
Narto dan Tono lekas merapikan perkakas masing-masing, dengan harapan bisa segera mendapatkan pekerjaan tambahan lain di restoran tempat Satya bekerja.
🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁
Di tempat lain, seorang gadis tengah menatap hasil jahitan pertama nya. Sebuah jas berwarna putih tulang yang sangat indah. Cukup rapi untuk seorang pemula seperti nya.
"Ya ampun Silvery, ini cantik sekali sayang. Bibi sangat menyukai nya. Boleh ini untuk paman mu saja, berapa kau menjual nya akan bibi bayar dua kali lipat." Ucap Gauri terlihat antusias. Wanita paruh baya itu terlihat mengusap-usap permukaan kain jas tersebut dengan senyum sumringah yang tak dapat di sembunyikan.
"Maaf bibi, ini untuk seseorang. Kalau bibi mau aku akan membuat nya lagi, bagaimana?" Tawar Silvery tak enak hati, pada sang bibi.
"Baiklah sayang, berapa lama kau selesai menjahit nya? Bibi dan paman ada acara perusahaan seorang rekan bisnis Paman mu. Gaun bibi berwarna biru Dongker, jadi jas nya juga berwarna senada dengan model yang persis seperti ini. Juga bahan nya, bibi sangat menyukai nya." Ucap Gauri terlihat antusias kembali meski sempat kecewa, sang keponakan tak bisa memberikan jas itu kepada nya.
"3 hari bi, aku akan mengantar nya ke rumah bibi jika sudah selesai." Ucap Silvery tersenyum samar. Gadis itu menjadi sangat pendiam sejak seminggu ini. Dan itu sungguh mengkhawatirkan bagi seluruh keluarga termasuk Gauri sendiri. Mereka merindukan Silvery yang polos, yang selalu bertanya apa saja meski hal yang mudah.
Namun sekarang hanya ada senyum simpul juga jawaban seadanya, sungguh situasi yang sangat mencemaskan hati mereka semua.
"Baiklah, bibi serahkan pemilihan bahan nya pada mu. Bibi yakin butik kita ini akan banjir orderan setelah mereka melihat hasil karya tangan mu nanti." Ujar Gauri semakin bersemangat.
Lagi-lagi Silvery hanya tersenyum simpul, melihat sang bibi yang begitu bersemangat. Padahal menurut nya biasa saja, sama dengan jahitan para pemula lain nya.
__ADS_1
🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁
Paul terlihat mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja nya, dia baru saja mendapatkan laporan jika Satya kembali menyambangi tempat les sang anak. Pasti pria itu berharap bisa bertemu dengan Silvery meski dari kejauhan seperti biasa nya.
Paul termenung, kala mengingat perubahan Silvery pasca kejadian minggu lalu. Anak nya menjadi sangat berbeda, tak ada pertanyaan dan kata-kata aneh yang membuat hati kadang dongkol dengan kepolosan nya. Kini Silvery layak nya wanita dewasa yang dingin dan tak tersentuh. Paul merasa sedikit ketakutan.
"Bagi ku kesalahan mu di masa lalu sangat lah buruk, hanya saja mengingat penebusan mu yang cukup mencengangkan. Aku sedikit berpikir rasional, semua insan berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Namun putri ku? Rasa nya sedikit tak rela. Namun melihat kesungguhan mu, aku sedikit terenyuh. Rupa mu terjebak di usia terlampau muda untuk usia setengah abad. Dan putri ku terjebak dalam memori kekanakan meski usianya sudah dewasa, kalian memiliki kesamaan. Ya Tuhan, aku benar-benar pusing memikirkan ini."
Paul mengusap wajah lelah nya. Pria itu lelah pikiran selama beberapa hari ini, dia tak ingin bersitegang pendapat dengan sang istri. Namun membiarkan Silvery berlarut dalam keadaan tak tersentuh, itu juga tidak akan baik.
🍁🍀🍁🍀🍁🍀🍁
"Apa keluarga mu memberhentikan mu agar tak lagi bertemu dengan ku, Vey? Apa aku terlalu maruk, jika aku menyayangimu? Aku tulus Vey, meski kehidupan ku tak sebanding dengan keluarga mu. Astaga! Hapus perasaan tak tau diri ini, aku tak sanggup lagi." Satya tergugu sambil menelungkup kan wajah nya di stang motor.
