
Satya sedikit gelisah karena waktu sudah lewat dari jam biasa nya Silvery selesai belajar.
"Hari ini lama dari biasa nya ya, apa Silvery di hukum lagi?" Gumam Satya terus menatap ke arah jendela yang tak tembus pandang tersebut. Pria itu mulai gelisah. Pernah sekali dia memergoki Silvery tengah di hukum akibat tak bisa menjawab pertanyaan yang di berikan oleh sang guru. Gadis itu di hukum berdiri di sudut kelas dengan satu kaki terangkat dan satu tangan menjewer telinga nya sendiri. Dan mulutnya terus menggumamkan kalimat, "aku sangat bodoh" berkali-kali dan entah sudah berapa lama.
"Jablay, kau tunggu di sini ya. Aku akan mengintip Silvery sebentar, aku curiga dia di hukum lagi oleh guru laknat itu." Ucap Satya pada si jablay.
Satya terlihat seperti pencuri, menaiki sebuah kursi kayu guna melihat ke dalam kelas Silvery.
Kedua tangannya mengepal kuat kala melihat Silvery melakukan hal yang sama seperti yang pernah dia lihat beberapa waktu lalu.
Pria itu berjalan dengan langkah lebar penuh kemarahan, menuju mobil sang guru les yang sudah di hapal mati. Dengan sepotong balok kayu yang dia dapat kan tak jauh dari sana, Satya memukul kaca mobil wanita itu dengan sepenuh hati. Setelah puas melakukan hal brutal tersebut, Satya kembali duduk kembali ke atas motor nya seolah tak ada yang terjadi. Sedangkan suara alarm mobil miss Niken terus memanggil sang pemilik agar lekas menghampiri nya.
Miss Niken berteriak histeris kala melihat mobil kreditan nya hancur lebur. Wanita bahkan sampai pingsan, sementara sebagian siswa di dalam kelas les juga berteriak histeris kala melihat Silvery tumbang ke lantai. Gadis kelelahan berdiri lama belum lagi harus mengumandangkan kalimat yang sama berkali-kali.
Satya yang melihat banyak siswa kelas Silvery berlarian keluar dam meminta tolong, pria itu lekas berlari kencang menuju kelas tersebut. Di lihat nya Silvery pingsan dan hendak di angkat olwh siswa yang beberapa waktu lalu hampir mencium Silvery.
"Kemarikan dia, aku saudara nya." Ucap Satya dengan nada tegas. Setelah Silvery beralih ke gendongan nya, Satya sadar jika kendaraan nya kurang dua roda lagi.
Dalam kebingungan nya, suara seorang yang sangat dia kenali membuat nya mendadak berkeringat dingin.
"Bawa Silvery ke mobil hitam di depan sekarang." Titah Noora juga di dera rasa panik.
__ADS_1
Dia terlalu asyik melihat bagaimana sang Guru les histeris hingga pingsan, sampai lupa akan sang anak.
Sepanjang perjalanan mwnuju rumah sakiy, tak ada yang membuka saura. Noora sesekali melirik kaca spion. Terlihat Satya dengan wajah cemas yang begitu kentara. Tangan pria itu terus mengusap telapak tangan Silvery untuk memberikan kehangatan pada tubuh dingin Silvery. Sesekali berbisik pelan di telinga putri nya yang entah apa.
🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹
Noora terdiam di depan kamar pemeriksaan Silvery. Satya berdiri dengan gelisah dan berjalan mondar mandir bagai setrika laundry.
"Bisakah kau duduk?!" Hardik Noora kesal sendiri.
Satya berbalik lalu menatap tajam pada wanita itu tanpa sadar.
"Kami punya prosedur dalam memeriksa pasien, tidak asal periksa saja." Sungut seorang wanita hamil dengan wajah tak bersahabat.
Noora lekas menyongsong sang anak yang terlihat keberatan membawa beban di perut buncitnya.
"Kenapa kau tidak membiarkan dokter lain saja sayang, lihalah, kau kesulitan meski hanya membawa tubuh mu sendiri." Omel Noora membawa sang anak duduk tak jauh dari kursi Satya. Pria itu menatap sendu wajah putri yang sangat ingin dia peluk erat.
"Aku baik mom, jangan terlalu memanjakan ku. Nanti aku jadi pemalas dan hanya bisa mengerat untuk menumpang hidup pada mommy." Ucap Naura seperti tengah menyindir seseorang.
Hati Satya mencelos sakit, kata-kata sang anak pasti sedang menyindir nya di masa lalu. Yang hanya menumpang hidup pada Noora dan malah melukai hati wanita baik itu.
__ADS_1
Noora terlihat tercengang, Naura seperti mengetahui banyak hal yang tak dia ketahui.
"Tidak sayang. Kau putri mommy, wajar jika mom memanjakan mu." Ucap Noora cepat. Dia tak ingin putri nya menjadi lepas kendali mengingat jika anaknya itu tengah hamil besar.
"Bagaimana keadaan adikmu nak?" Alih Noora menengahi situasi tak nyaman itu.
"Silvery kelelahan, sedikit dehidrasi. Apa yang mereka lakukan di kelas sampai Silvery bisa pingsan seperti itu?" Tanya Naura heran.
"Guru les nya menghukum Silvery berdiri di pojok ruangan dalam waktu yang lama. Dan menyuruh nya mengatakan kalimat yang sama berulang-ulang." Bukan Noora yang menjawab, karena memang dia belum tau duduk persoalan nya. Namun Satya lah yang menjawab nya.
Noora terlalu sibuk mengamati kejadian di area parkiran dari dalam mobil nya, melihat bagaimana brutal nya Satya menghancurkan kaca mobil miss Niken tanpa rasa takut. Rupanya pria itu marah karena putri nya di hukum oleh miss Niken. Entah kemarahan seperti apa yang di rasakan oleh Satya, hingga bisa lepas kendali seperti tadi.
"Pergilah dan terimakasih sudah menolong adikku." Ucap Naura datar, wanita itu bahkan tak menoleh sedikit pun pada Satya yang hanya berjarak beberapa kursi dari nya. Lagi-lagi hati Satya pilu, namun tak bisa protes. Wajar saja jika Naura membencinya, dia bukan figur seorang ayah yang ada dalam kehidupan Naura selama ini.
Dengan lesu Satya beranjak dari kursi nya, namun sebelum benar-benar pergi. Pria itu memohon agar di pertemukan dengan Silvery sebentar.
"Boleh kah aku melihat keadaan Silvery sebentar? Hanya ingin memastikan jika dia sudah tidak apa-apa." Ucap Satya yang entah keberanian darimana dia dapat kan untuk berbicara seperti itu.
"Apa kau tuli? Adikku sudah baik-baik saja, sebaiknya kau pergi dari sini. Kami sudah tak membutuhkan mu lagi. Apa kau mau minta imbalan atas jasa mu, baiklah..." Wanita itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya kemudian melempar nya tepat di wajah Satya.
Noora sampai terkejut melihat sikap sang anak, sungguh di luar ekspektasi nya. Ini bukan ajaran nya, sungguh dia tak suka melihat sikap Naura saat ini. Meski dia tau Naura melakukan itu atas dasar membalas sakit hatinya di masa lalu. Namun tetap saja dia tak setuju, itu bukan sikap yang baik. Terlebih Satya adalah ayah kandung nya, dia tak ingin putri nya terkena karma sebagai anak durhaka.
__ADS_1