Rosy Sanders!

Rosy Sanders!
Miguel, tidak waras?


__ADS_3

Wira berdiri tepat di belakang tubuh sang anak, pria itu tersenyum senang saat mendengar kalimat penuh penyesalan sang putra tersayang. Rupa nya putra nya itu telah kembali pulang ke jalan yang seharus nya.


"Apa kau sudah puas menyalurkan kekecewaan mu di sini, nak? sayang sekali, di bawah sana semua orang tengah menikmati hidangan terbaik dari restoran kakek mu. Seharus nya daddy juga berada di sana, tapi demi dirimu, daddy terpaksa harus meninggalkan piring cake tape kesukaan daddy. Jika kau sudah selesai, ayo kita kembali. Kecewa boleh, sakit hati juga wajar nama nya juga di khianati. Tapi jangan sampai mengabaikan kebutuhan jasmani mu. Ayo kita turun, kita habiskan semua isi prasmanan hingga tak bersisa barang secuil pun bumbu rendang nya." Cerocos Wira tak tentu arah.


Namun mampu membuat Miguel terkekeh kecil.


"Aku tidak lapar dad, aku merindukan seseorang yang sudah tak bisa lagi ku raih. Aku ingin dia ada di sini sekarang, memberikan ku pelukan hangat penuh kasih sayang seperti yang dulu biasa dia lakukan kala aku dalam kesulitan." Lirih Miguel kembali terisak pelan.


Wira melangkah lebih dekat lalu memeluk sang anak.


"Yang lalu biarlah berlalu, entah siapa yang kau maksud tapi ayo kita turun. Daddy lebih khawatir semua makanan di sana sudah habis tak bersisa, daripada memikirkan pernikahan mu yang kacau balau." Ucap Wira terdengar serius. Miguel tertawa di sela tangis nya. Sang ayah sungguh tau bagaimana cara membuat suasana menjadi cair seketika. Itulah kenapa dia bisa dengan mudah menerima dan menyayangi pria itu sebagai ayah nya.


"Baiklah, ayo. Aku harap mommy menyisakan walau hanya sepotong rendang untuk daddy. Daddy terlihat sangat kelaparan sekarang." Seloroh Miguel terkekeh geli.


Wira mengangguk serius menanggapi ucapan sang anak, seolah benar jika dirinya begitu takut kehabisan makanan.

__ADS_1


Setiba di ruang ballroom, suasana hening seperti tak ada orang di sana. Dan meja prasmanan masih utuh belum tersentuh sama sekali. Miguel menatap sang ayah yang malah menarik diri nya menuju ke arah pelaminan.


"Dad?" protes Miguel tak suka dengan leluncon sang ayah yang menurut nya mulai keterlaluan.


"Diam!" sentak Wira tanpa menoleh.


"Meski kau tak jadi menikah dan merasakan menjadi seorang pengantin, kau harus mencoba bagaimana rasa pelaminan megah ini. Daddy hampir tak bisa membeli celana da l am karena mommy mu menggelontorkan semua uang, juga dana pensiun hari tua kami untuk resepsi mewah ini. Jadi nikmati barang sebentar, daddy ingin merasakan melihat anak sulung daddy duduk di atas pelaminan." Celotehan Wira membuat Miguel linglung.


Wira menarik lengan nya tanpa memberinya kesempatan untuk protes lebih lanjut.


"Baiklah, sekarang kita perbaiki penampilan mu. Astaga, jas mahal mu kau berikan pada wanita ja l ang itu. Ck! apa kau tau tau harga nya sangat mahal?" Omel Wira seperti ibu-ibu kekurangan jatah bulanan. Miguel menatap ngeri pada sang ayah, Pria itu terlihat begitu cerewet hari ini.


"Perfect and completed! sekarang kau akan menjadi pengantin pria paling tampan di era ini." Ucap Wira dengan mata berkaca-kaca. Putra nya akan menikah dan dia merasa bangga bisa menjadi bagian dari proses tersebut. Miguel menangkap lain makna mata berembun sang ayah.


