
"Boleh kah aku menemui mereka? sebagai seorang pria asing pun tak masalah. Sebentar saja, aku mohon..." Suara Harland membuyar kan lamunan Rosy. Wanita itu seperti tengah menyimpan banyak perkara yang rumit di dalam benak nya.
"Ck! bisa kah kau berhenti merengek!" Entah kenapa kebencian itu membuat nya sangat muak melihat tingkah Harland yang bagi nya sangat menyebalkan. Harland tersenyum samar, dia tau Rosy nya tidak berubah meski terlihat sangat galak. Kata-kata judes nya seperti berusaha untuk membuat pertahanan tembok buatan nya tetap kokoh tak tersentuh.
"Berarti boleh!" ulang Harland memastikan. Dia paham kenapa Rosy bersikap seperti itu pada nya. Dan dia sama sekali tak mengambil hati atas kalimat-kalimat pedas tersebut.
"Terserah! Jangan mengatakan apapun pada anak-anak ku. Ingat, kau hanya orang asing yang telah menolong mereka. Tidak lebih, setelah menyapa kedua anak ku bergegas lah pergi dan jangan pernah terlihat lagi." Rosy berbicara ketus tanpa melihat pada lawan bicara nya. Wanita itu sibuk pada ponsel nya, entah apa yang menarik di sana. Rosy tak terlihat sedang mengetik sesuatu, Harland tau Rosy sedang menghindari bertemu pandang dengan nya.
"Apa aku boleh duduk di sini?" kali ini berhasil membuat manik yang sangat di rindukan oleh pria itu teralih menatap nya. Meski dengan tatapan yang tak enak di pandang. Delikan tajam wanita itu malah membuat sisi hati Harland tergelitik, reaksi Rosy semakin terlihat jelas. Jika wanita itu memang sengaja membangun sebuah pembatas untuk hati nya sendiri. Rosy masih mencintai nya, itu yang Harland yakini di dalam hati kecil nya.
"Apa mulut mu bisa diam tidak! Ini rumah sakit, jangan berisik! Jika kau ingin mengobrol pergi lah ke BAR, cari lah ja*l*ang untuk menemani mu berceloteh atau menghangat kan rasa sepi mu." Tanduk wanita itu seakan memanjang hingga puluhan mil saking kesal nya. Susah payah dia menghindari beradu pandang dengan pria laknat itu, kini malah terjebak situasi di satu tempat yang sama. Sungguh menyebalkan batin nya merutuk marah.
Harland menatap nanar wanita yang kini mulut nya seperti mata pisau yang baru saja di asah tajam. Sungguh dia ingin membungkam bibir mungil tipis, yang selalu melontar kan kata-kata menggemas kan tersebut. Akhir nya Harland memilih langsung duduk saja tepat di seberang kursi wanita itu. Agar dia bisa lebih leluasa untuk melihat pemandangan indah itu dengan kedua mata nya.
Tak berselang lama, suara pintu terbuka lalu tak lama muncul dua orang perawat dan satu dokter keluar dari sana bersamaan.
__ADS_1
"Pak, bu... pasien sudah melewati tahap observasi pasca operasi, sekarang akan di antar ke ruangan. Tuan Mylo masih dalam pengaruh obat bius, nona Mishy tengah tertidur pulas. Tadi sempat kami beri obat penenang, karena terus meracau memanggil ayah nya." Jelas dokter Sela seolah membuka peluang bagi Harland untuk tetap di sana dalam jangka waktu yang lama.
Diam-diam pria itu bersorak penuh kemenangan dalam hati, putri nya telah menyelamatkan keberadaan nya saat ini. Namun dengan gaya cool Harland berusaha terlihat biasa saja.
"Terimakasih dokter," Harland berucap kata tersebut sembari tersenyum manis pada dokter cantik tersebut. Jelas saja membuat Sela seperti mendapatkan tiupan angin surga di tengah gersang nya neraka. Senyum manis pun wanita itu berikan dengan suka rela dan tulus ikhlas. Rosy mencebik melihat reaksi sang Dokter juga sikap mantan suami nya yang menurut nya sangat genit.
"Aku akan mendorong nya suster, arah kan saja di depan." Titah Rosy pada perawat tersebut. Harland pun melakukan hal yang sama pada brankar putri nya. Di tatap nya wajah yang sangat menduplikasi diri nya, dia yakin hari-hari Rosy selama ini pasti seperti di dalam neraka dunia. Melihat kedua buah hati nya begitu mirip dengan orang yang paling dia benci.
Terbersit rasa bersalah karena tidak mengetahui kehadiran kedua nya. Rosy pasti berjuang sangat keras untuk membesarkan anak-anak mereka. Mengingat jika wanita itu selalu meragu kan pertolongan orang lain, karena perasaan tidak enak yang selalu mendominasi hati nya.
