
"Maaf, aku sedang melakukan sedikit pekerjaan dadakan dad. Nanti akan aku ceritakan di rumah. Apa kau sudah makan?" Tanya Mishy mengalihkan topik.
"Bagaimana bisa aku makan kalau kau tak berkabar." Sewot Wira, membuat ringisan Mishy semakin jelas.
"Bagaimana jika kita mampir ke warung kang Jamal. Tak jauh dari sini. " Tawar Mishy iba dan merasa bersalah, sedang dirinya sudah makan dua kali hanya berselang jeda satu jam.
Wira mengangguk setuju, lambung keriput nya sudah meronta-ronta minta di isi segera.
"Hei, lihat siapa yang datang. Setelah meninggal kan ku bagai lalat pengganggu, akhirnya kau menyusul ku juga untuk meminta maaf. Tenang saja, aku sudah memaafkan mu. Traktir aku sebagai ungkapan rasa bersalah mu. Kang, tambah menu ya, untuk di bungkus." Mylo mulai menyebutkan sederet menu yang akan dia take away, Wira melotot mendengar semua pesanan sang ipar jahanam.
"Kau ini memesan apa merampok sih!" Sewot Wira yang masih belum move on sempurna dari rasa kesal nya. Namun kesal pada sang istri jelas Wira tak akan bisa. Jadi Mylo lah yang menjadi pelampiasan nya.
"Ck! Kau pelit sekali, adikku saja tak masalah." Ujar Mylo mencapit hidung mancung adik nya dengan sayang.
"Jangan sentuh-sentuh, biaya perawatan wajah itu mahal." Ketus Wira menepis tangan Mylo dari wajah istri nya. Mishy hanya menatap jengah tingkah kedua pria kesayangan nya itu.
"Ini meja mu kak?" tanya Mishy berusaha menarik perhatian kedua pria dewasa itu.
"Ya, duduklah. Aku sedang menunggu kak Resy, dia akan ke sini menyusul ku." Mendengar naman Resy, membuat Wira lekas menghubungi seseorang.
"Siapa yang kau hubungi dad?" Tanya Mishy menyeruput es teh milik sang kakak.
"Jordan. Tadi dia kekantor ku, wajah nya seperti kemeja lupa di setrika." Cerita Wira lupa diri. Mylo mencebik dari seberang meja.
"Ku lihat bukan hanya wajah Jordan yang kumal seperti kain lap. Wajahmu bahkan lebih keriting seperti mie kuah lupa di siram air panas." Ledek Mylo.
"Sudah, sudah..pesankan aku ayam nya saja, aku masih kenyang." Sela Mishy menengahi perdebatan tak berfaedah kedua pria tersebut.
__ADS_1
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Di sela makan nya, rupanya Wira masih kepikiran dengan perkataan sang istri saat di dalam mobil.
"Sayang, cerita kan pekerjaan dadakan mu tadi. Aku kesulitan menelan makanan ku kalau masih di dera rasa penasaran." Desak Wira tak sabar. Padahal pria itu sudah nambah satu centong nasi ke dalam piring nya. Entah kesulitan yang mana yang di maksud oleh Wira.
Mishy menatap sang kakak sejenak, kemudian beralih menatap sang sepupu. Resy terlihat mengangkat kedua bahunya, semua terserah pada Mishy. Yang jelas, bagian eksekutor tetap bagiannya. Tak ada tawar-menawar.
Dengan berat hati Mishy menceritakan penemuan seonggok sampah di sebuah mall hari ini. Para pria mengepalkan tangan menahan emosi yang sama. Noora adalah permata keluarga mereka, satu-satunya cucu serta cicit perempuan yang mereka miliki.
Jelas Noora begitu istimewa, layaknya berlian dengan harga tak ternilai. Dan dengan semudah membalikkan telapak tangan, seorang Lexan yang bukan siapa-siapa berani menyakiti kesayangan mereka.
"Apa kalian sudah punya rencana?" Tanya Mylo menahan geram.
Mishy tersenyum penuh arti.
"Tentu saja, rencana yang luar biasa."