Dia merasa bersalah telah menghancurkan harapan kedua orang tua nya, dan mencoreng arang di wajah kedua nya dengan cara luar biasa.

__ADS_1


Miguel menjatuhkan tubuhnya ke lantai. "Maaf kan aku dad, aku sungguh anak tak tau diri. Aku membuat Kasih sayang kalian sia-sia selama ini, terutama mommy. Aku sungguh menyesal telah melakukan hal bodoh dan jahat pada wanita yang ternyata sangat aku cintai." Miguel benar-benar menjadi pengantin paling cengeng saat ini. Pria itu kembali menangis hingga bahu kokoh itu berguncang hebat. Wira membiarkan sanga anak menumpahkan kesedihan nya, Miguel berlutut di hadapan Wira dengan tumpukan rasa bersalah yang tak terhingga.


Hingga saat dia menghapus Air mata nya, sepasang kaki sang ayah telah berubah penampakan nya. Sejak kapan ayah nya mengganti sepatu pantofel hitam nya menjadi high heels 3 Senti meter berwarna putih? dan kuku indah itu? astaga! seperti nya dia sudah mulai gila.


Miguel tertawa seorang diri kemudian mendongak. Kedua mata nya hampir melompat keluar, melihat siapa yang tengah berdiri di hadapan nya dengan gaun pengantin yang sangat indah sambil menggenggam sebuket bunga yang begitu cantik.


"Chalot?" Lirih Miguel dengan bibir bergetar. Susah payah pria itu berdiri tegak untuk mensejajarkan tubuh nya dengan Charlotte.


"Kau sangat cantik Chalot, kau pengantin paling cantik yang pernah ku lihat." Puji Miguel pada Charlotte yang sebenar nya masih dia anggap sebagai halusinasi nya.


"Dan, kau terlihat begitu nyata.. terimakasih sudah hadir di saat aku terpuruk dan rapuh, aku sangat bahagia walau hanya melihat mu dengan cara seperti ini. Maaf kan aku telah membuat mu pergi dengan cara menyakitkan. Maaf atas luka yang telah ku toreh kan di dalam hati mu. Sungguh aku menyesali semua nya, aku sadar aku begitu mencintaimu hingga tak rela membiarkan mu di sentuh oleh orang lain. Maaf jika caraku salah, aku menyakiti mu begitu dalam." Isak Miguel menatap Charlotte yang berdiri tanpa ekspresi di hadapan nya.


Wajah pucat Charlotte karena gugup, takut dan insecure dengan pertambahan berat badan nya membuat wanita itu benar-benar terlihat seperti mayat hidup.


"Apa arwah bisa di peluk, aku sangat ingin memeluk mu sekarang." Charlotte hanya mengangguk, apa lagi yang bisa dia lakukan. Miguel terlihat begitu menyedihkan dan hati nya iba, itu normal. Kehamilan nya membuat nya menjadi lebih peka dan sensitif dari sebelum nya.

__ADS_1


"Apa arwah bisa di peluk, aku sangat ingin memeluk mu sekarang." Charlotte hanya mengangguk, apa lagi yang bisa dia lakukan. Miguel terlihat begitu menyedihkan dan hati nya iba, itu normal. Kehamilan nya membuat nya menjadi lebih peka dan sensitif dari sebelum nya.


Miguel segera membawa tubuh Charlotte dalam dekapan nya. Pria itu menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuh Charlotte, tak ada yang berubah. Aroma vanilla kesukaan nya. Apa di surga ada outlet parfum? otak Miguel mulai berpikir tak rasional, apa dia sudah mengarah pada ketidakwarasan sekarang? Miguel menggeleng kan kepal nya pelan, berusaha menolak persepsi diri nya sendiri.


__ADS_2