Setiba di kamar ranjang Mylo dan Mishy di buat bersisian dengan jarak sekitar satu meter. Itu agar memudahkan perawat jika ingin memeriksa kedua pasien tersebut. Kamar yang seperti kamar VVIP hotel tersebut, cukup luas untuk menampung dua brankar sekaligus.
"Aku mau keluar sebentar, ini nomor ponsel ku. Hubungi aku jika kau sudah menemukan pilihan makanan yang kau ingin kan." Harland akhir nya menyerah, dia hanya menulis nomor ponsel nya di sebuah note lalu di taruh di atas naka. Meski berharap Rosy akan menghubungi nya sangat mustahil, namun apa salah nya mencoba peruntungan.
Setelah Harland keluar, Rosy menghempas tubuh nya ke atas kasur khusus untuk penjaga pasien. Tubuh dan pikiran nya lelah sekarang. Dia butuh obat nya segera. Dia tak membawa nya, karena khawatir jika tas nya akan di buka oleh anak-anak nya tanpa dia ketahui. Jadi lah dia menyimpan obat tersebut di dasbor mobil nya, dan mobil itu masih berada di pantai sialan itu.
__ADS_1
"Pa..papa.. tolong Mishy... Mishy takut..." Suara racauan Mishy mengalih kan perhatian Rosy. Bergegas wanita itu beranjak laku menghampiri brankar sang anak. Terlihat tubuh Mishy berkeringat dan menggigil. Wanita mulai cemas. Di masih berpikir jika sang anak ingin melakukan konspirasi pada nya, bukan Rosy tak tau kecerdasan otak putri kecil nya. Namun melihat langsung bagaimana tubuh itu bergetar dan berkeringat dingin, argumen nya terpatahkan. Putri nya benar-benar dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan saat ini.
"Hei sayang...ini mama...ssshhhtttt..mama disini bersama mu...tenang lah.." Rosy berusaha menenangkan sang anak dengan cara memeluk tubuh mungil yang di banjiri oleh keringat tersebut. Hampir lima menit akhirnya Mishy kembali tenang. Namun suhu tubuh nya terus meningkat. Wajah gadis kecil itu bahkan sudah terlihat memerah seperti tersengat terik matahari.
Rosy menekan tombol darurat di samping ranjang sang anak, kecemasan mulai membuat kontrol nya kacau. Tak lama dua orang perawat datang, dan segera memeriksa gadis kecil itu. Wajah panik terlihat jelas di wajah kedua perawat tersebut.
"Saya akan menelpon dokter Sela nyonya..." Line telepon tersambung, kurang dari 3 menit dokter wanita itu masuk dengan langkah tergesa-gesa. Pemeriksaan kembali di lakukan. Mata nya melotot sempurna, gadis kecil itu alergi atau semacam over dosis obat. Itu langsung terlihat dari bagaimana ada titik-titik kecil seperti biang keringat di beberapa bagian tubuh Mishy yang mulai keluar perlahan.
Rosy meraih pergelangan tangan anak nya, nafas nya memburu menahan dorongan yang akan keluar dari dalam diri nya.
"Putri ku mengalami reaksi alergi, dokter Sela. Apa kalian tidak bisa bekerja dengan baik, hah! Kenapa bisa kalian melewatkan prosedur standar operasional kerja pada pasien sebelum di lakukan tindakan medis!" Reaksi emosional Rosy membuat keringat Dokter Sela mulai bercucuran, begitu pula kedua perawat tadi. Ini di luar kendali nya, bukan kah tadi Mishy baik-baik saja. Gadis itu bahkan lebih setengah jam bermain game tanpa menunjukkan gejala apa pun. Tangan nya pun hanya di pasangi gips palsu, sejati nya tangan gadis kecil itu baik-baik saja.
Mereka hanya memasukkan pereda nyeri dan antibiotik melalui cairan infus. Itu pun setelah melalui tes reaksi alergi terhadap dampak penggunaan obat-obatan yang akan mereka gunakan. Mishy membutuhkan antibiotik mengingat jika paru-paru gadis itu sempat menyimpan endapan air laut. Gadis itu dan saudara nya mengalami adema paru, yaitu penumpukan cairan di paru-paru. Untuk menghindari gangguan atau bahkan kerusakan pada jantung dan otak, maka mereka melakukan tindakan sesegera mungkin. Semua pun melalui prosedur yang benar.
**∆Spadaaa🤗🤗 Othor abis melakukan tugas mulia(IbRuTaYaBa)😁 Jadi baru bisa update sekarang. Tenang aja, naskah Rosy sudah othor siapkan sejak semalam, tinggal di editing saja typo nya(meski masih banyak🤭)
__ADS_1
∆Jangan lupa taburi jejak-jejak cinta kalian ya guys 🙏🥰😚
∆Luv yuu sekebon kopi buat kalian semua 🥰🥰🥰🥰🥰**