"Jika kau benar-benar mencintai putri ku, kenapa kau hanya bergumam di sini dan tak melakukan apapun? Apa kau masih Lexan si pecundang seperti dulu?" Ucap seorang wanita dengan nada sinis.
Satya mengangkat kepalanya cepat, dan terkejut melihat siapa yang berada tepat di hadapan nya. Mantan terindah di masa lalu. Wanita itu masih terlihat sangat cantik di usia nya yang sudah tak lagi muda.
"Noora..?" Lirih Satya
__ADS_1
"Jadi katakan jika kau hanya ingin mempermainkan perasaan putri ku, dan jika benar. Menjauh lah dari kota ini, biarkan putri hidup tenang dengan pria yang akan kami pilihkan untuk nya." Noora kembali berucap tegas.
Satya lekas turun dari jok motor nya.
"Tidak! Jangan! Maksud ku, aku tak pernah berniat ingin mempermainkan Silvery. Aku hanya merasa tak pantas, tapi rasa ini terus mengusik ku sepanjang waktu. Katakan jika kau tak akan menyetujui nya, maka aku akan pergi menjauh dari jangkauan kalian. Aku bersumpah tak akan lagi menampak kan diriku lagi sampai kapan pun." Ucap Satya cepat.
Noora menatap netra pria yang dulu pernah sempat mengisi hati nya, terlihat ketulusan yang bahkan belum pernah di berikan untuk nya. Dia yakin pria itu telah berubah dalam wujud seorang Satya. Bukan lagi Lexan yang brengsek seperti di masa lalu.
"Besok acara launching produk terbaru di butik Gauri sepupu ku, datanglah. Dan ini, pakai lah. Jangan GR, ini buatan Silvery khusus untuk mu meski dia tak mengatakan nya. Namun melihat nya begitu kukuh tak ingin menjual nya meski sudah di tawar dengan harga fantastis. Aku yakin jas ini untuk mu, ada inisial nama mu di sana. Semoga cocok, aku pergi dulu sebelum suami ku melabrak mu karena cemburu."
Noora melangkah pergi meninggalkan Satya yang masih mematung tak percaya.
Air mata nya mengalir tanpa permisi, Tuhan sungguh baik pada nya. Memberikan nya kesempatan berkali-kali tanpa pernah lelah menuntun nya menuju jalan yang lurus.
Satya menggantung paper bag pemberian Noora di gantungan motor nya. Dengan senyum lebar, Satya meninggalkan halaman tempat les Silvery.
Sedangkan Noora masih di dalam mobil nya, wanita itu tak sendiri. Ada Paul bersama nya. Mereka melihat bagaimana Satya mencium jas yang masih terbungkus plastik tersebut dengan Berurai air mata haru. Kedua nya sama-sama mengusap sudut mata masing-masing.
"Kau lihat sayang, seseorang jika memutuskan berubah, maka akan terlihat ketulusan nya dengan mudah. Sorot mata penuh ketulusan tak akan dapat di bohongi. Sudah saat nya kita berdamai dengan keadaan, dengan begitu anak-anak akan belajar hal baik dari orang tua mereka. Mengampuni mungkin bukan perkara mudah, memori itu akan sesekali teringat namun bukan untuk di kenang di dalam hati. Karena hati yang bahagia, tak akan menyimpan duka lama terlalu dalam. Cukup jadikan pelajaran, agar kita tak mengulangi hal yang sama. Kita sudah pernah merasakan sakit, maka kita akan berpikir berkali-kali untuk menyakiti orang lain."
__ADS_1
Ucap Paul panjang lebar, Noora tergugu. Kini dia sadar, dendam dan kebencian nya telah melukai hati sang suami tanpa dia sadari. Dendam itu seakan-akan menjelaskan jika hati nya masih belum beralih dari kisah lalu, sungguh Noora sangat malu pada dirinya sendiri yang tak pernah dewasa dalam menyikapi takdir hidup.