
Justin nampak sangat senang, hari ini dia berhasil mengajak seorang kakak kelas nya berkenalan. Seorang gadis kecil yang cantik, telah mencuri perhatian nya semenjak diri nya masuk menjadi siswa baru di sekolah tersebut.
Melihat bagaimana gadis itu begitu perhatian pada saudari nya, membuat Justin merasa menemukan teman yang se frekuensi dengan nya. Gadis pendiam yang selalu dia perhatikan setiap jam istirahat tiba. Gadis yang sering di jadikan bahan ejek karena fisik nya yang tak sempurna. Namun beruntung dia memiliki saudara yang selalu membela nya. Hingga para pengganggu itu tak berani terang-terangan mengusili nya.
"Kita akan kemana dad, kenapa Daddy membeli buah dan cake banyak sekali?" Tanya Justin heran. Saat melihat buah dan beberapa kotak kue di jok belakang.
"Kita akan menjenguk istri teman Daddy, jadi bersikap lah baik hari ini. Buat lah daddy terlihat seperti seorang ayah yang mengagumkan, hmmm?" Justin tertawa kecil.
"Apa aku kurang baik selama ini, dad?" Tanya Justin pelan, dia merasa menjadi anak yang nakal karena berpikir Wira merasa terganggu akan sikap buruk nya.
"No! Tidak son! Kau sudah bersikap sangat baik, hanya saja kali ini daddy ingin lebih. Kau tau arti seorang klien? Dia adalah partner bisnis atau seseorang yang bekerjasama dengan daddy. Daddy hanya ingin menciptakan kesan yang baik saja. Hanya itu, selebihnya kau sudah menjadi anak yang baik buat daddy." Papar Wira panjang lebar. Dia tak ingin Justin salah memahami ucapan nya.
Justin tersenyum senang, dapat dia lihat ketulusan dari sikap sang ayah.
"Baik dad, aku akan menjadi anak yang manis hari ini." Kedua nya lalu tertawa geli, sebagai sesama pria mereka sangat cocok dalam segala hal.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
"Terimakasih banyak tuan Wira, aku sangat tersanjung akan kehadiran anda sudah repot-repot menjenguk istri ku. Dan siapa pria kecil tampan ini? Dia tak terlihat mirip dengan mu, apa dia keponakan mu?" Wira menatap sekilas ke arah putra nya, benar memang. Dengan sekali melihat saja, orang akan tau perbedaan mereka sangat mencolok.
"Dia putra ku, tuan Handaru. Dia lebih mirip ibu nya, gen anak pria lebih banyak mengikuti kemiripan dari pihak si ibu." Terang Wira tersenyum hangat. Di rangkul nya bahu sang anak dengan sayang. Justin sudah mulai memahami dan belajar bahasa persatuan, sehingga pasti akan mengerti apa yang Handaru katakan.
__ADS_1
"Oh, maaf kan aku. Hai pria kecil, siapa nama mu?" Handaru merasa tak enak hati, bertanya hal bernada sensitif seperti tadi.
"Nama ku Justin paman." Jawab Justin langsung menyalami Handaru, itu sering dia lihat di sekolah. Saat teman-teman nya berpamitan pada orang tua mereka. Dia ingin melakukan nya pada Wira, namun terasa aneh.
Sementara Wira tertegun, melihat bagaimana anak nya bersikap. Benar-benar sangat manis sesuai janji nya.
"Putramu sangat nasionalis, lihat bagaimana dia dengan mudah berbaur dengan budaya kita. Kau harus bangga memiliki anak semanis ini." Ujar Handaru penuh pujian.
"Kau benar tuan Handaru, aku bangga memiliki nya sebagai putra kesayangan ku." Balas Wira semakin merangkul erat bahu sang anak.
"Apa aku boleh duduk di sana dad, mengobrol lah aku akan menunggu sambil mengerjakan tugas ku." Pamit Justin menunjuk satu kursi yang ada tak jauh dari sofa. Kursi yang disediakan khusus untuk tempat makan bagi keluarga pasien, sepaket dengan meja nya.
Istri sang rekan bisnis, tuan Handaru.
Satu jam obrolan tersebut akhir nya usai, Justin pun telah selesai membuat sebuah lukisan seorang wanita cantik, yang tengah duduk si kursi roda di taman rumah sakit yang tadi mereka lewati.
Wanita dengan kepala botak, dan selang infus di tangan kurus nya. Lalu selang oksigen di hidung nya yang mancung. Wanita itu mirip seseorang, namun dia lupa siapa. Wanita tampak melamun, dan sesekali menyeka sudut mata nya. Justin merasa sesak melihat nya tadi, namun tak berani pamit pada sang ayah untuk sekedar menyapa wanita malang itu. Dia sudah berjanji akan bersikap baik.
Dan entah kenapa dia begitu ingat dengan jelas detail kontur wajah si wanita tadi. Sehingga bisa membuat lukisan sesempurna itu hanya dengan pensil warna.
"Son? Apa yang kau lukis tadi? Daddy lihat kau nampak sangat serius." Tanya Wira penasaran, kini mereka sedang berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
"Seorang wanita yang sangat cantik dad," ujar Justin malu-malu.
"Oh ya, bolehkah daddy melihat wanita cantik tersebut.." goda Wira menyikut lengan sang anak. Dengan malu-malu, Justin mengeluarkan buku gambar nya dari dalam tas.
Setiba di depan pintu mobil, Wira sejenak berhenti untuk melihat sebentar lukisan sang anak. Saat memperhatikan nya sebentar, jantung Wira seperti di tarik keluar dari rongga dada nya. Mata nya berkaca-kaca, dengan nafas turun naik.
"Katakan di mana kau melihat nya, Justin? Katakan!" Tanpa sadar Wira berteriak pada Justin membuat anak itu ketakutan.
Sadar akan sikap nya, Wira menghela nafas panjang, lalu menatap wajah ketakutan putra nya dengan sesal.
"Dengar son, dia wanita yang membuat ku harus terdampar ke negara ibu mu. Wanita yang sangat aku cintai dengan seluruh hidup ku. Sekarang katakan, di mana kau melihat nya. Tunjukkan pada daddy.." ujar Wira lembut, sambil memegang kedua bahu Justin.
Justin mengatakan jika dia melihat wanita itu di taman rumah sakit tadi. Wira berlari kencang menuju taman yang di maksud oleh sang anak tanpa peduli tatapan aneh orang-orang yang lewat di sana. Tujuan nya hanya satu, mencari wanita yang berhasil membuat nafasnya hampir berhenti berembus.
Beberapa menit berlari berputar-putar area taman, Wira tak kunjung menemukan apa yang dia cari. Nafas nya ngos-ngosan seperti orang yang tengah melakukan lomba maraton.
Setelah tak berhasil menemukan wanita nya, Wira menuju loket resepsionis rumah sakit.
Setelah mengatakan sedikit kebohongan, Wira di beri tahu kamar yang di tempati oleh orang yang dia cari. Langkah Wira terasa berat saat hampir mencapai pintu kamar yang sedikit terbuka. Seorang perawat baru saja keluar dari sana dengan bawaan yang cukup menyita pergerakan kedua tangan nya, sehingga tak sempat menutup pintu depan benar.
Wira hendak meraih handle pintu, namun urung saat mendengar wanita di dalam sana melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Kata-kata yang membuat nafas nya tercekat.
__ADS_1