Jelas kehadiran Noora bagi nya merupakan cucu pertama, yang membuat nya semakin mengerti arti penting nya sebuah keluarga. Tangis kecil Noora kala pertama menyapa dunia masih terekam jelas di benak nya. Dan dia tak rela jika sang cucu kembali menangis dalam konteks sebuah luka.
"Terserah kalian saja, kami punya rencana lain sebelum kalian mengeksekusi pria tak tau diri itu." Timpal sang istri. Obrolan mereka menjadi berputar arah, membicarakan segala rencana paling jahat yang pernah keluarga mereka lakukan.
Sejarah pertama, klan keluarga baik-baik itu menoreh kan sebuah kisah yang akan di ingat oleh anak cucu. Serta siapa saja yang masuk ke dalam lingkaran keturunan mereka kelak. Sungguh para paruh baya yang mengerikan. Di balik garis-garis halus di tepi wajah tersebut, para lansia ini tak boleh di remehkan.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Kedua insan yang tak tau akan nasib naas sedang mengintai hidup mereka, baru saja tiba di dalam rumah mewah milik Noora.
__ADS_1
Saving terlihat sangat bahagia, semua yang dia inginkan telah dia dapat kan semua. Tumpukan paper bag dengan logo berbagai merk ternama, memenuhi meja hingga ke lantai ruang keluarga tersebut.
"Terimakasih kak, sekarang aku benar-benar yakin padamu. Aku akan memberikan servis plus untuk kakak nanti malam." Ucap Savina memeluk tubuh sang kekasih. Lexan tersenyum senang. Sangat mudah membuat kucing kecil nya menjadi seperti yang dia inginkan.
"Sama-sama sayang, aku mempertaruhkan hidup ku dengan berjalan berdua dengan mu hari ini. Aku harap kau tak meragu kan ku lagi, dan tidak ada pembahasan soal hubungan serius apa lagi seorang bayi. Apa kau mengerti?" Savina mengangguk paham, dia mulai berpikir realistis. Cukup semua kebutuhan nya terpenuhi, maka dia akan tetap setia bersama kekasih gelapnya tersebut sampai kapanpun pria itu membutuhkan nya.
Soal anak? Dia tak perlu pusing, dia cukup mengadopsi seorang anak tanpa perlu merusak tubuh nya sendiri.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Savira duduk gelisah di hadapan Noora, melihat adegan demi adegan syur sang adik tanpa jeda sensor sama sekali. Sungguh Savira ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam kubangan lumpur. Agar tak harus melihat tontonan tak layak tersebut. Namun tatapan penuh intimidasi Noora membuat nya tak bisa berbuat apa-apa.
"Katakan pada ku, Vira. Apa aku masih harus memberikan kesempatan kepada adik kesayanganmu itu?" Skak! Savira terpojok.
"Kali ini saja nona, aku mohon..." Dengan derai air mata, Savira kembali bersimpuh di kedua kaki Noora. Wanita itu bahkan tanpa ragu mencium kaki telan jang sang atasan.
Noora bergeming, nurani nya tak tergugah sedikit pun.
"Sebelum aku kembali ke rumah, bawa adikmu jauh-jauh dari kehidupan ku. Jika sekali saja aku melihat nya masih berkeliaran bagai lalat di sekitar ku, akan aku kirim adik mu ke neraka saat itu juga." Deg!
Jantung Savira bertalu-talu, semarah apapun seorang kakak terhadap adiknya. Jika sampai melihat adiknya dilenyapkan, tetap saja akan meninggalkan rasa sakit yang tak terkira.
"Aku berjanji nona, boleh kah aku pulang terlebih dahulu. Beri aku dua hari, setelah itu anda boleh kembali pulang. Aku mohon..." Lirih Savira di dera rasa takut luar biasa. Savina satu-satunya keluarga yang dia punya, dengan penyakit nya yang hanya menunggu waktu. Maka selesailah sudah garis keturunan mereka, jika sang adik benar-benar tidak mendapatkan pengampunan dari sang atasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1
...Next nanti malam lagi ya, othor lagi berkutat di dapur 😁 sebelum dapat kartu merah dari sang kepala rumah dan tangga. Bermain ponsel di kala tak tepat waktu dan tempat 🤭...
...Komen yang banyak yaah, biar othor makin semangat 😘😘🥰🥰...