Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Kegalauan Satya


__ADS_3

"Naura!" Ujar Noora menekan suaranya.


Naura menatap sang ibu dengan wajah sendu, kemudian meminta maaf.


"Maaf mom, aku hanya ingin membayar lunas hutang jasa kita pada pria ini. Ayo kita masuk, Silvery pasti sudah bangun sekarang. Dia pasti akan mencari keluarga nya daripada orang asing." Ucap Naura pedas.


Sedangkan Satya menatap nanar punggung sang anak yang masuk ke dalam ruangan di mana Silvery di periksa. Dia tak sakit hati atas perlakuan sang anak, namun dia hanya sedih, karena Naura mengetahui kebejatan nya di masa lalu.


Satya memungut uang yang di lempar oleh Naura kemudian memasukkan nya ke dalam saku. Suatu saat dia akan mengembalikan nya ketika hati wanita itu sudah mulai melunak.


Dengan gontai, Satya berjalan menuju markas istirahat para pekerja seperti nya.


"Loh? Mas Satya tidak jadi pulang atau bagaimana?" Tanya seorang rekan menatap heran pada Satya yang hanya tersenyum simpul menanggapi nya.


Perut kiri nya sedikit ngilu, nyeri bekas operasi itu masih terasa kala diri nya mengangkat beban berat. Dan sekarang dia tak membawa anti nyeri andalan nya, karena kejadian tadi di luar perkiraan nya


"Mas Satya kok pucet kaya mayat hidup berjalan? Lagi sakit apa gimana?" Cecar sang rekan lagi.


"Ada anti nyeri tidak bang? Agak tidak enak nih rasa Badan." Ucap Satya malah balik bertanya.


"Ada Paramex aja dih, obat buat sakit kepala. Mau?" Satya hanya mengangguk dan meminta dua sekaligus. Setelah menelan obat nya Satya mohon diri untuk tidur di sofa bekas yang selalu mereka simpan kala inventaris rumah sakit tersebut ganti baru. Lumayan buat istirahat kala lelah mulai menyapa.


Diam-diam di balik tembok dekat pintu, seorang wanita menguping pembicaraan tersebut. Hatinya mencelos iba, pria itu mungkin brengsek dulunya namun melihat pengorbanan nya sekarang. Membuat nya berpikir keras untuk merubah sikap keras kepala yang dia miliki.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Silvery mengerjab kan mata bulat nya yang indah.


"Mom.." suara lirih Silvery membuat Noora terbangun, wanita tertidur karena terlalu lelah memikirkan banyak hal.


"Ya sayang, apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Noora tersenyum hangat. Wajah Silvery sudah tidak sepucat saat baru tiba tadi.

__ADS_1


"Aku haus.." ucap gadis itu.


"Ini, minum perlahan saja.. apa kau mau makan sesuatu?" tanya Noora lagi.


"Aku mau makan nasi goreng hati, apa boleh?" mata bulat nya menyiratkan sebuah permohonan.


"Boleh, tapi hanya kali ini saja. Makanan berminyak tak terlalu baik untuk mu, pencernaan mu seringkali bermasalah jika kau terlalu banyak makan sesuatu yang mengandung minyak." Nasihat Noora tersenyum hangat, dia tak ingin sang anak merasa di bedakan dalam hal makanan.


"Baik mom..." ujar Silvery pasrah. Terlalu banyak makanan yang tak boleh dia makan, semua karena lambung nya pernah mengalami bocor sebesar 2 cm.


"Mom?"


"Hmmm?" Noora tengah sibuk mencari nasi goreng di aplikasi pesan antar online.


Merasa Silvery tak lagi bersuara, Noora lekas mendongak. Terlihat sang anak tengah menatap langit-langit kamar rawat nya dengan wajah penuh tekanan.


"Ada apa sayang? apa yang sedang kau pikirkan? Berbagi lah dengan mommy, apa pun itu. Tak baik memendam segala sesuatu sendiri." Ucap Noora menatap teduh sang anak yang terlihat tertekan.


"Mom? jika aku berhenti les, apakah boleh? aku rasa aku tak akan mampu mengejar ketertinggalan ku. Jaman terlalu canggih untuk otak ku yang pas-pasan. Aku tak ingin membuat kalian malu, jika aku tak mengalami kemajuan dalam pelajaran ku. Otakku terlalu bodoh, dan aku sering pusing kalau Miss Niken memberiku banyak pertanyaan. Aku mau di rumah saja, mengurus kebun milik mommy dan menjadi seorang penjahit. Aku sangat suka menjahit, aku bisa mengelola butik eyang bersama bibi Gauri." Hati Noora mencelos sakit.


