Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Suami idaman Sofia


__ADS_3

Pagi datang dengan secercah cahaya matahari yang menelusup melalui celah gorden, Wira mengerjab kan kedua matanya. Belum sempat kesadaran nya pulih sempurna, suara pintu terbuka dan panggilan dari seseorang yang sangat dia kenali.


Enrico, pria itu terus berseru memanggil nama sang adik hingga akhir nya membuka pintu ruangan Wira yang dia sangka adik nya mungkin saja sedang pamit pada Wira sebelum pergi. Namun pria itu di buat geram saat melihat posisi Wira yang menindih sang adik tanpa busana sama sekali.


Tanpa aba-aba, Enrico masuk lalu menarik tubuh Wira dengan kekuatan penuh. Sebuah pukulan telak mengenai rahang Wira, pria itu masih mengerjab untuk memulihkan kesadaran nya. Efek obat tidur itu masih membuat kelopak mata nya sedikit berat.


"Enrico! apa-apaan kau! kenapa memukul ku? apa kau gila!" bentak Wira tak terima, tanpa sadar jika tubuh nya tak memakai apa pun.


Enrico mendengus kesal, pria itu melengos ke arah lain.


"Pakai pakaian mu dulu baru protes pada ku!" ketus pria itu mulai menghampiri sang adik yang masih tertidur pulas.


Wira menatap keadaan tubuh nya yang polos dan melihat Sofia ada di sofa yang semalam dia tiduri dalam keadaan yang sama dengan nya. Apa yang terjadi, bukan kah dia tertidur sendirian semalam tanpa ada siapapun di sana. Wira meraih pakaian nya yang berceceran di lantai, memakai nya dengan cepat penuh rasa malu tak terhingga. Bagaimana bisa dia ber te lan jang di hadapan sahabat nya sendiri.


"Sofia sayang, bangun lah ini kakak..." Sofia menggeliat, lalu drama pun di mulai.


"Kak? kapan kau tiba? ini.. tidak seperti yang kakak lihat, maaf kan aku...semalam.." Sofia mulai mengarang cerita penuh dusta dengan begitu apik, tangis pilu nya membuat Enrico menatap geram pada Wira. Karena telah memper kosa sang adik yang masih sangat polos.

__ADS_1


"Nikahi adik ku, aku tak mau tau. Aku menjaga dengan baik selama 21 tahun dan kau tega merusak nya begitu saja." Tekan Enrico menahan kemarahan nya.


"Aku tak merasa meniduri nya, Enrico! Semalam aku tertidur sendirian di sofa ini dan tiba-tiba adik mu ada di sini du pagi hari, aku bahkan tak ingat apapun." Sangkal Wira tak terima tuduhan sahabat nya.


"Lalu darah mengering ini, dan yang terlihat menempel di milik mu tadi? apa itu bukan sebuah bukti? jadi lah pria sejati, Wira. Kau datang kemari dalam segala keputusan asaan mu, dan aku membantu mu sebagai seorang sahabat dengan segala ketulusan. Kini tolong jangan membuat arang tercoreng di wajah ku, Sofia satu-satunya harta ku yang paling berharga. Menikah lah dengan nya, sampai jika dia mengandung anak mu. Jika tidak, aku bisa mencerai kan nanti. Aku akan menerima nya dengan lapang dada." Ujar Enrico terlihat rapuh, Sofia dia jaga sejak usia 10 tahun seorang diri.


Mereka hanya anak yatim piatu, dan jika Sofia mengandung tanpa seorang suami. Maka bukan hanya aib yang mereka terima, namun juga pekerjaan nya di pertaruhan kan.


Wira meraup wajah nya frustasi, dia tak merasa meniduri Sofia namun dia pun melihat bercak darah mengering dan merasakan milik nya lengket dengan cairan yang tak perlu lagi di jelaskan. Dia pria dewasa, tentu memahami arti cairan mengering tersebut.


Sedangkan Sofia masih terisak di pelukan sang kakak, tubuh nya di balut dengan jaket kebesaran milik Enrico.


Ujar Wira panjang lebar. Dia tak merasa meniduri Sofia namun dia akan tetap bertanggung jawab. Enrico adalah sahabat terbaik nya, membantu nya mendapatkan perkebunan itu dan memblokir segala hal tentang nya dari dunia luar.


"Baiklah, kalian akan menikah di gereja hari ini juga. Aku akan mengurus nya, dan Sofia, tak ada resepsi apapun, kau tau ini hanya kecelakaan. Jadi tolong jangan mempersulit keadaan kakak, apa kau mengerti sayang?" Sofia mengangguk setuju, meski dia tidak suka. Namun sudah banyak rencana tersusun di otak kecil nya, agar Wira menyentuh nya secara sadar dan membuat nya benar-benar mengandung.


Wira menatap pantulan tubuh nya di cermin kamar mandi nya, pernikahan dengan Sofia sudah terlaksana tadi sore. dan malam ini gadis itu telah berubah status menjadi istri nya. Sungguh bukan sesuatu yang dia harapkan, berharap Sofia akan pergi dan tak mengganggu hari tenang nya. Kini gadis itu akan mengacaukan seluruh waktu nya selama 24 jam.

__ADS_1


Belum apa-apa Sofia sudah merengek untuk banyak hal. Menuntut waktu penuh dari nya agar memperhatikan gadis itu. Sungguh ingin sekali Wira menenggelamkan kepala Sofia ke dalam tanah perkebunan nya


Suara ketokan pintu menyadarkan Wira dari lamunan nya. Pria itu berdecak kesal.


Klek


Sofia menatap kesal pada suami idaman nya.


"Kenapa lama sekali, aku sudah mengantuk." Cicit Sofia menjengkelkan. Jangan lupa baju jaring yang dia pakai dengan sengaja untuk memancing hasrat Wira pada nya. Siang tadi dia sempat keluar untuk membeli beberapa hal yang berhubungan dengan status baru nya.


"Kalau kau mengantuk kenapa malah berdiri di sini dengan baju tak pantas ini. Aku masih banyak pekerjaan, tidur lah. Kau bukan anak kecil yang harus tidur di temani." Ujar Wira galak. Pria itu masuk ke dalam walk-in closet untuk berganti pakaian. Dan Sofi mengikuti masuk ke sana tanpa rasa malu.


"Kenapa kau mengikuti ku Sofia?" geram Wira tak habis pikir.


"Aku ini istri mu, kemana suamiku kesitu aku pergi." Jawab Sofia tak mau kalah. Kepala Wira benar-benar di buat pusing oleh kelakuan Sofia yang terlihat berubah total setelah menjadi istri nya.


"Terserah!" ketus Wira menyerah, setelah selesai berganti pakaian yang terus di tatap oleh Sofia penuh maksud. Wira keluar laku masuk ke ruang kerja nya, pria itu segera mengunci dari dalam saat mendengar langkah kaki Sofia mulai mendekati ke arah ruang kerjanya.

__ADS_1


Seperti nya menghindari Sofia akan menjadi pekerjaan tambahan nya mulai sekarang.


__ADS_2