotkan sedikit ke beberapa penjuru.


"Haiisss, kalau begini cara nya bisa-bisa parfum ku tak akan sampai 6 bulan." Keluh Gita menatap miris botol parfum di genggaman nya.


"Aku akan mengganti nya.." sela Miguel yang baru saja selesai berganti pakaian juga mencuci rambut nya. Pria itu jadi rajin mengantongi shampoo sachet semenjak rutin menggunakan peralatan kecantikan era 90an tersebut.


Wajah Gita berbinar cerah, lalu tersenyum berjuta-juta Watt.


Sekali lagi wanita itu menekan tombol parfum nya.


"Makasih banyak pak CEO, semoga istri arwah anda melahirkan dengan mudah dan anak kalian sehat juga cerdas serta murah hati seperti pak CEO." Doa Gita tulus, meski terselip oleh embel-embel akan di ganti nya pengeluaran parfum mahal kreditan nya.


"Ck! Ada mau nya." Sungut Miguel berdecak.


"Kalau saya pak?" Sela Yoga yang sejak tadi hanya sebagai pendengar saja. Pria itu menunjukkan wajah nya dengan ekspresi meminta perhatian.

__ADS_1


"Kau? Apa kontribusi mu dalam hal ini? Apa kau juga melakukan hal yang sama seperti yang sering Gita lakukan? Menyemprotkan parfum nya setiap kita melakukan pertemuan?" Yoga melebar kedua sudut bibir nya kesal.


"Aku berkontribusi membuat para wanita lekas enyah dari hadapan anda tuan. Jadi peran ku juga layak untuk di perhitungkan sama seperti Gita." Ucap Yoga penuh percaya diri.


"Cih! Hanya begitu saja kau minta kompensasi. Cek saja saldo mu awal bulan depan, aku akan memberikan mu bonus agar kau tak lagi mengajak kekasih mu makan di pinggir trotoar setiap kali berkencan. Ck, kenapa kau perhitungan sekali pada wanita." Yoga menggaruk tengkuk nya salah tingkah.


"Saya sedang menghemat tuan, biaya pernikahan tak bisa di cover oleh asuransi perusahaan juga BPJS kesehatan. Saya khawatir setelah melakukan resepsi besar-besaran, jantung saya akan mengalami masalah di kemudian hari akibat memikirkan biaya yang sudah saya keluar kan. Untuk itu saya memilih berkencan dengan paket hemat dan lebih merakyat. Agar kelak kami dapat menghargai hasil kerja keras masing-masing dengan segala rasa hormat dan tak saling menuntut satu sama lain." Ujar Yoga panjang lebar.


Pria itu mengurai segala teori masa depan tentang gambaran rumah tangga, yang akan dia jalani kepak bersama sang kekasih ketika sudah menikah.


"Aku setuju untuk beberapa hal dalam teori mu, tapi tetap tak setuju jika itu di jadikan patokan dalam sebuah hubungan rumah tangga. Kau harus sesekali mengeluarkan uang lebih agar pasangan ku merasa di hargai tanpa dia harus meminta. Dan jangan membiarkan kekasih mu yang membayar tagihan yang tak seberapa itu. Berapa aku menggaji mu? Kekasih mu itu hanya pekerja di Bank milik pemerintah dengan gaji tak seberapa. Dan kau memerasnya untuk membayar tagihan sate dan nasi goreng mu. Apa kau waras?" Cecar Miguel menatap sinis asisten pelit nya.


Yoga meringis mendengar kalimat sang atasan, kenapa bisa Miguel mengetahui hal sedetail itu.


"Kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku bisa tau semua itu kan? Aku di sana saat kau makan dengan rakus dan berkahir meminta kekasih mu membayar makanan kalian tanpa rasa bersalah. Kau benar-benar membuat ku malu. Apa gaji mu masih kurang hanya sekedar membayar kan kekasih mu makanan? Kau bahkan hanya membawa nya makan di gerobak dorong dan masih saja memeras nya." Omel Miguel panjang kali lebar.


"Itu_waktu itu_aku benar-benar lupa membawa uang tunai. Uang di dompet hanya ada 37 rb, akan lebih malu lagi jika uang ku kurang." Bela Yoga memamerkan senyum menyebalkan nya.

__ADS_1


"Apa kau mengganti nya setelah itu?" cecar Miguel lagi. Dengan ekspresi semakin menjengkelkan, Yoga menggeleng cepat.


"Kau benar-benar pria menyedihkan! Seharus nya kau bisa patungan jika kau memang niat. Akan lebih baik dan terlihat lebih romantis walau memalukan. Dari pada meminta nya membayar semua dan membuat nya hampir tak bisa menebus obat untuk ibu nya di apotik." Yoga terbelalak mendengar penuturan sang atasan yang begitu mendetail.


"Apa tuan ada di sana saat kami makan? Apa tuan membuntuti Sila juga sampai tau kekasih ku tak dapat menebus obat untuk ibu nya?" Kini giliran Yoga yang mencecar sang atasan.


"Aku di sana memesan sate untuk istri ku, dan aku mampir ke apotik untuk membeli minyak telon aroma lavender kesukaan Chalot. Aku di belakang nya saat ku lihat wanita mu itu kebingungan ketika melihat uang nya kurang." Jelas Miguel menyeruput secangkir teh melati kesukaan nya.


Yoga terpekur sedangkan Gita terus menyimak. Dia akan mulai menandai pria yang akan menjadi target calon kekasih nya. Yang jelas jika seperti Yoga, akan langsung dia coret dari list.


"Maaf..." Ucao Yoga pelan.


"Bukan pada ku, pada Sila. Gadis itu bahkan mengatakan akan mengganti nya. Dan kau tau, dia berdiri di pos satpam selama satu jam agar bisa bertemu dengan ku dan mengganti uangku yang hanya berjumlah 82rb. Wanita seperti itu tak akan kau temui lagi, wanita yang tak pernah menuntut mu apapun. Wanita yang memegang komitmen yang tinggi, terhadap segala ucapan nya. Jangan sampai menyesal karena sifat perhitungan mu ini, aku pergi dulu. Mumpung makanan ini sudah di bayar semua, jika tidak habis kalian boleh take away." Ucap Miguel pamit pergi lebih dulu.


Mata Gita berbinar secercah mentari siang di luar restoran. Wanita itu mulai mengambil beberapa piring lalu menekan tombol untuk memanggil pelayan. Dia ingin membungkus semua makanan yang masih utuh tersebut. Wanita itu bahkan membeli oven tangkring demi menghemat budget untuk membeli oven listrik. Itu semua dia gunakan untuk memanaskan makanan yang sering dia bungkus dari restoran mahal jika tak habis.


Dia berharap kelakuan sang atasan tetap bertahan meski membuat nya tersiksa lahir batin. Namun membuat nya menang banyak. Wanita itu selalu memesan makanan dalam jumlah tak wajar saat mereka melakukan meeting di luar. Karena dia yakin makanan tersebut pasti tak akan habis semua, mengingat jika orang kaya selalu menjaga manner di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2