"Baiklah, kau boleh berhenti mengikuti les. Tapi kau harus tetap belajar di rumah. Mom dan yang lain nya akan mengajari mu secara bergantian. Kau tak perlu memaksa jika kau belum paham, cukup pahami materi dasar nya saja. Itu sudah cukup, kami tak akan memaksamu." Ucap Noora akhir nya. Sudah saat nya mereka melunak, Silvery menjalani 22 tahun hidup nya dalam sangkar yang membelenggu nya, namun mereka malah memaksa gadis itu untuk menebusnya hanya dalam waktu yang singkat. Tak adil memang.


"Mom? Aku merasa ada Satya ketika aku pingsan. Apa aku hanya berhalusinasi? kenapa pria itu menghindari ku, apa karena dia takut padaku?" Tanya Silvery lirih.


Noora bingung harus menjawab apa, dalam keadaan tak sadar saja Silvery bisa merasakan kehadiran Satya. Apakah jodoh masa lalu memang bukan untuk nya? oleh karena itu hubungan mereka dulu berakhir tepat di hari pertama menjalin komitmen hidup. Apa takdir ini yang sedang Tuhan persiapkan? tapi kenapa harus Satya? di antara ribuan pria di muka bumi ini?


"Mom?"


"Ah ya sayang, maafkan mommy. Kau bertanya apa tadi?" tanya Noora kikuk.


"Tidak jadi mom, aku lupa. Belakangan ini aku gampang melupakan sesuatu, mungkin efek kebodohan ku semakin menjalar di semua sudut otakku." kekeh Silvery tersenyum perih. Matanya berkaca-kaca, entah apa yang tengah gadis itu rasakan, hanya diri nya saja yang mengetahui kondisi hati nya.

__ADS_1


Noora menatap sedih semburat penuh kecewa sang anak, Silvery nya seperti sedang memikirkan hal berat yang begitu membebani pikiran sempit nya.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


Satya tak dapat tidur nyenyak, pikiran nya masih memikirkan Silvery dan bagaimana keadaan gadis itu sekarang. Meski tau jika Silvery pasti akan di jaga dengan baik oleh keluarga nya, tetap saja hati nya tak berhenti memikirkan gadis itu.


"Seharusnya aku sadar diri, ingat Satya. Kau hanya pria brengsek, jangan pernah membuat dirimu semakin brengsek lagi dengan perasaan yang salah." Gerutu Satya gusar.


Tok tok tok


Satya mendesah jengah, entah siapa yang bertamu malam-malam tak tau waktu seperti ini. Di lirik nya benda persegi yang menempel di dinding kamar nya, menunjukkan pukul 9 malam kurang 20 menit.


Sungguh tamu tak tau waktu dumel Satya kesal.


Dengan langkah malas Satya berjalan menuju ke arah pintu depan. Semoga si tamu benar-benar memiliki keperluan yang mendesak hingga mengganggu jam istirahat nya tanpa perasaan.


Klek


Mata Satya memicing melihat siapa yang bertamu ke rumah nya malam-malam begini.


"Tania? mau ngapain malam-malam begini berkeliaran ke sini?" tanya Satya dengan nada tak bersahabat. Pria itu bahkan tak membuka pintu nya lebih h lebar ketika melihat siapa tamu nya. Satya sengaja ikut keluar agar tak menimbulkan fitnah.


"Maaf mas kalo Tania ganggu, di rumah bapak sama ibu sedang pergi. Tania takut sendirian, Tania boleh nunggu bapak ibu pulang di sini ya mas?" mohon gadis itu dengan tatapan memelas, berharap Satya luluh pada nya karena tak enak hati pada sang ayah selaku ketua RT di segani di blok tersebut.


Satya menatap datar ke arah Tania yang terlihat memakai gaun tidur berwarna biru muda berbahan satin tipis. Dia bukan pria bodoh, hal semacam ini sudah lewat pada masa nya.


"Tunggu di teras saja, saya permisi sebentar." Satya keluar menuju pagar rumah nya yang luoa dia kunci tadi Sore. Pria itu menuju rumah tetangga yang paling dia hindari.


Tok tok tok


Beberapa saat menunggu akhirnya sang pemilik rumah membuka pintu nya dengan wajah bantal.

__ADS_1


"Mas Satya?" ucap Keke heran, dia bahkan malu meski sekedar berpapasan dengan pria itu semenjak kejadian kemarin. Namun kini pria yang dia hindari malah berdiri di depan pintu rumah nya.


"Ada apa mas Satya, tumben malam-malam begini ngeronda sampe ke rumah saya?" Canda wanita itu menggunakan jurus menutupi rasa panas yang menjalar di wajahnya.


__ADS_2